<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983</id><updated>2012-02-16T17:52:31.824-08:00</updated><category term='DESKRIPSI DAN ANALISIS STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN'/><category term='BUDGETARY PARTICIPATION'/><category term='MOTIVATION  AND  MANAGERIAL PERFORMANCE'/><category term='MEREK'/><title type='text'>itok</title><subtitle type='html'>bErbAhAgiAlAh sAudAra hidUp di INDONESIA
mari satukan tekad tuk wujudkan Indonesia yang mandiri.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-3707936076694630703</id><published>2009-06-20T07:47:00.001-07:00</published><updated>2009-06-20T07:47:48.542-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MEREK'/><title type='text'>MEREK</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. MEREK&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Merek&lt;br /&gt;  Menurut American Marketing Association, definisi merek adalah nama, istilah, simbol atau rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Tujuan dari merek adalah untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang dihasilkan sehingga berbeda dari produk atau jasa yang dihasilkan oleh pesaing. (Fredy Rangkuti, 2004 : 2)&lt;br /&gt; Dalam Undang-Undang tentang Merek tahun 1992 pasal 1 ayat 1, merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan arang atau jasa. (Kansil, 1997 : 150)&lt;br /&gt; Menurut Tim Lindsey dkk (2006;131) merek adalah sesuatu (gambar atau nama) yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan suatu produk atau perusahaan di pasaran&lt;br /&gt;2. Perkembangan suatu merek&lt;br /&gt;  Menurut Goodyear (1996), unuk memahami proses perkembangan suatu merek diperlukan 6 tahap perkembangan yaitu : (Fredy Rangkuti, 2004 : 17)&lt;br /&gt;a. Produk yang tidak memiliki merek (Unbranded Goods)&lt;br /&gt;Pada tahap ini, produk dikelola sebagai komoditi sehingga merek hampir tidak diperlukan. Kondisi ini sangat mendukung apabila permintaan (demand) lebih banyak dibandingkan dengan dengan pasokan (supply) yang biasanya sering terjadi dalam situasi perekonomian yang bersifat monopolistic.&lt;br /&gt;Contoh : beras murah, BBM, obat generik dll.&lt;br /&gt;b. Merek yang dipakai sebagai referensi (Brand as Reference)&lt;br /&gt;Pada tahap ini sudah terjadi persaingan sedikit-sedikit, meskipun tingkatnya belu begitu ketat. Persainngan ini merangsang produsen unuk membuat diferensiasi produk yang dihasilkan. Tujuannya adalah agar produk yang ia hasilkan memiliki perbedaan dari produk perusahaan lain.&lt;br /&gt;Contoh : sepatu olahraga, sepatu ke kantor, buku tulis, buku gambar dll.&lt;br /&gt;c. Merek sebagai personaliti&lt;br /&gt;Pada tahap ini, diferensiasi antar merek berdasarkan atribut fungsi menjadi semakin sulit menjadi semakin sulit dilakukan. Karena hampir sebagian perusahaan melakukan kegiatan yang sama. Untuk membedakan produk yang dihasilkan dari produk pesaing, perusahaan melakukan tambahan nilai-nilai personality pada masing-masing merek.&lt;br /&gt;Contoh : sabun mandi kesehatan, sabun mandi untuk bayi dll.&lt;br /&gt;d. Merek sebagai simbol (icon)&lt;br /&gt;Pada tahap ini, Merek menjadi milik pelanggan. Pelanggan memiliki pengetahuan yang lebih mendalam mengenai merk yang ia gunakan. Pada umumnya merk yang masuk pada tahap ini sudah bersifat internasional dan pelanggan yang menggunakan merk ini dapat mengekspresikan dirinya atau dapat menunjukkan jati dirinya. Contohnya, rokok Marlboro.&lt;br /&gt;e. Merek sebagai sebuah perusahaan&lt;br /&gt;Iklan pada tahap ini memiliki identitas yang sangat kompleks dan lebih bersifat interaktif, sehingga pelanggan dapat dengan mudah menghubungi merk. Karena merk perusahaan tersebut merupakan wakil perusahaan sehingga merk = perusahaan, semua direksi dan karyawan memiliki persepsi yang sama tentang merek yang dimilikinya. Komunikasi yang keluar dari perusahaan telah terintegrasi ke semua lini kegiatan operasional,sehingga informasi mengalir secara lancer baik dari manajemen ke pelanggan maupun sebaliknya, dari pelanggan ke manajemen. Contohnya, Microsoft Software dimana pelanggan dapat berkomunikasi secara langsung setiap saat melalui internet dengan perusahaan, begitu juga sebaliknya perusahaan dapat menginformasikan produknya kepada pelanggan kapan saja.&lt;br /&gt;f. Merek sebagai kebijakan moral&lt;br /&gt;Saat ini hanya ada beberapa perusahaan yang telah berada pada tahap ini, yaitu perusahaan yang telah berada pada tahap ini, yaitu perusahaan yang telah mengoperasikan kegiatannya secara transparan baik mulai dari bahan baku yang digunakan, proses produksi dan operasionalnya sampai produk maupun jasa dan pelayanan purna jualnya kepada pelanggan. Informasi disampaikan secara transparan, jelasdan tidak ada yang ditutup-tutupi secara etika bisnis, social maupun politisnya. Contohnya adalah iklan Body Shop dan Benetton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap-tahap dalam proses perkembangan merek dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tahapan perkembangan Waktu Jenis&lt;br /&gt;Tahap 6 : Merek sebagai kebijakan moral&lt;br /&gt;Tahap 5 : Merek sebagai sebuah perusahaan&lt;br /&gt;Tahap 4 : Merek sebagai simbol (icon)&lt;br /&gt;Tahap 3 : Merek sebagai personaliti&lt;br /&gt;Tahap 2 : Merek yang dipakai sebagai referensi&lt;br /&gt;Tahap 1 : Tanpa merek Waktu = 0&lt;br /&gt;Terminal simbolik&lt;br /&gt;instrumental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Strategi Merk (Brand Strategy)&lt;br /&gt; Berikut adalah diagram Brand Strategy (Kottler, 1997;443) dalam (Fredy Rangkuti, 2004 : 37):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Line Extension&lt;br /&gt;Brand Extension&lt;br /&gt;Multi Brand&lt;br /&gt;New Brand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berikut adalah penjelasan mengenai strategi merek :&lt;br /&gt;a. Merek baru (new brand)&lt;br /&gt;Sebuah perusahaan dapat menciptakan sebuah nama merek baru ketika memasuki sebuah kategori produk baru. Strategi ini dapat dilakukan karena tidak ada nama merek yang sesuai.&lt;br /&gt;b. Multi merek (multi brand)&lt;br /&gt;Perusahaan ingin mengelola berbagai nama merek dalam kategori yang ada untuk mengemukakan fungsi dan manfaat yang berbeda.&lt;br /&gt;c. Perluasan merek (brand extension)&lt;br /&gt;Usaha apapunyang dilakukan utuk menggunakan sebuah nama merek yang sudah berhasil untuk meluncurkan produk baru atau produk yang dimodifikasi dalam kategori baru.&lt;br /&gt;d. Perluasan lini (line extension)&lt;br /&gt;Strategi ini dapat dilakukan dengan cara perusahaan memperkenalkan berbagai macam feature atau tambahan variasi produk, dalam sebuh kategori produk yang ada di bawah nama merek yang sama, seperti rasa, bentuk, warna, atau ukuran kemasan baru.&lt;br /&gt;4. Ekuitas Merek (Brand Equity)&lt;br /&gt;  Menurut David A (1996:8), “Brand Equity is a set of assets (and lialibilties) linked to a brand’s name and symbol that adds to (or subtracts from)the value provided by a product or service to a firm’s customers. The major asset categories are: Brand awareness, perceived quality, brand association and bran loyalty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur Brand Equity adalah sebagai berikut:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3930788562523557983-3707936076694630703?l=itok-itok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/3707936076694630703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/06/merek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/3707936076694630703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/3707936076694630703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/06/merek.html' title='MEREK'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-563227176138224130</id><published>2009-06-20T07:42:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T07:43:51.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DESKRIPSI DAN ANALISIS STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN'/><title type='text'>DESKRIPSI DAN ANALISIS STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis laporan keuangan adalah hubungan antar suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan   suatu fenomena (Soemarso,1999:430). Angka-angka dalam laporan keuangan akan sedikit artinya jika dilihat secara terpisah. Dengan analisis, pemakai laporan keuangan akan lebih mudah mengintepretasikanya.&lt;br /&gt;Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh kementerian/lembaga negara bersangkutan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Dengan demikian, analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan pemerintah.&lt;br /&gt; Dalam melakukan analisis, setiap pengguna laporan harus mengidentifikasi informasi yang harus dipilih untuk dianalisis, teknik analisis yang tepat, ruang lingkup, kedalaman analisis dengan menggunakan pertimbangan yang cermat agar dapat memperoleh informasi yang diinginkan untuk mendukung keputusan-keputusan yang diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMUSAN PERMASLAHAN :&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah konsep struktur laporan keuangan ?&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah bentuk laporan keuangan horizontal ?&lt;br /&gt;3. Bagaimanakah bentuk lapoarn keuangan vertikal ?&lt;br /&gt;4. Bagaimanakah konsep struktur modal ?&lt;br /&gt;5. Bagaimanakah konsep struktur finansial ?&lt;br /&gt;6. Apakah ada hubungan antara struktur modal dengan struktur finansial ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Struktur Laporan Keuangan&lt;br /&gt;1. PENGERTIAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Analisis laporan keuangan ( Financial statement Analysis ) adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan suatu fenomena (Soemarso,1999:430). Angka-angka dalam laporan keuangan akan sedikit artinya bila dilihat secara sendiri-sendiri. Pemakai laporan keuangan akan lebih mudah menginterpretasikanya bila dilakukan analisis.&lt;br /&gt;Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan.  Setiap pengguna laporan harus mengidentifikasi informasi yang harus dipilih untuk dianalisis, teknik analisis yang tepat, ruang lingkup, kedalaman analisis dengan menggunakan pertimbangan yang cermat agar dapat memperoleh informasi yang diinginkan untuk mendukung keputusan-keputusan yang diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan biasanya terdiri:&lt;br /&gt;1. Neraca: laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu menunjukkan posisi keuangan (aktiva, utang dan modal) pada saat tertentu. Tujuan neraca adalah menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender (misalnya pada tanggal 31 Desember 200x).&lt;br /&gt;2. Laporan laba rugi: suatu laporan yang menunjukkan pendapatan dari penjualan, berbagai biaya, dan laba yang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu.&lt;br /&gt;3. Laporan saldo laba: menunjukkan perubahan laba ditahan selama periode tertentu.&lt;br /&gt;4. Laporan arus kas: Menujukkan arus kas selama periode tertentu.&lt;br /&gt;5. Catatan atas laporan keuangan: berisi rincian neraca dan laporan laba rugi, kebijakan akuntansi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sedangkan komponen laporan keuangan Pemerintah setidak-tidaknya terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Laporan Realisasi Anggaran&lt;br /&gt;2. Laporan Arus Kas&lt;br /&gt;3. Neraca&lt;br /&gt;4. Catatan atas laporan keuangan&lt;br /&gt;Laporan Realisasi Anggaran sering juga disebut laporan operasional merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola pemerintah yang menggambarkan perbandingan antara anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.&lt;br /&gt; Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran. Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.&lt;br /&gt;Setiap komponen laporan keuangan hendaknya tidak dianalisis secara parsial. Komponen-komponen laporan tersebut merupakan satu kesatuan yang harus dianalisis secara bersama-sama. Terdapat hubungan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan sehingga untuk memperoleh gambaran informasi yang utuh, pos-pos terkait dianalisis secara terintegrasi.&lt;br /&gt; Laporan keuangan merupakan hasil rekaman transaksi keuangan dari peristiwa masa lalu. Laporan keuangan berarti menyajikan data hisitoris pemerintah yang bersangkutan. Berbagai pihak yang berkepentingan pada umumnya tidakhanya membutuhkan informasi masa lalu tetapi mereka menggunakannya untuk mencaritahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Oleh karena itu teknik dan tingkat kedalaman analisis disesuaikan dengan kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Pihak-pihak yang menggunakan informasi keuangan dari laporan keuangan terdiri dari pihak intern dan pihak ekstern. Secara keseluruhan pengguna laporan keuangan terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Pihak manajemen: untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi pengembangan karier.&lt;br /&gt;2. Pemegang saham: untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan, keamanan investasi.&lt;br /&gt;3. Karyawan: Penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja&lt;br /&gt;4. Kreditor dan investor: untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta bunganya.&lt;br /&gt;5. Pemerintah: pajak, persetujuan untuk go public.&lt;br /&gt;Setiap pemakai bisa mempunyai kepentingan yang berlainan. Oleh karena itu, mereka harus memahami informasi yang disajikan dalam laporan dan menganalisis dengan teknik yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhannya Masyarakat pada umumnya ingin mengetahui panggunaan sumber daya ekonomi yang dipungut dari masyarakat selama tahun berjalan berikut kinerja atau hasil-hasil yang dicapainya. &lt;br /&gt; Investor/kreditor pada umumnya berkepentingan untuk melihat apakah perusahaan mampu mengembalikan pinjaman/investasi berikut kemampuan untuk membayar beban bunganya secara tepat waktu. Manajemen perusahaan berkepentingan terhadap informasi keuangan untuk perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian kegiatan operasional pemerintahan. Hal ini sangat penting bagi pemerintah agar dapat mengalokasikan dan menggunakan anggaran yang tersedia untuk mencapai output/outcome secara efisien dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Laporan Keuangan memuat informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan,belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektifitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangan.&lt;br /&gt;Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan diperlukan mengingat setiap entitas pelaporan menggunakan sumber dana/anggaran yang berasal dari investor dan perlu dipertanggungjawabkan capaian kegiatannya. Oleh karenanya laporan keuangan yang disusun oleh suatu entitas diperlukan untuk keperluan:&lt;br /&gt;1. Akuntabilitas, yaitu untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kegiatan secara periodik.&lt;br /&gt;2. Manajemen, yaitu membantu para pengguna mengevaluasi pelaksanaan kegiatan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban dan ekuitas dana.&lt;br /&gt;3. Transparansi, yaitu memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat.&lt;br /&gt;4. Keseimbangan antar generasi (intergenerational equity), membantu para pengguna untuk mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan.&lt;br /&gt;Proses analisis laporan keuangan diperlukan dalam pencapaian keperluan tersebut sehingga didapatkan suatu penilaian yang obyektif dan terukur mengenai penggunaan anggaran dan kinerja yang berhasil dicapai oleh suatu entitas. Analisis juga diperlukan bagi perbaikan rencana penganggaran di masa yang akan datang, sebagaimana tergambar dalam diagram berikut ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. TUJUAN PELAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi keuangan mengenai suatu badan usaha kepada pihak-pihak berkepentingan. Informasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan ekonomi.&lt;br /&gt;Akuntansi keuangan biasanya lebih menitikberatkan pada penyediaan informasi kepada pihak-pihak diluar perusahaan. Pihak-pihak ini tidak dapat secara bebas memperoleh informasi yang diperlukan dari badan usaha yang bersangkutan. Mereka terpaksa harus menggunakan informasi yang disediakan pihak manajemen perusahaan. Identifikasi pemakai laporan keuangan diperlukan untuk pengambil keputusan dominan, mengingat banyaknya pihak-pihak ekstern yang masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda.&lt;br /&gt;Informasi keuangan yang dihasilkan akuntansi keuangan tidak terbatas pada laporan keuangan saja. Tetapi termasuk juga informasi-informasi lain, baik yang bersifat keuangan maupun tidak. Semua informasi yang dihasilkan suatu sistem akuntansi disebut informasi akuntansi. Walaupun diharapkan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, namun informasi keuangan bukan satu-satunya informasi yang diperlukan. Pengambilan keputusan ekonomi dipengaruhi banyak faktor, misalnya keadaan ekonomi, politik dan prospek industri.&lt;br /&gt;Secara khusus Prinsip Akuntansi Indonesia menyebutkan tujuan laporan keuangan berikut ini:&lt;br /&gt;1. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva, kewajiban dan modal suatu perusahaan.&lt;br /&gt;2. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai perubahan aktiva netto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.&lt;br /&gt;3. Memberikan informasi keuangan yang memebantu para pemakai laporan keuangan dalam menaksir potensi perusahaan menghasilkan laba.&lt;br /&gt;4. Memberikan informasi penting lainya mengenai perubahan aktiva dan kewajiban sutu perusahaan seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan investasi.&lt;br /&gt;5. Untuk mengungkapakan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan keuangan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya, yang meliputi:&lt;br /&gt;a) Relevan, yaitu informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini, dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Informasi yang relevan haruslahmemenuhi unsure-unsur memiliki manfaat umpan balik (feedback value),memiliki manfaat prediktif (predictive value), tepat waktu dan lengkap.&lt;br /&gt;b) Andal, yaitu informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi yang andal haruslah memiliki karakteristik penyajian jujur, dapat diverifikasi (verifiability), dan netral.&lt;br /&gt;c) Dapat dibandingkan, yang berarti informasi yang termuat dalam laporan keuangan dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya.&lt;br /&gt;d) Dapat dipahami, yang berarti laporan keuangan disajikan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. PRINSIP AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Prinsip akuntansi merupakan pedoman umum yang digunakan dalam praktek akuntansi. Prinsip akuntansi dikembangkan atas dasar logika pemikiran dalam kerangka teori.&lt;br /&gt;Penyusunan laporan keuangan harus mengikuti prinsip-prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan agar dapat ditaati dan dipahami para pembuat standar akuntansi pemerintahan, penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan, dan para pengguna laporannya.&lt;br /&gt; Prinsip-prinsip tersebut terdiri atas:&lt;br /&gt;a. Realisasi, yang berarti pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama satu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut.&lt;br /&gt;b. Substansi mengungguli bentuk (substance over form), yang berarti transaksi atau peristiwa lain yang ditampilkan dalam laporan keuangan dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya.&lt;br /&gt;c. Periodisitas (periodicity), yang berarti kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan dibagi dalam periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan.&lt;br /&gt;d. Konsistensi (consistency), yaitu perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari period ke periode oleh entitas pelaporan.&lt;br /&gt;e. Pengungkapan lengkap (full disclosure), yaitu menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna.&lt;br /&gt;f. Penyajian wajar (fair presentation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. SIFAT DAN KETERBATASAN LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pastilah memiliki kekurangan. Kekurangan tersebut dikarenakan adanya keterbatasan dalam menyajikan informasi keuangan yang relevan dan andal. Kendala laporan keuangan dapat diartikan sebagai keadaan yang tidak memungkinkan terwujudnya kondisi yang ideal dalam mewujudkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang relevan dan andal. Secara umum setiap laporan keuangan memiliki sifat dan keterbatasan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat.&lt;br /&gt;2. Laporan keuangan bersifat umum dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.&lt;br /&gt;3. Proses penyusunan laporan tidak lepas dari penggunaan taksiran dan pertimbangan.&lt;br /&gt;4. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran.&lt;br /&gt;9. TEKNIK STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Teknik analisis laporan keuangan terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Struktur Laporan keuangan Horizontal&lt;br /&gt;2. Struktur Laporan keuangan Vertikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh kementerian/lembaga negara bersangkutan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Dengan demikian, analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erna Wulandari  ( 3351405086)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Struktur Laporan Keuangan Horisontal&lt;br /&gt;Struktur analisis horisontal (horizontal analysis) pada umumnya menunjukkan arah perubahan (trend) dari suatu pos laporan keuangan tertentu (Soemarso, 1999: 432). Analisis ini merupakan prosentase yang membandingkan suatu pos laporan keuangan dengan pos sama laporan keuangan sebelumnya. Analisis dengan cara membandingkan neraca atau laporan realisasi anggaran beberapa tahun terakhir secara berurutan. Analisis ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laba rugi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila metode ini dilakukan untuk suatu jangka waktu yang cukup panjang dan menitikberatkan pada arah perkembangannya, maka analisis seperti ini disebut analisis tren.&lt;br /&gt;Teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menyajikan laporan keuangan secara horisontal dan membandingkan antara satu dengan yang lain, dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya baik dalam rupiah atau dalam unit, ini disebut juga analisis perbandingan (Harahap, 2004:227).&lt;br /&gt;Tujuan analisis perbandingan menurut Harahap (2004: 228), adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan berupa kenaikan atau penurunan pos-pos laporan keuangan atau data lainnya dalam dua atau lebih periode yang dibandingkan. Perbandingan dapat juga dilakukan antara laporan yang sudah dikonversikan ke angka indeks atau laporan bentuk common size bentuk awam.&lt;br /&gt;Menurut Prastowo (2000: 48), menyebutkan bahwa analisis tren merupakan salah satu teknik analisis laporan keuangan yang termasuk metode analisis horizontal. Analisis tren dilakukan untuk melihat struktur keuangan baik dari daftar Neraca dan Laba Rugi. Untuk melihat struktur laporan keuangan ini maka laporan keuangan dikonversikan ke bentuk persentase dengan mengaitkan dengan pos penting. Pos penting itu misalnya Penjualan untuk Laba Rugi dan pos Total Aktiva untuk Neraca.&lt;br /&gt;Sesuai dengan uraian tersebut, maka objek Analisis Tren adalah:&lt;br /&gt;1. Laba Rugi bentuk Tren&lt;br /&gt;Struktur Laba Rugi dapat menunjukkan persentase pos tertentu dari pos utama. Misalnya persentase laba bersih dari penjualan, persentase laba kotor atas penjualan, biaya operasi, dan sebagainya. Dengan melihat persentase ini kita dapat mengetahui struktur Laba Rugi perusahaan dan juga bisa dibandingkan dengan struktur perusahaan lain yang sejenis atau rasio rata-rata industri.&lt;br /&gt;2. Neraca bentuk Tren&lt;br /&gt;Struktur Neraca dapat melihat persentase pos tertentu dengan pos tertentu dengan pos utama lainnya, misalnya persentase aktiva lancar dengan total aktiva, aktiva tetap, aktiva lain, utang lancar, utang jangka panjang, modal, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sebagai contoh cara perbandingan dengan analisis horizontal adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Penjualan pada tahun 2005 : Rp. 310.000,00&lt;br /&gt;Penjualan pada tahun 2006 : Rp. 330.000,00&lt;br /&gt;Maka perbandingan perubahan penjualan adalah    6,45 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Analisis ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laba rugi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila metode ini dilakukan untuk suatu jangka waktu yang cukup panjang dan menitikberatkan pada arah perkembangannya&lt;br /&gt;         Dewi Marina Purbasari      (3351405001)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;C. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN VERTIKAL&lt;br /&gt;Analisis vertikal (vertical analysis) terkonsentrasi pada hubungan-hubungan diantara berbagai pos keuangan pada laporan keuangan tertentu. Untuk memperlihatkan hubungan ini, setiap pos laporan keuangan dinyatakan sebagai suatu persentase dari suatu pos dasar yang juga terdapat pada laporan tersebut. Laporan persentase-persentase yang dihasilkan disebut laporan ukuran bersama (common-size statement) (Henry Simamora, 1999). Sedangkan menurut John J Wild (2005), analisis vertikal merupakan suatu prosedur pembandingan antara satu pos terhadap pos lainnya dalam laporan keuangan dengan cara mengevaluasi pos dari atas ke bawah (atau bawah ke atas) dalam laporan common-size. &lt;br /&gt;Laporan-laporan ukuran bersama (common-size statement) kerap dipakai untuk membuat perbandingan-perbandingan diantara perusahaan-perusahaan. Laporan-laporan ini memungkinkan analisis membandingkan karakteristik-karakteristik operasi dan pendanaan dari kedua perusahaan dari ukuran yang berbeda dari industri yang sama.  &lt;br /&gt;Menurut John J. Wild et. Al. (2005), analisis laporan keuangan common-size statement berguna dalam memahami pembentuk internal laporan keuangan. Sebagai contoh, dalam analisis neraca, analisis common-size menekankan pada dua faktor:&lt;br /&gt;1. Sumber pendanaan- termasuk distribusi pendanaan antara kewajiban lancar, kewajiban tak lancar, dan ekuitas.&lt;br /&gt;2. Komposisi aktiva-termasuk jumlah untuk masing-masing aktiva lancar dan aktiva tak lancar.&lt;br /&gt;Analisis vertikal berfaedah untuk membandingkan arti penting komponen-komponen spesifik dalam kegiatan sebuah perusahaan. Analisis ini dapat pula digunakan dalam laporan-laporan ukuran bersama komparatif dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan penting dalam komponen-komponen dari satu tahun ke tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis vertikal ada 2, yaitu:&lt;br /&gt;1. Analisis Vertikal Laporan Laba Rugi&lt;br /&gt;Analisis vertikal laporan laba rugi memeriksa hubungan-hubungan dari setiap pos dengan laba bersih. Pada umumnya, laba bersih dijadikan 100 persen. Analisis ini mengungkapkan apakah pos pendapatan atau beban tertentu menyimpang dalam hubungannya dengan laba bersih. Analisis ini juga memberikan petunjuk perihal potensi kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam mengendalikan biaya-biaya dan mencapai sasaran profitabilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contoh analisis vertikal laporan laba rugi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT. EMBUN PAGI&lt;br /&gt;Analisis Vertikal Laporan Laba Rugi&lt;br /&gt;31 Desember 2002 dan 2001&lt;br /&gt;    2002  2001&lt;br /&gt;Penjualan Bersih    Rp 4,347,776.00  100%   Rp3,953,668.00  100%&lt;br /&gt;Biaya Pokok Penjualan   Rp 3,146,092.00  72.40%   Rp2,801,052.00  70.80%&lt;br /&gt;Laba Kotor    Rp 1,201,684.00  27.60%   Rp1,152,616.00  29.20%&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Beban-beban:       &lt;br /&gt;Beban Penjualan dan Administratif  Rp    760,360.00  17.50%   Rp   690,644.00  17.50%&lt;br /&gt;Beban Bunga    Rp      59,980.00  1.40%   Rp     52,184.00  1.30%&lt;br /&gt;Jumlah Beban    Rp    820,340.00  18.90%   Rp   742,828.00  18.80%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laba Sebelum Pajak    Rp    381,344.00  8.80%   Rp   409,788.00  10.40%&lt;br /&gt;Pajak Pengahsilan (30%)   Rp    114,403.00  2.60%   Rp   122,936.00  3.10%&lt;br /&gt;Laba Bersih Operasi    Rp    266,941.00  6.20%   Rp   286,852.00  7.30%&lt;br /&gt;Untung (rugi) luar biasa   Rp                 -    0.00%   Rp     49,600.00  1.20%&lt;br /&gt;Laba Bersih Operasi    Rp    266,941.00  6.20%   Rp   336,452.00  8.50%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis vertikal itu mengungkapkan bahwa biaya pokok penjualan PT. Embun Pagi pada tahun 2002 lebih tinggi ketimbang pada tahun 2001 (72.4% berbanding 70.8%). Gabungan kenaikan ini dan tidak adanya keuntngan luar biasa pada tahun 2002 mengakibatkan penurunan signifikan laba bersih dari 8.5% dari penjualan bersih pad atahun 2001 menjadi 6.2% pada tahun 2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Analisis Vertikal Neraca&lt;br /&gt;Analisis vertikal neraca menghubungkan setiap pos neraca dengan jumlah aktiva, atau dengan jumlah kewajiban dan ekuitas pemilik, dimana setiapnya dinyatakan sebagai suatu persentase dari kategori yang lebih besar. Sebagai umpama, pos Kas akan dinyatakan sebagai suatu persentase dari jumlah Aktiva, dan pos Utang Dagang sebagai suatu persentase dari jumlah kewajiban dan ekuitas pemilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh analisis vertikal neraca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT. EMBUN PAGI&lt;br /&gt;Analisis Vertikal Neraca&lt;br /&gt;31 Desember 2002 dan 2001&lt;br /&gt;Aktiva   2002  2001&lt;br /&gt;Aktiva Lancar:      &lt;br /&gt;Kas    Rp    67,928.00  2.10%   Rp    36,080.00  1.10%&lt;br /&gt;Surat Berharga   Rp   150,732.00  4.60%   Rp  158,848.00  5.00%&lt;br /&gt;Piutang Dagang   Rp   510,176.00  15.50%   Rp  486,456.00  15.40%&lt;br /&gt;Persediaan   Rp   782,048.00  23.80%   Rp  695,996.00  22.10%&lt;br /&gt;Aktiva Lancar lain-lain  Rp    37,996.00  1.20%   Rp    30,536.00  1.00%&lt;br /&gt;Jumlah Aktiva Lancar   Rp1,548,880.00  47.10%   Rp1,407,916.00  44.70%&lt;br /&gt;Aktiva Tetap   Rp1,626,396.00  49.40%   Rp1,407,916.00  50.10%&lt;br /&gt;Aktiva Tetap lain-lain   Rp   114,284.00  3.50%   Rp  163,204.00  5.20%&lt;br /&gt;Jumlah Aktiva   Rp3,289,560.00  100%   Rp3,151,512.00  100%&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Kewajiban dan Ekuitas Pemilik   &lt;br /&gt;Kewajiban Lancar:      &lt;br /&gt;Kredit Bank   Rp    98,632.00  3.00%   Rp    90,304.00  2.90%&lt;br /&gt;Bagian Lancar dari utang     &lt;br /&gt;jangka panjang   Rp      7,676.00  0.20%   Rp    13,280.00  0.40%&lt;br /&gt;Utang Dagang dan Utang Wesel  Rp   315,868.00  9.60%   Rp  277,900.00  8.80%&lt;br /&gt;Utang Pajak Penghasilan  Rp    60,360.00  1.80%   Rp    58,624.00  1.90%&lt;br /&gt;Jumlah Kewajiban Lancar  Rp   482,536.00  14.70%   Rp  440,108.00  14.00%&lt;br /&gt;Utang Jangka Panjang  Rp   623,524.00  19.00%   Rp  593,600.00  18.80%&lt;br /&gt;Utang Obligasi   Rp   125,444.00  3.80%   Rp  116,840.00  3.70%&lt;br /&gt;Ekuitas Pemegang saham  Rp2,058,056.00  62.60%   Rp2,000,964.00  63.50%&lt;br /&gt;Jumlah kewajiban dan ekuitas      &lt;br /&gt;pemegang saham   Rp3,289,560.00  100%   Rp3,151,512.00  100%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terlihat pada gambar tersebut, hanya terdapat kenaikan kecil dalam persentase aktiva lancar dikaitkan dengan jumlah aktiva, seiring dengan adanya penurunan kecil dalam aktiva tetap bersih dan aktiva tetap lain-lain. Dengan demikian, analisis vertikal ini mengungkapkan bahwa tidak ada perubahan signifikan aktiva perusahaan selama dua tahun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Prosedur pembandingan antara satu pos terhadap pos lainnya dalam laporan keuangan disebut analisis vertikal karena merupakan evaluasi pos dari atas ke bawah (atau bawah ke atas) dalam laporan common-size. Analisis vertikal dapat menunjukkan proporsi suatu pos terhadap angka dasar tertentu dalam laporan keuangan yang sama. Analisis ini dapat pula digunakan dalam laporan-laporan ukuran bersama komparatif dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan penting dalam komponen-komponen dari satu tahun ke tahun berikutnya. Hasil analisis vertikal dapat digunakan untuk menilai efisiensi usaha perusahaan.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Eva Z Saragih       (3351405038)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. STRUKTUR MODAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep Struktur Modal&lt;br /&gt;Modal merupakan unsur yang sangat penting bagi perusahaan. Salah satu masalah dalam permodalan adalah bagaimana menetapkan struktur modal yang optimal bagi perusahaan, karena struktur modal merupakan perimbangan antara modal asing dan modal sendiri. Efektivitas struktur modal akan menentukan efisiensi atau tidaknya penggunaan dana dapat diukur dengan melihat tingkat earning per share yang telah dicapai perusahaan. Pengertian modal menurut Munawir (2004) adalah merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik  perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.&lt;br /&gt;Struktur  modal adalah perbandingan atau imbangan pendanaan jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan hutang jangka panjang  terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Jika dalam pendanaan perusahaan yang berasal dari modal sendiri masih memiliki kekurangan (deficit) maka perlu dipertimbangkan pendanaan perusahaan yang berasa dari luar, yaitu dari hutang (debt financing). Namun dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari alternative-alternatif pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai struktur modal yang optimal. Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan modal keseluruhan atau biaya modal rata-rata, sehingga memaksimalkan nilai perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori Struktur Modal &lt;br /&gt; Kecenderungan perusahaan yang makin banyak menggunakan hutang, tanpa disadari secara berangsur-angsur, akan menimbulkan kewajiban yang makin berat bagi perusahaan saat harus melunasi (membayar kembali) hutang tersebut. Tidak jarang perusahaan-perusahaan yang akhirnya tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut, dan bahkan dinyatakan pailit. Hingga kini belum ada rumus matematik yang tepat untuk menentukan jumlah optimal dari hutang dan ekuitas dalam struktur modal (Seitz,1984: 301). &lt;br /&gt; Teori struktur modal diasumsikan bahwa perubahan struktur modal berasal dari penerbitan obligasi dan pembelian kembali saham biasa atau penerbitan saham baru. Selanjutnya perlu dikaji bagaimana pengaruh perubahan struktur modal tersebut terhadap nilai perusahaan dan apakah ada pengaruh struktur modal terhadap harga saham perusahaan sebagai pencerminan nilai perusahaan. Apabila ada pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana struktur modal yang optimal bagi perusahaan. &lt;br /&gt; Asumsi-asumsi yang mendasari adalah (Megginson, 1997:316):&lt;br /&gt;a. Semua aktiva berujud dimiliki oleh perusahaan.&lt;br /&gt;b. Pasar modal sempurna (tidak ada pajak, tidak ada biaya transaksi, dan tidak ada biaya kebangkrutan).&lt;br /&gt;c. Perusahaan hanya dapat menerbitkan dua macam sekuritas, yakni ekuitas yang berisiko dan hutang bebas (tanpa) risiko.&lt;br /&gt;d. Individu maupun perusahaan dapat meminjam atau meminjamkan uang dengan tingkat suku bunga bebas risiko.&lt;br /&gt;e. Para investor mempunyai ekspektasi yang sama (homogen) terhadap keuntungan perusahaan di masa mendatang.&lt;br /&gt;f. Semua perusahaan tidak mengalami pertumbuhan (arus kas diasumsikan konstan dan perpetual, dan semua laba dibagikan dalam bentuk dividen).&lt;br /&gt;g. Semua perusahaan dapat dikelompokkan dalam satu kelompok kembalian, dan kembalian saham dari semua perusahaan dalam kelompok tersebut adalah proporsional.&lt;br /&gt;Pendekatan dalam Teori Struktur Modal :&lt;br /&gt;1. Pendekatan Tradisional (Traditional Approach)&lt;br /&gt; Pendekatan tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Jadi, struktur modal mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan. Struktur modal bisa dirubah-rubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal. Pendekatan ini diasumsikan terjadi perubahan struktur modal dan peningkatan nilai total perusahaan melalui penggunaan financial leverage (hutang dibagi modal sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM Approach) &lt;br /&gt; Tahun 1950-an, dua orang ekonom menentang pandangan tradisional struktur modal. Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Kemudian pada awal tahun 1960-an, kedua ekonom tersebut memasukkan faktor pajak ke dalam analisis mereka. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan nilai perusahaan tanpa hutang. Kenaikan nilai tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak dari penggunaan hutang.&lt;br /&gt; MM berpendapat bahwa risiko total bagi seluruh pemegang saham tidak berubah walaupun struktur modal perusahaan mengalami perubahan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pembagian struktur modal antara hutang dan modal sendiri selalu terdapat perlindungan atas nilai investasi. Yaitu karena nilai investasi total perusahaan tergantung dari keuntungan dan risiko, sehingga nilai perusahaan tidak berubah walaupun struktur modalnya berubah. Asumsi yang digunakan adalah, pasar modal sempurna, nilai yang diharapkan dari distribusi probabilitas semua investor sama, perusahaan mempunyai risiko usaha (business risk) yang sama dan tidak ada pajak. Pendapat MM didukung oleh adanya proses arbitrase, yaitu proses mendapatkan dua aktiva yang pada dasarnya sama dan membelinya dengan harga yang termurah serta menjual lagi dengan harga yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;3. Teori Trade-Off&lt;br /&gt; Kenyataan di lapangan membuktikan ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Satu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi kemungkinan (probabilitas) kebangkrutan. Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan. Penelitian di luar negeri menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai sekitar 20% dari nilai perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Biaya tersebut mencakup dua hal:&lt;br /&gt;1. Biaya langsung: biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, biaya pengacara, biaya akuntan, danbiaya lainnya yang sejenis.&lt;br /&gt;2. Biaya tidak langsung : biaya yang terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal. &lt;br /&gt; Misal, supplier barangkali tidak akan mau memasok barang karena mengkhawatirkan kemungkinan tidak terbayar. Biaya lain dari peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan hutang (agency cost of debt). Jika hutang meningkat, maka konflik antara pemegang hutang dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh pemegang hutang akan meningkat. Dalam situasi tersebut, pemegang hutang akan semakin meningkatkan pengawasan (monitoring) terhadap perusahaan. Pengawasan bisa dilakukan dalam bentuk biaya-biaya monitoring (persyaratan yang lebih ketat, menambah jumlah akuntan, dsb) dan bisa juga dalam bentuk kenaikan tingkat bunga.&lt;br /&gt;4. Model Miller dengan Pajak Perusahaan dan Personal&lt;br /&gt; Modigliani dan Miller mengembangkan model struktur modal tanpa pajak, dan dengan pajak. Nilai perusahaan dengan pajak lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan tanpa pajak. Selisih tersebut diperoleh melalui penghematan pajak karena bunga bisa dipakai untuk mengurangi pajak.  Penghematan pajak tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Penghematan pajak = VL - VU = tc . B &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keterangan :&lt;br /&gt; VL : Nilai untuk perusahaan yang menggunakan hutang (value for&lt;br /&gt;    leveraged companies)&lt;br /&gt;VU :Nilai untuk perusahaan yang tidak menggunakan hutang (100%     saham, atau value for unlevered companies)&lt;br /&gt; tc :  tingkat pajak (perusahaan)&lt;br /&gt; B : besarnya hutang&lt;br /&gt; Miller sendiri kemudian mengembangkan model struktur modal dengan memasukkan pajak personal. Pemegang saham dan pemegang hutang harus membayar pajak jika mereka menerima dividen (untuk pemegang saham) atau bunga (untuk pemegang hutang).&lt;br /&gt;5. Pecking Order Theory&lt;br /&gt; Teori trade-off mempunyai implikasi bahwa manajer akan berfikir dalam kerangka trade-off antara pengehamatan pajak dan biaya kebangkrutan dalam penentuan struktur modal. Kenyataannya, nampaknya jarang manajer keuangan yang berfikir demikian. Seorang akademisi, Donald Donaldson (1961) melakukan pengamatan terhadap perilaku struktur modal perusahaan di Amerika Serikat. Pengamatannya menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai keuntungan yang tinggi ternyata cenderung menggunakan hutang yang lebih rendah. Secara spesifik, perusahaan mempunyai urut-urutan preferensi dalam penggunaan dana. &lt;br /&gt; Skenario urutan dalam Pecking Order Theory adalah sebagai berikut ini :&lt;br /&gt;1. Perusahaan memilih pendanaan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.&lt;br /&gt;2. Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi.&lt;br /&gt;3. Karena kebijakan dividen yang konstan (sticky), digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertentu, dan akan lebih kecil pada saat yang lain.&lt;br /&gt;4. Jika pendanaan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan surat berharga campuran (hybrid) seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali saham sebagai pilihan terakhir.&lt;br /&gt;  Teori tersebut tidak mengindikasikan target struktur modal. Teori tersebut menjelaskan urut-urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Teori pecking order bisa menjelaskan kenapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntunganyang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil.&lt;br /&gt;6. Teori Asimetri Informasi dan Signaling&lt;br /&gt;  Konsep signaling dan asimetri informasi berkaitan erat. Teori asimetri mengatakan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan risiko perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih baik dibandingkan pihak lainnya.&lt;br /&gt;6.1. Myers dan Majluf (1977)&lt;br /&gt; Menurut Myers danMajluf (1977), ada asimetri informasi antara manajer denganpihak luar: manajermempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan dengan pihak luar.&lt;br /&gt;6.2. Signaling (Ross, 1977)&lt;br /&gt; Ross (1977) mengembangkanmodel dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Jika manajer  mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik,dan karenanya ingin agar harga saham meningkat, ia ingin mengkomunikasikan hal tersebut ke investor. Manajer bisa menggunakan hutang lebih banyak, sebagai signal yang lebih credible. Karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaanmempunyai prospek yang baik. Dengan demikian hutang merupakan tanda atau signal positif.&lt;br /&gt;7. Teori Lainnya&lt;br /&gt;7.1. Pendekatan Teori Keagenan (agency approach) &lt;br /&gt; Menurut pendekatan ini, strukturmodal disusun untukmengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manajer adalah konsep free-cash flow (Jensen, 1985). Free-cash flow dalam konteks ini didefinisikan sebagai aliran kas yang tersisa sesudah semua usulan investasi dengan NPV positif didanai. Tetapi ada kecenderungan manajer ingin menahan sumber daya (termasuk free-cash flow) sehingga mempunyai kontrol atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan freecash flow. Jika perusahaan menggunakan hutang, maka manajer akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan (untuk membayar bunga).&lt;br /&gt;7.2. Pendekatan Interaksi Produk/Input dengan Pasar&lt;br /&gt; Model ini berangkat dari teori organisasi industri, dan relatif baru dibandingkan teori lainnya. Ada dua kategori dalam pendekatan ini:&lt;br /&gt;(1)  Menjelaskan hubungan antara struktur modal perusahaan dengan strategi, dan&lt;br /&gt;(2)  Menjelaskan hubungan antara struktur modal dengan karakteristik produk    atau input.&lt;br /&gt;7.3. Kontes atas Pengendalian Perusahaan&lt;br /&gt; Beberapa penemuan pendekatan ini adalah perusahaan yang menjadi target (dalam pengambil alihan) akan meningkatkan tingkat hutangnya, dan mengakibatkan kenaikan harga saham. Tingkat hutang berhubungan negatif dengan kemungkinan sukses tender offer (penawaran terbuka pada proses pengambil alihan usaha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt; Struktur  modal adalah perbandingan atau imbangan pendanaan jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan hutang jangka panjang  terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Teori struktur modal diasumsikan bahwa perubahan struktur modal berasal dari penerbitan obligasi dan pembelian kembali saham biasa atau penerbitan saham baru. Struktur modal sendiri adalah pembelanjaan permanen, di mana mencerminkan perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Apabila struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca, maka struktur modal hanya tercermin pada utang jangka panjang dan unsur-usur modal itu sendiri, di mana kedua golongan tersebut mempunyai dana permanen atau dana jangka panjang. Jadi, struktur modal hanya merupakan sebagian saja dari struktur finansial. Struktur modal keseluruhan terdiri dari modal asing dan modal sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiari Widya W (3351405036)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Struktur Finansial&lt;br /&gt;Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca. Struktur finansial mencerminkan pula perimbangan baik dalam artian absolut maupun relatif antara keseluruhan modal asing (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan jumlah modal sendiri.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur finansial adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tingkat pertumbuhan penjualan. Tingkat pertumbuhan penjualan masa depan dapat ditentukan oleh leverage.&lt;br /&gt;2. Stabilitas arus kas. Stabilitas arus kas dan rasio rasio hutang saling berkaitan. Bila stabilitas penjualan dan laba lebih besar, beban hutang mempunyai risiko lebih kecil, dan sebaliknya bila stabilitas penjualan dan laba lebih kecil beban hutang mempunyai risiko lebih besar.&lt;br /&gt;3. Karakteristik industri. Kemampuan membayar hutang tergantung pada profitabilitas dan volume penjualan. Industri yang berkembang menjanjikan marjinal yang tinggi, tetapi marjinal laba tersebut cenderung menurun apabila industri tersebut kalah bersaing dengan masuknya industri baru.&lt;br /&gt;4. Struktur aktiva. Struktur aktiva dapat mempengaruhi struktur finansial dengan cara perusahaan yang mempunyai struktur aktiva tetap jangka panjang akan banyak menggunakan hipotek jangka panjang.&lt;br /&gt;Berbicara mengenai struktur finansial tentunya tidak akan lepas dari struktur kekayaan. Struktur kekayaan adalah perimbangan atau perbandingan baik dalam artian absolut maupun dalam artian relatif antara aktiva lancar dengan aktiva tetap. Kita mengenal adanya pedoman atau aturan struktur finansial yang konservatif, baik yang vertikal maupun yang horizontal. Aturan struktur finansial yang vertikal memberikan batas imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya modal asing dengan modal sendiri. Aturan ini menganggap bahwa pembelanjaan yang sehat itu itu pertama kali harus dibiayai dengan modal sendiri. Maka aturan struktur finansial konservatif menetapkan bahwa besarnya modal asing dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh lebih dari 1:1. Setiap perluasan basis modal sendiri akan memperbesar kemampuan perusahaan dalam menanggung risiko usaha perusahaan yang akan dibelanjainya. Pandangan ini didasarkan pada “prinsip keamanan”, dimana hal ini akan memberikan pengaruh yang baik terhadap kreditur maupun perusahaan itu sendiri. &lt;br /&gt;Adapun aturan struktur finansial konservatif yang horizontal memberikan batas imbangan atara besarnya modal sendiri di satu pihak dengan besarnya aktiva tetap plus persediaan besi (persediaan minimum) di lain pihak. Aturan tersebut menyatakan bahwa keseluruhan aktiva tetap dan persediaan besi harus sepenuhnya ditutup atau dibelanjai dengan modal sendiri, yaitu modal tetap yang tertanam di dalam perusahaan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa besarnya modal sendiri tidak boleh kurang atau lebih kecil dari pada jumlah aktiva tetap plus persediaan besi, atau dengan kata lain besarnya modal sendiri sama dengan aktiva tetap plus persediaan besi. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar&lt;br /&gt;KEADAAN NORMAL DALAM PERIMBANGAN ANTARA JUMLAH AKTIVA TETAP (PLUS PERSEDIAAN BESI) DENGAN JUMLAH MODAL SENDIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktiva Lancar Modal Asing&lt;br /&gt;Aktiva Tetap&lt;br /&gt;+&lt;br /&gt;Persediaan Besi &lt;br /&gt;Modal sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila jumlah modal sendiri lebih kecil dari aktiva tetap plus persediaan besi, berarti aktiva tetap tersebut “kurang tertutup” oleh modal sendiri sehingga besarnya modal sendiri tidak cukup untuk menjamin atau menutup aktiva tetap tersebut.&lt;br /&gt;Aktiva tetap dan persediaan besi adalah merupakan asset yang akan tetap terikat di dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama sehingga untuk membelanjai asset tersebut juga diperlukan modal yang akan tetap tertanam dalam perusahaan, yaitu dalam bentuk modal sendiri. Modal sendiri bila lebih kecil dari pada aktiva tetap plus persediaan besi, berarti sebagian dari aktiva tersebut dibelanjai dengan modal asing. Jangka waktu modal asing tersebut bila lebih pendek daripada jangka waktu terikatnya dana dalam aktiva tetap , hal ini akan mengganggu likuiditas perusahaan yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca. Dalam hubungannya dengan struktur finansial dan struktur kekayaan, kita mengenal adanya pedoman atau aturan struktur finansial yang konservatif, baik yang vertikal maupun yang horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufiq Hidayat     (3351405063)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pembahasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :&lt;br /&gt; Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh kementerian/lembaga negara bersangkutan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Dengan demikian, analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan pemerintah.&lt;br /&gt; Sedangkan analisis keuangan horizontal dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laba rugi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila metode ini dilakukan untuk suatu jangka waktu yang cukup panjang dan menitikberatkan pada arah perkembangannya.&lt;br /&gt; Prosedur pembandingan antara satu pos terhadap pos lainnya dalam laporan keuangan disebut analisis vertikal karena merupakan evaluasi pos dari atas ke bawah (atau bawah ke atas) dalam laporan common-size. Analisis vertikal dapat menunjukkan proporsi suatu pos terhadap angka dasar tertentu dalam laporan keuangan yang sama. Analisis ini dapat pula digunakan dalam laporan-laporan ukuran bersama komparatif dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan penting dalam komponen-komponen dari satu tahun ke tahun.&lt;br /&gt; Struktur modal sendiri adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Apabila struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca, maka struktur modal hanya tercermin pada utang jangka panjang dan unsur-unsur modal itu sendiri, dimana kedua golongan tersebut merupakan dana permanen atau dana jangka panjang. Dengan demikian struktur modal hanya merupakan sebagian saja dari struktur finansial. Struktur modal keseluruhan terdiri dari modal asing dan modal sendiri.&lt;br /&gt; Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca. Kita mengenal adanya pedoman atau aturan struktur finansial yang konservatif, baik yang vertikal maupun yang horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh :&lt;br /&gt;1. Dewi Marina P (3351405001)&lt;br /&gt;2. Istiari Widya  (3351405036)&lt;br /&gt;3. Eva Z Saragih (3351405038)&lt;br /&gt;4. Taufiq Hidayat (3351405063)&lt;br /&gt;5. Erna Wulandari (3351405086&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyanto, Bambang. 1995. Dasar Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gitosudarmo, Indriyo. 1999 Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setia, Atmaja. 1999. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brigham, F. Eugene &amp; Houston, F. Joel. 1999. Manajemen Keuangan. Jakarta: ERLANGGA Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3930788562523557983-563227176138224130?l=itok-itok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/563227176138224130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/06/deskripsi-dan-analisis-struktur-laporan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/563227176138224130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/563227176138224130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/06/deskripsi-dan-analisis-struktur-laporan.html' title='DESKRIPSI DAN ANALISIS STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-2019606684875360170</id><published>2009-06-20T07:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T07:33:51.886-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MOTIVATION  AND  MANAGERIAL PERFORMANCE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUDGETARY PARTICIPATION'/><title type='text'>BUDGETARY PARTICIPATION, MOTIVATION  AND  MANAGERIAL PERFORMANCE</title><content type='html'>Working paper alfred p. Sloan school of management &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://unnes.ac.id"&gt;BUDGETARY PARTICIPATION, MOTIVATION &lt;br /&gt;AND &lt;br /&gt;MANAGERIAL PERFORMANCE &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WP 1389-83 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Brownell &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Morris Mclnnes &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 1983 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASSACHUSETTS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSTITUTE OF TECHNOLOGY &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50 MEMORIAL DRIVE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAMBRIDGE, MASSACHUSETTS 02139 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budgetary Participation, Motivation And Managerial Performance &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Brownell &lt;br /&gt;and &lt;br /&gt;J. Morris Mclnnes &lt;br /&gt;WP 1389-83 January 1983 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstract &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The paper proposes an "indirect-effects" model linking participation in &lt;br /&gt;budget-setting with managerial performance. Motivation was selected as an &lt;br /&gt;intervening variable to explore the proposed model in a field study &lt;br /&gt;setting. A significant positive association between participation and &lt;br /&gt;performance was observed. However, the indirect path linking participation &lt;br /&gt;and performance through motivation was found to explain only a small amount &lt;br /&gt;of the relationship. In the study, motivation was measured using an &lt;br /&gt;expectancy model. Further analysis revealed that greater participation in &lt;br /&gt;budget-setting was positively associated with the extrinsic components of &lt;br /&gt;motivation, but negatively with the intrinsic components. Contrary to &lt;br /&gt;wide-held beliefs, the results seemed to suggest that participation &lt;br /&gt;reinforces the contractual nature of the budget at the expense of the &lt;br /&gt;personal satisfactions derived from goal-directed behavior and &lt;br /&gt;goal-accomplishment. The managerial implications of the "indirect-effects" &lt;br /&gt;model, and of the findings of the study, are discussed in the final section &lt;br /&gt;of the paper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budgetary Participation, Motivation And Managerial Performance&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Early theorists (e.g., Argyris, 1952; Becker and Green, 1962) tended to &lt;br /&gt;the view that participation in the budget-setting process was a major means &lt;br /&gt;available to organizations to gain the commitment of managers to budgets, &lt;br /&gt;with consequent improvement in performance. Hopwood (1976) summarized this &lt;br /&gt;earlier sentiment when he suggested that participation was viewed by many as &lt;br /&gt;"...a panacea: a cure for all the many ills which have been associated with &lt;br /&gt;traditional Dudgetary systems" (p. 74). Nonetheless, even in the &lt;br /&gt;non-empirical realm in which much of this debate was conducted disagreement &lt;br /&gt;was evident. The reply to Becker and Green by Stedry (1964), together with &lt;br /&gt;Becker and Green's (19o4) rejoinder, illustrates the controversial nature of &lt;br /&gt;the debate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As subsequent empirical evidence accumulated, it became clear that these &lt;br /&gt;earlier disagreements were well founded, l^ile evidence emerged of positive &lt;br /&gt;relationships between participation and criteria such as job satisfaction &lt;br /&gt;(Cherrington and Cherrington, 1973), attitude towards job (Milani, 1975), &lt;br /&gt;motivation (Hofstede, 1967; Searfoss and Monczka, 1973), and attitude &lt;br /&gt;towards the budget system (Collins, 1973; Kenis, 1979), no consistent &lt;br /&gt;relationship with performance was found. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A possible explanation for the lack of an observed association between &lt;br /&gt;participation and performance revolves around the role of moderating &lt;br /&gt;variables, that is, variables which interact with participation jointly to &lt;br /&gt;affect performance. This view gained formal recognition in the literature &lt;br /&gt;with the emergence of the contingency framework for control system design &lt;br /&gt;(see, for example, Waterhouse and Tiessen, 1978; Otley, 1980). Specifically &lt;br /&gt;with regard to participation, Brownell (1982a) has reviewed and synthesized &lt;br /&gt;the literature within a framework which explicitly provides for interactive effects of participation with organizational, interpersonal, and individual &lt;br /&gt;variables. Recent empirical work (Brownell 1981, 1982b) has produced &lt;br /&gt;results consistent with this "moderated-ef f ects" framework. &lt;br /&gt;A second possible explanation, and the one pursued in this paper, &lt;br /&gt;emerges from literature in organizational behavior. In a review of &lt;br /&gt;literature in the area of goal setting and routine task performance, Locke &lt;br /&gt;and Schweiger (1979) could find no evidence of a systematic association &lt;br /&gt;between participation and performance. Locke, et. al. (1981, p. 138) went &lt;br /&gt;on to propose that to the extent it is found to be associated with &lt;br /&gt;performance, participation may be influencing this through the joint &lt;br /&gt;mechanisms of inducing higher goals and enhanced goal-commitment on the part &lt;br /&gt;of workers. In other words, these authors imply an "indirect-effects" model &lt;br /&gt;in which some other condition, aroused by participation, is positively &lt;br /&gt;associated with performance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The difference between the "moderated-ef f ects" and "indirect-effects" &lt;br /&gt;frameworks is significant, and deserves brief elaboration. The "moderated- &lt;br /&gt;effects" model posits the existence of variables which may interact with &lt;br /&gt;participation to affect performance; but these variables are viewed as &lt;br /&gt;neither directly affecting performance, nor being affected by &lt;br /&gt;participation. To illustrate, Brownell (1981) found that the individual &lt;br /&gt;variable, internal/external locus of control , interacted with &lt;br /&gt;participation to affect performance. Internals were found to prefer, and &lt;br /&gt;perform better, under conditions of high participation while externals &lt;br /&gt;preferred, and performed better, under low participation conditions. &lt;br /&gt;However, participation and locus of control were themselves unrelated, and &lt;br /&gt;no effects of the latter on performance were found. By contrast, the &lt;br /&gt;"indirect-effects" model posits the existence of variables which are &lt;br /&gt;associated with participation and which, in turn, affect performance. In &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-2- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;this framework, it is possible that statistically significant associations &lt;br /&gt;between participation and some intervening variable on the one hand, and &lt;br /&gt;between the intervening variable and performance on the other, could combine &lt;br /&gt;in such a way as to yield an insignificant association between participation &lt;br /&gt;and performance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this study, motivation was chosen as an intervening variable in an &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 &lt;br /&gt;empirical investigation of the indirect-effects model. Apart from the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;intuitive plausibility of motivation as an intervening variable, there is &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ample justification in the literature for its choice. This is dealt with in &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the next section of the paper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Review of Previous Literature &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hofstede (1967), in his seminal study of budgeting, observed that, "Of &lt;br /&gt;all variables studied, budget participation is the one with the strongest &lt;br /&gt;effect on all measures of motivation" (pp. 181-182). Hofstede used four &lt;br /&gt;measures of motivation, dealing with the perceived relevance of the budget &lt;br /&gt;and the existence of favorable attitudes towards the budget on the part of &lt;br /&gt;budgeted managers. Similar results were found by Searfoss and Monczka &lt;br /&gt;(1973) who studied the effects on motivation of participation by general &lt;br /&gt;foremen in the development of their budgets; motivation was measured through &lt;br /&gt;the use of subordinates' ratings of the level of effort expended by the &lt;br /&gt;foremen in goal-directing and evaluative activities based on the budget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In both these studies the concept of motivation was operationalized in &lt;br /&gt;terms' of acceptance of, and effort expended to achieve the budget. In this &lt;br /&gt;study motivation is operationazlied by use of the expectancy model (see, for &lt;br /&gt;example, Galbraith and Cummings [1967], House [1971], and Ronen and &lt;br /&gt;Livingstone [1975]). The model, shown in Equation (1), is considerably more &lt;br /&gt;general in its interpretation of motivation than the constructs used by &lt;br /&gt;Hofstede and by Searfoss and Monczka. It posits that individuals will exert &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-3- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Equation 1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Expectancy Model of Motivation: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M = IV, + P, (IV +1 P„. EV.) &lt;br /&gt;b 1 a . , 2i 1 &lt;br /&gt;1=1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Where: M is motivation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivjj is the intrinsic valence associated with &lt;br /&gt;goal-directed behavior &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Px is the instrumentality, or probability, that &lt;br /&gt;goal-directed behavior will result in goal accomplishment &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV^ is the intrinsic valence associated with goal accom- &lt;br /&gt;plishment &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P2i is the expectation, or probability, that goal accom- &lt;br /&gt;plishment will result in the ith extrinsic outcome, &lt;br /&gt;i = 1, ,n. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVi is the valence of the ith extrinsic outcome, &lt;br /&gt;i = 1, , n. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;effort towards goal achievement to the extent that such effort is perceived &lt;br /&gt;likely to be instrumental in achieving the goal, and additionally, to the &lt;br /&gt;extent that positively valent (desirable) outcomes are perceived likely to &lt;br /&gt;result from goal-directed behavior and from goal-achievement. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The intrinsic valences, or rewards, arise from within the individual - &lt;br /&gt;essentially the personal satisfactions derived from goal-directed behavior and &lt;br /&gt;goal-accomplishment. The extrinsic valences are proferred by some agent &lt;br /&gt;external to the individual, such as the organization (e.g. additional pay, &lt;br /&gt;promotion, etc.), peers, subordinates, or parties outside the organization. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some possible effects of budgetary participation on the elements of the &lt;br /&gt;expectancy model have been suggested by Ronen and Livingstone (1975). They &lt;br /&gt;speculate, for example, that ego-involvement associated with pursuing a &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-4- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;self-set goal will enhance IV , and possibly also IV, . To the extent this &lt;br /&gt;is true, however, attendant adverse conseqences for the EV's may arise, &lt;br /&gt;following from attribution theory (see, for example, Staw, [1980] and &lt;br /&gt;Kruglanski 11978]), which posits that extrinsic and intrinsic rewards are in &lt;br /&gt;some state of psychological balance in respect to an individual's &lt;br /&gt;self-perception. In other words, a strengthening of the attribution of effort &lt;br /&gt;to the receipt of intrinsic rewards is a possible consequence of the removal &lt;br /&gt;or reduction of extrinsic rewards, and vice versa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A relationship of participation with P is also likely. Raia (1965) has &lt;br /&gt;suggested that more difficult goals emerge from participative budgeting. This &lt;br /&gt;might translate into reduced perceptions of P , but might increase IV^ due &lt;br /&gt;to the enhanced internalized value of achieving more difficult goals (Locke &lt;br /&gt;et. al., 1981, pp. 127 - 129). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How, or whether these opposing tendencies balance out in their effects on &lt;br /&gt;LDotivation is unclear. Overall, however, an assessment of the possible &lt;br /&gt;effects of participation suggests that there are more opportunities for &lt;br /&gt;enhancing than for diminishing motivation. This judgment is consistent with &lt;br /&gt;the empirical findings referred to earlier. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turning to a consideration of the effects of motivation on performance, &lt;br /&gt;this question is dealt with largely within the domain of organizational &lt;br /&gt;behavior. Nevertheless, in the accounting literature some attention has &lt;br /&gt;recently been given to the issue (Ferris, 1977; Rockness, 1977). Ferris, &lt;br /&gt;using a relatively simple construction of motivation, found inconclusive &lt;br /&gt;results regarding the association between motivation and performance. On the &lt;br /&gt;other hand, Rockness, in an experimental study, and using a more complex &lt;br /&gt;formulation of the expectancy model, found relatively strong support for a &lt;br /&gt;positive relationship. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the organizational behavior area, much of the research examining the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-5- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;relationship between motivation and performance stems from the work of Porter &lt;br /&gt;and Lawler (1968). They posit that motivation should contribute to an &lt;br /&gt;explanation of performance and also, under specified conditions, to job &lt;br /&gt;satisfaction. A great deal of subsequent research has been conducted and is &lt;br /&gt;summarized in several review articles (Mitchell, 1974; Wahba and House, 1974; &lt;br /&gt;Connolly, 1970). llitchell (1979) concludes that most of the research results &lt;br /&gt;support a positive relationship between motivation and performance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Method &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data for the study were collected by a survey questionnaire from 224 &lt;br /&gt;middle-level managers drawn from three separate companies - two in the &lt;br /&gt;electronics industry and one in the steel industry. The managers held &lt;br /&gt;positions in a variety of functions, including marketing, production, &lt;br /&gt;research, and administration. One selection criterion was used, namely that &lt;br /&gt;activities of the managers should be controlled, at least in part, via the use &lt;br /&gt;of budgeting. Final sample selection was left to top management of each &lt;br /&gt;company; thus the sample was not strictly random. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The questionnaire measured participation in budget-setting, motivation and &lt;br /&gt;performance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budgetary Participation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The participation measures developed by Milani (1975) and by Hofstede &lt;br /&gt;(1967) were both employed in this study. The Milani measure is a six item &lt;br /&gt;Likert type scale, each item calling for a response from one to seven. The &lt;br /&gt;scale is designed for an additive construction of the overall score, and a &lt;br /&gt;previously performed factor analysis of the scale (Brownell, 1982b) provides &lt;br /&gt;adequate confirmation of the single factor nature of the measure. The &lt;br /&gt;Cronbach alpha reliability coefficient computed from its use in this study &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-6- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;was 0.76. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hofstede measure is an eight-point, single-choice scale, with full &lt;br /&gt;verbal anchoring. It was used in this study simply to validate the Milani &lt;br /&gt;measure, with which it correlated at 0.59 (p&lt;O.Ol), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The questionnaire items were designed to elicit measures on each construct &lt;br /&gt;of the model presented in Equation (1). In the following discussion, we first &lt;br /&gt;address valences, and then instrumentalities/expectancies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valences: The approach to the measurement of the valences was adapted &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from the procedure developed by Lawler and Suttle (1973) in such a way as to &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;distinguish between the three classes of valence (IV,, IV , and EV's). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b a &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seventeen outcomes were used, classified a priori as either intrinsic (eight &lt;br /&gt;outcomes) or extrinsic (nine outcomes). The outcomes are listed in Appendix &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. For each outcome, respondents were twice asked to indicate on a scale from &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;one to nine (extremely desirable to extremely undesirable) the strength of &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;their preference for that outcome. First respondents were asked to value each &lt;br /&gt;outcome as it might result from "working hard" (goal-directed behavior), and &lt;br /&gt;then to value each outcome as it might arise from "meeting or beating budgeted &lt;br /&gt;goals" (goal-accomplisl"UDent) . IV, was measured by averaging the eight &lt;br /&gt;responses to the intrinsic items from the first set of responses. IV was &lt;br /&gt;measured by averaging the responses to the same eight items, but from the &lt;br /&gt;second set of responses. The use of the same eight intrinsic outcomes in the &lt;br /&gt;measurement of IV, and IV pre-supposes that a given outcome may arise &lt;br /&gt;from either goal-directed behavior or goal-accomplishment; and moreover, that &lt;br /&gt;the value placed on it might vary depending on how it arises. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The valences associated with the nine extrinsic outcomes (EV's) were &lt;br /&gt;assessed from the second set of responses (outcomes resulting from &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-7- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;feoal-accomplishment) • &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumentalities/Expectancies: Equation (1) requires the assessment of &lt;br /&gt;nine specific instrumentalities associating goal-accomplishment with extrinsic &lt;br /&gt;outcome (Pn's). These instrumentalities were assessed by asking respondents &lt;br /&gt;to indicate on a scale from one (never) to seven (always), how often "meeting &lt;br /&gt;or beating the budget" would result in each outcome. Three additional &lt;br /&gt;questionnaire items elicited measures of P-, , the perceived probability that &lt;br /&gt;goal-directed behavior would result in goal-accomplishment. For ease of &lt;br /&gt;interpretation, the instrumentality responses were converted to probabilities &lt;br /&gt;in the range of zero to one. The three assessments of P, were significantly &lt;br /&gt;(p &lt; 0.01) correlated, with a mean correlation of 0.35. A single measure of &lt;br /&gt;P, was derived by averaging the three responses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The final measure of motivation was then obtained by aggregating the &lt;br /&gt;individual constructs following Equation (1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Performance &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A self-rating version of the performance measure developed by Mahoney &lt;br /&gt;et.al. (1963, 1965) was used. The measure calls for ratings on a nine-point &lt;br /&gt;scale for each of eight separate dimensions of performance , together with a &lt;br /&gt;single overall rating. In developmental work, Mahoney et al. (1963 pp. &lt;br /&gt;106-107) indicated that the eight separate dimensions were conceived of as &lt;br /&gt;being independent, and that jointly, the dimensions should explain at least 55 &lt;br /&gt;per cent of the overall rating (the remainder being explained by job-specific &lt;br /&gt;factors). Each of these claims was tested in the current study. To assess &lt;br /&gt;dimensional independence, a rule of thumb suggested by Pindyck and Rubinfeld &lt;br /&gt;(1976, p. 68) was used. Multi-collinearity among an independent variable set &lt;br /&gt;is likely to be a concern if the sample correlation between two of the &lt;br /&gt;independent variables (dimensions) is larger than the correlation of either or &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-8- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;both with the dependent variable (in this case, the overall rating). Of 28 &lt;br /&gt;possible comparisons, only three intercorrelations violated this criterion, &lt;br /&gt;indicating that the eight dimensions are reasonably independent. To test the &lt;br /&gt;second claim, the overall performance rating was regressed on the eight &lt;br /&gt;sub-dimensions. The regression explained 78 percent of the variance in the &lt;br /&gt;overall ratings, implying that only 22 per cent of the functions critical to &lt;br /&gt;effective performance were job-specific in the current sample. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Approach to Anal ysis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because of the hypothesized collinearity between participation and &lt;br /&gt;motivation, ordinary multiple regression cannot be used in the analysis. &lt;br /&gt;Instead, partial regression, in the spirit of path analysis, was used. The &lt;br /&gt;major benefit of path analysis is that it allows a decomposition of the &lt;br /&gt;relationship between two variables in a structural model into the direct &lt;br /&gt;effects of one on the other, as well as the indirect effects of the first on &lt;br /&gt;the second, via one or more intervening variables. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The basic form of the structural model hypothesized earlier is depicted &lt;br /&gt;in Figure 1, where participation, the exogenous variable in the model, is &lt;br /&gt;denoted as X, , motivation as X~, and performance as X^. The path &lt;br /&gt;coefficients in the model are denoted p. ., and R, denotes the &lt;br /&gt;unexplained portions of the endogenous variables, motivation and performance. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-9- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figure 1: Structural Model &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The equations to the structural model are as follows; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xo = &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^21 1 '^Zu u &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X. = &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p^^X + p^„X + p R &lt;br /&gt;31 1 32 2 ^3v V &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The solution for p„ , can be directly assessed by computing the &lt;br /&gt;correlation ^-i^' A path coefficient between two variables will equal the &lt;br /&gt;zero-order correlation between them in circumstances where a variable is &lt;br /&gt;viewed to be dependent on a single cause and a residual. This is true for &lt;br /&gt;X (motivation) which, in the model, is conceived of as being dependent &lt;br /&gt;only on X, (participation). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The solutions to p^^ ^"^"^ Pin ^^^ ^^ obtained in several equivalent &lt;br /&gt;ways. One possibility (Stokes, 1974) is by means of an instrumental &lt;br /&gt;variable procedure. This involves multiplying equations by suitable &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-10- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;instruments, taking expected values, and solving. Suitable instruments are &lt;br /&gt;variables contained in a particular equation which are uncorrelated with the &lt;br /&gt;residual variable of that equation. In equation (3), for example, X and &lt;br /&gt;X^ are suitable, but X-, is not. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A second approach, and the one used here, involves partial regression. &lt;br /&gt;If, as above, it is assumed that the residuals are uncorrelated with the &lt;br /&gt;explanatory variables in the equations in which they appear, and all &lt;br /&gt;variables are expressed in standard form, then the p. .'s can be estimated &lt;br /&gt;by ordinary least squares procedures; they are in fact equal to the &lt;br /&gt;standardized partial regression coefficients. Equations (2) and (3) can be &lt;br /&gt;rewritten as follows: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^2 = e2iX^ + P2, R, (4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^3= ^31.2^1^^32. 1^2 +P3v^ ^^^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The residual path coefficients can be calculated using the general form: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p. = / (1 - r^) &lt;br /&gt;le e &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 &lt;br /&gt;where r is the square of the appropriate multiple correlation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coefficient. In the present context, we have: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P2u = ^ ^^ - ^12^ (^) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P3v - •/ ^1 - ^3.12) &lt;7) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, the decomposition of the total effect of one variable in the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;model on another is obtained using the computed path coefficients and &lt;br /&gt;zero-order correlations: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^12 = P2I ^8) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rj_3 = P31 + P32ri2 (9) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r23 = P32 + P3;l^12 ^l^^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-11- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second components on the right hand side of equations (9) and (10) &lt;br /&gt;capture the indirect effects, while the first components, the path &lt;br /&gt;coefficients themselves, capture the direct effects. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Results &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of 224 questionnaires distributed, 140 were returned, a response rate of &lt;br /&gt;02.5%. Of the 140 returned questionnaires 32 were excluded because of &lt;br /&gt;improper or incomplete responses. The final sample size was therefore 108. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The zero order correlations among the three variables, participation, &lt;br /&gt;motivation, and performance, are shown in Table 1. The probabilities &lt;br /&gt;reported in Table 1 are based on a two-tailed test, as are all the other &lt;br /&gt;results presented in the paper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSERT TABLE 1 HERE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The set of path coefficients of equation (3) were computed following &lt;br /&gt;the procedure outlined in the previous section. The approach involves &lt;br /&gt;regressing X on X and X in a multiple regression in which all &lt;br /&gt;variables are standardized. The coefficient on X is p^, , and on X„ &lt;br /&gt;is P32* The results of the regression are presented in Table 2. Both &lt;br /&gt;path coefficients, and the overall regression itself, are positive and &lt;br /&gt;significant. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSERT TABLE 2 HERE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-12- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The path coefficients for the errors in Figure 1 are derived by the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;application of the formulae in Equations (6) and (7) to the results obtained: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p., = 0.990 &lt;br /&gt;2u &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P3^ = U.984 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, the decomposition of total effects within the model presented &lt;br /&gt;in Figure 1 is performed following Equations (9) and (10), and the &lt;br /&gt;decomposition is summarized in Table 3. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSERT TABLE 3 HERE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The results indicate that of the total effects of participation on &lt;br /&gt;performance, the effect through motivation accounts for only a small &lt;br /&gt;proportion, the majority appearing to be direct. The lack of explanatory &lt;br /&gt;power of motivation as a mediator of the effects of participation was, of &lt;br /&gt;course, first hinted at in Table 1, where the zero-order correlation between &lt;br /&gt;the two was found to be insignificant. It is, nonetheless, premature to &lt;br /&gt;conclude that the bulk of the effects of participation on performance are &lt;br /&gt;necessarily direct. Other variables, operating like motivation but &lt;br /&gt;unmeasured in this study, could account for some or all of what in the study &lt;br /&gt;has been accounted for as an apparent direct effect. &lt;br /&gt;Further Analysis and Interpretation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the aggregate analysis, participation and motivation are not &lt;br /&gt;significantly associated with one another. To examine this finding further, &lt;br /&gt;the associations between participation and the components of the expectancy &lt;br /&gt;model were explored. The results of the analysis are shown in Table 4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-13- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSERT TABLE 4 HERE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the first column the simple correlation coefficients between &lt;br /&gt;participation and the nine extrinsic valences are shown. Four of the nine &lt;br /&gt;are negative and five are positive. There is no a priori reason to suppose &lt;br /&gt;that extrinsic valences should be influenced by the degree of participation, &lt;br /&gt;and this is borne out. However, the P„'s display an interesting pattern &lt;br /&gt;in relation to participation; the coefficients are shown in the second &lt;br /&gt;column. While only five of the nine coefficients are positive, three are &lt;br /&gt;significant, namely, the probability of pay raise, high pay and promotion. &lt;br /&gt;The third column shows the correlation coefficients between participation &lt;br /&gt;and the products of the ^ j' s and the extrinsic valences. It seems as if &lt;br /&gt;participation, largely through its effect on the P^'s, enhances the &lt;br /&gt;contribution of the extrinsic rewards to motivation - particularly those &lt;br /&gt;rewards within the official power of the organization to bestow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An interpretation of this is that participation serves to legitimize the &lt;br /&gt;budget as a basis for performance evaluation and contingent administration &lt;br /&gt;of organizational rewards. Such a conclusion is consistent with previous &lt;br /&gt;findings (Brownell, 1982b), to the effect that a "budget-constrained" style &lt;br /&gt;of evaluation was appropriate in circumstances of high participation in &lt;br /&gt;budget-setting; conversely, managers were found to respond poorly to &lt;br /&gt;participation when the budget was not used as a salient basis for evaluation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Column's 4 and 5 show the correlation coefficients between participation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and the intrinsic valences, the eight IV 's and the eight IV, 's. For &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;both of these groups, six of eight of the coefficients are negative (p &lt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-14- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.11, using a binomial test); overall, 12 of 16 correlations between &lt;br /&gt;participation and intrinsic valences are negative (p &lt; 0.03). Contrary to &lt;br /&gt;the belief that participation is likely to enhance goal-commitment by &lt;br /&gt;increasing the level of ego-involvement associated with the pursuit of &lt;br /&gt;self-set goals, these results suggest that it appears to be acting in the &lt;br /&gt;opposite manner. Indeed, from an intrinsic perspective, participation &lt;br /&gt;appears to be associated with significant devaluation of the task and &lt;br /&gt;reduction of the satisfaction derived from goal-accomplishment. In line &lt;br /&gt;with the previous suggestions (Staw [1980] and Kruglanski [1978]), &lt;br /&gt;strengthening of the instrumentality between goal-accomplishment and &lt;br /&gt;extrinsic rewards appears to diminish, in some degree, the intrinsic &lt;br /&gt;valences. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The correlations between participation and the three measures of P, &lt;br /&gt;(the probability that goal-directed effort will lead to goal accomplishment) &lt;br /&gt;were all found to be positive. Participation correlates with the overall &lt;br /&gt;measure of P-, at 0.18 (p &lt; 0.08). Two explanations of this would be &lt;br /&gt;plausible. First, perhaps participation acts to strengthen goal commitment, &lt;br /&gt;effort, and therefore the perceived probability of goal-achievement. There &lt;br /&gt;is considerable evidence from the organization! behavior literature (see &lt;br /&gt;Locke et al., 1981) that the intrinsic value of goal accomplishment tends to &lt;br /&gt;increase as the level of goal difficulty increases. Indeed, this mechanism &lt;br /&gt;is central to the notion of goal-setting and motivation. In the current &lt;br /&gt;study, however, the negative association between participation and the &lt;br /&gt;intrinsic valences relating to goal-accomplishment is at odds with this &lt;br /&gt;explanation. A second explanation is that participation may provide an &lt;br /&gt;opportunity to negotiate easier goals; that is, budget slack may be &lt;br /&gt;introduced by participation (Schiff and Lewin, 1970; Onsi, 1973). This &lt;br /&gt;would be consistent with the observed negative association of participation &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-15- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;with the IV 's, since achieving an easier goal would be likely to lead to &lt;br /&gt;less intrinsic satisfaction. Moreover, since participation appears to be &lt;br /&gt;connected with the use of the budget to evaluate performance as a basis for &lt;br /&gt;bestowing organizational rewards, it would be perfectly rational for &lt;br /&gt;managers to perceive it to be in their self-interest to negotiate as low a &lt;br /&gt;budget as possible (Lowe and Shaw; 1968). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The preceding interpretation of the research findings raises important &lt;br /&gt;questions about the benefits of participation in budget-setting. &lt;br /&gt;Nonetheless, the study does indicate a significant positive relationship &lt;br /&gt;between participation and the overall measure of performance. To explore &lt;br /&gt;this further, each of the eight sub-dimensions of performance was correlated &lt;br /&gt;with participation, and the results are shown in Table 3. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSERT TABLE 5 HERE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All eight correlations are positive, and significant (p &lt; 0.05). An &lt;br /&gt;examination of the pattern among the coefficients suggests that the &lt;br /&gt;dimensions of managerial performance which are most strongly associated with &lt;br /&gt;participation are precisely those which might be expected to be strengthened &lt;br /&gt;by judicious use of a budget as a managerial tool, in particular planning, &lt;br /&gt;investigating and evaluating. &lt;br /&gt;Limitations and Conclusions &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The aim of the study was to assess whether, compared with a &lt;br /&gt;"direct-effects" model, an "indirect-effects" model linking participation &lt;br /&gt;and performance has the potential to add to our understanding of the &lt;br /&gt;consequences of participation. In the interests of parsimony, a single variable, motivation, was included as intervening between participation and &lt;br /&gt;performance. The results of the study show that the indirect path through &lt;br /&gt;motivation contributes relatively little to an explanation of the observed &lt;br /&gt;association between participation and performance. This evidence, however, &lt;br /&gt;is insufficient grounds for abandoning the "indirect-effects" model. Other &lt;br /&gt;intervening variables could enter the model. For example, ability and role &lt;br /&gt;clarity have been suggested as co-determinants, with motivation, of &lt;br /&gt;performance (Porter and Lawler, 1968; Lawler, 1971). Further research is &lt;br /&gt;necessary to resolve this matter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The form of the expectancy model of motivation adopted in the study also &lt;br /&gt;requires further research and possible refinement. For example, Staw (1977) &lt;br /&gt;offers a rationale for recognizing the possibility of extrinsic valences &lt;br /&gt;being associated with goal-directed behavior, rather than simply with &lt;br /&gt;goal-accomplishment. Moreover, multiple extrinsic valences enter into the &lt;br /&gt;equation additively, whereas both the intrinsic valences enter the equation &lt;br /&gt;as single mean values. This has implications for the relative weightings &lt;br /&gt;accorded extrinsic and intrinsic valences respectively in the calculation of &lt;br /&gt;motivation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then there is the question of the appropriateness of the measure of &lt;br /&gt;performance in a research study such as this one. The criterion variable of &lt;br /&gt;ultimate concern is an organization's creation of profit potential and the &lt;br /&gt;realization of this through efficient operations. However, budgeting is &lt;br /&gt;primarily concerned with the regulation of managerial work within an &lt;br /&gt;organization. In this limited context, the appropriate criterion variable &lt;br /&gt;of direct interest is managerial performance, even if the connection between &lt;br /&gt;managerial performance and organizational effectiveness remains a broader &lt;br /&gt;concern. This still leaves the issue of the reliability of self-ratings of &lt;br /&gt;performance, compared with superior, peer or subordinate ratings. While &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-17- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;self-ratings have been shown to exhibit leniency error, provided the error &lt;br /&gt;is not systematic among the respondents in a manner which is collinear with &lt;br /&gt;any of the independent variables, the research findings will be unaffected. &lt;br /&gt;Furthermore, Kavanagh et al. (1971) have suggested that self-ratings provide &lt;br /&gt;greater discrimination among dimensions of performance than do other sources &lt;br /&gt;of rating, and may therefore be more reliable in analyzing the components of &lt;br /&gt;performance which contribute to the overall assessment. Having said this, &lt;br /&gt;however, exhortations (e.g. Steers, 1977) to devote more research effort to &lt;br /&gt;the development of better techniques for measuring performance are clearly &lt;br /&gt;valid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, there is the issue of causality and the direction in which &lt;br /&gt;effects among variables in the model proceed. The analysis done in the &lt;br /&gt;study does not permit any inference about the causalities; these can only be &lt;br /&gt;constructed from supporting theory. In this study, it is implied that &lt;br /&gt;perceived participation in budget-setting may cause higher levels of &lt;br /&gt;motivation, which in turn may cause higher levels of performance. But, in a &lt;br /&gt;dynamic, inter-temporal context a rationale could be constructed to argue &lt;br /&gt;for a reverse chain of causality - i.e. high performance leading to high &lt;br /&gt;motivation leading to a perception (and indeed perhaps a reality) of high &lt;br /&gt;participation in budget-setting. For example, it is entirely possible that &lt;br /&gt;participation might be viewed as a luxury affordable only to organizational &lt;br /&gt;units already performing satisfactorily. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i^ven recognizing the limitations of the study, the findings are &lt;br /&gt;potentially of significance in the design of control systems. Participation &lt;br /&gt;is a costly control strategy, since it consumes managerial resources. The &lt;br /&gt;findings of the study indicate that the control system cost may be &lt;br /&gt;compensated by improved managerial performance. But, on the other hand, the &lt;br /&gt;findings also indicate some latent costs in the participation process, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-18- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;arising in two ways. First, some potential performance may be being &lt;br /&gt;sacrificed through the creation of budgetary slack. And secondly, costly &lt;br /&gt;organizational rewards, contingent on the achievement of budgets, may be &lt;br /&gt;supplanting intrinsic rewards. These latter rewards could be viewed as &lt;br /&gt;being costless to the organization; stated even more strongly, their &lt;br /&gt;suppression could induce hidden costs through, for example, diminished &lt;br /&gt;creativity within the organization. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is precisely because of these hidden consequences that the &lt;br /&gt;"indirect-effects" model is potentially of considerable practical, as well &lt;br /&gt;as theoretical, interest. A greater understanding of the mechanisms through &lt;br /&gt;which participation affects performance should provide management with a &lt;br /&gt;basis for designing the participation process in such a way as to capture &lt;br /&gt;all the benefits, and to drive out the latent costs which the results of &lt;br /&gt;this study have indicated. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-19- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABLE 1 &lt;br /&gt;Zero-Order Correlations Between Variables &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Participation(Xi)/Performance(X3) , r = 0.369, p&lt;O.Ol &lt;br /&gt;Participation(X]^)/Motivation(X2) , r = 0.139, n.s. &lt;br /&gt;Motivation(X2)/Perforroance(X3) , r = 0.248, p&lt;O.Ol &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABLE 2 &lt;br /&gt;Calculation of Path Coefficients P3-]^ and P32 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standard &lt;br /&gt;Coefficient Value Error t &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intercept &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.088 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.00 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n.s. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P31 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.341 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.089 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.81 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;0.01 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P32 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.201 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.089 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.25 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;0.05 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r2 = 0.176, F2^i05 = 11.20, p &lt;0.01 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABLE &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iposition of Total &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effects in &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mod &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;el &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linkage &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direct (=p) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indirect &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total (=r) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X1/X2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.139 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.139 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X1/X3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.341 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.028 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.369 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X2/X3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.201 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.047 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.248 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-20- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABLE 4 &lt;br /&gt;Correlations between Participation and &lt;br /&gt;the Elements of the Expectancy Model &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outcome* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^2i &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^2i^^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV &lt;br /&gt;a &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'\ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.143 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.232 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.232 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.025 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.041 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.075 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.196 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.159 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.033 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.072 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.060 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.052 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.037 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.042 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.086 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.141 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.049 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.106 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.136 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.112 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.201 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.097 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.136 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.016 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.058 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.104 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.001 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.133 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.044 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.049 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.201 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.057 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.098 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.024 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.070 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.061 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.042 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-.155 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.128 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.192 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.206 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N/A &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N/A &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The numbered outcomes are listed in Appendix A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N/A Not Applicable &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.191 &gt; r &gt; .160, p &lt; 0.10 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.248 &gt; r &gt; .191, p &lt; 0.05 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r &gt; .248, p &lt; 0.01 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-21- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABLE 5 &lt;br /&gt;Correlations between Participation and &lt;br /&gt;the Eight Sub-Dimensions of Performance &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Planning &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.297 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investigating &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.219 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coordinating &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.209 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluating &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.30A &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supervising &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.201 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staffing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.284 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negotiating &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.217 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.174 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-22- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Appendix A &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;List of Outcomes &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eight intrinsic and nine extrinsic outcomes were used in this study. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Extrinsic Intrinsic &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pay Raise 1. Personal growth and development &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. High Pay 2. Setting higher standards for yourself &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Respect from boss 3. Giving help to others &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Respect from other employees 4, Time at work passing fast &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Receiving more compliments 5. Feelings of security ' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Greater chances for independent 6. Setting higher standards for others &lt;br /&gt;thought and action &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Fewer chances to make friends 7. Feelings of accomplishment &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Special reward or recognition 8. Being tired &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Promotion &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-23- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Appendix B &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The solution to equation (3) can be derived through the use of &lt;br /&gt;instrumental variables. As suggested earlier, X, and X„ serve as &lt;br /&gt;suitable instruments since they are assumed uncorrelated with R . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multiplying both sides of (3) by X, and then by X„ gives: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hh = P3l4 ^ P32V2 ^ ^3v\K ^'^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'"' hh - ^31^1^2-^ P32^2 ^ P3v^2\ ^^^^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taking the expected value of each of (i) and (ii) gives &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r^3 = P31 + P32ri2 ^^^^^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^^23 = P31^12 + P32 ^^^^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(iii) and (iv) follow from (i) and (ii) since, for standardized &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;variables, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) E(X.X.) = r. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^'^^ (b) E(X^) = 1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The terms involving R disappear since &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E^^i^v) = ^X.R = 0- &lt;br /&gt;1 V &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(iii) and (iv) represent a system of two equations in two unknowns &lt;br /&gt;(poi and Pon)« Solving (iii) and (iv) simultaneously gives &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_ ^^13 "^ ^^12^23 (v) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P3I \ 2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- r^2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^ ^23 "^ ^12^13 (vi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32 , 2 &lt;br /&gt;1 - r^2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-24- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Substituting the values from Table 1 for the r's in (v) and (vi) gives &lt;br /&gt;p, = 0.341, and ^^^ " 0*201, values identical to those shown in Table 2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;■25- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. An internally controlled individual attributes the outcomes of his o\^m &lt;br /&gt;actions to himself, while an externally controlled individual tends to &lt;br /&gt;attribute these outcomes to chance, luck, or fate. See Rotter [1966] &lt;br /&gt;for details of this variable, together with the instrument used to &lt;br /&gt;measure it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Of course, we do not intend to imply, by its choice as a single &lt;br /&gt;intervening variable, that motivation is the only candidate for &lt;br /&gt;inclusion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. These raw scores were reversed and rescaled by subtracting five from all &lt;br /&gt;scores. As a result of this procedure, "neutral" responses score zero, &lt;br /&gt;while responses in the "desirable" direction score positively (one to &lt;br /&gt;four) and responses in the "undesirable" direction score negatively &lt;br /&gt;(minus one to minus four). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. The dimensions were planning, investigating, coordinating, evaluating, &lt;br /&gt;supervising, staffing, negotiating and representing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. This procedure is also used to test the suitability of more parsimonious &lt;br /&gt;models which exclude one or more linkages. In general, the assessment &lt;br /&gt;of suitability is based on whether the original matrix of &lt;br /&gt;intercorrelations among the variables in the model can be reproduced by &lt;br /&gt;a more parsimonious model. For elaboration, see Land (1969). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. As previously mentioned, it was not necessary to solve equation (2) &lt;br /&gt;since P2i is equivalent to r]^2&gt; the zero-order correlation between &lt;br /&gt;participation and motivation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. The equivalence of the coefficients derived here with those resulting &lt;br /&gt;from the instrumental variable procedure is demonstrated in Appendix B. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-26- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argyris, C. , The Impact of Budgets on People , Ithaca, NY: School of Business &lt;br /&gt;and Public Administration, Cornell University, 1952. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Becker, S. W. and D. Green, "Budgeting and Employee Behavior," Journal of &lt;br /&gt;Business (October 1962), pp. 392-402. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, "Budgeting and Employee Behavior: A Rejoinder to &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a 'Reply'," Journal of Business (April 1964), pp. 203-205. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brownell, P., "Participation in Budgeting, Locus of Control, and &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organizational Effectiveness," The Accounting Review (October 1981), &lt;br /&gt;pp. 844-860. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, "Participation in the Budgeting Process: When it Works and &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When it Doesn't," Journal of Accounting Literature , (Vol. 1, 1982a), &lt;br /&gt;pp. 124-153. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, "The Role of Accounting Data in Performance Evaluation, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budgetary Participation and Organizational Effectiveness," &lt;br /&gt;Journal of Accounting Research (Spring 1982b), pp. 12-27. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cherrington, D. J. and J. 0. Cherrington, "Appropriate Reinforcement &lt;br /&gt;Contingencies in the Budgeting Process," Empirical Research in &lt;br /&gt;Accounting: Selected Studies , Supplement to Journal of Accounting &lt;br /&gt;Research (1973), pp. 225-253. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collins, F., "The Interaction of Budget Characteristics and Personality &lt;br /&gt;Variables with Budgetary Response Attitudes," The Accounting Review &lt;br /&gt;(April 1978), pp. 324-335. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Connolly, T., "Some Conceptual and Methodological Issues in Expectancy Models &lt;br /&gt;of Work Performance Motivation," Academy of Management Review &lt;br /&gt;(No. 1, 1976), pp. 37-47. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferris, K. R. , "A Test of the Expectancy Theory of Motivation in an &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Accounting Environment," The Accounting Review (July 1977), pp. 605-615. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galbraith, J. and L. L. Cummings, "An Empirical Investigation of the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivational Determinants of Task Performance: Interactive Effects &lt;br /&gt;between Instrumentality-Valence and Motivation-Ability," &lt;br /&gt;Organizational Behavior and Human Performance , (No. 2, 1967), &lt;br /&gt;pp. 237-257. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hofstede, G. H., The Game of Budget Control , Assen: Van Gorcum, 1967. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hopwood, A. G. , Accounting and Human Behavior , Englewood Cliffs, N.J.: &lt;br /&gt;Prentice-Hall, 1976. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;House, R. J., "A Path-Goal Theory of Leader Effectiveness," Administrative &lt;br /&gt;Science Quarterly (September 1971), pp. 321-338. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-27- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kavanagh, M. J., A. C. MacKinney and L. Wolins, "Issues in Managerial &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Performance: Multitrait-Multimethod Analyses of Ratings," Psycholgica l &lt;br /&gt;Bulletin (January 1971), pp. 34-49. "" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenis, I., "Effects of Budgetary Control Characteristics on Managerial &lt;br /&gt;Activities and Performance," The Accounting Review (October 1979), &lt;br /&gt;pp. 707-721. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kruglanski, A. W., "Issues in Cognitive Social Psychology" in H. R. Lepper &lt;br /&gt;and D. Greene (eds.) The Hidden Costs of Reward; New Perspectives on &lt;br /&gt;the Psychology of Human Motivation . New York: Wiley and Sons, 1978, &lt;br /&gt;pp. 19-29. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Land, K. C, "Principles of Path Analysis," in E. Borgatta (ed.). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sociological Methodology , San Francisco: Jossey-Bass, 1969, pp. 3-2 7. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawler, E. E., Motivation in Work Organizations , Belmont, California: &lt;br /&gt;Brooks/Cole, 1973. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawler, E. E. and J. L. Suttle, "Expectancy Theory and Job Behavior," &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organizational Behavior and Human Performance (June 1973), pp. 482-503. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Locke, E. A. and D. M. Schweiger, "Participation in Decision-Making: One &lt;br /&gt;More Look," in B. M, Staw (ed.). Research in Organizational Behavior &lt;br /&gt;(Vol. 1), Greenwich, Ct.:, JAI Press, 1979, pp. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, K, N. Shaw, L. M. Saari and G. P. Latham, "Goal-Setting and &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Task Performance: 1969-1980," Psychological Bulletin (No. 1, 1981), &lt;br /&gt;pp. 125-152. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lowe, A, E, and R. W, Shaw, "An Analysis of Managerial Biasing: Evidence &lt;br /&gt;from a Company's Budgeting Process," Journal of Management Studies &lt;br /&gt;(October 1968), pp. 304-315. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahoney, T. A., T. H. Jerdee and S. J. Carroll, Development of Managerial &lt;br /&gt;Performance: A Research Approach , Cincinatti: Southwestern Publishing &lt;br /&gt;Company, 1963. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, "The Jobs of Management," &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrial Relations (February 1965), pp. 97-110. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milani, K. W. , "The Relationship of Participation in Budget-Setting to &lt;br /&gt;Industrial Supervisor Performance and Attitudes: A Field Study," &lt;br /&gt;The Accounting Review (April 1975), pp. 274-284. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitchell, T. R. , "Expectancy Models of Job Satisfaction, Occupational &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preference and Effort: A Theoretical, Methodological, and Empirical &lt;br /&gt;Appraisal," Psychological Bulletin (81, 1974), pp. 1053-1077. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;., "Organizational Behavior," Annual Review of Psychology &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1979), pp. 243-281. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onsi, M. , "Behavioral Variables Affecting Budgetary Slack," The Accounting &lt;br /&gt;Review (July 1973), pp. 535-548. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-28- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otley, D. T. , "The Contingency Theory of Management Accounting: Achievement &lt;br /&gt;and Prognosis," Accounting, Organizations and Society (1980), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pp. 413-428. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindyck, R. S. and D. L. Rubinfeld, Econometric Models and Economic &lt;br /&gt;Forecasts , New York: McGraw-Hill, 1976. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porter, L. W. and E. E. Lawler, Managerial Attitudes and Performance , &lt;br /&gt;Homewood, Illinois: Irwin, 1968. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raia, A. P., "Goal Setting and Self-Control: An Empirical Study," &lt;br /&gt;Journal of Management Studies (No. 1, 1965), pp. 34-53, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rockness, H. 0., "Expectancy Theory in a Budgetary Setting: An Experimental &lt;br /&gt;Examination," The Accounting Review (October 1977), pp. 893-903. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ronen, J. and J. L. Livingstone, "An Expectancy Theory Approach to the &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivational Impact of Budgets," The Accounting Review (October 1975), &lt;br /&gt;pp. 671-685. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rotter, J. B., "Generalized Expectancies for Internal versus External Control &lt;br /&gt;of Reinforcement," Psychological Monographs: General and Applied &lt;br /&gt;(1966, Whole No. 609), pp. 1-28. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schiff , M. and A. Y. Lewin, "The Impact of People on Budgets," The Accounting &lt;br /&gt;Review (April 1970), pp. 259-268. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Searfoss, D. and R. Monczka, "Perceived Participation in the Budget Process &lt;br /&gt;and Motivation to Achieve the Budget," Academy of Management Journal &lt;br /&gt;(December 1973), pp. 541-554. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staw, B. M. , "Motivation in Organizations: Toward Synthesis and &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redirection," in B. M. Staw and G. R. Salancik (eds.). New Directions &lt;br /&gt;in Organizational Behavior , Chicago: St. Clair Press, 1977. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;, "Intrinsic and Extrinsic Motivation," in Leavitt, H. J., L. R. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondy and D. M. Boje, Readings in Manger ial Psychology , University of &lt;br /&gt;Chicago Press (1980), pp. 23-61. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steers, R. M. , Organizational Effectiveness: A Behavioral View , Santa &lt;br /&gt;Monica, Calif.: Goodyear Publishing, 1977. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stokes, D. E. , "Compound Paths: An Expository Note," American Journal of &lt;br /&gt;Political Science (February 1974), pp. 191-214. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stedry, A. C. , "Budgeting and Employee Behavior: A Reply,' Journal of &lt;br /&gt;Business (April 1964), pp. 195-202. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahba, M. A. and K. J. House, "Expectancy Theory in Work and Motivation - &lt;br /&gt;Some Logical and Methodological Issues," Human Relations (27, 1974), &lt;br /&gt;pp. 121-147. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waterhouse, J. H. and P. Tiesssn, "A Contingency Framework for Management &lt;br /&gt;Accounting Systems Research," Accounting, Organizations and Society &lt;br /&gt;(1978), pp. 65-76. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-29- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kSS3 019 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIT LIBRARIES &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 TDflD DD4 S7h 143 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SM^Aobe: i5 oH dA^ (^^^^^sf^ &lt;br /&gt;Brownell (1981) found that the individual An interpretation of this is that participation serves to legitimize the budget as a basis for performance evaluation and contingent administration of organizational rewards&lt;br /&gt;Untuk menggambarkan, Brownell ( 1981) yang ditemukan [bahwa/yang] yang individu [Adalah] suatu penafsiran ini adalah keikutsertaan itu melayani untuk mengesahkan anggaran [itu] sebagai basis untuk evaluasi capaian dan administrasi ketidak-tentuan [dari;ttg] penghargaan organisatoris. Kesimpulan seperti itu adalah konsisten dengan penemuan sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3930788562523557983-2019606684875360170?l=itok-itok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/2019606684875360170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/06/budgetary-participation-motivation-and.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/2019606684875360170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/2019606684875360170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/06/budgetary-participation-motivation-and.html' title='BUDGETARY PARTICIPATION, MOTIVATION  AND  MANAGERIAL PERFORMANCE'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-5564907046533948205</id><published>2009-03-29T07:28:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T07:32:29.494-07:00</updated><title type='text'>Tranparansi dan Efisiensi Keuangan Daerah</title><content type='html'>Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelennggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalam nya segala bentuk kekayaan yang berhubungan hak dan kewajiban daerah tersebut ( PP no. 58 tahun 2005 pasal 1 ayat 5). Transparansi keuangan publik merupakan salah satu tuntutan dari beberapa tuntutan reformasi.  Karena dengan adanya tranparansi tersebut diharapkan dapat meminimalkan segala kecurangan-kecurangan yang dampaknya pada berkurangnya korupsi di Negara Indonesia ini.  Tranparansi keuangan public dapat dilakukan apabila terjadi kerjasama yang baik antara pmerintah, Auditor yang independent, LSM, dan masyarakat pada umumnya juga dituntut untuk tetap mengawal perjalanan keuangan tersebut. Pemerintah dalam hal ini pihak eksekutif bertindak sebagai pembuat, pelaksana dan pelapor keuangan harus berbuat sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dan menganggarkan sesuai dengan apa yang dibutuhkan mayarakat dan tidak hanya mencari “proyek” yang dapatsemakin membuka pintu korupsi terbuka lebar. Dari pihak legislative sebagai “pengetok” anggaran public harus ikut juga mengawal anggaran  tersebut, tidak hanya diam setelah dapat “jatah” dari pihak eksekutif, dan dalam pembuatan peraturan perundang-perundangan juga harus tegas tanpa “sogok” dari sana-sini sehingga peraturan tersebut tak bermuatan politis, menguntungkan, ataupun merugikan salah satu pihak sehingga tak terkesan UUD berarti “Ujung-ujungnya Duit”. Pihak yudikatif juga harus bersifat tegas dalam setiap pelnggaran yang terjadi baik dari pihak eksekutif, legislative, ataupun yudikatif sendiri, sehingga tak terkesan terjadi tebang pilih. Pihak auditor, baik auditor intern yaitu BPK dan BPKP, maupun auditor ekstern yang harus bersifat independent dan mematuhi segala kode etik auditor. Pihak LSM untuk tidak hanya mencari “jatah” dari segala kecurangan yang terjadi pada penggunaan anggaran tersebut.&lt;br /&gt; Pada system otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia ini sejak tahun 1999 yang ditandai denngan UU no. 22 tahun 1999 yang berisi tentang otonomi daerah dan UU no. 25 tahun 1999 yang berisi tentang perimbangan keuangan pusat dengan pemerintah daerah yang kemudian diubah menjadi UU no. 32 tahun 2004 dan UU no. 33 tahun 2004 yang brisi tentang otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan pemerintah daerah, dan beberapa peraturan perundang-undangan lain yang masih releven dengan otonomi daerah.  Pada system desentralisasi ini pengawasan keuangan daerah akan lebih mudah, tetapi dapat juga kebocoran akan semakin tinggi dikarenakan semakin mudahnya” kerjasama” yang rapi sehingga banyaknya terjadi korupsi “berjamaah” yang terjadi di beberapa daerah.&lt;br /&gt;Pengelolaan Keungan Daerah Yang efisien&lt;br /&gt;Untuk melihat pengelolaan daerah yang efisien, kita perlu mengetahui  ruang lingkup keuangan daerah yang terdiri dari: (PP no 58 tahun 2005 pasal 2)&lt;br /&gt;1. Hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman&lt;br /&gt;2. Kewajiban daerah untuk menyelangggarakan urusan pemerintah daerah dan membayar tagihan pada pihak ketiga&lt;br /&gt;3. Penerimaan daerah&lt;br /&gt;4. Pengeluaran daerah&lt;br /&gt;5. Kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah&lt;br /&gt;6. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintah daerah dan/atau kepentingan umum.&lt;br /&gt;Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa daerah berhak untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman. Tapi beberapa dari pemerintah daerah mempunyai kebijakan untuk lebih meningkatkan PAD yang sebagian besar berimbas pada masyarakat karena naiknya retribusi daerah ataupun pajak daerah. Kenaikan pajak atau retribusi daerah yang berlebihan akan menuyumbat investasi, yang imbasnya pada semakin banyaknya pengangguran. Hal itu karena minimnya kreativitas pemerintah untuk meningkatkan PAD tanpa meningkatkan pajak yaitu dengan lebih mengintesifkan pengelolaan kekayaan daerah. Pemerintah lebih menyukai cara cepat untuk meningkatkan PAD tersebut, karena semakin tinggi PAD akan lebih meningkatkan pembelanjaan dan pembiayaan yang berimbas pada meningkatnya “proyek” yang tentunya juga akan menambah” jumlah uang saku para pejabat”. Mereka tidak pernah memikirkan dampak luas yang terjadi seperti akan larinya investor karena membengkaknya pengeluaran perusahaan dan beberapa pungli yang sering terjadi. Oleh karena itu diperlukan manajemen keuangan daerah yang baik.&lt;br /&gt;Pada penerimaan daerah jika kita menilk UU no. 32 tahun 2004 Bab VIII keuangan daerah pasal 105 dijelaskan bahwa sumber-sumber pendapatan daerah terdiri atas :&lt;br /&gt;1. Pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu :&lt;br /&gt;a. Hasil pajak daerah;&lt;br /&gt;b. Hasil retribusi daerah;&lt;br /&gt;c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan&lt;br /&gt;d. Lain-lain penapatan yang sah.&lt;br /&gt;2. Dana perimabangan; dan&lt;br /&gt;3. Lain-lain pendapatan yang sah.&lt;br /&gt;Dalam pembelanjaan daerah seperti pada UU no. 32 tahun 2004 pasal 167 dijealskan bahwa belanja daerah lebih diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas kesehatan, fasilitas social dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan system jaminan social. Untuk menjaga belanja daerah dari “tangan-tangan” jahil, dalam ayat 3 dijelaskan belanja daerah harus mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur kinerja, dan pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dngan peraturan perundang-undngan. Disini telah jelas bahwa sebenarnya dalam pembuatan belanja daerah harus lebih memprioritaskan kepentingan rakyat terutama pada peningkatkan fasilitas social untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, tetapi inilah “kepintaran” pejabat Indonesia dalam mencari kesempatan untuk mendaptkan uang dan proyekyang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh rakyat.&lt;br /&gt;Untuk mencapai pengelolaan keuagan yang efisien dan efektif maka pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan perlu melakukan (penjelasan PP no. 58 tahun 2005):&lt;br /&gt;1. Perencanaan dan pengaggaran&lt;br /&gt;  Pengaturan pada aspek perencanaan diarahkan agar seluruh proses penyusunan APBD semaksimal mungkin dapat menunjukan latar belakang pengambilan keputusan dalam penetapan arah kebijakan umum, skala prioritas dan penetapan alokasi serta distribusi sumber daya dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Dokumen penyusunan anggaran yang disampaikan oleh masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang disusun dalam format Rencana Kerja dan  Anggaran (RKA) SKPD harus dapat menyajikan informasi yang jelas tentang tujuan, sasaran, serta korelasi antara besar anggaran (beban kerja dan harga satuan) dengan manfaat dan hasil yang diharapkan atau diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan yang dianggarkan.&lt;br /&gt; Untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan efektifitas anggaran, maka dalam perencanaan perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;a. Penetapan secara jelas tujuan dan sasaran, hasil dan manfaat, serta indicator kinerja yang ingin dicapai;&lt;br /&gt;b. Penetapan prioritas kegiatan dan penghitungan beban kerja, serta penetapan harga yang rasional&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan dan penatausahaan keuangan daerah&lt;br /&gt;  Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan penyelenggaraan pemerintah daerah adalah juga pemegang kekuasaan dalam pengelolaan keuangan daerah. Selanjutnya kekuasaan tersebut dilaksanakan olehkepala satuan kerja pengelola keuangan daerah dan dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat penggguna anggaran/barang daerah dibawah koordinasi sekretaris daerah. Pemisahan ini akan memberikan kejelasan dalam pembagian wewenang dan tanggung jawab, serta untuk mendorong upaya peninngkatan profesionalisme dal penyelenggaraan tugas pemerintah.&lt;br /&gt; Berkaitan dengan system pengeluaran dan system pembayaran, dalam rangka meningkatkan pertangggung jawaban dan akuntabilitas satuan kerja perangkat daerah serta untuk menghindari pelaksanaan verifikasi (pengurusan administrasi) dan penertiban SPM (pengurusan pembayaran) berada dalam satu kewenangan tunggal (satuan Kerja Pengelola Keungan Daerah), fungsi penertiban SPM dialihkan ke Satuan Kerja Perangkat Daerah. Perubahan ini diharapkan dapat menyederhanakan seluruh proses pembayaran. Dengan memisahkan pemegang kewenangan dari pemegang kewenangan komptabel, check and balance mungkin dapat terbangun melalui:&lt;br /&gt;a. Ketataan terhadap ketentuan hukum,&lt;br /&gt;b. Pengamanan diri melalui pemeriksaan dan persetujuan sesuai ketentuan yang berlaku,&lt;br /&gt;c. Sesuai dengan spesifikasi teknis,&lt;br /&gt;d. Menghindari pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan dan memberikan keyakinan bahwa keuangan daerah dikelola dengan benar.&lt;br /&gt;3. Pertanggung jawaban keuangan daerah&lt;br /&gt;  Pengaturan bidang akuntasi dan pelaporan dilakukan dalam rangka untuk menguatkan pilar akuntabilitas dan transparansi. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan, pemerintah daerah wajib menyampaikan pertanggung jawaban berupa:&lt;br /&gt;a. Laporan Realisasi Anggaran &lt;br /&gt;b. Neraca&lt;br /&gt;c. Laporan Arus Kas&lt;br /&gt;d. Catatan atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;  Fungsi pemeriksaan merupakan salah satu fungsi manajemen sehingga tidak dapat dipisahkan dari manajemen keuangan daerah. Berkaitan dengan pemeriksaan telah dikeluarkan UU no. 15 tahun 2004 tentng pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Terdapat dua jenis pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap pengelolaan keuangan daerah, yaitu pemeriksaan intern yang dilakukan oleh Badan Pengawas Daerah (BAWASDA) dan pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).&lt;br /&gt;PENDEKATAN ANGGARAN PADA AKUNTANSI PUBLIK&lt;br /&gt;Aspek utama budgeting reform adalah perubahan dari traditional budget ke performance budget. Secara garis besar terdapat dua pendekatan utama yang memiliki perbedaan mendasar. Kedua pendekatan tersebut adalah: (a) Anggaran tradisional atau anggaran konvensional; dan (b) Pendekatan baru yang sering dikenal dengan pendekatan New Public Management. &lt;br /&gt;1. Anggaran tradisional&lt;br /&gt;  Anggaran tradisional merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan di negara berkembang dewasa ini. Terdapat dua ciri utama dalam pendekatan ini, yaitu: (a) cara penyusunan anggaran yang didasarkan atas pendekatan incrementalism dan (b) struktur dan susunan anggaran yang bersifat line-item. Ciri lain yang melekat pada pendekatan anggaran tradisional tersebut adalah: (c) cenderung sentralistis; (d) bersifat spesifikasi; (e) tahunan; dan (f) menggunakan prinsip anggaran bruto(Mardiasmo, 2002):. &lt;br /&gt;Dilihat dari berbagai sudut pandang, metode penganggaran tradisional memiliki beberapa kelemahan, antara lain (Mardiasmo, 2002): &lt;br /&gt;a. Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang. &lt;br /&gt;b. Pendekatan incremental menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pernah diteliti secara menyeluruh efektivitasnya. &lt;br /&gt;c. Lebih berorientasi pada input daripada output. Hal tersebut menyebabkan anggaran tradisional tidak dapat dijadikan sebagai alat untuk membuat kebijakan dan pilihan sumber daya, atau memonitor kinerja. Kinerja dievaluasi dalam bentuk apakah dana telah habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai. &lt;br /&gt;d. Sekat-sekat antar departemen yang kaku membuat tujuan nasional secara keseluruhan sulit dicapai. Keadaan tersebut berpeluang menimbulkan konflik, overlapping, kesenjangan, dan persaingan antar departemen. &lt;br /&gt;e. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal/investasi. &lt;br /&gt;f. Anggaran tradisional bersifat tahunan. Anggaran tahunan tersebut sebenarnya terlalu pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebut dapat mendorong praktik-praktik yang tidak diinginkan (korupsi dan kolusi). &lt;br /&gt;g. Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidak memadai menyebabkan lemahnya perencanaan anggaran. Sebagai akibatnya adalah munculnya budget padding atau budgetary slack. &lt;br /&gt;h. Persetujuan anggaran yang terlambat, sehingga gagal memberikan mekanisme pengendalian untuk pengeluaran yang sesuai, seperti seringnya dilakukan revisi anggaran dan ’manipulasi anggaran.’ &lt;br /&gt;i. Aliran informasi (sistem informasi finansial) yang tidak memadai  yang menjadi dasar mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan. &lt;br /&gt;2. Era New Public Management (NPM) &lt;br /&gt;  Reformasi sektor publik yang salah satunya ditandai dengan munculnya era New Public Management telah mendorong usaha untuk mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dalam perencanaan anggaran sektor publik. Seiring dengan perkembangan tersebut, muncul beberapa teknik penganggaran sektor publik, misalnya adalah teknik anggaran kinerja (performance budgeting), Zero Based Budgeting (ZBB), dan Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS) (Mardiasmo, 2002):. &lt;br /&gt;Pendekatan baru dalam sistem anggaran publik tersebut cenderung memiliki karak-teristik umum sebagai berikut(Mardiasmo, 2002):: &lt;br /&gt;a. Komprehensif/komparatif &lt;br /&gt;b. Terintegrasi dan lintas departemen &lt;br /&gt;c. Proses pengambilan keputusan yang rasional &lt;br /&gt;d. Berjangka panjang &lt;br /&gt;e. Spesifikasi tujuan dan perangkingan prioritas &lt;br /&gt;f. Analisis total cost dan benefit (termasuk opportunity cost) &lt;br /&gt;g. Berorientasi input, output, dan outcome (value for money), bukan sekedar input. &lt;br /&gt;h. Adanya pengawasan kinerja. &lt;br /&gt;STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN DALAM RANGKA TRANSPARANSI KEUANGAN PUBLIK&lt;br /&gt; Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolan  keuangan Negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintah yang telah diterima secara umum. Laporan pertannggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD   disusun dan disajikan dengan standar akuntansi pemerintahan yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah (PP no. 24 tahun 2004 Lamp. I)&lt;br /&gt; Menilik PP no. 24 tahun 2004 pasal 1 ayat 4 Standar Akuntansi Pemerintahan, selanjutnya disebut SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang ditrapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dalam menyusun SAP, Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) menggunakan materi/referensi yang dikeluarkan oleh:&lt;br /&gt;1. International Federation of Accountans;&lt;br /&gt;2. International Accounting Standards Committee;&lt;br /&gt;3. International Monetary Fund;&lt;br /&gt;4. Ikatan Akuntan Indonesia;&lt;br /&gt;5. Financial Accounting Standard board-USA;&lt;br /&gt;6. Governmental Accounting Standard Board-USA;&lt;br /&gt;7. Pemerintah Indonesia, berupa peraturan-peraturan dibidang Keuangan Negara;&lt;br /&gt;8. Organisasi profesi lainnya di berbagai Negara yang membidangi pelaporan keuangan, akuntansi, dan audit pemerintah.&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah(PP no. 24 tahun 2004 Lamp. II):&lt;br /&gt;1. Basis akuntansi&lt;br /&gt;  Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan asset, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca. &lt;br /&gt;2. Prinsip nilai historis&lt;br /&gt;  Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal tidak terdapat nilai historis, dapat digunakan nilai wajar asset atau kewajiban terkait.&lt;br /&gt;3. Prinsip realisasi&lt;br /&gt;  Bagi pemerintah, pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama satu tahun fiscal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja. Prinsip layak temu biaya-pendapatan (matching-cost against revenue principle) dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaiana akuntansi komersial.&lt;br /&gt;4. Prinsip substansi mengungguli bentuk formal&lt;br /&gt;  Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang harus disajikan, maka transaksi atau peristiwa transaksi tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, bukan hanya aspek formalitasnya.&lt;br /&gt;5. Prinsip periodisitas&lt;br /&gt;  Pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan.&lt;br /&gt;6. Prinsip konsistensi&lt;br /&gt;  Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian serupa dari period ke periode oleh suatu entitas. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah denngan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. Pengaruh perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.&lt;br /&gt;7. Prinsip pengungkapan lengkap&lt;br /&gt;  Laporan keungan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada lembar muka laporan keuangan atau catatan atas Laporan Keuangan.&lt;br /&gt;8. Prinsip penyajian lengkap&lt;br /&gt;  Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran,  Neraca,Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt; Dari uraian diatas dapat diambil simpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Untuk mencapai pengelolaan keuangan yang efisien dan efektif maka pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan perlu melakukan (penjelasan PP no. 58 tahun 2005):&lt;br /&gt;a. Perencanaan dan pengaggaran&lt;br /&gt;b. Pelaksanaan dan penatausahaan keuangan daerah&lt;br /&gt;c. Pertanggung jawaban keuangan daerah&lt;br /&gt;2. Aspek utama budgeting reform adalah perubahan dari traditional budget (anggaran tradisonal) ke performance budget (New Public Management).&lt;br /&gt;3. Standar Akuntansi Pemerintahan, selanjutnya disebut SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang ditrapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Mardiasmo, 2002,  Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: Penerbit Andi. &lt;br /&gt;__________,2004, Undang-Undang Otonomi Daerah (UU No. 32 tahun 2004 &amp; UU No. 33 tahun 2004), Bandung: Citra Umbara.&lt;br /&gt;__________,2005, Standar Akuntansi Pemerintahan (PP no. 24 tahun 2005, Keppres RI no. 2 tahun 2005, &amp; Keppres RI no. 84 tahun 2004), Bandung: Fokusmedia.&lt;br /&gt;__________,2005, Petunjuk dan Pelaksanaan Dana Perimbangan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (PP no. 58 tahun 2005, PP no. 57 tahun 2005, PP no. 56 tahun 2005, PP no. 55 tahun 2005, PP no. 54 tahun 2005, PP no. 14 tahun 2005 ), Bandung: Fokusmedia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3930788562523557983-5564907046533948205?l=itok-itok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/5564907046533948205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/03/tranparansi-dan-efisiensi-keuangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/5564907046533948205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/5564907046533948205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/03/tranparansi-dan-efisiensi-keuangan.html' title='Tranparansi dan Efisiensi Keuangan Daerah'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-1079213030965331622</id><published>2009-03-29T07:07:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T07:14:41.333-07:00</updated><title type='text'>PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN</title><content type='html'>PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.   UMUM&lt;br /&gt;1. Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dilandasi falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang di dalamnya tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan. Undang-Undang ini memuat ketentuan umum dan tata cara perpajakan yang pada prinsipnya diberlakukan bagi undang-undang pajak material, kecuali dalam undang-undang pajak yang bersangkutan telah mengatur sendiri mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakannya.&lt;br /&gt;2. Sejalan dengan perkembangan ekonomi, teknologi informasi, sosial, dan politik, disadari bahwa perlu dilakukan perubahan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Perubahan tersebut bertujuan untuk lebih memberikan keadilan, meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, meningkatkan kepastian dan penegakan hukum, serta mengantisipasi kemajuan di bidang teknologi informasi dan perubahan ketentuan material di bidang perpajakan. Selain itu, perubahan tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur perpajakan, meningkatkan keterbukaan administrasi perpajakan, dan meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak. &lt;br /&gt;3. Sistem, mekanisme, dan tata cara pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan yang sederhana menjadi ciri dan corak dalam perubahan Undang-Undang ini dengan tetap menganut sistem self assessment. Perubahan tersebut khususnya berkaitan dengan peningkatan keseimbangan hak dan kewajiban bagi masyarakat Wajib Pajak sehingga masyarakat Wajib Pajak dapat melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya dengan lebih baik. &lt;br /&gt;4. Dengan berpegang teguh pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhanaan, arah dan tujuan perubahan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ini mengacu pada kebijakan pokok sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. meningkatkan efisiensi pemungutan pajak dalam rangka mendukung penerimaan negara;&lt;br /&gt;b. meningkatkan pelayanan, kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat guna meningkatkan daya saing dalam bidang penanaman modal, dengan tetap mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah; &lt;br /&gt;c. menyesuaikan tuntutan perkembangan sosial ekonomi masyarakat serta perkembangan di bidang teknologi informasi;&lt;br /&gt;d. meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban;&lt;br /&gt;e. menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan;&lt;br /&gt;f. meningkatkan penerapan prinsip self assessment secara akuntabel dan konsisten; dan&lt;br /&gt;g. mendukung iklim usaha ke arah yang lebih kondusif dan kompetitif. &lt;br /&gt;Dengan dilaksanakannya kebijakan pokok tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara dalam jangka menengah dan panjang seiring dengan meningkatnya kepatuhan sukarela dan membaiknya iklim usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.  PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal I&lt;br /&gt;Angka 1&lt;br /&gt; Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Angka 2&lt;br /&gt; Pasal 2&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Semua Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan sistem self assessment, wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak. &lt;br /&gt;Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/pemungutan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.&lt;br /&gt;Kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.&lt;br /&gt;Wanita kawin selain tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.&lt;br /&gt;Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut merupakan suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. Oleh karena itu, kepada setiap Wajib Pajak hanya diberikan satu Nomor Pokok Wajib Pajak. Selain itu, Nomor Pokok Wajib Pajak juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimilikinya. Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.&lt;br /&gt;Pengusaha orang pribadi berkewajiban melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan, sedangkan bagi Pengusaha badan berkewajiban melaporkan usahanya tersebut pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan.&lt;br /&gt;Dengan demikian, Pengusaha orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat kegiatan usaha di wilayah beberapa kantor Direktorat Jenderal Pajak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak baik di kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha maupun di kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan.&lt;br /&gt;Fungsi pengukuhan Pengusaha Kena Pajak selain dipergunakan untuk mengetahui identitas Pengusaha Kena Pajak yang sebenarnya juga berguna untuk melaksanakan hak dan kewajiban di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serta untuk pengawasan administrasi perpajakan.&lt;br /&gt;Terhadap Pengusaha yang telah memenuhi syarat sebagai Pengusaha Kena Pajak, tetapi tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt; Ayat (3)  &lt;br /&gt;Terhadap Wajib Pajak maupun Pengusaha Kena Pajak tertentu, Direktur Jenderal Pajak dapat menentukan kantor Direktorat Jenderal Pajak selain yang ditentukan pada ayat (1) dan ayat (2), sebagai tempat pendaftaran untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. &lt;br /&gt;Selain itu, bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu, yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat, misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan, di samping wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak, juga diwajibkan mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha Wajib Pajak dilakukan. &lt;br /&gt; Ayat (4) &lt;br /&gt;Terhadap Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak yang tidak memenuhi kewajiban untuk mendaftarkan diri dan/atau melaporkan usahanya dapat diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan. Hal ini dapat dilakukan apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak ternyata orang pribadi atau badan atau Pengusaha tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (4a) &lt;br /&gt;Ayat ini mengatur bahwa dalam penerbitan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan harus memperhatikan saat terpenuhinya persyaratan subjektif dan objektif dari Wajib Pajak yang bersangkutan. Selanjutnya terhadap Wajib Pajak tersebut tidak dikecualikan dari pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak maupun Pemerintah berkaitan dengan kewajiban Wajib Pajak untuk mendaftarkan diri dan hak untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, misalnya terhadap Wajib Pajak diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan pada tahun 2008 dan ternyata Wajib Pajak telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan terhitung sejak tahun 2005, kewajiban perpajakannya timbul terhitung sejak tahun 2005. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan kewajiban melaporkan usaha untuk memperoleh pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dibatasi jangka waktunya karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan pajak terutang. Pengaturan tentang jangka waktu pendaftaran dan pelaporan tersebut, tata cara pemberian dan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak serta pengukuhan dan pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; Ayat (6)    &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (8)   &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (9) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 3&lt;br /&gt; Pasal 2A&lt;br /&gt; Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 4&lt;br /&gt; Pasal 3&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Pajak Penghasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:&lt;br /&gt;a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak;&lt;br /&gt;b. penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak;&lt;br /&gt;c.  harta dan kewajiban; dan/atau&lt;br /&gt;d. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Bagi Pengusaha Kena Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:&lt;br /&gt;a. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; dan&lt;br /&gt;b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan mengisi Surat Pemberitahuan adalah mengisi formulir Surat Pemberitahuan, dalam bentuk kertas dan/atau dalam bentuk elektronik, dengan benar, lengkap, dan jelas sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;Sementara itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi Surat Pemberitahuan adalah: &lt;br /&gt;a. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya;&lt;br /&gt;b. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan; dan&lt;br /&gt;c. jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan yang telah diisi dengan benar, lengkap, dan jelas tersebut wajib disampaikan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;Kewajiban penyampaian Surat Pemberitahuan oleh pemotong atau pemungut pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak.&lt;br /&gt; Ayat (1a)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (1b) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2)  &lt;br /&gt;Dalam rangka memberikan pelayanan dan kemudahan kepada Wajib Pajak, formulir Surat Pemberitahuan disediakan pada kantor-kantor Direktorat Jenderal Pajak dan tempat-tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak yang diperkirakan mudah terjangkau oleh Wajib Pajak. Di samping itu, Wajib Pajak juga dapat mengambil Surat Pemberitahuan dengan cara lain, misalnya dengan mengakses situs Direktorat Jenderal Pajak untuk memperoleh formulir Surat Pemberitahuan tersebut. &lt;br /&gt;Namun, untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, Direktur Jenderal Pajak dapat mengirimkan Surat Pemberitahuan kepada Wajib Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Ayat ini mengatur tentang batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan yang dianggap cukup memadai bagi Wajib Pajak untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembayaran pajak dan penyelesaian pembukuannya. &lt;br /&gt; Ayat (3a)&lt;br /&gt;Wajib Pajak dengan kriteria tertentu, antara lain Wajib Pajak usaha kecil, dapat: &lt;br /&gt;a. menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk beberapa Masa Pajak sekaligus dengan syarat pembayaran seluruh pajak yang wajib dilunasi menurut Surat Pemberitahuan Masa tersebut dilakukan sekaligus paling lama dalam Masa Pajak yang terakhir; dan/atau&lt;br /&gt;b. menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa selain yang disebut pada huruf a untuk beberapa Masa Pajak sekaligus dengan syarat pembayaran untuk masing-masing Masa Pajak dilakukan sesuai batas waktu untuk Masa Pajak yang bersangkutan. &lt;br /&gt; Ayat (3b)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3c)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Apabila Wajib Pajak baik orang pribadi maupun badan ternyata tidak dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan pada ayat (3) huruf b, atau huruf c karena luasnya kegiatan usaha dan masalah-masalah teknis penyusunan laporan keuangan, atau sebab lainnya sehingga sulit untuk memenuhi batas waktu penyelesaian dan memerlukan kelonggaran dari batas waktu yang telah ditentukan, Wajib Pajak dapat memperpanjang penyampaian Surat  Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain misalnya dengan pemberitahuan secara elektronik kepada Direktur Jenderal Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (5) &lt;br /&gt;Untuk mencegah usaha penghindaran dan/atau perpanjangan waktu pembayaran pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak yang harus dibayar sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, perlu ditetapkan persyaratan yang berakibat pengenaan sanksi administrasi berupa bunga bagi Wajib Pajak yang ingin memperpanjang waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;Persyaratan tersebut berupa keharusan menyampaikan pemberitahuan sementara dengan menyebutkan besarnya pajak yang harus dibayar berdasarkan penghitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan, sebagai lampiran pemberitahuan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. &lt;br /&gt; Ayat (5a) &lt;br /&gt;Dalam rangka pembinaan terhadap Wajib Pajak yang sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan  ternyata tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan, terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan dapat diberikan Surat Teguran. &lt;br /&gt; Ayat (6)&lt;br /&gt;Mengingat fungsi Surat Pemberitahuan merupakan sarana Wajib Pajak, antara lain untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak  dan pembayarannya, dalam rangka keseragaman dan mempermudah pengisian serta pengadministrasiannya, bentuk dan isi Surat Pemberitahuan, keterangan, dokumen yang harus dilampirkan dan cara yang digunakan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sekurang-kurangnya memuat jumlah peredaran, jumlah penghasilan, jumlah Penghasilan Kena Pajak, jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan atau kelebihan pajak, serta harta dan kewajiban di luar kegiatan usaha atau pekerjaan bebas bagi Wajib Pajak orang pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan harus dilengkapi dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak.&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai sekurang-kurangnya memuat jumlah Dasar Pengenaan Pajak, jumlah Pajak Keluaran, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, dan jumlah kekurangan atau kelebihan pajak.&lt;br /&gt; Ayat (7)&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan yang ditandatangani beserta lampirannya adalah satu kesatuan yang merupakan unsur keabsahan Surat Pemberitahuan. Oleh karena itu, Surat Pemberitahuan dari Wajib Pajak yang disampaikan, tetapi tidak dilengkapi dengan lampiran yang dipersyaratkan, tidak dianggap sebagai Surat Pemberitahuan dalam administrasi Direktorat Jenderal Pajak. Dalam hal demikian, Surat Pemberitahuan tersebut dianggap sebagai data perpajakan.&lt;br /&gt;Demikian juga apabila penyampaian Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar telah melewati 3 (tiga) tahun sesudah berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak dan Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis, atau apabila Surat Pemberitahuan disampaikan setelah Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan atau menerbitkan surat ketetapan pajak, Surat Pemberitahuan tersebut dianggap sebagai data perpajakan. &lt;br /&gt; Ayat (7a)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (8)&lt;br /&gt;Pada prinsipnya setiap Wajib Pajak Pajak Penghasilan diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan. Dengan pertimbangan efisiensi atau pertimbangan lainnya, Menteri Keuangan dapat menetapkan Wajib Pajak Pajak Penghasilan yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan, misalnya Wajib Pajak orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak, tetapi karena kepentingan tertentu diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. &lt;br /&gt; Angka 5&lt;br /&gt; Pasal 4&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4a)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Laporan Keuangan masing-masing Wajib Pajak adalah laporan keuangan hasil kegiatan usaha masing-masing Wajib Pajak. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;PT A memiliki saham pada PT B dan PT C. Dalam contoh tersebut, PT A mempunyai kewajiban melampirkan laporan keuangan konsolidasi PT A dan anak perusahaan, juga melampirkan laporan keuangan atas usaha PT A (sebelum dikonsolidasi), sedangkan PT B dan PT C wajib melampirkan laporan keuangan masing-masing, bukan laporan keuangan konsolidasi.  &lt;br /&gt; Ayat (4b)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan memuat hal-hal mengenai, antara lain, penelitian kelengkapan, pemberian tanda terima, pengelompokan Surat Pemberitahuan Lebih Bayar, Kurang Bayar, dan Nihil, prosedur perekaman dan tindak lanjut pengelolaannya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; Angka 6 &lt;br /&gt; Pasal 6&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada Wajib Pajak dan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, perlu cara lain bagi Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuannya, misalnya disampaikan secara elektronik. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat untuk penyampaian Surat Pemberitahuan melalui pos atau dengan cara lain merupakan bukti penerimaan, apabila Surat Pemberitahuan dimaksud telah lengkap, yaitu memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (1a), dan ayat (6). &lt;br /&gt; Angka 7 &lt;br /&gt; Pasal 7&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Maksud pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur pada ayat ini adalah untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan dan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Bencana adalah bencana nasional atau bencana yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.&lt;br /&gt; Angka 8 &lt;br /&gt; Pasal 8&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Terhadap kekeliruan dalam pengisian Surat Pemberitahuan yang dibuat oleh Wajib Pajak, Wajib Pajak masih berhak untuk melakukan pembetulan atas kemauan sendiri, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan. Yang dimaksud dengan “mulai melakukan tindakan pemeriksaan” adalah pada saat Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak disampaikan kepada Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (1a)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan daluwarsa penetapan adalah jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1). &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Dengan adanya pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan atas kemauan sendiri membawa akibat penghitungan jumlah pajak yang terutang dan jumlah penghitungan pembayaran pajak menjadi berubah dari jumlah semula.&lt;br /&gt;Atas kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat pembetulan tersebut dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan.&lt;br /&gt;Bunga yang terutang atas kekurangan pembayaran pajak tersebut, dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Yang dimaksud dengan “1 (satu) bulan” adalah jumlah hari dalam bulan kalender yang bersangkutan, misalnya mulai dari tanggal 22 Juni sampai dengan 21 Juli, sedangkan yang dimaksud dengan “bagian dari bulan” adalah jumlah hari yang tidak mencapai 1 (satu) bulan penuh, misalnya 22 Juni sampai dengan 5 Juli.&lt;br /&gt; Ayat (2a)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Wajib Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 selama belum dilakukan penyidikan, sekalipun telah dilakukan pemeriksaan dan Wajib Pajak telah mengungkapkan kesalahannya dan sekaligus melunasi jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar, terhadapnya tidak akan dilakukan penyidikan.&lt;br /&gt;Namun, apabila telah dilakukan tindakan penyidikan dan mulainya penyidikan tersebut diberitahukan kepada Penuntut Umum, kesempatan untuk mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya sudah tertutup bagi Wajib Pajak yang bersangkutan. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan tetapi belum menerbitkan surat ketetapan pajak, kepada Wajib Pajak baik yang telah maupun yang belum membetulkan Surat Pemberitahuan masih diberikan kesempatan untuk mengungkapkan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan, yang dapat berupa Surat Pemberitahuan Tahunan atau Surat Pemberitahuan Masa untuk tahun atau masa yang diperiksa. Pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan tersebut dilakukan dalam laporan tersendiri dan harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya sehingga dapat diketahui jumlah pajak yang sesungguhnya terutang. Namun, untuk membuktikan kebenaran laporan Wajib Pajak tersebut, proses pemeriksaan tetap dilanjutkan sampai selesai. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Atas kekurangan pajak sebagai akibat adanya pengungkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar, dan harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan pengungkapan tersendiri disampaikan. Namun, pemeriksaan tetap dilanjutkan. Apabila dari hasil pemeriksaan terbukti bahwa laporan pengungkapan ternyata tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, atas ketidakbenaran pengungkapan tersebut dapat diterbitkan surat ketetapan pajak. &lt;br /&gt; Ayat (6)&lt;br /&gt;Sehubungan dengan diterbitkannya surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas suatu Tahun Pajak yang mengakibatkan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan tahun berikutnya atau tahun-tahun berikutnya, akan dilakukan penyesuaian rugi fiskal sesuai dengan surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali dalam penghitungan Pajak Penghasilan tahun-tahun berikutnya, pembatasan jangka waktu 3 (tiga) bulan tersebut dimaksudkan untuk tertib administrasi tanpa menghilangkan hak Wajib Pajak atas kompensasi kerugian.&lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak membetulkan Surat Pemberitahuan lewat jangka waktu 3 (tiga) bulan atau Wajib Pajak tidak mengajukan pembetulan sebagai akibat adanya surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa Tahun Pajak sebelumnya, yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, Direktur Jenderal Pajak akan memperhitungkannya dalam menetapkan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jelasnya diberikan contoh sebagai berikut:&lt;br /&gt;Contoh 1: &lt;br /&gt;PT A menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2008 yang menyatakan:&lt;br /&gt;Penghasilan Neto sebesar  Rp200.000.000,00&lt;br /&gt;Kompensasi kerugian berdasarkan &lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Tahunan &lt;br /&gt;Pajak Penghasilan tahun 2007 &lt;br /&gt;sebesar Rp150.000.000,00 (-)&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp  50.000.000,00&lt;br /&gt;Terhadap Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2007 dilakukan pemeriksaan, dan pada tanggal 6 Januari 2010 diterbitkan surat ketetapan pajak yang menyatakan rugi fiskal sebesar Rp70.000.000,00.&lt;br /&gt;Berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut Direktur Jenderal Pajak akan mengubah perhitungan Penghasilan Kena Pajak tahun 2008 menjadi sebagai berikut:&lt;br /&gt;Penghasilan Neto Rp200.000.000,00&lt;br /&gt;Rugi menurut ketetapan pajak &lt;br /&gt;tahun 2007 Rp  70.000.000,00 (-)&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak Rp130.000.000,00&lt;br /&gt;Dengan demikian penghasilan kena pajak dari Surat Pemberitahuan yang semula Rp50.000.000,00 (Rp200.000.000,00 - Rp150.000.000,00) setelah pembetulan menjadi Rp130.000.000,00 (Rp200.000.000,00 - Rp70.000.000,00)&lt;br /&gt;Contoh 2: &lt;br /&gt;PT B menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2008 yang menyatakan:&lt;br /&gt;Penghasilan Neto sebesar Rp300.000.000,00&lt;br /&gt;Kompensasi kerugian berdasarkan &lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Tahunan &lt;br /&gt;Pajak Penghasilan Tahun 2007 &lt;br /&gt;sebesar Rp200.000.000,00 (-)&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp100.000.000,00&lt;br /&gt;Terhadap Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2007 dilakukan pemeriksaan dan pada tanggal 6 Januari 2010 diterbitkan surat ketetapan pajak yang menyatakan rugi fiskal sebesar Rp250.000.000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut Direktur Jenderal Pajak akan mengubah perhitungan Penghasilan Kena Pajak tahun 2008 menjadi sebagai berikut:&lt;br /&gt;Penghasilan Neto Rp300.000.000,00&lt;br /&gt;Rugi menurut ketetapan&lt;br /&gt;pajak tahun 2007 Rp250.000.000,00 (-)&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak Rp  50.000.000,00&lt;br /&gt;Dengan demikian penghasilan kena pajak dari Surat Pemberitahuan yang semula Rp100.000.000,00 (Rp300.000.000,00 - Rp200.000.000,00) setelah pembetulan menjadi Rp50.000.000,00 (Rp300.000.000,00 - Rp250.000.000,00).&lt;br /&gt; Angka 9 &lt;br /&gt; Pasal 9&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan batas waktu tidak melampaui 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. Keterlambatan dalam pembayaran dan penyetoran tersebut berakibat dikenai sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2a)&lt;br /&gt;Ayat ini mengatur pengenaan bunga atas keterlambatan pembayaran atau penyetoran pajak. Untuk jelasnya cara penghitungan bunga tersebut diberikan contoh sebagai berikut:&lt;br /&gt;Angsuran masa Pajak Penghasilan Pasal 25 PT A tahun 2008 sejumlah Rp10.000.000,00 per bulan. Angsuran masa Mei tahun 2008 dibayar tanggal 18 Juni 2008 dan dilaporkan tanggal 19 Juni 2008. Apabila pada tanggal 15 Juli 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak, sanksi bunga dalam Surat Tagihan Pajak dihitung 1 (satu) bulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1 x 2% x Rp10.000.000,00 = Rp200.000,00. &lt;br /&gt; Ayat (2b)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (3a)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Atas permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak yang terutang termasuk kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan meskipun tanggal jatuh tempo pembayaran telah ditentukan.&lt;br /&gt;Kelonggaran tersebut diberikan dengan hati-hati untuk paling lama 12 (dua belas) bulan dan terbatas kepada Wajib Pajak yang benar-benar sedang mengalami kesulitan likuiditas. &lt;br /&gt; Angka 10 &lt;br /&gt; Pasal 10&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (1a)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Adanya tata cara pembayaran pajak, penyetoran pajak, dan pelaporannya, serta tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan diharapkan dapat mempermudah pelaksanaan pembayaran pajak dan administrasinya. &lt;br /&gt; Angka 11 &lt;br /&gt; Pasal 11 &lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Jika setelah diadakan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dengan jumlah kredit pajak menunjukkan jumlah selisih lebih (jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang) atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Wajib Pajak berhak untuk meminta kembali kelebihan pembayaran pajak, dengan catatan Wajib Pajak tersebut tidak mempunyai utang pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak masih mempunyai utang pajak yang meliputi semua jenis pajak baik di pusat maupun cabang-cabangnya, kelebihan pembayaran tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan utang pajak tersebut dan jika masih terdapat sisa lebih, dikembalikan kepada Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Ayat (1a)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Untuk menjamin kepastian hukum bagi Wajib Pajak dan ketertiban administrasi, batas waktu pengembalian kelebihan pembayaran pajak ditetapkan paling lama 1 (satu) bulan: &lt;br /&gt;a. untuk Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1), dihitung sejak tanggal diterimanya permohonan tertulis tentang pengembalian kelebihan pembayaran pajak;&lt;br /&gt;b. untuk Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) dan Pasal 17B, dihitung sejak tanggal penerbitan;&lt;br /&gt;c. untuk Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C dan Pasal 17D, dihitung sejak tanggal penerbitan;&lt;br /&gt;d. untuk Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga, dihitung sejak tanggal penerbitan;&lt;br /&gt;e. untuk Putusan Banding dihitung sejak diterimanya Putusan Banding oleh Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang melaksanakan putusan pengadilan; atau&lt;br /&gt;f. untuk Putusan Peninjauan Kembali dihitung sejak diterimanya Putusan Peninjauan Kembali oleh Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang melaksanakan putusan pengadilan&lt;br /&gt;sampai dengan saat diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Untuk menciptakan keseimbangan hak dan kewajiban bagi Wajib Pajak melalui pelayanan yang lebih baik, diatur bahwa setiap keterlambatan dalam pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kepada Wajib Pajak yang bersangkutan diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 1 (satu) bulan sampai dengan saat diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 12 &lt;br /&gt; Pasal 12&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Pajak pada prinsipnya terutang pada saat timbulnya objek pajak yang dapat dikenai pajak, tetapi untuk kepentingan administrasi perpajakan saat terutangnya pajak tersebut adalah:&lt;br /&gt;a. pada suatu saat, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak ketiga;&lt;br /&gt;b. pada akhir masa, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pemberi kerja, atau yang dipungut oleh pihak lain atas kegiatan usaha, atau oleh Pengusaha Kena Pajak atas pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah; atau&lt;br /&gt;c. pada akhir Tahun Pajak, untuk Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;Jumlah pajak yang terutang yang telah dipotong, dipungut, atau pun yang harus dibayar oleh Wajib Pajak setelah tiba saat atau masa pelunasan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 10 ayat (2), oleh Wajib Pajak harus disetorkan ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1).&lt;br /&gt;Berdasarkan Undang-Undang ini, Direktorat Jenderal  Pajak tidak berkewajiban untuk menerbitkan surat ketetapan pajak atas semua Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak. Penerbitan suatu surat ketetapan pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Ketentuan ini mengatur bahwa kepada Wajib Pajak yang telah menghitung dan membayar besarnya pajak yang terutang secara benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, serta melaporkan dalam Surat Pemberitahuan, tidak perlu diberikan surat ketetapan pajak atau pun Surat Tagihan Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang dihitung dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan yang bersangkutan tidak benar, misalnya pembebanan biaya ternyata melebihi yang sebenarnya, Direktur Jenderal Pajak menetapkan besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt; Angka 13 &lt;br /&gt; Pasal 13&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Ketentuan ayat ini memberi wewenang kepada Direktur Jenderal Pajak untuk dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, yang pada hakikatnya hanya terhadap kasus-kasus tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat ini. Dengan demikian, hanya terhadap Wajib Pajak yang berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain tidak memenuhi kewajiban formal dan/atau kewajiban material. Keterangan lain tersebut adalah data konkret yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktur Jenderal Pajak, antara lain berupa hasil konfirmasi faktur pajak dan bukti pemotongan Pajak Penghasilan. Wewenang yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk melakukan koreksi fiskal tersebut dibatasi sampai dengan kurun waktu 5 (lima) tahun.&lt;br /&gt;Menurut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar baru diterbitkan jika Wajib Pajak tidak membayar pajak sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Diketahuinya Wajib Pajak tidak atau kurang membayar pajak karena dilakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan dan dari hasil pemeriksaan itu diketahui bahwa Wajib Pajak tidak atau kurang membayar dari jumlah pajak yang seharusnya terutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan dapat dilakukan di tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dapat juga diterbitkan dalam hal Direktur Jenderal Pajak memiliki data lain di luar data yang disampaikan oleh Wajib Pajak sendiri, dari data tersebut dapat dipastikan bahwa Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban pajak sebagaimana mestinya. Untuk memastikan kebenaran data itu, terhadap Wajib Pajak dapat dilakukan pemeriksaan.&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan yang tidak disampaikan pada waktunya walaupun telah ditegur secara tertulis dan tidak juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b membawa akibat Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar secara jabatan. Terhadap ketetapan seperti ini dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).&lt;br /&gt;Teguran, antara lain, dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada Wajib Pajak yang beriktikad baik untuk menyampaikan alasan atau sebab-sebab tidak dapat disampaikannya Surat Pemberitahuan karena sesuatu hal di luar kemampuannya (force majeur).&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban perpajakan di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, yang mengakibatkan pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dikenai sanksi administrasi dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ditambah dengan kenaikan sebesar 100% (seratus persen).&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau pada saat diperiksa tidak memenuhi permintaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 sehingga Direktur Jenderal Pajak tidak dapat menghitung jumlah pajak yang seharusnya terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, Direktur Jenderal Pajak berwenang menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan secara jabatan, yaitu penghitungan pajak didasarkan pada data yang tidak hanya diperoleh dari Wajib Pajak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian atas uraian penghitungan yang dijadikan dasar penghitungan secara jabatan oleh Direktur Jenderal Pajak dibebankan kepada Wajib Pajak. Sebagai contoh:&lt;br /&gt;1. pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak lengkap sehingga penghitungan laba rugi atau peredaran tidak jelas;&lt;br /&gt;2. dokumen-dokumen pembukuan tidak lengkap sehingga angka-angka dalam pembukuan tidak dapat diuji; atau&lt;br /&gt;3. dari rangkaian pemeriksaan dan/atau fakta-fakta yang diketahui besar dugaan disembunyikannya dokumen atau data pendukung lain di suatu tempat tertentu sehingga dari sikap demikian jelas Wajib Pajak telah tidak menunjukkan iktikad baiknya untuk membantu kelancaran jalannya pemeriksaan.&lt;br /&gt;Beban pembuktian tersebut berlaku juga bagi ketetapan yang diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Ayat ini mengatur sanksi administrasi perpajakan yang dikenakan kepada Wajib Pajak karena melanggar kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e. Sanksi administrasi perpajakan tersebut berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dicantumkan dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.&lt;br /&gt;Sanksi administrasi berupa bunga, dihitung dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan.&lt;br /&gt;Walaupun Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut diterbitkan lebih dari 2 (dua) tahun sejak berakhirnya Tahun Pajak, bunga dikenakan atas kekurangan tersebut hanya untuk masa 2 (dua) tahun. &lt;br /&gt;Contoh: Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;Wajib Pajak PT A mempunyai penghasilan kena pajak selama Tahun Pajak 2006 sebesar Rp100.000.000,00 dan menyampaikan Surat Pemberitahuan tepat waktu.&lt;br /&gt;Pada bulan April 2009 berdasarkan hasil pemeriksaan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar maka sanksi bunga dihitung sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Penghasilan Kena Pajak Rp100.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pajak yang terutang &lt;br /&gt;    (30% x Rp100.000.000,00) Rp  30.000.000,00&lt;br /&gt;3. Kredit pajak Rp  10.000.000,00(-)&lt;br /&gt;4. Pajak yang kurang dibayar Rp 20.000.000,00&lt;br /&gt;5. Bunga 24 bulan &lt;br /&gt;    (24 x 2% x Rp20.000.000,00) Rp   9.600.000,00(+)&lt;br /&gt;6. Jumlah pajak yang masih &lt;br /&gt;    harus dibayar Rp 29.600.000,00&lt;br /&gt;Dalam hal pengusaha tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, selain harus menyetor pajak yang terutang, pengusaha tersebut juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari pajak yang kurang dibayar yang dihitung sejak berakhirnya Masa Pajak untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Ayat ini mengatur sanksi administrasi dari suatu ketetapan pajak karena melanggar kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d. Sanksi administrasi berupa kenaikan merupakan suatu jumlah proporsional yang harus ditambahkan pada pokok pajak yang kurang dibayar.&lt;br /&gt;Besarnya sanksi administrasi berupa kenaikan berbeda-beda menurut jenis pajaknya, yaitu untuk jenis Pajak Penghasilan yang dibayar oleh Wajib Pajak sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen), untuk jenis Pajak Penghasilan yang dipotong oleh orang atau badan lain sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen), sedangkan untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen). &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak berkenaan dengan pelaksanaan pemungutan pajak dengan sistem self assessment, apabila dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sejak saat terutangnya pajak, berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau berakhirnya Tahun Pajak, Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan surat ketetapan pajak, jumlah pembayaran pajak yang diberitahukan dalam Surat &lt;br /&gt;Pemberitahuan Masa atau Surat Pemberitahuan Tahunan pada hakikatnya telah menjadi tetap dengan sendirinya atau telah menjadi pasti karena hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Apabila terhadap Wajib Pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, untuk menentukan kerugian pada pendapatan negara, atas jumlah pajak yang terutang belum dikeluarkan surat ketetapan pajak.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui bahwa Wajib Pajak memang benar-benar melakukan tindak pidana di bidang perpajakan, harus dibuktikan melalui proses pengadilan yang dapat membutuhkan waktu lebih dari 5 (lima) tahun. Kemungkinan dapat terjadi bahwa Wajib Pajak yang disidik oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, tetapi oleh penuntut umum tidak dituntut berdasarkan sanksi pidana perpajakan, misalnya Wajib Pajak yang dijatuhi pidana oleh pengadilan karena melakukan penyelundupan yang dalam putusan pengadilan tersebut menunjukkan adanya suatu jumlah objek pajak yang belum dikenai pajak.  &lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh kembali pajak yang terutang tersebut, dalam hal Wajib Pajak dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar masih dibenarkan untuk diterbitkan, ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar meskipun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui. &lt;br /&gt; Ayat (6) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 14 &lt;br /&gt; Pasal 13A&lt;br /&gt;Pengenaan sanksi pidana merupakan upaya terakhir untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Namun, bagi Wajib Pajak yang melanggar pertama kali ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 tidak dikenai sanksi pidana, tetapi dikenai sanksi administrasi. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara tidak dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tersebut pertama kali dilakukan Wajib Pajak. Dalam hal ini, Wajib Pajak tersebut wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar.&lt;br /&gt; Angka 15 &lt;br /&gt; Pasal 14 &lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Surat Tagihan Pajak menurut ayat ini disamakan kekuatan hukumnya dengan surat ketetapan pajak sehingga dalam hal penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Ayat ini mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga atas Surat Tagihan Pajak yang diterbitkan karena:&lt;br /&gt;a.  Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar; atau&lt;br /&gt;b.  penelitian Surat Pemberitahuan yang menghasilkan pajak kurang dibayar karena terdapat salah tulis dan/atau salah hitung.&lt;br /&gt;Untuk jelasnya diberikan contoh cara penghitungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar.&lt;br /&gt;Pajak Penghasilan Pasal 25 tahun 2008 setiap bulan sebesar Rp100.000.000,00 jatuh tempo misalnya tiap tanggal 15. Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan Juni 2008 dibayar tepat waktu sebesar Rp40.000.000,00.&lt;br /&gt; Atas kekurangan Pajak Penghasilan Pasal 25 tersebut diterbitkan Surat Tagihan Pajak pada tanggal 18 September 2008 dengan penghitungan sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kekurangan bayar Pajak Penghasilan &lt;br /&gt;Pasal 25 bulan Juni 2008 &lt;br /&gt;(Rp100.000.000,00–Rp40.000.000,00)=Rp60.000.000,00&lt;br /&gt;- Bunga = 3 x 2% x Rp60.000.000,00 =Rp  3.600.000,00 (+)&lt;br /&gt;- Jumlah yang harus dibayar =Rp63.600.000,00   &lt;br /&gt;2. Hasil penelitian Surat Pemberitahuan&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi tahun 2008 yang disampaikan pada tanggal 31 Maret 2009 setelah dilakukan penelitian ternyata terdapat salah hitung yang menyebabkan Pajak Penghasilan kurang bayar sebesar Rp1.000.000,00. Atas kekurangan Pajak Penghasilan tersebut diterbitkan Surat Tagihan Pajak pada tanggal 12 Juni 2009 dengan penghitungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Kekurangan bayar Pajak &lt;br /&gt;Penghasilan =Rp1.000.000,00&lt;br /&gt;- Bunga = 3 x 2% x Rp1.000.000,00 =Rp     60.000,00 (+)&lt;br /&gt;- Jumlah yang harus dibayar =Rp1.060.000,00&lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Pengusaha Kena Pajak yang tidak membuat faktur pajak maupun Pengusaha Kena Pajak yang membuat faktur pajak, tetapi tidak tepat waktu atau tidak selengkapnya mengisi faktur pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak.&lt;br /&gt;Demikian pula bagi Pengusaha Kena Pajak yang membuat faktur pajak, tetapi melaporkannya tidak tepat waktu, dikenai sanksi yang sama.&lt;br /&gt;Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak ditagih dengan Surat Tagihan Pajak, sedangkan pajak yang terutang ditagih dengan surat ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (6) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 16 &lt;br /&gt; Pasal 15&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Untuk menampung kemungkinan terjadinya suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar yang ternyata telah ditetapkan lebih rendah atau pajak yang terutang dalam suatu Surat Ketetapan Pajak Nihil ditetapkan lebih rendah atau telah dilakukan pengembalian pajak yang tidak seharusnya sebagaimana telah ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak.&lt;br /&gt;Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan merupakan koreksi atas surat ketetapan pajak sebelumnya. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan baru diterbitkan apabila sudah pernah diterbitkan surat ketetapan pajak. Pada prinsipnya untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan perlu dilakukan pemeriksaan. Jika surat ketetapan pajak sebelumnya diterbitkan berdasarkan pemeriksaan, perlu dilakukan pemeriksaan ulang sebelum menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. Dalam hal surat ketetapan pajak sebelumnya diterbitkan berdasarkan keterangan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan juga harus diterbitkan berdasarkan pemeriksaan, tetapi bukan pemeriksaan ulang. &lt;br /&gt;Dengan demikian, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tidak akan mungkin diterbitkan sebelum didahului dengan penerbitan surat ketetapan pajak. Penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dilakukan dengan syarat adanya data baru termasuk data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak sebelumnya. Sejalan dengan itu, setelah Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan sebagai akibat telah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan diterbitkan hanya dalam hal ditemukan data baru termasuk data yang semula belum terungkap. Dalam hal masih ditemukan lagi data baru termasuk data yang semula belum terungkap pada saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan/atau data baru termasuk data yang semula belum terungkap yang diketahui kemudian oleh Direktur Jenderal Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan masih dapat diterbitkan lagi.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “data baru” adalah data atau keterangan mengenai segala sesuatu yang diperlukan untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang yang oleh Wajib Pajak belum diberitahukan pada waktu penetapan semula, baik dalam Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya maupun dalam pembukuan perusahaan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan. &lt;br /&gt;Selain itu, yang termasuk dalam data baru adalah data yang semula belum terungkap, yaitu data yang:&lt;br /&gt;a. tidak diungkapkan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuan beserta lampirannya (termasuk laporan keuangan); dan/atau &lt;br /&gt;b. pada waktu pemeriksaan untuk penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan data dan/atau memberikan keterangan lain secara benar, lengkap, dan terinci sehingga tidak memungkinkan fiskus dapat menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dengan benar dalam menghitung jumlah pajak yang terutang.&lt;br /&gt;Walaupun Wajib Pajak telah memberitahukan data dalam Surat Pemberitahuan atau mengungkapkannya pada waktu pemeriksaan, tetapi apabila memberitahukannya atau mengungkapkannya dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat fiskus tidak mungkin menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang secara benar sehingga jumlah pajak yang terutang ditetapkan kurang dari yang seharusnya, hal tersebut termasuk dalam pengertian data yang semula belum terungkap. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;1. Dalam Surat Pemberitahuan dan/atau laporan keuangan tertulis adanya biaya iklan Rp10.000.000,00, sedangkan sesungguhnya biaya tersebut terdiri atas Rp5.000.000,00 biaya iklan di media massa dan Rp5.000.000,00 sisanya adalah sumbangan atau hadiah yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya.&lt;br /&gt; Apabila pada saat penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan perincian tersebut sehingga fiskus tidak melakukan koreksi atas pengeluaran berupa sumbangan atau hadiah sehingga pajak yang terutang tidak dapat dihitung secara benar, data mengenai pengeluaran berupa sumbangan atau hadiah tersebut tergolong data yang semula belum terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam Surat Pemberitahuan dan/atau laporan keuangan disebutkan pengelompokan harta tetap yang disusutkan tanpa disertai dengan perincian harta pada setiap kelompok yang dimaksud, demikian pula pada saat pemeriksaan untuk penetapan semula Wajib Pajak tidak mengungkapkan perincian tersebut sehingga fiskus tidak dapat meneliti kebenaran pengelompokan dimaksud, misalnya harta yang seharusnya termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan kelompok 3, tetapi dikelompokkan ke dalam kelompok 2. Akibatnya, atas kesalahan pengelompokan harta tersebut tidak dilakukan koreksi, sehingga pajak yang terutang tidak dapat dihitung secara benar. Apabila setelah itu diketahui adanya data yang menyatakan bahwa pengelompokan harta tersebut tidak benar, maka data tersebut termasuk data yang semula belum terungkap.&lt;br /&gt;3. Pengusaha Kena Pajak melakukan pembelian sejumlah barang dari Pengusaha Kena Pajak lain dan atas pembelian tersebut oleh Pengusaha Kena Pajak penjual diterbitkan faktur pajak. Barang-barang tersebut sebagian digunakan untuk kegiatan yang mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usahanya, seperti pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen, dan sebagian lainnya tidak mempunyai hubungan langsung. Seluruh faktur pajak tersebut dikreditkan sebagai Pajak Masukan oleh Pengusaha Kena Pajak pembeli.&lt;br /&gt; Apabila pada saat penetapan semula Pengusaha Kena Pajak tidak mengungkapkan rincian penggunaan      barang tersebut dengan benar sehingga tidak dilakukan koreksi atas pengkreditan Pajak Masukan tersebut oleh fiskus, sebagai akibatnya Pajak Pertambahan Nilai yang terutang tidak dapat dihitung secara benar. Apabila  setelah itu diketahui adanya data atau keterangan   tentang kesalahan mengkreditkan Pajak Masukan yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha dimaksud, data atau keterangan tersebut merupakan data yang semula belum terungkap. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Dalam hal setelah diterbitkan surat ketetapan pajak ternyata masih ditemukan data baru termasuk data yang semula belum terungkap yang belum diperhitungkan sebagai dasar penetapan tersebut, atas pajak yang kurang dibayar ditagih dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari pajak yang kurang dibayar. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak dipidana karena melakukan tindak pidana yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berupa pajak berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tetap dapat diterbitkan, ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar meskipun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 17 &lt;br /&gt; Pasal 16&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Pembetulan menurut ayat ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan tugas pemerintahan yang baik sehingga apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi perlu dibetulkan sebagaimana mestinya. Sifat kesalahan atau kekeliruan tersebut tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak. &lt;br /&gt;Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan baik oleh fiskus maupun berdasarkan permohonan Wajib Pajak, kesalahan atau kekeliruan tersebut harus dibetulkan. Yang dapat dibetulkan karena kesalahan atau kekeliruan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. surat ketetapan pajak, yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar;&lt;br /&gt;b. Surat Tagihan Pajak;&lt;br /&gt;c. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak; &lt;br /&gt;d. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga;&lt;br /&gt;e. Surat Keputusan Pembetulan;&lt;br /&gt;f.  Surat Keputusan Keberatan;&lt;br /&gt;g. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi;&lt;br /&gt;h. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi;&lt;br /&gt;i.  Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak; atau&lt;br /&gt;j.  Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak.&lt;br /&gt;Ruang lingkup pembetulan yang diatur pada ayat ini terbatas pada kesalahan atau kekeliruan sebagai akibat dari:&lt;br /&gt;a. kesalahan tulis, antara lain kesalahan yang dapat berupa nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, Masa Pajak atau Tahun Pajak, dan tanggal jatuh tempo;&lt;br /&gt;b. kesalahan hitung, antara lain kesalahan yang berasal dari penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkalian dan/atau pembagian suatu bilangan; atau&lt;br /&gt;c. kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan, yaitu kekeliruan dalam penerapan tarif, kekeliruan penerapan persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto, kekeliruan penerapan sanksi administrasi, kekeliruan Penghasilan Tidak Kena Pajak, kekeliruan penghitungan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan, dan kekeliruan dalam pengkreditan pajak.&lt;br /&gt;Pengertian ”membetulkan” pada ayat ini, antara lain, menambahkan, mengurangkan, atau menghapuskan, tergantung pada sifat kesalahan dan kekeliruannya.&lt;br /&gt;Jika masih terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak dapat mengajukan lagi permohonan pembetulan kepada Direktur Jenderal Pajak, atau Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pembetulan lagi karena jabatan. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Untuk memberikan kepastian hukum, permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib Pajak harus diputuskan dalam batas waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak permohonan diterima. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Dalam hal batas waktu 6 (enam) bulan terlampaui, tetapi Direktur Jenderal Pajak belum memberikan keputusan, permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan.&lt;br /&gt;Dengan dianggap dikabulkannya permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Pembetulan sesuai dengan permohonan Wajib Pajak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 18 &lt;br /&gt; Pasal 17&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Menurut ketentuan ayat ini Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan untuk:&lt;br /&gt;a. Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang;&lt;br /&gt;b. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah kredit pajak lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang. Jika terdapat pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai, jumlah pajak yang terutang dihitung dengan cara jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut; atau&lt;br /&gt;c. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah apabila jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang.&lt;br /&gt;Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar tersebut diterbitkan setelah dilakukan pemeriksaan atas Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak yang menyatakan kurang bayar, nihil, atau lebih bayar yang tidak disertai dengan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.&lt;br /&gt;Apabila Wajib Pajak setelah menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dan menghendaki pengembalian kelebihan pembayaran pajak, wajib mengajukan permohonan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 19&lt;br /&gt; Pasal 17A&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Menurut ketentuan ayat ini, Surat Ketetapan Pajak Nihil diterbitkan untuk:&lt;br /&gt;a. Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;&lt;br /&gt;b. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah kredit pajak sama dengan jumlah pajak yang terutang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Jika terdapat pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai, jumlah pajak yang terutang dihitung dengan cara jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut; atau&lt;br /&gt;c. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah apabila jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 20 &lt;br /&gt; Pasal 17B&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “surat permohonan telah diterima secara lengkap” adalah Surat Pemberitahuan yang telah diisi lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. &lt;br /&gt;Surat ketetapan pajak yang diterbitkan berdasarkan hasil pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat berupa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Nihil atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. &lt;br /&gt; Ayat (1a)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan” adalah dimulai sejak surat pemberitahuan pemeriksaan bukti permulaan disampaikan kepada Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum terhadap permohonan Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak sehingga bila batas waktu tersebut dilampaui dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan, permohonan tersebut dianggap dikabulkan. Selain itu, batas waktu tersebut dimaksudkan pula untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Jika Direktur Jenderal Pajak terlambat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, kepada Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan, dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan saat Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan, dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan. &lt;br /&gt; Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 21 &lt;br /&gt; Pasal 17C&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Terhadap permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak untuk Wajib Pajak dengan kriteria tertentu setelah dilakukan penelitian harus diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama:&lt;br /&gt;a. 3 (tiga) bulan untuk Pajak Penghasilan;&lt;br /&gt;b. 1 (satu) bulan untuk Pajak Pertambahan Nilai&lt;br /&gt;sejak permohonan diterima secara lengkap, dalam arti bahwa Surat Pemberitahuan telah diisi lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (1a), dan ayat (6). Permohonan dapat disampaikan dengan cara mengisi kolom dalam Surat Pemberitahuan atau dengan surat tersendiri. Pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak dapat diberikan setelah Direktur Jenderal Pajak melakukan konfirmasi kebenaran kredit pajak.&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Termasuk dalam pengertian kepatuhan penyampaian Surat Pemberitahuan adalah:&lt;br /&gt;a. tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan dalam 3 (tiga) tahun terakhir;&lt;br /&gt;b. dalam Tahun Pajak terakhir, penyampaian Surat Pemberitahuan Masa untuk Masa Pajak Januari sampai dengan November yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga) Masa Pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut; dan&lt;br /&gt;c. Surat Pemberitahuan Masa yang terlambat sebagaimana dimaksud dalam huruf b telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Masa Pajak berikutnya.&lt;br /&gt;Bahwa Wajib Pajak tidak mempunyai tunggakan pajak adalah keadaan pada tanggal 31 Desember. Utang pajak yang belum melewati batas akhir pelunasan tidak termasuk dalam pengertian tunggakan pajak.&lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang telah memperoleh pengembalian pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Surat ketetapan pajak tersebut dapat berupa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, atau Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.&lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Untuk mendorong Wajib Pajak dalam melaporkan jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, maka apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pembayaran pajak.&lt;br /&gt;Untuk jelasnya cara penghitungan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan pengenaan sanksi administrasi berupa kenaikan tersebut diberikan contoh sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Pajak Penghasilan &lt;br /&gt;- Wajib Pajak telah memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak sebesar Rp80.000.000,00.&lt;br /&gt;-  Dari pemeriksaan diperoleh hasil sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Pajak Penghasilan yang terutang sebesar      Rp100.000.000,00&lt;br /&gt;b. Kredit pajak, yaitu:&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan Pasal 22 Rp20.000.000,00&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan Pasal 23 Rp40.000.000,00&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan Pasal 25 Rp90.000.000,00&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan yang &lt;br /&gt; terutang sebesar Rp100.000.000,00&lt;br /&gt;- Kredit Pajak:&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan Pasal 22  Rp  20.000.000,00&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan Pasal 23  Rp  40.000.000,00&lt;br /&gt;- Pajak Penghasilan Pasal 25  Rp  90.000.000,00(+)&lt;br /&gt;  Rp150.000.000,00&lt;br /&gt;- Jumlah Pengembalian &lt;br /&gt; Pendahuluan Kelebihan Pajak Rp  80.000.000,00(-)&lt;br /&gt;- Jumlah pajak yang dapat &lt;br /&gt; dikreditkan Rp  70.000.000,00(-)&lt;br /&gt; Pajak yang tidak/kurang &lt;br /&gt; dibayar Rp  30.000.000,00&lt;br /&gt;Sanksi administrasi berupa &lt;br /&gt;kenaikan sebesar 100% Rp  30.000.000,00(+)&lt;br /&gt;Jumlah yang masih harus dibayar Rp  60.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pajak Pertambahan Nilai&lt;br /&gt;- Pengusaha Kena Pajak telah memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak sebesar Rp60.000.000,00.&lt;br /&gt;- Dari pemeriksaan diperoleh hasil sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.  Pajak Keluaran Rp100.000.000,00&lt;br /&gt;b. Kredit pajak, yaitu Pajak Masukan Rp150.000.000,00&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;-  Pajak Keluaran Rp100.000.000,00&lt;br /&gt;- Kredit Pajak:&lt;br /&gt;- Pajak Masukan  Rp150.000.000,00&lt;br /&gt;- Jumlah Pengembalian &lt;br /&gt; Pendahuluan Kelebihan Pajak Rp  60.000.000,00(-)&lt;br /&gt;- Jumlah pajak yang dapat &lt;br /&gt;dikreditkan  Rp  90.000.000,00(-)&lt;br /&gt;Pajak yang kurang dibayar Rp  10.000.000,00&lt;br /&gt;Sanksi administrasi &lt;br /&gt;kenaikan 100% Rp 10.000.000,00(+)                &lt;br /&gt;Jumlah yang masih harus &lt;br /&gt;dibayar Rp  20.000.000,00&lt;br /&gt; Ayat (6)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 22 &lt;br /&gt; Pasal 17D&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4) &lt;br /&gt;Untuk mengurangi penyalahgunaan pemberian kemudahan percepatan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan setelah memberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Untuk memotivasi Wajib Pajak agar melaporkan jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, jumlah pajak yang kurang dibayar ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pembayaran pajak. &lt;br /&gt; Pasal 17E&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 23 &lt;br /&gt; Pasal 18&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;  Ayat (2)&lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt; Angka 24 &lt;br /&gt; Pasal 19&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Ayat ini mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga berdasarkan jumlah pajak yang masih harus dibayar yang tidak atau kurang dibayar pada saat jatuh tempo pelunasan atau terlambat dibayar. &lt;br /&gt;Contoh: &lt;br /&gt;a. Jumlah pajak yang masih harus dibayar berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebesar Rp10.000.000,00 yang diterbitkan tanggal 7 Oktober 2008, dengan batas akhir pelunasan tanggal 6 November 2008. Jumlah pembayaran sampai dengan tanggal 6 November 2008 Rp6.000.000,00. Pada tanggal 1 Desember 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak dengan perhitungan sebagai berikut:&lt;br /&gt; Pajak yang masih harus dibayar = Rp10.000.000,00&lt;br /&gt; Dibayar sampai dengan jatuh &lt;br /&gt; tempo  pelunasan = Rp  6.000.000,00(-)&lt;br /&gt; Kurang dibayar = Rp  4.000.000,00 &lt;br /&gt; Bunga 1 (satu) bulan &lt;br /&gt; (1 x 2% x Rp4.000.000,00)  = Rp       80.000,00&lt;br /&gt;b. Dalam hal terhadap Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana tersebut pada huruf a, Wajib Pajak membayar Rp10.000.000,00 pada tanggal 3 Desember 2008 dan pada tanggal 5 Desember 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak, sanksi administrasi berupa bunga dihitung sebagai berikut:&lt;br /&gt; Pajak yang masih harus dibayar = Rp10.000.000,00&lt;br /&gt; Dibayar setelah jatuh tempo &lt;br /&gt; pelunasan = Rp10.000.000,00&lt;br /&gt; Kurang dibayar = Rp                0,00 &lt;br /&gt; Bunga 1 (satu) bulan &lt;br /&gt; (1 x 2% x Rp10.000.000,00) = Rp     200.000,00&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Ayat ini mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;a. Wajib Pajak menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebesar Rp1.120.000,00 yang diterbitkan pada tanggal 2 Januari 2009 dengan batas akhir pelunasan tanggal 1 Februari 2009. Wajib Pajak tersebut diperbolehkan untuk mengangsur pembayaran pajak dalam jangka waktu 5 (lima) bulan dengan jumlah yang tetap sebesar Rp224.000,00. Sanksi administrasi berupa bunga untuk setiap angsuran dihitung sebagai berikut:&lt;br /&gt; angsuran ke-1 : 2% x Rp1.120.000,00 = Rp22.400,00.&lt;br /&gt; angsuran ke-2 : 2% x Rp896.000,00  = Rp17.920,00.&lt;br /&gt; angsuran ke-3 : 2% x Rp672.000,00  = Rp13.440,00.&lt;br /&gt; angsuran ke-4 : 2% x Rp448.000,00  = Rp8.960,00.&lt;br /&gt; angsuran ke-5 : 2% x Rp224.000,00  = Rp4.480,00.&lt;br /&gt;b. Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam huruf a diperbolehkan untuk menunda pembayaran pajak sampai dengan tanggal 30 Juni 2009. &lt;br /&gt;Sanksi administrasi berupa bunga atas penundaan pembayaran Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut sebesar 5 x 2% x Rp1.120.000,00 = Rp112.000,00.&lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 25 &lt;br /&gt; Pasal 20&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Apabila jumlah utang pajak tidak atau kurang dibayar sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran atau sampai dengan tanggal jatuh tempo penundaan pembayaran, atau Wajib Pajak tidak memenuhi angsuran pembayaran pajak, penagihannya dilaksanakan dengan Surat Paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Penagihan pajak dengan Surat Paksa tersebut dilaksanakan terhadap Penanggung Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “penagihan seketika dan sekaligus” adalah tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan Tahun Pajak. &lt;br /&gt; Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 26 &lt;br /&gt; Pasal 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Ayat ini menetapkan kedudukan negara sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan dilelang di muka umum.&lt;br /&gt;Pembayaran kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang pajak dilunasi.&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3a)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 27 &lt;br /&gt; Pasal 22&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Saat daluwarsa penagihan pajak ini perlu ditetapkan untuk memberi kepastian hukum kapan utang pajak tersebut tidak dapat ditagih lagi.&lt;br /&gt;Daluwarsa penagihan pajak 5 (lima) tahun dihitung sejak Surat Tagihan Pajak dan surat ketetapan pajak diterbitkan.&lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pembetulan, keberatan, banding atau Peninjauan Kembali, daluwarsa penagihan pajak 5 (lima) tahun dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali. &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Daluwarsa penagihan pajak dapat melampaui 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila: &lt;br /&gt;a. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan dan memberitahukan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak yang tidak melakukan pembayaran utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa tersebut.&lt;br /&gt;b. Wajib Pajak menyatakan pengakuan utang pajak dengan cara mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak diterima oleh Direktur Jenderal Pajak. &lt;br /&gt;c. Terdapat Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang diterbitkan terhadap Wajib Pajak karena Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan tindak pidana lain yang dapat merugikan pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak tersebut.&lt;br /&gt;d. Terhadap Wajib Pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Perintah Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.&lt;br /&gt; Angka 28 &lt;br /&gt; Pasal 23&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3) &lt;br /&gt;Dihapus. &lt;br /&gt; Angka 29 &lt;br /&gt; Pasal 24&lt;br /&gt;Menteri Keuangan mengatur tata cara penghapusan dan menentukan besarnya jumlah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi, antara lain karena Wajib Pajak telah meninggal dunia dan tidak mempunyai harta warisan atau kekayaan, Wajib Pajak badan yang telah selesai proses pailitnya, atau Wajib Pajak yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai subjek pajak dan hak untuk melakukan penagihan pajak telah daluwarsa. Melalui cara ini dapat diperkirakan secara efektif besarnya saldo piutang pajak yang akan dapat ditagih atau dicairkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 30 &lt;br /&gt; Pasal 25&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Apabila Wajib Pajak berpendapat bahwa jumlah rugi, jumlah pajak, dan pemotongan atau pemungutan pajak tidak sebagaimana mestinya, Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;Keberatan yang diajukan adalah mengenai materi atau isi dari ketetapan pajak, yaitu jumlah rugi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, jumlah besarnya pajak, atau pemotongan atau pemungutan pajak. Yang dimaksud dengan "suatu" pada ayat ini adalah 1 (satu) keberatan harus diajukan terhadap 1 (satu) jenis pajak dan 1 (satu) Masa Pajak atau Tahun Pajak. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Keberatan atas ketetapan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2008 dan Tahun Pajak 2009 harus diajukan masing-masing dalam 1 (satu) surat keberatan tersendiri. Untuk 2 (dua) Tahun Pajak tersebut harus diajukan 2 (dua) buah surat keberatan. &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “alasan yang menjadi dasar penghitungan” adalah alasan-alasan yang jelas dan dilampiri dengan fotokopi surat ketetapan pajak, bukti pemungutan, atau bukti pemotongan. &lt;br /&gt; Ayat (3)  &lt;br /&gt;Batas waktu pengajuan surat keberatan ditentukan dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan maksud agar Wajib Pajak mempunyai waktu yang cukup memadai untuk mempersiapkan surat keberatan beserta alasannya.&lt;br /&gt;Apabila ternyata bahwa batas waktu 3 (tiga) bulan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak karena keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur), tenggang waktu selama 3 (tiga) bulan tersebut masih dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh Direktur Jenderal Pajak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3a) &lt;br /&gt;Ketentuan ini mengatur bahwa persyaratan pengajuan keberatan bagi Wajib Pajak adalah harus melunasi terlebih dahulu sejumlah kewajiban perpajakannya yang telah disetujui Wajib Pajak pada saat pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Pelunasan tersebut harus dilakukan sebelum Wajib Pajak mengajukan keberatan.&lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Permohonan keberatan yang tidak memenuhi salah satu syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini bukan merupakan surat keberatan, sehingga tidak dapat dipertimbangkan dan tidak diterbitkan Surat Keputusan Keberatan. &lt;br /&gt; Ayat (5) &lt;br /&gt;Tanda penerimaan surat yang telah diberikan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak atau oleh pos berfungsi sebagai tanda terima surat keberatan apabila surat tersebut memenuhi syarat sebagai surat keberatan. Dengan demikian, batas waktu penyelesaian keberatan dihitung sejak tanggal penerimaan surat dimaksud.&lt;br /&gt;Apabila surat Wajib Pajak tidak memenuhi syarat sebagai surat keberatan dan Wajib Pajak memperbaikinya dalam batas waktu penyampaian surat keberatan, batas waktu penyelesaian keberatan dihitung sejak diterima surat berikutnya yang memenuhi syarat sebagai surat keberatan.&lt;br /&gt; Ayat (6)  &lt;br /&gt;Agar Wajib Pajak dapat menyusun keberatan dengan alasan yang kuat, Wajib Pajak diberi hak untuk meminta dasar pengenaan pajak, penghitungan rugi, atau pemotongan atau pemungutan pajak yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, Direktur Jenderal Pajak berkewajiban untuk memenuhi permintaan tersebut.&lt;br /&gt; Ayat (7) &lt;br /&gt;Ayat ini mengatur bahwa jatuh tempo pembayaran yang tertera dalam surat ketetapan pajak tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan. Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan. &lt;br /&gt; Ayat (8) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (9)&lt;br /&gt;Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian dan Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan banding, jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen). &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Untuk tahun pajak 2008, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000.000,00 diterbitkan terhadap PT A. Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp200.000.000,00. Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp200.000.000,00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya. Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp750.000.000,00. Dalam hal ini, Wajib Pajak tidak dikenai sanksi administrasi sebagaimana diatur dalam Pasal 19, tetapi dikenai sanksi sesuai dengan ayat ini, yaitu sebesar  50% x (Rp750.000.000,00 – Rp200.000.000,00) = Rp275.000.000,00.&lt;br /&gt; Ayat (10)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 31 &lt;br /&gt; Pasal 26&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Terhadap surat keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak, kewenangan penyelesaian dalam tingkat pertama diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan ketentuan batasan waktu penyelesaian keputusan atas keberatan Wajib Pajak ditetapkan paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima.&lt;br /&gt;Dengan ditentukannya batas waktu penyelesaian keputusan atas keberatan tersebut, berarti akan diperoleh suatu kepastian hukum bagi Wajib Pajak selain terlaksananya administrasi perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Ayat ini mengharuskan Wajib Pajak membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan terhadap pajak-pajak yang ditetapkan secara jabatan. Surat ketetapan pajak secara jabatan tersebut diterbitkan karena Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan meskipun telah ditegur secara tertulis, tidak memenuhi kewajiban menyelenggarakan pembukuan, atau menolak untuk memberikan kesempatan kepada pemeriksa memasuki tempat-tempat tertentu yang dipandang perlu, dalam rangka pemeriksaan guna menetapkan besarnya jumlah pajak yang terutang. Apabila Wajib Pajak tidak dapat membuktikan ketidakbenaran surat ketetapan pajak secara jabatan, pengajuan keberatannya ditolak. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 32  &lt;br /&gt; Pasal 26A&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Agar dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada Wajib Pajak untuk memperoleh keadilan dalam penyelesaian keberatannya, dalam tata cara sebagaimana dimaksud pada ayat ini diatur, antara lain, Wajib Pajak dapat hadir untuk memberikan keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya. &lt;br /&gt; Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (4)  &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 33&lt;br /&gt; Pasal 27&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4) &lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt; Ayat (4a) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (5) &lt;br /&gt;Dihapus.&lt;br /&gt; Ayat (5a) &lt;br /&gt;Ayat ini mengatur bahwa bagi Wajib Pajak yang mengajukan banding, jangka waktu pelunasan pajak yang diajukan banding tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan.&lt;br /&gt; Ayat (5b)  &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (5c)  &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (5d) &lt;br /&gt;Dalam hal permohonan banding Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) sebagaimana dimaksud pada ayat ini. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Untuk tahun pajak 2008, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp1.000.000.000,00 diterbitkan terhadap PT A. Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp200.000.000,00. Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp200.000.000,00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya. Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp750.000.000,00.&lt;br /&gt;Selanjutnya Wajib Pajak mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan besarnya pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp450.000.000,00. Dalam hal ini baik sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 maupun sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (9) tidak dikenakan. Namun, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai dengan ayat ini, yaitu sebesar 100% x (Rp450.000.000,00 – Rp200.000.000,00) = Rp250.000.000,00.&lt;br /&gt; Ayat (6) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 34 &lt;br /&gt; Pasal 27A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (1)  &lt;br /&gt;Imbalan bunga diberikan berkenaan dengan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yang telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak. &lt;br /&gt; Ayat (1a) &lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pembetulan, pengurangan, atau pembatalan atas surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak yang keputusannya mengabulkan sebagian atau seluruhnya, selama jumlah pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dimaksud dalam surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak telah dibayar menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Imbalan bunga juga diberikan terhadap pembayaran lebih Surat Tagihan Pajak yang telah diterbitkan berdasarkan Pasal 14 ayat (4) dan Pasal 19 ayat (1) sehubungan dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, yang memperoleh pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi berupa denda atau bunga.&lt;br /&gt;Pengurangan atau penghapusan yang dimaksud merupakan akibat dari adanya Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tersebut, yang mengabulkan sebagian atau seluruh permohonan Wajib Pajak.&lt;br /&gt; Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 35 &lt;br /&gt; Pasal 28&lt;br /&gt; Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (5)&lt;br /&gt;Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan dengan tahun-tahun sebelumnya untuk mencegah penggeseran laba atau rugi. Prinsip taat asas dalam metode pembukuan misalnya dalam penerapan:&lt;br /&gt;a. stelsel pengakuan penghasilan;&lt;br /&gt;b. tahun buku;&lt;br /&gt;c. metode penilaian persediaan; atau &lt;br /&gt;d. metode penyusutan dan amortisasi.&lt;br /&gt;Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu terutang. Jadi, tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar secara tunai.&lt;br /&gt;Termasuk dalam pengertian stelsel akrual adalah pengakuan penghasilan berdasarkan metode persentase tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai dalam bidang konstruksi dan metode lain yang dipakai dalam bidang usaha tertentu seperti build operate and transfer (BOT) dan real estat.&lt;br /&gt;Stelsel kas adalah suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas penghasilan yang diterima dan biaya yang dibayar secara tunai.&lt;br /&gt;Menurut stelsel kas, penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan apabila benar-benar telah diterima secara tunai dalam suatu periode tertentu serta biaya baru dianggap sebagai biaya apabila benar-benar telah dibayar secara tunai dalam suatu periode tertentu.&lt;br /&gt;Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa, misalnya transportasi, hiburan, dan restoran yang tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung lama. Dalam stelsel kas murni, penghasilan dari penyerahan barang atau jasa ditetapkan pada saat pembayaran dari pelanggan diterima dan biaya-biaya ditetapkan pada saat barang, jasa, dan biaya operasi lain dibayar.&lt;br /&gt;Dengan cara ini, pemakaian stelsel kas dapat mengakibatkan penghitungan yang mengaburkan terhadap penghasilan, yaitu besarnya penghasilan dari tahun ke tahun dapat disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Oleh karena itu, untuk penghitungan Pajak Penghasilan dalam memakai stelsel kas harus memperhatikan hal-hal antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan, baik yang tunai maupun yang bukan. Dalam menghitung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan.&lt;br /&gt;2) Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat diamortisasi, biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi.&lt;br /&gt;3) Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten).&lt;br /&gt;Dengan demikian penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga dinamakan stelsel campuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (6)&lt;br /&gt;Pada dasarnya metode pembukuan yang dianut harus taat asas, yaitu harus sama dengan tahun-tahun sebelumnya, misalnya dalam hal penggunaan metode pengakuan penghasilan dan biaya (metode kas atau akrual), metode penyusutan aktiva tetap, dan metode penilaian persediaan. Namun, perubahan metode pembukuan masih dimungkinkan dengan syarat telah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. Perubahan metode pembukuan harus diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak sebelum dimulainya tahun buku yang bersangkutan dengan menyampaikan alasan yang logis dan dapat diterima serta akibat yang mungkin timbul dari perubahan tersebut.&lt;br /&gt;Perubahan metode pembukuan akan mengakibatkan perubahan dalam prinsip taat asas yang dapat meliputi perubahan metode dari kas ke akrual atau sebaliknya atau perubahan penggunaan metode pengakuan penghasilan atau pengakuan biaya itu sendiri, misalnya dalam metode pengakuan biaya yang berkenaan dengan penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode penyusutan tertentu. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Wajib Pajak dalam tahun 2008 menggunakan metode penyusutan garis lurus atau straight line method. Jika dalam tahun 2009 Wajib Pajak bermaksud mengubah metode penyusutan aktiva dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun atau declining balance method, Wajib Pajak harus minta persetujuan terlebih dahulu kepada Direktur Jenderal Pajak yang diajukan sebelum dimulainya tahun buku 2009 dengan menyebutkan alasan dilakukannya perubahan metode penyusutan dan akibat dari perubahan tersebut.&lt;br /&gt;Selain itu, perubahan periode tahun buku juga berakibat berubahnya jumlah penghasilan atau kerugian Wajib Pajak. Oleh karena itu, perubahan tersebut juga harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;Tahun Pajak adalah sama dengan tahun kalender kecuali Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.&lt;br /&gt;Apabila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender, penyebutan Tahun Pajak yang bersangkutan menggunakan tahun yang di dalamnya termasuk 6 (enam) bulan pertama atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;a. Tahun buku 1 Juli 2008 sampai dengan 30 Juni 2009 adalah Tahun Pajak 2008.&lt;br /&gt;b. Tahun buku 1 Oktober 2008 sampai dengan 30 September 2009 adalah Tahun Pajak 2009.&lt;br /&gt; Ayat (7) &lt;br /&gt;Pengertian pembukuan telah diatur dalam Pasal 1 angka 29. Pengaturan dalam ayat ini dimaksudkan agar berdasarkan pembukuan tersebut dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. &lt;br /&gt;Selain dapat dihitung besarnya Pajak Penghasilan, pajak lainnya juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut. Agar Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dapat dihitung dengan benar, pembukuan harus mencatat juga jumlah harga perolehan atau nilai impor, jumlah harga jual atau nilai ekspor, jumlah harga jual dari barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, jumlah pembayaran atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan yang tidak dapat dikreditkan.&lt;br /&gt;Dengan demikian, pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia, misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain. &lt;br /&gt; Ayat (8) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (9) &lt;br /&gt;Pencatatan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas meliputi peredaran atau penerimaan bruto dan penerimaan penghasilan lainnya, sedangkan bagi mereka yang semata-mata menerima penghasilan dari luar usaha dan pekerjaan bebas, pencatatannya hanya mengenai penghasilan bruto, pengurang, dan penghasilan neto yang merupakan objek Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;Di samping itu, pencatatan meliputi pula penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat (10) &lt;br /&gt;Dihapus. &lt;br /&gt; Ayat (11)&lt;br /&gt;Buku, catatan, dan dokumen termasuk yang diselenggarakan secara program aplikasi on-line dan hasil pengolahan data elektronik yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan harus disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar apabila Direktur Jenderal Pajak akan mengeluarkan surat ketetapan pajak, bahan pembukuan atau pencatatan yang diperlukan masih tetap ada dan dapat segera disediakan. Kurun waktu 10 (sepuluh) tahun penyimpanan buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan adalah sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai batas daluwarsa penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. Penyimpanan buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk yang diselenggarakan secara program aplikasi on-line harus dilakukan dengan memperhatikan faktor keamanan, kelayakan, dan kewajaran penyimpanan.&lt;br /&gt; Ayat (12)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 36 &lt;br /&gt; Pasal 29&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan berwenang melakukan pemeriksaan untuk:&lt;br /&gt;a. menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak; dan/atau&lt;br /&gt;b. tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor (Pemeriksaan Kantor) atau di tempat Wajib Pajak (Pemeriksaan Lapangan) yang ruang lingkup pemeriksaannya dapat meliputi satu jenis pajak, beberapa jenis pajak, atau seluruh jenis pajak, baik untuk tahun-tahun yang lalu maupun untuk tahun berjalan. &lt;br /&gt;Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap Wajib Pajak, termasuk terhadap instansi pemerintah dan badan lain sebagai pemungut pajak atau pemotong pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dilakukan dengan menelusuri kebenaran Surat Pemberitahuan, pembukuan atau pencatatan, dan pemenuhan kewajiban perpajakan lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya dari Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Selain itu, pemeriksaan dapat juga dilakukan untuk tujuan lain, di antaranya:&lt;br /&gt;a. pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan;&lt;br /&gt;b. penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak;&lt;br /&gt;c. pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;&lt;br /&gt;d. Wajib Pajak mengajukan keberatan;&lt;br /&gt;e. pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto;&lt;br /&gt;f.  pencocokan data dan/atau alat keterangan;&lt;br /&gt;g. penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;&lt;br /&gt;h. penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai;&lt;br /&gt;i.  pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;&lt;br /&gt;j. penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan; dan/atau&lt;br /&gt;k. pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda. &lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Pemeriksaan dilaksanakan oleh petugas pemeriksa yang jelas identitasnya. Oleh karena itu, petugas pemeriksa harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan, serta memperlihatkannya kepada Wajib Pajak yang diperiksa. Petugas pemeriksa harus menjelaskan tujuan dilakukannya pemeriksaan kepada Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Petugas pemeriksa harus telah mendapat pendidikan teknis yang cukup dan memiliki keterampilan sebagai pemeriksa pajak. Dalam menjalankan tugasnya, petugas pemeriksa harus bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, penuh pengertian, sopan, dan objektif serta wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela.&lt;br /&gt;Pendapat dan simpulan petugas pemeriksa harus didasarkan pada bukti yang kuat dan berkaitan serta berlandaskan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pemeriksa harus melakukan pembinaan kepada Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt; Ayat (3)&lt;br /&gt;Kewajiban yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak yang diperiksa sebagaimana dimaksud pada ayat ini disesuaikan dengan tujuan dilakukannya pemeriksaan baik dalam rangka menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan maupun untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Apabila Wajib Pajak menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan dengan menggunakan proses pengolahan data secara elektronik (electronic data processing/EDP), baik yang diselenggarakan sendiri maupun yang diselenggarakan melalui pihak lain, Wajib Pajak harus memberikan akses kepada petugas pemeriksa untuk mengakses dan/atau mengunduh data dari catatan, dokumen, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak.&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat ini Wajib Pajak yang diperiksa juga memiliki kewajiban memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruangan yang merupakan tempat penyimpanan dokumen, uang, dan/atau barang yang dapat memberi petunjuk tentang keadaan usaha Wajib Pajak dan melakukan peminjaman dan/atau pemeriksaan di tempat-tempat tersebut.&lt;br /&gt;Dalam hal petugas pemeriksa membutuhkan keterangan lain selain buku, catatan, dan dokumen lain, Wajib Pajak harus memberikan keterangan lain yang dapat berupa keterangan tertulis dan/atau keterangan lisan. &lt;br /&gt;Keterangan tertulis misalnya:&lt;br /&gt;a. surat pernyataan tidak diaudit oleh Kantor Akuntan Publik;&lt;br /&gt;b. keterangan bahwa fotokopi dokumen yang dipinjamkan sesuai dengan aslinya;&lt;br /&gt;c. surat pernyataan tentang kepemilikan harta; atau&lt;br /&gt;d. surat pernyataan tentang perkiraan biaya hidup.&lt;br /&gt;Keterangan lisan misalnya:&lt;br /&gt;a. wawancara tentang proses pembukuan Wajib Pajak;&lt;br /&gt;b. wawancara tentang proses produksi Wajib Pajak; atau&lt;br /&gt;c. wawancara dengan manajemen tentang transaksi-transaksi yang bersifat khusus.&lt;br /&gt; Ayat (3a) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Ayat (3b) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Ayat (4) &lt;br /&gt;Untuk mencegah adanya dalih bahwa Wajib Pajak yang sedang diperiksa terikat pada kerahasiaan sehingga pembukuan, catatan, dokumen serta keterangan-keterangan lain yang diperlukan tidak dapat diberikan oleh Wajib Pajak maka ayat ini menegaskan bahwa kewajiban merahasiakan itu ditiadakan.&lt;br /&gt; Angka 37 &lt;br /&gt; Pasal 29A&lt;br /&gt;Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan fasilitas kepada Wajib Pajak yang mendaftarkan sahamnya di bursa efek, yaitu dalam hal Wajib Pajak dilakukan pemeriksaan, pemeriksaannya dapat melalui Pemeriksaan Kantor. Dengan Pemeriksaan Kantor, proses pemeriksaan menjadi lebih sederhana dan cepat penyelesaiannya sehingga Wajib Pajak semakin cepat mendapatkan kepastian hukum, dibandingkan melalui Pemeriksaan Lapangan. &lt;br /&gt;Mengingat pemeriksaan dapat dilakukan melalui Pemeriksaan Kantor dan jangka waktu pemeriksaannya cukup singkat, Direktur Jenderal Pajak melalui Wajib Pajak dapat meminta kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh Akuntan Publik.&lt;br /&gt; Angka 38 &lt;br /&gt; Pasal 30&lt;br /&gt; Ayat (1) &lt;br /&gt;Dalam pemeriksaan dapat ditemukan adanya Wajib Pajak yang tidak memenuhi ketentuan yang diatur dalam Pasal 29 ayat (3) huruf b, yakni tidak memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya, Wajib Pajak tidak berada di tempat atau sengaja tidak memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak yang pada saat dilakukan pemeriksaan tidak memberi kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat, ruang, dan barang bergerak dan/atau tidak bergerak, serta mengakses data yang dikelola secara elektronik atau tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan dianggap menghalangi pelaksanaan pemeriksaan.&lt;br /&gt;Dalam hal demikian, untuk memperoleh buku, catatan, dokumen termasuk data yang dikelola secara elektronik dan benda-benda lain yang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak yang diperiksa dipandang perlu memberi kewenangan kepada Direktur Jenderal Pajak yang dilaksanakan oleh pemeriksa untuk melakukan penyegelan terhadap tempat, ruang, dan barang bergerak dan/atau tidak bergerak. &lt;br /&gt;Penyegelan merupakan upaya terakhir pemeriksa untuk memperoleh atau mengamankan buku, catatan, dokumen termasuk data yang dikelola secara elektronik, dan benda-benda lain yang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak yang diperiksa agar tidak dipindahkan, dihilangkan, dimusnahkan, diubah, dirusak, ditukar, atau dipalsukan. &lt;br /&gt;Penyegelan data elektronik dilakukan sepanjang tidak menghentikan kelancaran kegiatan operasional perusahaan, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt; Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt; Angka 39 &lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2)  &lt;br /&gt;Untuk lebih memberikan keseimbangan hak kepada Wajib Pajak dalam menanggapi temuan hasil pemeriksaan, dalam tata cara pemeriksaan tersebut, antara lain, mengatur kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada Wajib Pajak dan memberikan hak Wajib Pajak untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam batas waktu yang ditentukan, hasil pemeriksaan ditindaklanjuti sesuai  dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt; Angka 40&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini ditentukan siapa yang menjadi wakil untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak terhadap badan, badan yang dinyatakan pailit, badan dalam pembubaran, badan dalam likuidasi, warisan yang belum dibagi, dan anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan. Bagi Wajib Pajak tersebut perlu ditentukan siapa yang menjadi wakil atau kuasanya karena mereka tidak dapat atau tidak mungkin melakukan sendiri tindakan hukum tersebut. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Ayat ini menegaskan bahwa wakil Wajib Pajak yang diatur dalam Undang-Undang ini bertanggung jawab secara pribadi atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang.&lt;br /&gt;Pengecualian dapat dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak apabila wakil Wajib Pajak dapat membuktikan dan meyakinkan bahwa dalam kedudukannya, menurut kewajaran dan kepatutan, tidak mungkin dimintai pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Ayat ini memberikan kelonggaran dan kesempatan bagi Wajib Pajak untuk meminta bantuan pihak lain yang memahami masalah perpajakan sebagai kuasanya, untuk dan atas namanya, membantu melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Bantuan tersebut meliputi pelaksanaan kewajiban formal dan material serta pemenuhan hak Wajib Pajak yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “kuasa” adalah orang yang menerima kuasa khusus dari Wajib Pajak untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan tertentu dari Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (3a) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang dalam menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan perusahaan, misalnya berwenang menandatangani kontrak dengan pihak ketiga, menandatangani cek, dan sebagainya walaupun orang tersebut tidak tercantum namanya dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte pendirian maupun akte perubahan, termasuk dalam pengertian pengurus. Ketentuan pada ayat ini berlaku pula bagi komisaris dan pemegang saham mayoritas atau pengendali.&lt;br /&gt;Angka 41&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Dihapus. &lt;br /&gt;Angka 42 &lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Setiap pejabat, baik petugas pajak maupun mereka yang melakukan tugas di bidang perpajakan dilarang mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak yang menyangkut masalah perpajakan, antara lain:&lt;br /&gt;a. Surat Pemberitahuan, laporan keuangan, dan lain-lain yang dilaporkan oleh Wajib Pajak;&lt;br /&gt;b. data yang diperoleh dalam rangka pelaksanaan pemeriksaan;&lt;br /&gt;c. dokumen dan/atau data yang diperoleh dari pihak ketiga yang bersifat rahasia;&lt;br /&gt;d. dokumen dan/atau rahasia Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkenaan. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Para ahli, seperti ahli bahasa, akuntan, dan pengacara yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu pelaksanaan undang-undang perpajakan adalah sama dengan petugas pajak yang dilarang pula untuk mengungkapkan kerahasiaan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2a) &lt;br /&gt;Keterangan yang dapat diberitahukan adalah identitas Wajib Pajak dan informasi yang bersifat umum tentang perpajakan.&lt;br /&gt;Identitas Wajib Pajak meliputi:&lt;br /&gt;1. nama Wajib Pajak;&lt;br /&gt;2. Nomor Pokok Wajib Pajak;&lt;br /&gt;3. alamat Wajib Pajak;&lt;br /&gt;4. alamat kegiatan usaha; &lt;br /&gt;5. merek usaha; dan/atau&lt;br /&gt;6. kegiatan usaha Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Informasi yang bersifat umum tentang perpajakan meliputi:&lt;br /&gt;a. penerimaan pajak secara nasional;&lt;br /&gt;b. penerimaan pajak per Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan/atau per Kantor Pelayanan Pajak;&lt;br /&gt;c. penerimaan pajak per jenis pajak;&lt;br /&gt;d. penerimaan pajak per klasifikasi lapangan usaha; &lt;br /&gt;e. jumlah Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak terdaftar; &lt;br /&gt;f.  register permohonan Wajib Pajak;&lt;br /&gt;g. tunggakan pajak secara nasional; dan/atau&lt;br /&gt;h. tunggakan pajak per Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan/atau per Kantor Pelayanan Pajak.&lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Untuk kepentingan negara, misalnya dalam rangka penyidikan, penuntutan, atau dalam rangka mengadakan kerja sama dengan instansi pemerintah lain, keterangan atau bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak dapat diberikan atau diperlihatkan kepada pihak tertentu yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Dalam surat izin yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan harus dicantumkan nama Wajib Pajak, nama pihak yang ditunjuk, dan nama pejabat, ahli, atau tenaga ahli yang diizinkan untuk memberikan keterangan atau memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak. Pemberian izin tersebut dilakukan secara terbatas dalam hal-hal yang dipandang perlu oleh Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Untuk melaksanakan pemeriksaan pada sidang pengadilan dalam perkara pidana atau perdata yang berhubungan dengan masalah perpajakan, demi kepentingan peradilan, Menteri Keuangan memberikan izin pembebasan atas kewajiban kerahasiaan kepada pejabat pajak dan para ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) atas permintaan tertulis hakim ketua sidang.&lt;br /&gt;Ayat (5) &lt;br /&gt;Ayat ini merupakan pembatasan dan penegasan bahwa keterangan perpajakan yang diminta hanya mengenai perkara pidana atau perdata tentang perbuatan atau peristiwa yang menyangkut bidang perpajakan dan hanya terbatas pada tersangka yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Angka 43 &lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, atas permintaan tertulis Direktur Jenderal Pajak, pihak ketiga yaitu bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi, dan pihak ketiga lainnya yang mempunyai hubungan dengan kegiatan usaha Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak atau penagihan pajak atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan harus memberikan keterangan atau bukti-bukti yang diminta.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “konsultan pajak” adalah setiap orang yang dalam lingkungan pekerjaannya secara bebas memberikan jasa konsultasi kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Untuk kepentingan perpajakan, pimpinan Bank Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Angka 44 &lt;br /&gt;Pasal 35A&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Dalam rangka pengawasan kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan sebagai konsekuensi penerapan sistem self assessment, data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang bersumber dari instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain sangat diperlukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Data dan informasi dimaksud adalah data dan informasi orang pribadi atau badan yang dapat menggambarkan kegiatan atau usaha, peredaran usaha, penghasilan dan/atau kekayaan yang bersangkutan, termasuk informasi mengenai nasabah debitur, data transaksi keuangan dan lalu lintas devisa, kartu kredit, serta laporan keuangan dan/atau laporan kegiatan usaha yang disampaikan kepada instansi lain di luar Direktorat Jenderal Pajak. &lt;br /&gt;Dalam rangka pelaksanaan ketentuan ini, sumber, jenis, dan tata cara penyampaian data dan informasi kepada Direktorat Jenderal Pajak diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Apabila data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan yang diberikan oleh instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain belum mencukupi, untuk kepentingan penerimaan negara, Direktur Jenderal Pajak dapat menghimpun data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan sehubungan dengan terjadinya suatu peristiwa yang diperkirakan berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dengan memperhatikan ketentuan tentang kerahasiaan atas data dan informasi dimaksud. &lt;br /&gt;Angka 45 &lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Dalam praktik dapat ditemukan sanksi administrasi yang dikenakan kepada Wajib Pajak tidak tepat karena ketidaktelitian petugas pajak yang dapat membebani Wajib Pajak yang tidak bersalah atau tidak memahami peraturan perpajakan. Dalam hal demikian, sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan yang telah ditetapkan dapat dihapuskan atau dikurangkan oleh Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;Selain itu, Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya atau atas permohonan Wajib Pajak dan berlandaskan unsur keadilan dapat mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak yang tidak benar, misalnya Wajib Pajak yang ditolak pengajuan keberatannya karena tidak memenuhi persyaratan formal (memasukkan surat keberatan tidak pada waktunya) meskipun persyaratan material terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, atas Surat Tagihan Pajak yang tidak benar dapat dilakukan pengurangan atau pembatalan oleh Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya atau atas permohonan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Dalam rangka memberikan keadilan dan melindungi hak Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak atas kewenangannya atau atas permohonan Wajib Pajak dapat membatalkan hasil pemeriksaan pajak yang dilaksanakan tanpa penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan atau tanpa dilakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak. Namun, dalam hal Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, permohonan Wajib Pajak tidak dapat dipertimbangkan. &lt;br /&gt;Ayat (1a) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (1b) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (1c) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (1d) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (1e) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Angka 46 &lt;br /&gt;Pasal 36A&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Dalam rangka mengamankan penerimaan negara dan meningkatkan profesionalisme pegawai pajak dalam melaksanakan ketentuan undang-undang perpajakan, terhadap pegawai pajak yang dengan sengaja menghitung atau menetapkan pajak yang tidak sesuai dengan undang-undang sehingga mengakibatkan kerugian pada pendapatan negara dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Ayat ini mengatur pelanggaran yang dilakukan pegawai pajak, misalnya apabila pegawai pajak melakukan pelanggaran di bidang kepegawaian, pegawai pajak dapat diadukan karena telah melanggar peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian. Apabila pegawai pajak dianggap melakukan tindak pidana, pegawai pajak dapat diadukan karena telah melakukan tindak pidana. Demikian juga, apabila pegawai pajak melakukan tindak pidana korupsi, pegawai pajak dapat diadukan karena melakukan tindak pidana korupsi. &lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, Wajib Pajak dapat mengadukan pelanggaran yang dilakukan pegawai pajak tersebut kepada unit internal Departemen Keuangan. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (5) &lt;br /&gt;Pegawai pajak dalam melaksanakan tugasnya dianggap berdasarkan iktikad baik apabila pegawai pajak tersebut dalam melaksanakan tugasnya tidak untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, keluarga, kelompok, dan/atau tindakan lain yang berindikasi korupsi, kolusi, dan/atau nepotisme.&lt;br /&gt;Angka 47 &lt;br /&gt;Pasal 36B&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 36C&lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal 36D&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Pemberian besarnya insentif dilakukan melalui pembahasan yang dilakukan oleh Pemerintah dengan alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi masalah keuangan.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Angka 48 &lt;br /&gt;Pasal 37A&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Angka 49 &lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak, sepanjang menyangkut tindakan administrasi perpajakan, dikenai sanksi administrasi dengan menerbitkan surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak, sedangkan yang menyangkut tindak pidana di bidang perpajakan dikenai sanksi pidana. &lt;br /&gt;Perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini bukan merupakan pelanggaran administrasi melainkan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;Dengan adanya sanksi pidana tersebut, diharapkan tumbuhnya kesadaran Wajib Pajak untuk mematuhi kewajiban perpajakan seperti yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;Kealpaan yang dimaksud dalam Pasal ini berarti tidak sengaja, lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan kewajibannya sehingga perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.&lt;br /&gt;Angka 50 &lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat ini yang dilakukan dengan sengaja dikenai sanksi yang berat mengingat pentingnya peranan penerimaan pajak dalam penerimaan negara.&lt;br /&gt;Dalam perbuatan atau tindakan ini termasuk pula setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri, menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak, atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Untuk mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana di bidang perpajakan, bagi mereka yang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun sejak selesainya menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan, dikenai sanksi pidana lebih berat, yaitu ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana yang diatur pada ayat (1).&lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Penyalahgunaan atau penggunaan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, atau penyampaian Surat Pemberitahuan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam rangka mengajukan permohonan restitusi pajak dan/atau kompensasi pajak atau pengkreditan pajak yang tidak benar sangat merugikan negara. Oleh karena itu, percobaan melakukan tindak pidana tersebut merupakan delik tersendiri.&lt;br /&gt;Angka 51 &lt;br /&gt;Pasal 39A&lt;br /&gt;Faktur pajak sebagai bukti pungutan pajak merupakan sarana administrasi yang sangat penting dalam pelaksanaan ketentuan Pajak Pertambahan Nilai. Demikian juga bukti pemotongan pajak dan bukti pemungutan pajak merupakan sarana untuk pengkreditan atau pengurangan pajak terutang sehingga setiap penyalahgunaan faktur pajak, bukti pemotongan pajak, bukti pemungutan pajak, dan/atau bukti setoran pajak dapat mengakibatkan dampak negatif dalam keberhasilan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan. Oleh karena itu, penyalahgunaan tersebut berupa penerbitan dan/atau penggunaan faktur pajak, bukti pemotongan pajak, bukti pemungutan pajak, dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya dikenai sanksi pidana.  &lt;br /&gt;Angka 52 &lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Untuk menjamin bahwa kerahasiaan mengenai perpajakan tidak akan diberitahukan kepada pihak lain dan supaya Wajib Pajak dalam memberikan data dan keterangan tidak ragu-ragu, dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Perpajakan, perlu adanya sanksi pidana bagi pejabat yang bersangkutan yang menyebabkan terjadinya pengungkapan kerahasiaan tersebut.&lt;br /&gt;Pengungkapan kerahasiaan sebagaimana dimaksud pada ayat ini dilakukan karena kealpaan dalam arti lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan sehingga kewajiban untuk merahasiakan keterangan atau bukti-bukti yang ada pada Wajib Pajak yang dilindungi oleh Undang-Undang Perpajakan dilanggar. Atas kealpaan tersebut, pelaku dihukum dengan hukuman yang setimpal. &lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat ini yang dilakukan dengan sengaja dikenai sanksi yang lebih berat dibandingkan dengan perbuatan atau tindakan yang dilakukan karena kealpaan agar pejabat yang bersangkutan lebih berhati-hati untuk tidak melakukan perbuatan membocorkan rahasia Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Tuntutan pidana terhadap pelanggaran kerahasiaan sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai dengan sifatnya adalah menyangkut kepentingan pribadi seseorang atau badan selaku Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Angka 53 &lt;br /&gt;Pasal 41A&lt;br /&gt;Agar pihak ketiga memenuhi permintaan Direktur Jenderal Pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 35 maka perlu adanya sanksi bagi pihak ketiga yang melakukan perbuatan atau tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini. &lt;br /&gt;Angka 54&lt;br /&gt;Pasal 41B&lt;br /&gt;Seseorang yang melakukan perbuatan menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, misalnya menghalangi penyidik melakukan penggeledahan dan/atau menyembunyikan bahan bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini dikenai sanksi pidana. &lt;br /&gt;Angka 55 &lt;br /&gt;Pasal 41C&lt;br /&gt;Ayat (1)  &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)  &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (3)  &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka 56 &lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Ayat (1)  &lt;br /&gt;Yang dipidana karena melakukan perbuatan tindak pidana di bidang perpajakan tidak terbatas pada Wajib Pajak, wakil Wajib Pajak, kuasa Wajib Pajak, pegawai Wajib Pajak, Akuntan Publik, Konsultan Pajak, atau pihak lain, tetapi juga terhadap mereka yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. &lt;br /&gt;Ayat (2)  &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Angka 57 &lt;br /&gt;Pasal 43A&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Informasi, data, laporan, dan pengaduan yang diterima oleh Direktorat Jenderal Pajak akan dikembangkan dan dianalisis melalui kegiatan intelijen atau pengamatan yang hasilnya dapat ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan, Pemeriksaan Bukti Permulaan, atau tidak ditindaklanjuti.&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Angka 58 &lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diangkat sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan oleh pejabat yang berwenang adalah penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dilaksanakan menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Pada ayat ini diatur wewenang Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan, termasuk melakukan penyitaan. Penyitaan tersebut dapat dilakukan, baik terhadap barang bergerak maupun tidak bergerak, termasuk rekening bank, piutang, dan surat berharga milik Wajib Pajak, Penanggung Pajak, dan/atau pihak lain yang telah ditetapkan sebagai tersangka. &lt;br /&gt;Ayat (3) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Ayat (4) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Angka 59 &lt;br /&gt;Pasal 44B&lt;br /&gt;Ayat (1) &lt;br /&gt;Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri Keuangan, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana perpajakan sepanjang perkara pidana tersebut belum dilimpahkan ke pengadilan.&lt;br /&gt;Ayat (2) &lt;br /&gt;Cukup jelas. &lt;br /&gt;Pasal II&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4740..................&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3930788562523557983-1079213030965331622?l=itok-itok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/1079213030965331622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/03/penjelasan-atas-undang-undang-republik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/1079213030965331622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/1079213030965331622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/03/penjelasan-atas-undang-undang-republik.html' title='PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-9208543853244206248</id><published>2009-03-26T07:21:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T07:33:44.308-07:00</updated><title type='text'>PENGARUH LABA DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN  YANG GO PUBLIC DI INDONESIA</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Latar Belakang&lt;br /&gt;Perkembangan industri di Indonesia yang pesat dalam beberapa tahun yang lalu memerlukan pendanaan dalam jumlah yang sangat besar. Penyediaan dana tersebut dapat dipenuhi dari dalam negeri dan pinjaman dari luar negeri. Penyediaan dana dari dalam negeri dapat dilakukan dengan cara investasi dan pasar modal yaitu melalui go public dengan menjual saham kepada calon investor di pasar modal. Dengan adanya penjualan saham di pasar modal perusahaan mengeluarkan laporan keuangan (Hermawan, 1997).&lt;br /&gt;Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi. Sebagai hasil akhir dari proses akuntansi, laporan keuangan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan oleh berbagai pihak. Laporan keuangan yang utama terdiri dari neraca, laporan rugi-laba, laporan perubahan modal dan laporan arus kas. Informasi yang tersaji dalam laporan keuangan digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan sebagai landasan pengambilan keputusan ekonomi. Oleh karena itu, informasi akuntansi harus relevan dan reliable. Salah satu karakteristik informasi keuangan yang relevan adalah bila informasi tersebut memiliki daya prediksi (Sugiri, 1995).&lt;br /&gt;Tujuan investor menanamkan modalnya dalam bentuk saham adalah untuk memaksimumkan kekayaan yang akan diperoleh baik melalui dividen yang dibagikan maupun melalui capital gain pada saat saham tersebut dijual. Tingkat keuntungan yang diharapkan haruslah lebih besar daripada apabila mereka menanamkan dananya pada obligasi pemerintah ataupun tingkat bunga deposito. Bagi investor yang tidak menyukai risiko, lebih manginginkan dividen daripada capital gain di masa yang akan datang (Riyanto, 1995).&lt;br /&gt;Rencana besarnya dividen yang dibayarkan oleh perusahaan tergantung pada kebijakan dividen masing-masing perusahaan. Kebijakan dividen ini sangat penting artinya bagi manajer keuangan karena harus mempertimbangkan beberapa kepentingan yang saling terkait baik menyangkut kepentingan perusahaan, pemegang saham, masyarakat maupun pemerintah. Oleh karena itu, biasanya penentuan dividen diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai penentu keputusan tertinggi dalam perusahaan Perseroan Terbatas.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah dana yang ditanamkan memberikan hasil yang maksimum  dan apakah manajer telah melakukan kewajibannya dengan baik dalam arti telah memaksimumkan kekayaan pemilik modal, maka investor membutuhkan informasi dari perusahaan. Informasi yang dibutuhkan oleh investor adalah mengenai prestasi yang telah dicapai perusahaan dan bagaimana prospek perusahaan di masa yang akan datang. Biasanya informasi tersebut dalam bentuk laporan keuangan dan dividen.&lt;br /&gt;Perlunya informasi dari perusahaan, diakomodasikan pada SFAC no 1 yang menyatakan, laporan keuangan harus bermanfaat untuk membantu investor, calon investor, kreditur dan pengguna lain dalam rangka membuat keputusan yang rasional. Laporan keuangan tersebut perlu diolah agar dapat menjadi landasan bagi investasi mendatang. Oleh karena itu perlu penelitian-penelitian tentang manfaat laporan keuangan. Salah satu model pengujian manfaat adalah dengan mengetahui kemampuan laba dan arus kas yang ada terhadap dividen yang akan dibagikan kepada investor.&lt;br /&gt;Studi mengenai dividen telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Blume (dalam Naibaho 2000) menyatakan bahwa investor individual sekarang ini lebih menyukai dividen yang meningkat (tinggi) sehingga mengakibatkan rendahnya retained earning. Hal ini disebabkan karena mereka menganggap bahwa jumlah tertentu yang di terima sebagai dividen sekarang lebih berharga dibandingkan dengan capital gain yang akan diperoleh di kemudian hari. Apabila mereka menjual sahamnya maka ada kemungkinan mereka mengalami kerugian.&lt;br /&gt; Turnovsky (dalam Naibaho 2000) dalam penelitiannya menambahkan persamaan laba yang ditahan dan variabel eksplanatori investasi ke dalam persamaan dividen maupun persamaan laba yang ditahan. Walaupun laba yang ditahan hanya merupakan residual dari dividen yang dibayarkan, namun keduanya masih saling terkait karena bagaimanapun juga laba yang ditahan ekuivalen dengan keputusan untuk tidak membayarkan dividen&lt;br /&gt;Selain itu untuk menentukan apakah perusahaan mampu membayarkan dividen akan tergantung juga pada posisi likuiditas, karena dari kas yang ada di perusahaanlah dapat diketahui apakah perusahaan benar-benar memiliki dana untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya termasuk juga untuk membayarkan dividen. Hal ini disebabkan karena seringkali keuntungan yang diperoleh perusahaan sudah diinvestasikan ke dalam aktiva-aktiva yang dibutuhkan sehingga tingkat likuiditas perusahaan menjadi rendah.&lt;br /&gt;Perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan tinggi tetapi yang dalam keadaan ekspansi akan mempunyai likuiditas yang rendah karena sebagian besar keuntungan digunakan untuk membiayai ekspansi. Perusahaan yang menggunakan hutang akan mempunyai kewajiban membayar beban tetap dari pinjaman tersebut sehingga akan mengurangi kemampuannya untuk membayarkan dividen. Begitu pula bagi perusahaan besar yang sudah mapan dan memiliki akses ke pasar modal akan lebih memungkinkan baginya untuk membayar dividen yang tinggi karena mereka lebih mudah untuk memperoleh sumber dana dari luar.&lt;br /&gt;Suadi (1998) menyimpulkan, bahwa laporan arus kas mempunyai hubungan dengan jumlah pembayaran dividen yang terjadi dalam satu tahun setelah terbitnya laporan arus uang. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa laporan arus kas bermanfaat bagi pemegang saham. Baridwan (1997) meneliti hubungan antara informasi laporan arus kas dengan informasi laporan laba rugi. Dalam penelitian ini, dipakai sampel sebanyak 62 perusahaan yang go public dan terdaftar di BEJ. Baridwan menyimpulkan, bahwa kandungan kedua laporan tersebut tidak sama.&lt;br /&gt;Berdasarkan pada penelitian dividen yang sudah ada yaitu penelitian Suadi mengenai manfaat laporan arus kas terhadap pembayaran dividen yang akan datang, maka penulis ingin meneliti tentang pengaruh laba dan arus kas terhadap kebijakan dividen pada perusahaan yang go-public di Indonesia. &lt;br /&gt;Alasan yang mendasari penulis untuk mengadakan penelitian ini adalah lantaran adanya beberapa keterbatasan dari penelitian sebelumnya. Selain itu, data laporan keuangan yang dipakai dimungkinkan kurang relevan dalam menjelaskan dalam hubungannya dengan variabel dependen. Pada penelitian sebelumnya hanya laporan arus kas yang berhubungan dengan dividen, sedangkan syarat untuk membagikan dividen adalah apabila perusahaan memiliki laba dan memiliki uang tunai. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah adanya penambahan variabel laba dan perbedaan tahun penelitian. Dalam penelitian ini dividen yang digunakan adalah dividen tunai, laba yang digunakan adalah laba setelah pajak, dan arus kas yang digunakan adalah arus kas operasi dan jumlah arus kas akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Kebijakan dividen merupakan suatu keputusan yang sangat penting karena akan mempunyai dampak pada stakeholder. Dividen yang stabil atau naik menjadi tujuan utama kebanyakan investor. Oleh karena itu prediksi dividen sangatlah penting dilakukan. Ada beberapa variabel diduga berpengaruh terhadap dividen yaitu laba dan arus kas. Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.   Apakah kebijakan dividen dipengaruhi oleh laba perusahaan ?&lt;br /&gt;1.Apakah kebijakan dividen dipengaruhi oleh arus kas perusahaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Batasan Masalah&lt;br /&gt;Agar tujuan penelitian dapat tercapai, maka penelitian dibatasi terhadap kemampuan laba dan arus kas dalam memprediksi dividen pada perusahaan yang go-public di BEJ, yang mengeluarkan laporan keuangan salama periode 1998 – 2000 dan membagikan dividen pada tahun 2000.&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;1.Untuk menganalisis apakah kebijakan dividen secara signifikan dipengaruhi oleh laba perusahaan.&lt;br /&gt;2.Untuk menganalisis apakah kebijakan dividen secara signifikan dipengaruhi oleh arus kas perusahaan.&lt;br /&gt;Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Manfaat yang dapat diambil dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;3.Memberikan bukti empiris mengenai kemampuan laba dan arus kas dalam mempengaruhi kebijakan dividen.&lt;br /&gt;4.Menunjukkan informasi akuntansi (laba, arus kas) sebagai dasar bagi pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;A.  Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang  menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (PSAK, 1999). Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.&lt;br /&gt;Ada empat laporan dasar yang terkandung dalam laporan tahunan yaitu neraca, perhitungan rugi-laba, perhitungan laba yang ditahan, dan laporan arus kas. Para investor menggunakan informasi yang terkandung dalam laporan /perhitungan ini untuk menyusun perkiraan tentang tingkat laba dan dividen di masa mendatang, dan tentang faktor risiko dari nilai-nilai perkiraan tersebut (Sugiri, 1995).&lt;br /&gt;Posisi dan Kinerja Keuangan&lt;br /&gt;   Pada PSAK 1999, terdapat beberapa hal yang dapat menjelaskan keberadaan posisi keuangan, kinerja serta perubahannya dalam kaitannya dengan manfaat penyajian laporan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Informasi fluktuasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Selain itu, informasi tersebut juga berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.&lt;br /&gt;Dividen&lt;br /&gt;1.Pengertian dan Jenis Dividen &lt;br /&gt;Dividen merupakan bentuk distribusi laba yang diperoleh perusahaan kepada pemegang saham sesuai dengan proporsi lembar saham yang dimilikinya. Bagi seorang investor dividen merupakan komponen return disamping capital gain. Besar kecilnya dividen akan sangat bergantung pada besar kecilnya laba yang diperoleh serta proporsi laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham atau dividend payout ratio.&lt;br /&gt;2.Teori Kebijakan Dividen&lt;br /&gt;Kebijakan dividen adalah suatu keputusan untuk menentukan berapa besar bagian laba yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dan akan ditahan dalam perusahaan untuk selanjutnya diinvestasikan kembali. Husnan (1994) memberikan pengertian mengenai kebijakan dividen yang pada hakekatnya merupakan penentuan berapa banyak laba yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dan berapa banyak yang akan ditahan.&lt;br /&gt;Kebijakan dividen penting bagi perusahaan dengan 2 alasan yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.Pembayaran dividen mungkin akan mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;b.Laba ditahan biasanya merupakan sumber dana internal yang terbesar dan terpenting bagi pertumbuhan peerusahaan.&lt;br /&gt;Terdapat beberapa teori yang dapat digunakan sebagai landasan dalam membuat kebijakan yang tepat bagi perusahaan. Brigham dan Weston (1997) menyebutkan beberapa teori kebijakan dividen, yaitu Dividend Irrelevan Theory dan Bird-in-The-Hand-Theory.&lt;br /&gt;3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen&lt;br /&gt;Menurut Brigham dan Weston (1997) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan kebijakan dividen yang akan ditempuh. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;a. Kendala-kendala&lt;br /&gt;b. Peluang investasi&lt;br /&gt;c.  Ketersediaan sumber modal alternatif&lt;br /&gt;d.  Pengaruh terhadap tingkat pengembalian yang diharapkan (ks )&lt;br /&gt;Hubungan Antara Variabel Independen dan Variabel Dependen&lt;br /&gt;Ada dua jenis investor saham. Pertama, untuk menguasai investee. Kedua, untuk memperoleh keuntungan. Bagi investor saham kelompok pertama, keuntungan bukan merupakan hal yang utama. Yang penting adalah menguasai investee demi suatu keperluan, misalnya sebagai pemasok bahan baku ataupun sebagai pembeli produk perusahaan investor.&lt;br /&gt;Keuntungan yang diperoleh investor jenis kedua tersebut berupa selisih antara harga pembelian saham dengan arus uang masuk yang berkaitan dengan saham tersebut. Arus uang masuk tersebut berupa dividen uang tunai (untuk selanjutnya dividen) dan hasil penjualan investasi saham tersebut. Penaksiran hasil penjualan investasi saham sukar dilakukan karena tergantung kepada perekonomian dan harapan pasar saham. Dividen adalah laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Menurut hukum, perusahaan boleh membagikan dividen hanya kalau perusahaan tersebut memiliki laba dan yang lebih penting lagi juga memiliki uang tunai.&lt;br /&gt;Kalau perubahan laporan arus dana menjadi laporan arus kas bermanfaat, maka dilihat dari segi investor, laporan arus kas seharusnya dapat membuat investor memperkirakan jumlah dividen. Sebaliknya, kalau laporan arus kas tidak dapat membuat investor memperkirakan jumlah dividen, maka laporan arus kas tersebut kurang bermanfaat bagi pemegang saham. Demikian pula dengan laporan rugi-laba yang akan bermanfaat bagi investor dan pemegang saham apabila dapat memperkirakan jumlah dividen yang akan diperolehnya.&lt;br /&gt;Penelitian Terdahulu&lt;br /&gt;Penelitian tentang dividen telah banyak dilakukan, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Suadi (1998) menyimpulkan, bahwa laporan arus kas mempunyai hubungan dengan jumlah pembayaran dividen yang terjadi dalam satu tahun setelah terbitnya laporan arus uang. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa laporan arus kas bermanfaat bagi pemegang saham.&lt;br /&gt;Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Baridwan (1997) meneliti mengenai ada tidaknya hubungan yang sama antara informasi yang ada dalam laporan arus kas dengan informasi yang ada dalam laporan laba rugi.  Kalau kandungan informasi kedua laporan tersebut sama, maka laporan arus kas tidak bermanfaat. Baridwan menyimpulkan, bahwa kandungan kedua laporan tersebut tidak sama. &lt;br /&gt;Hipotesis&lt;br /&gt;Hipotesis penelitian ini adalah menguji pengaruh laba dan arus kas terhadap pembagian dividen adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;2.Ha1 : Laba perusahaan mempengaruhi kebijakan dividen.&lt;br /&gt;3.Ha2 : Arus kas perusahaan mempengaruhi kebijakan dividen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODOLOGI PENELITIAN&lt;br /&gt;A. Identifikasi Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;Pada penelitian ini, populasi yang digunakan adalah semua perusahaan yang go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama periode 1998-2000.&lt;br /&gt;Adapun kriteria yang dipakai adalah sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;1.Telah mempublikasikan laporan keuangan tahunan mulai periode 1998 sampai dengan 2000.&lt;br /&gt;2.Laporan keungan yang diterbitkan memuat laporan rugi - laba, dan laporan arus kas.&lt;br /&gt;3.Perusahaan membayar dividen pada tahun 2000.&lt;br /&gt;Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh jumlah sampel sebanyak 67 perusahaan. Namun setelah dilakukan pengujian normalitas terhadap data yang ada, maka sampel yang tersisa dan dipakai dalam penelitian ini adalah 52 perusahaan.&lt;br /&gt;B.Data Penelitian&lt;br /&gt; Data yang dipakai adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari tahun 1998 – 2000. Data diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory, Jakarta Stock Exchange dan file datastream MM UGM.&lt;br /&gt;C.Definisi Operasional Variabel Penelitian&lt;br /&gt;1.Dividen (Y)&lt;br /&gt;  Dividen adalah jumlah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham pada tahun t+1, yaitu persentase perbandingan antara dividen per lembar saham dengan laba per lembar saham.&lt;br /&gt;2.Laba (X1)&lt;br /&gt;Laba adalah laba bersih perusahaan setelah pajak atau EAT, yaitu pendapatan kotor dikurangi pajak yang harus dibayarkan pada periode t.&lt;br /&gt;3.Arus Kas Operasi (X2)&lt;br /&gt;    Arus kas operasi adalah arus kas yang berasal dari operasi normal, yaitu selisih antara hasil penjualan dan beban tunai dan arus kas dari transaksi yang masuk dalam penentuan laba bersih (net income) perusahaan pada periode t.&lt;br /&gt;4.Jumlah Kas Akhir Tahun (X3)&lt;br /&gt;      Arus kas total yakni kas total yang diperoleh perusahaan dalam satu tahun, yang merupakan penjumlahan dari arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan.&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;         Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan beberapa  hal sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.Hasil analisis regresi menghasilkan nilai signifikan probabilitas uji F sebesar 0,000 (di bawah 0,05) atau nilai F hitung (sebesar 14,075) yang lebih besar dari pada F tabel (sebesar 2,76), maka Ho ditolak, yang berarti bahwa variabel independen secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.&lt;br /&gt;2.Karena nilai probabilitas signifikansi t untuk ketiga variabel independen (EAT, AKO, dan KAT) lebih kecil dari 0,05 yang berarti Ho ditolak, artinya secara individual ketiga variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (DIV). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa laba (EAT) dan arus kas (AKO dan KAT) mempengaruhi kebijakan dividen.&lt;br /&gt;3.Nilai adjusted R2 sebesar 0,435 yang artinya variasi dalam DIV, sebesar 43,5 % dapat dijelaskan oleh ketiga variabel dependen dan sisanya (100 % - 43,5 % = 56,5 %) dijelaskan oleh faktor lain diluar model regresi tersebut.&lt;br /&gt;4.Berdasarkan hasil uji asumsi klasik model regresi tidak terdapat gejala multikolinearitas, tidak dapat disimpulkan apakah ada atau tidak gejala autokorelasi karena d hitung terletak antara (4-dL) dan (4-du), serta tidak terjadi heteroskedastisitas.&lt;br /&gt;SARAN&lt;br /&gt;1.Untuk Manajer Perusahaan Go-Public. &lt;br /&gt;Bagi manajer perusahaan disarankan untuk memberikan informasi tentang data laporan keuangan dan pembagian dividen karena berdasarkan hasil penelitian ini kebijakan dividen akan mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham perusahaan tersebut. &lt;br /&gt;2.Untuk Investor.&lt;br /&gt; Bagi investor dalam menentukan keputusan investasinya di pasar modal, dapat memanfaatkan laporan laba-rugi dan laporan arus kas yang relatif baru tersebut untuk dapat mengetahui jumlah dividen yang akan diterima satu tahun mendatang.  Selain, itu menambah literatur mengenai aspek fundamental yang berkaitan dengan kegunaan laporan keuangan. &lt;br /&gt;3.Untuk Rekan Peneliti.&lt;br /&gt;a.Bagi rekan peneliti lain untuk masalah yang sama disarankan agar dapat meningkatkan jumlah sampel yang memenuhi karakteristik distribusi normal, misalnya dengan melihat publikasi laporan keuangan perusahaan pada media-media lain. &lt;br /&gt;b.Bagi rekan peneliti lain untuk masalah yang sama disarankan agar  memasukkan variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi kebijakan dividen. &lt;br /&gt;c.Pada penelitian ini hanya menggunakan rentang waktu penelitian yang pendek, hal ini memungkinkan dilakukannya penelitian lebih lanjut yang lebih variatif dan dengan jumlah periode yang lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGARUH LABA DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN &lt;br /&gt;YANG GO PUBLIC DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RINGKASAN TESIS&lt;br /&gt;Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat S-2&lt;br /&gt;Program Studi Magister Manajemen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;INDYAH ERAWATI SETYANINGSIH&lt;br /&gt;S. 3101047&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM PASCA SARJANA&lt;br /&gt;PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN&lt;br /&gt;UNIVERSITAS SEBELAS MARET&lt;br /&gt;S U R A K A R T A&lt;br /&gt;2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3930788562523557983-9208543853244206248?l=itok-itok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://itok-itok.blogspot.com/feeds/9208543853244206248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/03/pengaruh-laba-dan-arus-kas-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/9208543853244206248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3930788562523557983/posts/default/9208543853244206248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://itok-itok.blogspot.com/2009/03/pengaruh-laba-dan-arus-kas-terhadap.html' title='PENGARUH LABA DAN ARUS KAS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN  YANG GO PUBLIC DI INDONESIA'/><author><name>ITOK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16205557265955894212</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_rU7ko0Cfp9U/SbuzKvmENTI/AAAAAAAAAAs/HWgG_V9BKsg/S220/aaa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3930788562523557983.post-3993403843795989306</id><published>2009-03-14T06:30:00.000-07:00</published><updated>2009-03-14T06:31:29.150-07:00</updated><title type='text'>LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BATANG</title><content type='html'>BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;UNTUK TAHUN ANGGARAN 2006&lt;br /&gt;AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA IV&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA&lt;br /&gt;Nomor : 97/ R/ XIV.Yk/ 05/ 2007&lt;br /&gt;Tanggal : 29 Mei 2007&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;HALAMAN&lt;br /&gt;DAFTAR ISI …………………………….…………………………….…. 1&lt;br /&gt;OPINI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN…………...………………. 2&lt;br /&gt;LAPORAN KEUANGAN POKOK&lt;br /&gt;1. NERACA KOMPARATIF…………………………………………… 5&lt;br /&gt;2. LAPORAN REALISASI APBD……………………………………… 8&lt;br /&gt;3. LAPORAN ARUS KAS….…………………………………………… 11&lt;br /&gt;4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN….…………………… 14&lt;br /&gt;GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN……………………………….. 62&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 2&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan Pasal 23 E Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesi Tahun 1945, pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Pasal 56&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, Pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006,&lt;br /&gt;Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) telah memeriksa Neraca&lt;br /&gt;Kabupaten Batang per 31 Desember 2006, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas&lt;br /&gt;dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir tanggal tersebut. Laporan&lt;br /&gt;Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Batang. Tanggung jawab BPK-RI&lt;br /&gt;adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang&lt;br /&gt;dilakukan.&lt;br /&gt;BPK-RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh&lt;br /&gt;Badan Pemeriksa Keuangan. Standar tersebut mengharuskan BPK-RI merencanakan dan&lt;br /&gt;melaksanakan pemeriksaan agar BPK-RI memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan&lt;br /&gt;keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi penilaian, atas dasar&lt;br /&gt;pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan&lt;br /&gt;keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Standar Akuntansi Pemerintahan yang&lt;br /&gt;digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh pemerintah daerah, serta penilaian&lt;br /&gt;terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK-RI yakin bahwa pemeriksaan&lt;br /&gt;BPK-RI memberi dasar memadai untuk menyatakan pendapat.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 3&lt;br /&gt;Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang merupakan tanggungjawab pemerintah daerah tersebut. Sebagai bagian&lt;br /&gt;dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji&lt;br /&gt;material, BPK-RI melaksanakan pengujian terhadap kepatuhan Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang terhadap peraturan perundang-undangan. Namun, tujuan pemeriksaan BPK-RI atas&lt;br /&gt;laporan keuangan adalah tidak menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap&lt;br /&gt;pasal-pasal tersebut. Oleh karena itu, BPK-RI tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.&lt;br /&gt;Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK-RI menemukan ketidakpatuhan kepada&lt;br /&gt;kententuan peraturan perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan yang material.&lt;br /&gt;Temuan ini telah BPK-RI muat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan tertanggal 29&lt;br /&gt;Mei 2007 kepada Kabupaten Batang dan pihak berwenang yang terkait.&lt;br /&gt;Dalam melakukan pemeriksaan keuangan ini, BPK-RI mengungkapkan kondisi&lt;br /&gt;pengendalian intern Kabupaten Batang yang telah BPK-RI muat dalam Laporan Hasil&lt;br /&gt;Pemeriksaan atas pengendalian intern tertanggal 29 Mei 2007.&lt;br /&gt;Berdasarkan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2006, diketahui bahwa:&lt;br /&gt;1. Pada Tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Batang menerima Bantuan Keuangan dari&lt;br /&gt;Propinsi Jawa Tengah sebesar Rp3.030.000.000,00. Bantuan Keuangan dari Propinsi&lt;br /&gt;tersebut direalisasikan tidak melalui rekening Kas Daerah namun melalui rekening&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang pada PT Bank BPD Jawa Tengah Cabang Batang Nomor&lt;br /&gt;2-032-08861-0. Penerimaan bantuan dan realisasi bantuan tersebut tidak dilaporkan&lt;br /&gt;sebagai transaksi pendapatan maupun belanja daerah dalam Laporan Realisasi Anggaran&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2006. Menurut pendapat kami, dengan tidak tercantumkannya&lt;br /&gt;penerimaan dan realisasi Bantuan Keuangan tersebut mengakibatkan realisasi&lt;br /&gt;pendapatan dan belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran kurang disajikan masingmasing&lt;br /&gt;sebesar Rp3.030.000.000,00 (lihat Catatan 5.2.1 poin b.1) atas Laporan&lt;br /&gt;Keuangan);&lt;br /&gt;2. Pada Tahun 2006 Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa merealisasikan bantuan&lt;br /&gt;keuangan kepada masyarakat senilai Rp4.371.000.000,00. Bantuan ini direalisasikan&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 4&lt;br /&gt;melalui Belanja Barang dan Jasa. Menurut pendapat kami, dengan adanya pemberian&lt;br /&gt;bantuan keuangan melalui rekening Belanja Barang dan Jasa mengakibatkan realisasi&lt;br /&gt;Belanja Barang dan Jasa disajikan lebih tinggi dari yang seharusnya (overstated) dan&lt;br /&gt;realisasi Belanja Bantuan Sosial disajikan lebih rendah (understated) masing-masing&lt;br /&gt;sebesar Rp4.371.000.000,00. (lihat Catatan 5.2.2 poin a) atas Laporan Keuangan).&lt;br /&gt;Menurut pendapat BPK-RI, kecuali atas akibat hal-hal yang dimuat dalam paragraph&lt;br /&gt;sebelumnya, laporan keuangan yang disebut diatas menyajikan secara wajar, dalam semua&lt;br /&gt;hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Batang per 31 Desember&lt;br /&gt;2006, realisasi anggaran, dan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut&lt;br /&gt;sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.&lt;br /&gt;Yogyakarta, 29 Mei 2007&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;Perwakilan BPK-RI di Yogyakarta&lt;br /&gt;Penanggung Jawab Pemeriksaan,&lt;br /&gt;Ana Sri Yuni S., SE, Ak, MM.&lt;br /&gt;Akuntan, Register Negara No D-15.521&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;NERACA&lt;br /&gt;PER 31 DESEMBER 2006 DAN 2005&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;PERKIRAAN (Rp) (Rp)&lt;br /&gt;ASET&lt;br /&gt;ASET LANCAR&lt;br /&gt;KAS&lt;br /&gt;Kas di Kas Daerah 65.216.597.105,00 31.454.833.932,00&lt;br /&gt;Kas di Bendara Pengeluaran 413.828.079,00 143.452.366,00&lt;br /&gt;PIUTANG&lt;br /&gt;Piutang Pajak Daerah 1.173.553.930,00&lt;br /&gt;Piutang Retribusi Daerah -&lt;br /&gt;Piutang Dana Perimbangan 1.472.467.910,00&lt;br /&gt;Piutang RSUD Kab Batang 235.412.579,00&lt;br /&gt;Bagian Lancar Pinjaman Kepada Perusahaan&lt;br /&gt;Daerah 409.855.810,00 500.000,000,00&lt;br /&gt;Piutang Lain-lain 724.944.772,00 1.090.708.150,00&lt;br /&gt;PERSEDIAAN 4.320.279.685,30 2.304.742.018,00&lt;br /&gt;JUMLAH ASET LANCAR 73.966.939.870,30 35.493.736.466,00&lt;br /&gt;INVESTASI JANGKA PANJANG&lt;br /&gt;Investasi Non Permanen&lt;br /&gt;Piutang-Modal bergulir Penanaman bibit. 414.944.234,00 -&lt;br /&gt;Piutang-Modal bergulir Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;Ternak. 246.000.320,00 -&lt;br /&gt;Investasi Permanen&lt;br /&gt;Penyertaan pada BPD Jateng 3.697.000.000,00 3.697.000.000,00&lt;br /&gt;Penyertaan pada Perusahaan Daerah(PD) 17.826.114.555,00 12.517.815.255,00&lt;br /&gt;Penyertaan pada BPR-BKK 7.375.032.527,00 6.375.617.663,00&lt;br /&gt;JUMLAH INVESTASI JANGKA PANJANG 29.559.091.636,00 22.590.432.918,00&lt;br /&gt;ASET TETAP&lt;br /&gt;Tanah 250.324.124.930,00 247.490.232.580,00&lt;br /&gt;Peralatan dan Mesin 87.388.568.860,00 74.419.001.426,00&lt;br /&gt;Gedung dan Bangunan 292.340.456.060,00 273.602.064.980,00&lt;br /&gt;Jalan, Jembatan dan Irigasi 578.773.727.641,00 562.388.138.676,00&lt;br /&gt;Alat Kantor dan RT - 6.688.394.100,00&lt;br /&gt;Aset tetap lainnya 7.259.154.100,00&lt;br /&gt;JUMLAH ASET TETAP 1.216.086.031.591,00 1.164.587.831.762,00&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;PERKIRAAN (Rp) (Rp)&lt;br /&gt;ASET LAINNYA&lt;br /&gt;Tagihan Penjualan Angsuran- Penjualan Kios 349.521.000,00&lt;br /&gt;Piutang Jangka Panjang 634.855.810,00&lt;br /&gt;Bangunan Dalam Pengerjaan 299.087.180,00&lt;br /&gt;JUMLAH ASET LAINNYA 349.521.000,00 933.942.990,00&lt;br /&gt;JUMLAH ASET 1.319.961.584.097,30 1.223.605.944.136,00&lt;br /&gt;KEWAJIBAN&lt;br /&gt;KEWAJIBAN JANGKA PENDEK&lt;br /&gt;Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang 341.623.775,00 419.500.000,00&lt;br /&gt;Hutang Belanja 1.524.539.292,00&lt;br /&gt;Hutang Pajak 69.581.970,00&lt;br /&gt;JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA&lt;br /&gt;PENDEK 1.935.745.037,00 419.500.000,00&lt;br /&gt;KEWAJIBAN JANGKA PANJANG&lt;br /&gt;Hutang Penerusan Pinjaman No. SLA-&lt;br /&gt;860/DP3/1996 2.122.809.680,40 906.475.669,00&lt;br /&gt;JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA&lt;br /&gt;PANJANG 2.122.809.680,40 906.475.669,00&lt;br /&gt;JUMLAH KEWAJIBAN 4.058.554.717,40 1.325.975.669,00&lt;br /&gt;EKUITAS DANA&lt;br /&gt;EKUITAS DANA LANCAR&lt;br /&gt;Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) 65.630.425.184,00 31.598.286.298,00&lt;br /&gt;Pendapatan yang Di tangguhkan -&lt;br /&gt;Cadangan Piutang 4.016.235.001,00 1.091.208.150,00&lt;br /&gt;Cadangan Persediaan 4.320.279.685,30 2.304.242.018,00&lt;br /&gt;Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran&lt;br /&gt;Hutang Jangka Pendek (1.935.745.037,00) (419.500.000,00)&lt;br /&gt;JUMLAH EKUITAS DANA LANCAR 72.031.194.833,30 34.574.236.466,00&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;PERKIRAAN (Rp) (Rp)&lt;br /&gt;EKUITAS DANA INVESTASI&lt;br /&gt;Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang 29.559.091.636,00 23.725.288.728,00&lt;br /&gt;Diinvestasikan dalam Aset Tetap 1.216.086.031.591,00 1.164.886.918.942,00&lt;br /&gt;Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 349.521.000,00&lt;br /&gt;Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran&lt;br /&gt;Hutang Jangka Panjang (2.122.809.680,40) (906.475.669,00)&lt;br /&gt;JUMLAH EKUITAS DANA INVESTASI 1.243.871.834.546,60 1.187.705.732.001,00&lt;br /&gt;JUMLAH EKUITAS DANA 1.315.903.029.379,90 1.222.279.968.467,00&lt;br /&gt;JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA 1.319.961.584.097,30 1.223.605.944.136,00&lt;br /&gt;Batang, Mei 2007&lt;br /&gt;BUPATI BATANG&lt;br /&gt;BAMBANG BINTORO, SE&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;LAPORAN REALISASI ANGGARAN&lt;br /&gt;TAHUN ANGGARAN 2006&lt;br /&gt;Uraian Anggaran&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Lebih /Kurang&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;PENDAPATAN&lt;br /&gt;PENDAPATAN ASLI DAERAH&lt;br /&gt;Pendapatan Pajak Daerah 5.469.000.000,00 7.093.482.296,00 1.624.482.296,00&lt;br /&gt;Pendapatan Retribusi Daerah 13.536.921.400,00 14.172.647.350,00 635.725.950,00&lt;br /&gt;Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan&lt;br /&gt;Daerah yang Dipisahkan 776.727.309,00 776.726.015,00 -1.294,00&lt;br /&gt;Lain-lain PAD yang sah 5.373.516.291,00 8.987.283.992,00 3.613.767.701,00&lt;br /&gt;Jumlah PAD 25.156.165.000,00 31.030.139.653,00 5.873.974.653,00&lt;br /&gt;PENDAPATAN TRANSFER&lt;br /&gt;TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - DANA&lt;br /&gt;PERIMBANGAN&lt;br /&gt;Dana Bagi Hasil Pajak 15.733.154.000,00 24.032.840.273,00 8.299.686.273,00&lt;br /&gt;Dana Bagi Sumber Daya Alam 379.259.000,00 624.539.143,00 245.280.143,00&lt;br /&gt;Dana Alokasi Umum 333.434.000.000,00 333.434.000.000,00 0,00&lt;br /&gt;Dana Alokasi Khusus 26.190.000.000,00 26.168.238.000,00 -21.762.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Pendapatan Transfer Dana&lt;br /&gt;Perimbangan 375.736.413.000,00 384.259.617.416,00 8.523.204.416,00&lt;br /&gt;TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI&lt;br /&gt;Pendapatan Bagi Hasil Pajak 15.729.401.000,00 19.003.880.123,00 3.274.479.123,00&lt;br /&gt;Pendapatan Bagi Hasil Lainnya 5.209.014.000,00 5.143.476.826,00 -65.537.174,00&lt;br /&gt;Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi 20.938.415.000,00 24.147.356.949,00 3.208.941.949,00&lt;br /&gt;Total Pendapatan Transfer 396.674.828.000,00 408.406.974.365,00 11.732.146.365,00&lt;br /&gt;LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH&lt;br /&gt;Pendapatan Hibah - - 0,00&lt;br /&gt;Pendapatan Dana Darurat - 1.750.000.000,00 1.750.000.000,00&lt;br /&gt;Pendapatan Lainnya - - 0,00&lt;br /&gt;Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah - 1.750.000.000,00 1.750.000.000,00&lt;br /&gt;JUMLAH PENDAPATAN 421.830.993.000,00 441.187.114.018,00 19.356.121.018,00&lt;br /&gt;BELANJA&lt;br /&gt;BELANJA OPERASI&lt;br /&gt;Belanja Pegawai 244.271.451.586,00 212.194.985.854,00 32.076.465.732,00&lt;br /&gt;Belanja Barang 87.074.984.911,00 83.509.943.352,00 3.565.041.559,00&lt;br /&gt;Bunga 198.476.941,00 198.476.941,00 0,00&lt;br /&gt;Bantuan Sosial 59.728.230.056,00 53.251.804.831,00 6.476.425.225,00&lt;br /&gt;Jumlah Belanja Operasi 391.273.143.494,00 349.155.210.978,00 42.117.932.516,00&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Uraian Anggaran&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Lebih /Kurang&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;BELANJA MODAL&lt;br /&gt;Belanja Tanah 3.476.042.800,00 3.084.911.250,00 391.131.550,00&lt;br /&gt;Belanja Peralatan dan Mesin 16.055.155.206,00 15.958.708.015,00 96.447.191,00&lt;br /&gt;Belanja Gedung dan Bangunan 21.571.750.500,00 20.975.006.253,00 596.744.247,00&lt;br /&gt;Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 14.517.750.000,00 13.769.141.668,00 748.608.332,00&lt;br /&gt;Belanja Aset Tetap Lainnya 699.350.000,00 601.878.960,00 97.471.040,00&lt;br /&gt;Belanja Aset Lainnya - - 0,00&lt;br /&gt;Jumlah Belanja Modal 56.320.048.506,00 54.389.646.146,00 1.930.402.360,00&lt;br /&gt;BELANJA TAK TERDUGA&lt;br /&gt;Belanja Tak Terduga 3.000.000.000,00 953.882.370,00 2.046.117.630,00&lt;br /&gt;Jumlah Belanja Tak Terduga 3.000.000.000,00 953.882.370,00 2.046.117.630,00&lt;br /&gt;JUMLAH BELANJA&lt;br /&gt;450.593.192.000,00&lt;br /&gt;404.498.739.494,00 46.094.452.506,00&lt;br /&gt;TRANSFER&lt;br /&gt;TRANSFER BAGI HASIL KE DESA&lt;br /&gt;Bagi Hasil Pajak - - -&lt;br /&gt;Bagi Hasil Retribusi - - -&lt;br /&gt;Bagi Hasil Pendapatan Lainnya - - -&lt;br /&gt;Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa - - -&lt;br /&gt;JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER 450.593.192.000,00 404.498.739.494,00 46.094.452.506,00&lt;br /&gt;SURPLUS (DEFIST) (28.762.199.000,00) 36.688.374.524,00 65.450.573.524,00&lt;br /&gt;PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;PENERIMAAN PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;Penggunaan SILPA 31.598.286.298,00 31.598.286.298,00 0,00&lt;br /&gt;Pencairan Dana Cadangan - - 0,00&lt;br /&gt;Hasil Penjualan Kekayaan Negara yang&lt;br /&gt;Dipisahkan - - 0,00&lt;br /&gt;Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat - 0,00&lt;br /&gt;Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan&lt;br /&gt;Bank - - 0,00&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman kepada&lt;br /&gt;Perusahaan Daerah 500.000.000,00 500.000.000,00 0,00&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Entitas&lt;br /&gt;Lainnya 583.412.702,00 704.747.962,00 121.335.260,00&lt;br /&gt;Jumlah Penerimaan Pembiayaan 32.681.699.000,00 32.803.034.260,00 121.335.260,00&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;Uraian Anggaran&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Lebih /Kurang&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;PENGELUARAN PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;Pembentukan Dana Cadangan - - 0,00&lt;br /&gt;Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 3.500.000.000,00 3.500.000.000,00 0,00&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri -&lt;br /&gt;Pemerintah Pusat 419.500.000,00 360.983.600,00 58.516.400,00&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri -&lt;br /&gt;Lembaga Keuangan Bank - - 0,00&lt;br /&gt;Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah - - 0,00&lt;br /&gt;Jumlah Pengeluaran Pembiayaan 3.919.500.000,00 3.860.983.600,00 58.516.400,00&lt;br /&gt;PEMBIAYAAN NETO 28.762.199.000,00 28.942.050.660,00 179.851.660,00&lt;br /&gt;SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN 65.630.425.184,00 65.630.425.184,00&lt;br /&gt;Batang, Mei 2007&lt;br /&gt;BUPATI BATANG&lt;br /&gt;BAMBANG BINTORO, SE&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;LAPORAN ARUS KAS&lt;br /&gt;UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2006 DAN 2005&lt;br /&gt;( Dalam Rupiah )&lt;br /&gt;Uraian&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;I. ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas&lt;br /&gt;Pendapatan Pajak Daerah 7.093.482.296,00 5.407.834.960,00&lt;br /&gt;Pendapatan Retribusi Daerah 14.172.647.350,00 12.074.969.198,00&lt;br /&gt;Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang&lt;br /&gt;Dipisahkan 776.726.015,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;Lain-lain PAD yang sah 8.987.283.992,00 5.269.573.228,00&lt;br /&gt;Dana Bagi Hasil Pajak 24.032.840.273,00 20.795.355.851,00&lt;br /&gt;Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam 624.539.143,00 599.053.405,00&lt;br /&gt;Dana Alokasi Umum 333.434.000.000,00 222.826.000.000,00&lt;br /&gt;Dana Alokasi Khusus 26.168.238.000,00 12.510.000.000,00&lt;br /&gt;Pendapatan Bagi Hasil Pajak 19.003.880.123,00 13.318.442.668,00&lt;br /&gt;Pendapatan Bagi Hasil Lainnya 5.143.476.826,00 3.309.036.000,00&lt;br /&gt;Pendapatan Hibah - -&lt;br /&gt;Pendapatan Dana Darurat 1.750.000.000,00 -&lt;br /&gt;Pendapatan Lainnya - 9.721.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Kas masuk 441.187.114.018,00 306.224.884.310,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Belanja Pegawai 212.194.985.854,00 167.038.302.291,00&lt;br /&gt;Belanja Barang 83.509.943.352,00 53.108.731.516,00&lt;br /&gt;Bunga 198.476.941,00 217.836.662,00&lt;br /&gt;Subsidi - -&lt;br /&gt;Hibah - -&lt;br /&gt;Bantuan Sosial 53.251.804.831,00 45.729.688.725,00&lt;br /&gt;Bantuan Tak Terduga 953.882.370,00 1.218.914.386,00&lt;br /&gt;Belanja Bagi Hasil - -&lt;br /&gt;Jumlah Arus Keluar Kas 350.109.093.348,00 267.313.473.580,00&lt;br /&gt;Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 91.078.020.670,00 38.911.410.730,00&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;( Dalam Rupiah )&lt;br /&gt;Uraian&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;II. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI ASET NON&lt;br /&gt;KEUANGAN&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas&lt;br /&gt;Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap 0.00 -&lt;br /&gt;Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya 0,00 147.765.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Kas Masuk 0,00 147.765.000,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Belanja Tanah 3.084.911.250,00 1.745.573.650,00&lt;br /&gt;Belanja Peralatan dan Mesin 15.958.708.015,00 -&lt;br /&gt;Belanja Gedung dan Bangunan 20.975.006.253,00 14.592.038.540,00&lt;br /&gt;Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 13.769.141.668,00 16.983.627.915,00&lt;br /&gt;Belanja Aset Tetap Lainnya 601.878.960,00 -&lt;br /&gt;Belanja Aset Lainnya 0,00 8.736.200.276,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Keluar Kas 54.389.646.146,00 42.057.440.381,00&lt;br /&gt;Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non Keu. (54.389.646.146,00) (41.909.675.381,00)&lt;br /&gt;III. ARUS KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas&lt;br /&gt;Pencairan dari Dana Cadangan - 14.906.036.000,00&lt;br /&gt;Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan - -&lt;br /&gt;Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat - -&lt;br /&gt;Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank - -&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah 500.000.000,00 500.000.000,00&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Entitas Lainnya 704.747.962,00 697.345.886,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Masuk Kas 1.204.747.962,00 16.103.381.886,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Pembentukan Dana Cadangan - 14.619.036.000,00&lt;br /&gt;Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 3.500.000.000,00 3.529.200.000,00&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah&lt;br /&gt;Pusat 360.983.600,00 380.343.235,00&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga&lt;br /&gt;Keuangan Bank - -&lt;br /&gt;Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah - -&lt;br /&gt;Jumlah Arus Keluar Kas 3.860.983.600,00 18.528.579.235,00&lt;br /&gt;Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (2.656.235.638,00) (2.425.197.349,00)&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;( Dalam Rupiah )&lt;br /&gt;Uraian&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;IV. ARUS KAS DARI AKTIVITAS NON ANGGARAN&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas&lt;br /&gt;Penerimaan Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) 14.516.072.161,00 7.279.420,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Masuk Kas 14.516.072.161,00 7.279.420,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Pengeluaran Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) 14.516.072.161,00 2.567.235,00&lt;br /&gt;Jumlah Keluar Kas 14.516.072.161,00 2.567.235,00&lt;br /&gt;Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non Anggaran 0,00 4.712.185,00&lt;br /&gt;Kenaikan / Penurunan Kas 34.032.138.886,00 (5.418.749.815,00)&lt;br /&gt;Saldo Awal Kas di BUD / Kas Daerah 31.454.833.932,00 37.017.036.113,00&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas di BUD / Kas Daerah 65.216.597.105,00 31.454.833.932,00&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran 413.828.079,00 143.452.366,00&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan - -&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas 65.630.425.184,00 31.598.286.298,00&lt;br /&gt;Batang, Mei 2007&lt;br /&gt;BUPATI BATANG&lt;br /&gt;BAMBANG BINTORO, SE&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;TAHUN ANGGARAN 2006&lt;br /&gt;1. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan&lt;br /&gt;Keuangan Daerah, Pemerintah Daerah menyampaikan laporan pertanggungjawaban&lt;br /&gt;keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan&lt;br /&gt;mengikuti standar akutansi pemerintahan yang telah diterima secara umum.&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 (dua) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun&lt;br /&gt;2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah bahwa dalam&lt;br /&gt;rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD, setiap Entitas Pelaporan wajib&lt;br /&gt;menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja. Pemerintah&lt;br /&gt;Daerah Kabupaten Batang adalah salah satu entitas pelaporan yang wajib menyusun&lt;br /&gt;dan menyajikan Laporan Keuangan. Laporan keuangan tersebut terdiri dari : Laporan&lt;br /&gt;Realisasi Anggaran; Neraca ; Laporan Arus Kas; dan Catatan Atas Laporan&lt;br /&gt;Keuangan. Sehubungan dengan penetapan Perubahan Anggaran Pendapatan dan&lt;br /&gt;Belanja Daerah (APBD) masih didasarkan pada Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002&lt;br /&gt;dan guna memudahkan dalam penelusurannya, maka penyusunan laporan keuangan&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang disesuaikan dengan Peraturan Daerah Nomor 8 tahun&lt;br /&gt;2006 tentang Perubahan APBD Kabupaten Batang Tahun 2006. Selanjutnya disajikan&lt;br /&gt;dengan melakukan konversi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005&lt;br /&gt;tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2005&lt;br /&gt;tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;Laporan Realisasi Anggaran menyajikan realisasi pendapatan, belanja, dan&lt;br /&gt;pembiayaan yang diperbandingkan dengan anggarannya dan dengan realisasi periode&lt;br /&gt;sebelumnya. Neraca menyajikan asset, utang, dan ekuitas dana yang diperbandingkan&lt;br /&gt;dengan periode sebelumnya. Sedangkan Laporan Arus Kas menyajikan arus kas dari&lt;br /&gt;aktivitas operasi, arus kas dari aktifitas investasi asset non keuangan, arus kas dari&lt;br /&gt;aktifitas pembiayaan, dan arus kas dari aktifitas non anggaran yang diperbandingkan&lt;br /&gt;dengan periode sebelumnya.&lt;br /&gt;Guna menghindari kesalahpahaman dalam membaca laporan keuangan, perlu&lt;br /&gt;dibuat catatan atas laporan keuangan yang berisi informasi untuk memudahkan&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;pengguna dalam memahami Laporan keuangan, dan Catatan Atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan yang menyajikan informasi&lt;br /&gt;tentang penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang&lt;br /&gt;memadai.&lt;br /&gt;1.1. Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Maksud Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Batang yang meliputi&lt;br /&gt;semua laporan dan berbagai penjelasannya yang mengikuti laporan tersebut&lt;br /&gt;adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang selama satu periode tahun anggaran 2006.&lt;br /&gt;Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan adalah untuk dapat menyajikan&lt;br /&gt;informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas&lt;br /&gt;ekonomi, sosial, maupun politik, berupa posisi keuangan dan seluruh transaksi&lt;br /&gt;yang dilakukan selama satu periode pelaporan (Tahun Anggaran 2006). Yaitu&lt;br /&gt;membandingkan realisasi Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan,&lt;br /&gt;dengan anggaran yang telah ditetapkan serta untuk mengetahui Sisa Perhitungan&lt;br /&gt;Tahun anggaran berkenaan.&lt;br /&gt;1.2. Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Batang Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;disusun berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Bidang&lt;br /&gt;Pengelolaan Keuangan Daerah, yaitu :&lt;br /&gt;a. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4286);&lt;br /&gt;b. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4355);&lt;br /&gt;c. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan&lt;br /&gt;Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 2004 Nomor 4400);&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;d. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4437);&lt;br /&gt;e. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara&lt;br /&gt;Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2004 Nomor 4438);&lt;br /&gt;f. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan&lt;br /&gt;Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2000 Nomor 210, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2000 Nomor 4028);&lt;br /&gt;g. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2003 tentang Perubahan Gaji Pokok&lt;br /&gt;Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003&lt;br /&gt;Nomor 17) ;&lt;br /&gt;h. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi&lt;br /&gt;Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 94,&lt;br /&gt;Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4417);&lt;br /&gt;i. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4574);&lt;br /&gt;j. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 4575);&lt;br /&gt;k. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan&lt;br /&gt;Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,&lt;br /&gt;Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4578);&lt;br /&gt;l. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Kedudukan Keuangan&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 2005 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 2005 Nomor 4540 );&lt;br /&gt;m. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan&lt;br /&gt;Kinerja Instansi pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006&lt;br /&gt;Nomor 4614);&lt;br /&gt;n. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Pertanggungjawaban&lt;br /&gt;Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Nomor 4693);&lt;br /&gt;o. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman&lt;br /&gt;Pengelolaan Keuangan Daerah ;&lt;br /&gt;p. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 9 Tahun 2003 tentang Rencana&lt;br /&gt;Strategis Daerah Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2006 (Lembaran Daerah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang Tahun 2003 Nomor 9 Seri E No. 1) ;&lt;br /&gt;q. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pokokpokok&lt;br /&gt;Pengelolaan Keuangan Daerah. (Lembaran Daerah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;Tahun 2007 Nomor 1 Seri E No. 1) ;&lt;br /&gt;r. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 8 Tahun 2006 tentang Perubahan&lt;br /&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Batang Tahun Anggaran&lt;br /&gt;2006 (Lembaran Daerah Kabupaten Batang Tahun 2006 Nomor 8 Seri A No. 3);&lt;br /&gt;s. Peraturan Bupati Batang Nomor 24 Tahun 2006 tentang Penjabaran Perubahan&lt;br /&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Batang Tahun 2006&lt;br /&gt;(Lembaran Daerah Kabupaten Batang Tahun 2005 Nomor 24 Seri A No. 4) ;&lt;br /&gt;1.3. Sistematika Penulisan Catatan atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Batang Tahun&lt;br /&gt;Anggaran 2006 memuat penjelasan dan atau catatan atas laporan keuangan dalam&lt;br /&gt;periode tahun anggaran 2006 yang disusun dengan sisitematika sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pendahuluan, yang menjelaskan tentang maksud dan tujuan penyusunan Laporan&lt;br /&gt;Keuangan, Landasan Hukum Penyusunan Laporan Keuangan dan sistematika&lt;br /&gt;penulisan catatan atas laporan keuangan.&lt;br /&gt;2. Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan dan Pencapaian target kinerja&lt;br /&gt;APBD,yang menjelaskan tentang Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan, dan&lt;br /&gt;indikator pencapaian target kinerja APBD .&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;3. Iktisar pencapaian kinerja keuangan, yang menjelaskan ikhtisar realisasi pencapaian&lt;br /&gt;target kinerja keuangan, hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target&lt;br /&gt;yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;4. Kebijakan Akuntansi, yang menjelaskan entitas pelaporan keuangan Daerah,&lt;br /&gt;basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan, dan penerapan&lt;br /&gt;kebijakan akuntansi berkaitan dengan ketentuan yang ada dalam standar akuntansi&lt;br /&gt;pemerintahan.&lt;br /&gt;5. Penjelasan Pos-pos Laporan Keuangan, yang merinci dan menjelaskan masingmasing&lt;br /&gt;pos-pos peaporan keuangan mengenai pendapatan, belanja, pembiayaan,&lt;br /&gt;asset, kewajiban, ekuitas dana, dan komponen-komponen laporan arus kas.&lt;br /&gt;2. EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN&lt;br /&gt;TARGET KINERJA APBD&lt;br /&gt;2.1 Ekonomi Makro&lt;br /&gt;Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Batang pada tahun 2006 mencapai&lt;br /&gt;2,11% (BPS Kab Batang ; angka sangat sementara) . Angka pertumbuhan ekonomi&lt;br /&gt;ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2005 yang&lt;br /&gt;mencapai 2,8%, sedangkan laju inflasi tahun 2006 sebesar 6,01 % jauh lebih&lt;br /&gt;rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 16,77 %. Produk Domestik Regional&lt;br /&gt;Bruto ( PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2005 sebesar Rp3.110.086.517,37,00&lt;br /&gt;dan tahun 2006 meningkat menjadi Rp3.387.556.578,26 (BPS Kab Batang ; angka&lt;br /&gt;sangat sementara). Sedangkan atas dasar harga konstan pada tahun 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.972.776.839,39 dan pada tahun 2006 meningkat menjadi Rp2.014.471.720,14&lt;br /&gt;(BPS Kab Batang ; angka sangat sementara).&lt;br /&gt;Andil terbesar perekonomian Kabupaten Batang pada tahun 2006 berasal&lt;br /&gt;dari sektor industri pengolahan yang menyumbang 28,27% dari total PDRB atas&lt;br /&gt;dasar harga berlaku, disusul sektor pertanian 25,87% dan Sektor perdagangan hotel&lt;br /&gt;dan restoran sebesar 15,74 %. Struktur tersebut relatif tidak berubah dibanding&lt;br /&gt;tahun sebelumnya masing-masing untuk sektor industri pengolahan sebesar 28,88&lt;br /&gt;%, sektor pertanian 26,27 % dan sektor perdagangan 15,74 %.&lt;br /&gt;Rata – rata pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Batang atas dasar&lt;br /&gt;harga berlaku pada tahun 2005 sebesar Rp3.978.164,- dan pada tahun 2006&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;meningkat menjadi sebesar Rp4.274.295,00 (BPS Kab Batang ; angka sangat&lt;br /&gt;sementara).&lt;br /&gt;Angka ketergantungan tenaga kerja Kabupaten Batang tahun 2006&lt;br /&gt;mencapai 54,93 % angka ini didapat dari rasio antara jumlah penduduk berumur&lt;br /&gt;0-14 tahun dan penduduk berumur lebih dari 65 tahun (245.445 jiwa) dengan&lt;br /&gt;jumlah penduduk berumur 15-64 tahun (446.818 jiwa). Angka ketergantungan&lt;br /&gt;penduduk sebesar 54,93 % ini memiliki arti bahwa setiap 100 orang penduduk usia&lt;br /&gt;produktif akan menanggung 55 orang penduduk non produktif.&lt;br /&gt;Sektor Pertanian masih menjadi gantungan tenaga kerja di Kabupaten&lt;br /&gt;Batang yang mencapai 48,12 % dan sector lain yang diminati yaitu sektor&lt;br /&gt;perdagangan sebesar 13,86 % dan industri sebesar 11,07 %.&lt;br /&gt;Pada tahun 2006 prosentase penduduk kabupaten Batang kelompok umur&lt;br /&gt;7–12 tahun yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) atau Angka Partisipasi Kasar&lt;br /&gt;(APK) SD mencapai 110,30 %, sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) SD&lt;br /&gt;mencapai 95,53 %. Adapun Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP sebesar 81,78 %&lt;br /&gt;sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) SMP mencapai 65,64 %. Angka&lt;br /&gt;Partisipasi Kasar (APK) SMU sebesar 23,67 % sedangkan Angka Partisipasi Murni&lt;br /&gt;(APM) SMU mencapai 15,78 %.&lt;br /&gt;Peningkatan kulitas sumberdaya manusia pada tahun 2006 ini dilakukan&lt;br /&gt;melalui beberapa program antara lain peningkatan mutu pendidikan, peningkatan&lt;br /&gt;sarana dan prasarana fasilitas pendidikan dasar dan menengah, dana operasional&lt;br /&gt;pendidikan, dengan sasaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kelancaran&lt;br /&gt;belajar mengajar (KBM).&lt;br /&gt;2.2 Kebijakan Keuangan&lt;br /&gt;Anggaran Tahun 2006 masih berpedoman pada Kepmendagri Nomor 29&lt;br /&gt;Tahun 2006 dimana klasifikasi belanja dibagi menurut bidang, maka pencapaian&lt;br /&gt;target kinerja APBD tercermin melalui indikator keberhasilan pelaksanaan&lt;br /&gt;program dan kegiatan pada tahun pelaporan menurut bidang.&lt;br /&gt;2.2.1 Kebijakan Pendapatan Daerah&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan Kondisi Pendapatan Daerah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2006, maka Kebijakan Umum Pendapatan Daerah diarahkan&lt;br /&gt;pada :&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;a. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah ( PAD );&lt;br /&gt;b. Peninjauan kembali Peraturan Daerah tentang Pungutan Pajak Daerah dan&lt;br /&gt;Retribusi Daerah;&lt;br /&gt;c. Menggali potensi/sumber-sumber pendapatan baru;&lt;br /&gt;d. Meningkatkan koordinasi dengan pihak lain untuk penanaman modal di&lt;br /&gt;Kabupaten Batang;&lt;br /&gt;e. Mengevaluasi program/kegiatan pada unit kerja yang dapat menghasilkan&lt;br /&gt;Pendapatan Asli Daerah;&lt;br /&gt;f. Peningkatan koordinasi dengan tingkat pusat dan propinsi, untuk dapat&lt;br /&gt;meningkatkan penerimaan Dana Perimbangan.&lt;br /&gt;Dalam rangka pencapaian target Pendapatan Daerah, maka strategi dan&lt;br /&gt;prioritas pendapatan asli daerah yang dilakukan antara lain :&lt;br /&gt;a. Pengembangan obyek dan subyek pajak/retribusi daerah;&lt;br /&gt;b. Meningkatkan kesadaran wajib pajak/retribusi daerah;&lt;br /&gt;c. Penegakan hukum secara bertahap dan selektif;&lt;br /&gt;d. Peningkatan pelayanan masyarakat;&lt;br /&gt;e. Perbaikan sistem pungutan;&lt;br /&gt;f. Perwujudan syarat pemungut yang professional;&lt;br /&gt;g. Pengembangan obyek baru.&lt;br /&gt;Dalam rangka pencapaian target Pendapatan dibidang dana perimbangan,&lt;br /&gt;maka strategi dan prioritas yang dilakukan antara lain :&lt;br /&gt;a. Evaluasi data-data pendukung untuk ajuan DAU.&lt;br /&gt;b. Meningkatkan koordinasi dengan departemen teknis di tingkat pusat.&lt;br /&gt;c. Meningkatkan koordinasi dengan propinsi untuk dana dekosentrasi.&lt;br /&gt;2.2.2 Kebijakan Belanja Daerah.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan kondisi umum Belanja Daerah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang Tahun Anggaran 2006 maka Belanja Daerah diarahkan pada :&lt;br /&gt;a. Peningkatan efisiensi dan efektifitas belanja daerah;&lt;br /&gt;b. Pemenuhan belanja sesuai urgensi dan prioritas pada masing-masing&lt;br /&gt;unit kerja disesuaikan kemampuan keuangan daerah;&lt;br /&gt;c. Belanja Daerah dikelompokkan ke dalam Belanja Aparatur Daerah,&lt;br /&gt;Belanja Publik dan Belanja Modal.&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Dalam rangka memenuhi Anggaran Belanja Daerah yang&lt;br /&gt;dipioritaskan untuk meningkatkan kewajiban daerah dalam meningkatkan&lt;br /&gt;kualitas kehidupan masyarakat, maka strategi dan prioritas yang digunakan&lt;br /&gt;adalah :&lt;br /&gt;a. Peningkatan pelayanan dasar, fasilitas sosial, dan fasilitas umum yang&lt;br /&gt;layak.&lt;br /&gt;b. Pengalokasian Sisa Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja&lt;br /&gt;Daerah Tahun Anggaran 2005 untuk menutup defisit anggaran belanja&lt;br /&gt;daerah;&lt;br /&gt;c. Pemenuhan Belanja Pegawai/Personalia pada belanja Administrasi&lt;br /&gt;Umum baik pada komponen Belanja Aparatur Daerah maupun Belanja&lt;br /&gt;Pelayanan Publik;&lt;br /&gt;d. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pada seluruh komponen belanja&lt;br /&gt;daerah;&lt;br /&gt;e. Penyediaan anggaran untuk kegiatan di luar Belanja Aparatur Daerah,&lt;br /&gt;Belanja Publik dan Belanja Modal;&lt;br /&gt;f. Pengoptimalan pendapatan daerah untuk mencukupi belanja daerah.&lt;br /&gt;Program dan kegiatan Daerah telah tertuang dalam RASK&lt;br /&gt;(Rencana Anggaran Satuan Kerja) yang disesuaikan berdasarkan tugas&lt;br /&gt;pokok dan fungsi serta kewajaran antara anggaran dengan target kinerja dari&lt;br /&gt;setiap unit kerja, yang dikelompokkan menjadi Belanja Tidak Langsung&lt;br /&gt;dan Belanja Langsung.&lt;br /&gt;a. Belanja tidak langsung berupa :&lt;br /&gt;㼿 Belanja yang eksistensinya tidak dipengaruhi secara langsung oleh&lt;br /&gt;adanya kegiatan yang direncanakan;&lt;br /&gt;㼿 Jenisnya terdiri dari Belanja Pegawai (Personalia), Barang/Jasa,&lt;br /&gt;Belanja Pemeliharaan dan Belanja Perjalanan Dinas;&lt;br /&gt;㼿 Input (alokasi belanja) yang ditetapkan tidak dapat diukur dan&lt;br /&gt;diperbandingkan dengan out put yang dihasilkan;&lt;br /&gt;㼿 Digunakan secara periodik ( umumnya bulanan ) dalam rangka&lt;br /&gt;koordinasi penyelenggaraan kewenangan Pemerintah Daerah yang&lt;br /&gt;bersifat umum;&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;㼿 Digunakan secara bersama-sama (common cost) untuk&lt;br /&gt;melaksanakan seluruh program atau kegiatan satuan/unit kerja;&lt;br /&gt;㼿 Dialokasikan setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan&lt;br /&gt;dalam tahun anggaran yang bersangkutan;&lt;br /&gt;㼿 Digunakan dalam 1 (satu) tahun anggaran;&lt;br /&gt;㼿 Merupakan program atau kegiatan non investasi;&lt;br /&gt;㼿 Program atau kegiatan periodik;&lt;br /&gt;㼿 Belanja Administrasi Umum Aparatur Daerah dan Belanja&lt;br /&gt;Administrasi Umum Pelayanan Publik dengan keterangan sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;Aparatur Daerah adalah belanja yang hasil, manfaat dan&lt;br /&gt;dampaknya tidak secara langsung dinikmati oleh masyarakat terdiri&lt;br /&gt;dari belanja pegawai (personalia), barang dan jasa, belanja&lt;br /&gt;pemeliharaan dan belanja perjalanan dinas.&lt;br /&gt;Pelayanan Publik adalah belanja yang hasil, manfaat dan&lt;br /&gt;dampaknya secara langsung dinikmati oleh masyarakat terdiri dari&lt;br /&gt;belanja pegawai (personalia), barang dan jasa, belanja pemeliharaan&lt;br /&gt;dan belanja perjalanan dinas.&lt;br /&gt;b. Belanja langsung berupa :&lt;br /&gt;㼿 Belanja yang eksistensinya dipengaruhi secara langsung oleh adanya&lt;br /&gt;kegiatan yang direncanakan;&lt;br /&gt;㼿 Jenisnya terdiri dari Belanja Pegawai (Personalia), Barang/Jasa,&lt;br /&gt;Belanja Pemeliharaan dan Belanja Perjalanan Dinas;&lt;br /&gt;㼿 Input (alokasi belanja) yang ditetapkan dapat diukur dan&lt;br /&gt;diperbandingkan dengan out put yang dihasilkan;&lt;br /&gt;㼿 Variabilitas jumlah komponen belanja langsung sebagian besar&lt;br /&gt;dipengaruhi oleh target kinerja atau tingkat pencapaian program atau&lt;br /&gt;kegiatan yang diharapkan;&lt;br /&gt;㼿 Merupakan program atau kegiatan Investasi (adanya aset daerah)&lt;br /&gt;yang dimanfaatkan lebih dari 1 (satu) tahun anggaran;&lt;br /&gt;㼿 Merupakan program atau kegiatan Non Investasi (tidak adanya aset&lt;br /&gt;daerah);&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;㼿 Aparatur Daerah dan Pelayanan Publik, selain belanja sebagaimana&lt;br /&gt;yang digunakan pada Belanja Tidak Langsung.&lt;br /&gt;2.2.3 Kebijakan Pembiayaan.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan kondisi umum pembiayaan, kebijakan umum&lt;br /&gt;pembiayaan diarahkan untuk :&lt;br /&gt;a. Mencatat Sisa Lebih Perhitungan Tahun Lalu sebagai Penerimaan Daerah;&lt;br /&gt;b. Mencatat penerimaan piutang sebagai penerimaan Daerah;&lt;br /&gt;c. Menganggarkan Penerimaan Piutang pada Penerimaan Daerah;&lt;br /&gt;d. Menganggarkan Utang Pokok yang jatuh tempo pada Pengeluaran Daerah.&lt;br /&gt;e. Menganggarkan Penyertaan Modal pada Perusahaan Umum Daerah.&lt;br /&gt;2.3 Pencapaian Target Kinerja&lt;br /&gt;Sehubungan dengan Anggararan Tahun 2006 masih berpedoman pada&lt;br /&gt;Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2006 dimana klasifikasi belanja dibagi menurut&lt;br /&gt;bidang, maka pencapaian target kinerja APBD tercermin melalui indikator&lt;br /&gt;keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan pada tahun pelaporan menurut&lt;br /&gt;bidang. Pencapaian kinerja menurut urusan Pemerintahan Daerah sebagaimana&lt;br /&gt;Permendagri Nomor 13 tahun 2006 pelaporannya disajikan dalam Buku tersendiri&lt;br /&gt;dalam bentuk matrik dan kolom realisasi.&lt;br /&gt;3. IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN&lt;br /&gt;3.1. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan&lt;br /&gt;Realisasi pencapaian target kinerja keuangan menurut urusan&lt;br /&gt;pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;diklasifikasikan menurut 14 bidang sesuai Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun&lt;br /&gt;2006 Tentang Perubahan APBD Kabupaten Batang. Guna memudahkan dalam&lt;br /&gt;penelusuran antara realisasi dan target anggaran, penyajian iktisar realisasi&lt;br /&gt;pencapaian target kinerja keuangan belum disajikan berdasarkan urusan wajib dan&lt;br /&gt;pilihan. Iktisar realisasi dimaksud adalah sebagaimana disajikan secara ringkas&lt;br /&gt;pada table realisasi pendapatan dan realisasi belanja.&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;REALISASI PENDAPATAN URUSAN PEMERINTAHAN&lt;br /&gt;BERDASARKAN KLASIFIKASI BIDANG TAHUN 2006&lt;br /&gt;NO Lebih/ kurang&lt;br /&gt;REK BIDANG&lt;br /&gt;JUMLAH&lt;br /&gt;ANGGARAN&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;REALISASI&lt;br /&gt;(Rp) (Rp) (%)&lt;br /&gt;1 ADM.U PEMERINTAHAN 410.524.059.100 429.319.524.674 18.795.465.574 4,58&lt;br /&gt;2 PERTANIAN 105.000.000 105.884.000 884.000 0,84&lt;br /&gt;3 PERIKANAN &amp;amp; KELAUTAN 483.000.000 412.556.233 (70.443.767) (14,58)&lt;br /&gt;4 KEHUTANANPERKEBUNAN 47.500.000 47.543.200 43.200 0,09&lt;br /&gt;5 PERINDUSTRIAN 35.000.000 44.580.000 9.580.000 27,37&lt;br /&gt;6 PERKOPERASIAN 10.000.000 10.000.000 - -&lt;br /&gt;7 KETENAGAKERJAAN 4.509.000 4.509.000&lt;br /&gt;8 KESEHATAN 7.825.700.900 8.317.539.961 491.839.061 6,28&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;PENDIDIKAN &amp;amp;&lt;br /&gt;KEBUDAYAAN - 9.095.000 9.095.000&lt;br /&gt;10 PEKERJAAN UMUM 315.000.000 259.590.250 (55.409.750) (17,59)&lt;br /&gt;11 PERHUBUNGAN 557.283.000 561.636.500 4.353.500 0,78&lt;br /&gt;12 LINGKUNGAN HIDUP 80.950.000 81.486.200 536.200 0,66&lt;br /&gt;13 KEPENDUDUKAN 1.590.000.000 1.733.317.000 143.317.000 9,01&lt;br /&gt;14 PARIWISATA 257.500.000 279.852.000 22.352.000 8,68&lt;br /&gt;JUMLAH 421.830.993.000 441.187.114.018 19.356.121.018 4,59&lt;br /&gt;Dari 14 bidang yang memiliki prosentase realisasi pendapatan terbesar&lt;br /&gt;adalah Bidang Perkoperasian yang semula ditargetkan Rp10.000.000,00 realisasi&lt;br /&gt;sebesar Rp10.000.000,00 atau 100%, Bidang Pertanian semula ditargetkan sebesar&lt;br /&gt;Rp105.000.000,00 telah direalisasikan sebesar Rp105.884.000,00 atau 100,84%.&lt;br /&gt;Sedangkan yang realisasinya kurang sesuai target adalah :&lt;br /&gt;a. Bidang Perikanan dan Kelautan yang semula ditargetkan Rp483.000.000,00&lt;br /&gt;realisasi Rp412.556.233,00 atau kurang dari target sebesar 14,58%, Hal ini&lt;br /&gt;disebabkan karena faktor alam dengan adanya cuaca yang tidak mendukung&lt;br /&gt;para nelayan melaut, sehingga hasil tangkapan berkurang seperti pada Salah&lt;br /&gt;satu hasil dari penerimaan Bidang Perikanan dan Kelautan bagi hasil TPI (bagi&lt;br /&gt;hasil bukan pajak dari propinsi).&lt;br /&gt;b. Bidang Pekerjaan Umum yang semula ditargetkan sebesar Rp315.000.000,00&lt;br /&gt;realisasi sebesar Rp259.590.250,00 atau kurang dari target sebesar 17,59%. Hal&lt;br /&gt;ini disebabkan kurangnya realisasi penerimaan sewa alat berat karena walls&lt;br /&gt;yang ada dikosentrasikan untuk pemeliharaan jalan kabupaten, kurangnya&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;realisasi sewa tanah pertanian, dan kurangnya realisasi penerimaan Izin&lt;br /&gt;Mendirikan Bangunan.&lt;br /&gt;REALISASI BELANJA URUSAN PEMERINTAHAN&lt;br /&gt;BERDASARKAN KLASIFIKASI PER BIDANG&lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;REK&lt;br /&gt;NAMA SATKER ANGGARAN&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;REALISASI&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;SISA&lt;br /&gt;ANGGARAN&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;%&lt;br /&gt;01&lt;br /&gt;BIDANG ADM.U&lt;br /&gt;PEMERINTAHAN 188.239.761.223 153.905.482.004 35.465.881.222 18,84&lt;br /&gt;02 BIDANG PERTANIAN 9.705.329.525 9.576.534.145 128.795.380 1,33&lt;br /&gt;03&lt;br /&gt;BIDANG PERIKANAN &amp;amp;&lt;br /&gt;KELAUTAN 4.817.396.554 4.534.937.688 282.458.866 5,86&lt;br /&gt;04&lt;br /&gt;BIDANG KEHUTANAN &amp;amp;&lt;br /&gt;PERKEBUNAN 1.777.038.254 1.550.442.812 226.595.442 12,75&lt;br /&gt;05 BIDANG PERINDUSTRIAN 1.034.617.753 1.014.862,196 19.755.557 1,91&lt;br /&gt;06 BIDANG PERKOPERASIAN 1.412.079.000 1.338.180.389 73.898.611 5,23&lt;br /&gt;07&lt;br /&gt;BIDANG&lt;br /&gt;KETENAGAKERJAAN 1.890.801.737 1.755.298.117 135.503.620 7,17&lt;br /&gt;08 BIDANG KESEHATAN 34.823.700.383 32.264.843.689 2.558.856.694 7,35&lt;br /&gt;09&lt;br /&gt;BIDANG PENDIDIKAN &amp;amp;&lt;br /&gt;KEBUDAYAAN 153.514.155.119 146.965.437.493 6.548.717.626 4,27&lt;br /&gt;10 BIDANG PEKERJAAN UMUM 30.196.866.184 28.998.342.312 1.198.523.872 3,97&lt;br /&gt;11 BIDANG PERHUBUNGAN 3.509.304.740 3.201.008.341 308.296.399 8,79&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;BIDANG LINGKUNGAN&lt;br /&gt;HIDUP 10.233.648.236 10.060.985.374 172.662.862 1,69&lt;br /&gt;13 BIDANG KEPENDUDUKAN 7.922.240.566 7.853.934.488 68.306.078 0,86&lt;br /&gt;14 BIDANG PARIWISATA 1.516.252.726 1.478.450.449 37.802.277 2,49&lt;br /&gt;JUMLAH 450.593.192.000 404.498.739.494 46.094.452.506 10,23&lt;br /&gt;Dari 14 bidang yang ada, kesemuanya tidak ada yang realisasinya&lt;br /&gt;melampaui anggaran, artinya rata-rata semuanya mengami penghematan belanja.&lt;br /&gt;Belanja daerah yang dianggarkan Rp450.593.192.000,00 mengalami&lt;br /&gt;penghematan sebesar Rp46.094.452.506,00 atau 10,23%. Penghematan terbesar&lt;br /&gt;terjadi pada bidang Administrasi Umum Pemerintahan sebesar 18,84%, kemudian&lt;br /&gt;bidang kehutanan dan perkebunan sebesar 12,75% dan bidang perhubungan&lt;br /&gt;sebesar 8,79%.&lt;br /&gt;3.2 Hambatan dan Kendala yang ada dalam Pencapaian Target yang Telah&lt;br /&gt;Ditetapkan&lt;br /&gt;Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target urusan umum&lt;br /&gt;pemerintahan yang telah ditetapkan, adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Belum terbentuknya kelembagaan perangkat daerah sesuai dengan ketentuan&lt;br /&gt;yang baru, karena Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Peraturan&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 sampai saat ini belum terbit. Sehingga masih&lt;br /&gt;ada beban kerja tidak sesuai tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat&lt;br /&gt;daerah.&lt;br /&gt;b. Satuan Kerja (pelaksana anggaran) kurang dapat mengimplementasikan&lt;br /&gt;peraturan perundanngan yang tiap tahun mengalami perubahan.&lt;br /&gt;c. Masih kurangnya sarana dan prasarana penunjang teknis kegiatan.&lt;br /&gt;d. Masih terbatasnya tenaga teknis dalam pelaksanaan kegiatan sesuai bidangnya.&lt;br /&gt;e. Belum samanya tingkat pemahaman masarakat dalam hal pelaksanaan&lt;br /&gt;pembangunan, sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda.&lt;br /&gt;f. Realisasi APBD menumpuk pada triwulan IV (empat).&lt;br /&gt;4. KEBIJAKAN AKUNTANSI&lt;br /&gt;4.1. Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi Keuangan Daerah&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang belum menetapkan Peraturan Bupati tentang&lt;br /&gt;Sistem Akuntansi Pemerintahan Daerah. Oleh karenanya prosedur mulai dari&lt;br /&gt;proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan&lt;br /&gt;keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD mengacu pada&lt;br /&gt;Standar Akuntansi Pemerintahan dan berpedoman pada Permendagri Nomor 13&lt;br /&gt;Tahun 2006 yang pelaksanaannya secara bertahap. Sampai dengan tahun anggaran&lt;br /&gt;2006 prosedur akuntansi masih dilakukan secara manual dan tersentral di Bagian&lt;br /&gt;Keuangan Setda Kabupaten Batang selaku Pengelola Keuangan Daerah, sedangkan&lt;br /&gt;SKPD belum melakukan prosedur akuntansi.&lt;br /&gt;Entitas pelaporan yang disusun dalam laporan keuangan Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas,&lt;br /&gt;dan catatan atas laporan keuangan. Sedangkan SKPD mulai menyusun laporan&lt;br /&gt;keuangan secara manual meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, dan catatan&lt;br /&gt;atas laporan keuangan.&lt;br /&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang disusun dan ditetapkan masih berdasarkan pada Kepmendargri Nomor 29&lt;br /&gt;tahun 2002, Sedangkan laporan keuangan daerah diamanatkan dalam Permendagri&lt;br /&gt;Nomor 13 tahun 2005 berdasarkan pada PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar&lt;br /&gt;Akuntansi Pemerintahan (SAP). Oleh karenanya laporan keuangan tahun anggaran&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;2006 disajikan dua versi yaitu berdasarkan Kepmendargri Nomor 29 tahun 2002&lt;br /&gt;dan sesuai dengan PP Nomor 24 Tahun 2005, dengan melakukan teknik konversi&lt;br /&gt;ketentuan-ketentuan di Kepmendagri Nomor 29/2002 ke dalam ketentuanketentuan&lt;br /&gt;SAP.&lt;br /&gt;Konversi mencakup struktur APBD dalam realisasi anggaran, klasifikasi&lt;br /&gt;anggaran, aset, kewajiban, ekuitas, arus kas, serta catatan atas laporan keuangan&lt;br /&gt;yang dilakukan dengan cara menstransfer kembali (trace back) sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Pos-pos laporan keuangan menurut Kepmendagri Nomor 29/2002 dengan pospos&lt;br /&gt;laporan keuangan menurut SAP;&lt;br /&gt;b. Konversi dari buku besar/pos/rekening menurut Kepmendagri Nomor 29/2002&lt;br /&gt;ke buku besar menurut SAP, dengan memperhatikan masing-masing cakupan&lt;br /&gt;buku besar;&lt;br /&gt;c. Konversi dari buku pembantu/rekening menurut Kepmendagri Nomor 29/2002&lt;br /&gt;ke pembantu/rekening menurut SAP.&lt;br /&gt;4.2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam&lt;br /&gt;laporan realisasi anggaran adalah basis kas. Artinya bahwa pendapatan diakui pada&lt;br /&gt;saat kas diterima di rekening Kas Umum Daerah, dan belanja diakui pada saat kas&lt;br /&gt;dikeluarkan dari rekening Kas Umum Daerah, sedangkan selisih realisasi&lt;br /&gt;penerimaan dan pengeluaraan pembiayaan disebut lebih atau kurang sisa&lt;br /&gt;pembiayaan. Sehingga tidak menggunakan istilah laba.&lt;br /&gt;Pengakuan asset, kewajiban, dan ekuitas dana menggunakan basis akrual,&lt;br /&gt;artinya bahwa asset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat&lt;br /&gt;terjadinya transaksi, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau&lt;br /&gt;dibayar.&lt;br /&gt;4.3. Basis Pengukuran yang Mendasari penyusunan Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Sehubungan belum ditetapkannya Sistem dan Kebijakan Akuntansi Daerah&lt;br /&gt;maka Laporan Keuangan disusun dan disajikan secara gradual yang kebijakan basis&lt;br /&gt;pengukurannya berpedoman pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2005 tentang&lt;br /&gt;Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 24&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;tahun 2006 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan beserta lampirannya.&lt;br /&gt;Kebijakan basis pengukuran atas penyusunan pos-pos laporan keuangan daerah&lt;br /&gt;adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Nilai Aset&lt;br /&gt;Aset dicatat atau diukur sebesar pengeluaran kas dan setara kas sebesar nilai&lt;br /&gt;wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh asset tersebut.&lt;br /&gt;b. Nilai Kewajiban&lt;br /&gt;Kewajiban dicatat atau diukur sebesar nilai nominal kewajiban yang harus&lt;br /&gt;dibayarkan baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang.&lt;br /&gt;c. Nilai Ekuitas Dana&lt;br /&gt;Ekuitas dana dicatat atau diukur sebesar selisih antara aset dan kewajiban.&lt;br /&gt;4.4. Penerapan Kebijakan Akuntansi Berkaitan dengan Ketentuan yang Ada&lt;br /&gt;Dalam Pencapaian Target yang Telah Ditetapkan.&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang belum menyusun dan menetapkan Kebijakan&lt;br /&gt;Akuntansi Daerah dan menurut rencananya tahun 2007 akan diupayakan menyusun&lt;br /&gt;dan menetapkannya termasuk penyusunan dan penetapan Sistem Akuntansi Daerah.&lt;br /&gt;Oleh karenanya penerapan kebijakan akuntansi di tahun berjalan secara gradual&lt;br /&gt;masih berpedoman langsung pada Standar Akuntansi Pemerintahan sesuai&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005. Berkenaan dengan target yang telah&lt;br /&gt;ditetapkan maka penerapan Kebijakan Akuntansi sampai akhir tahun 2006 adalah&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Penerapan yang telah sesuai standar akuntansi yaitu pengakuan asset sesuai&lt;br /&gt;nilai perolehannya termasuk persediaan bahan pakai habis.Kewajiban sesuai&lt;br /&gt;dengan kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.&lt;br /&gt;b. Penerapan yang belum sesuai dengan standar akuntansi yaitu Aset tetap belum&lt;br /&gt;dilakukan penyusutan&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;5. PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;5.1. Penjelasan Pos-pos Neraca&lt;br /&gt;5.1.1 Kas&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan saldo Kas yang dikuasai oleh Bendahara Umum&lt;br /&gt;Daerah/Pemegang Kas Daerah (BUD/PKD), baik berupa uang tunai&lt;br /&gt;maupun dana yang ditempatkan di bank dalam bentuk rekening giro,&lt;br /&gt;tabungan maupun deposito. Kas per tanggal 31 Desember 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp31.598.286.298,00 dan 31 Desember 2006 sebesar Rp65.630.425.184,00&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;Kas di Kas Daerah Rp. 65.216.597.105,00&lt;br /&gt;Kas di Bendahara Pengeluaran Rp. 413.828.079,00&lt;br /&gt;Jumlah Kas Rp. 65.630.425.184,00&lt;br /&gt;a. Kas di Kas Daerah&lt;br /&gt;Saldo Kas di Kas Daerah sebesar Rp65.216.597.105,00 terdiri atas&lt;br /&gt;rekening giro bank sebesar Rp30.216.597.105,00 dan deposito sebesar&lt;br /&gt;Rp35.000.000.000,00.&lt;br /&gt;• Rekening giro bank&lt;br /&gt;Rekening giro bank adalah dana yang merupakan bagian dari&lt;br /&gt;kekayaan milik Pemerintah Daerah yang ditempatkan di bank dalam&lt;br /&gt;bentuk rekening giro, dengan rincian saldo per 31 Desember 2006,&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;Simpanan giro di Bank Jateng Cab Batang Rp 25.252.123.649,00&lt;br /&gt;Simpanan giro di Bapera Kab Batang No 1R01.01.0800.05 Rp 3.132.042,00&lt;br /&gt;Simpanan giro di BRI Cabang Batang Rek.00000156-01-000038-30-7 Rp 4.961.341.414,00&lt;br /&gt;Subjumlah Rekening Giro Rp 30.216.597.105,00&lt;br /&gt;- Rekening giro Bank BPD Jateng A/C No.1-027-0000-1 atas nama&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG merupakan rekening Kas&lt;br /&gt;Daerah, yang dimaksudkan untuk menampung dana pendapatan daerah,&lt;br /&gt;penyimpanan, penerimaan pembiayaan daerah, dan sebagai kontrol atas&lt;br /&gt;belanja daerah dan Pengeluaran Daerah.&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;- Rekening giro Bank Bapera Kab Batang No 1.RO1.01.08000.05 atas nama&lt;br /&gt;PEMERINTAH KAB.BATANG merupakan rekening Kas Daerah, yang&lt;br /&gt;dimaksudkan untuk menampung simpanan sebagian dana peningkatan&lt;br /&gt;kesejahteraan pegawai dilingkungan Pemerintah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;- Rekening giro Bank BRI Cabang Batang Rek No.00000156-01-000038-30-&lt;br /&gt;7 atas nama DANA ALOKASI UMUM PEMKAB BATANG merupakan&lt;br /&gt;rekening Kas Daerah, yang dimaksudkan untuk menampung simpanan giro,&lt;br /&gt;transfer dana bantuan keuangan kepada Pemerintahan Desa/Kelurahan&lt;br /&gt;• Saldo Deposito&lt;br /&gt;Saldo Deposito per 31 Desember 2006 sebesar Rp30.000.000.000,00&lt;br /&gt;dan Rp 5.000.000.000,00 adalah penempatan dana dalam bentuk&lt;br /&gt;deposito pada BPD Jateng dan BNI 46 Batang masing-masing satu&lt;br /&gt;sertifikat. Penempatan dana ini untuk jangka waktu satu bulan,&lt;br /&gt;diperpanjang secara otomatis atau automatic roll over (ARO). Tingkat&lt;br /&gt;bunga deposito tahun 2006 adalah sesuai tingkat bunga yang berlaku&lt;br /&gt;pada masing-masing bank, yang pendapatannya diakui/dibukukan&lt;br /&gt;sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Batang. Saldo per 31&lt;br /&gt;Desember 2006 sebagai berikut :&lt;br /&gt;Deposito 1 bulan Bank BPD Jateng Cab Batang Rp30.000.000.000,00&lt;br /&gt;Deposito 1 bulan No 01131935 di BNI Cabang Batang Rp 5.000.000.000,00&lt;br /&gt;Subjumlah Rekening Deposito . Rp35.000.000.000,00&lt;br /&gt;b. Kas di Bendahara Pengeluaran&lt;br /&gt;Kas merupakan sisa kas yang masih dipegang oleh Pemegang Kas&lt;br /&gt;Pengeluaran di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) per tanggal 31&lt;br /&gt;Desember 2006 , dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;31&lt;br /&gt;1 Panwas Rp 97.087.155,00&lt;br /&gt;2 DPU Rp 1.505.925,00&lt;br /&gt;3 Dispenda Rp 219.100,00&lt;br /&gt;4 Dinas Pertanian Rp 19.137.500,00&lt;br /&gt;5 Sekretariat DPRD Rp 7.204.670,00&lt;br /&gt;6 Dinas Kependudukan KB dan Capil Rp 9.948.405,00&lt;br /&gt;7 Kantor Nakertras Rp 81.705,00&lt;br /&gt;8 KKP Rp 8.045.000,00&lt;br /&gt;9 Puskesmas Batang II Rp 1.201.617,00&lt;br /&gt;10 Kantor Perhubungan Rp 27.142.932,00&lt;br /&gt;11 Setda Bagian Kepegawaian Rp 525.000,00&lt;br /&gt;12 Setda Bagian Keuangan Rp 222.166.580,00&lt;br /&gt;13 Dinas Perikanan Rp 50.000,00&lt;br /&gt;14 Kantor PMD Rp 452.500,00&lt;br /&gt;15 BAPPEDA Rp 2.729.500,00&lt;br /&gt;16 Setda Bag Sosial Rp 2.248.705,00&lt;br /&gt;17 Dinas Pendidikan Cab Din Reban Rp 57.239,00&lt;br /&gt;18 Kantor Camat Gringsing Rp 2.721.135,00&lt;br /&gt;19 Setda Bag Administrasi Pembangunan Rp 1.107.600,00&lt;br /&gt;20 Kantor Kehutanan Rp 9.767.192,00&lt;br /&gt;21 SMPN I Limpung Rp 16.416,00&lt;br /&gt;22 Dinas Pendidikan Kab Batang Rp 412.200,00&lt;br /&gt;23 Kantor Perindustrian dan Perdagangan Rp 3,00&lt;br /&gt;JUMLAH Rp 413.828.079,00&lt;br /&gt;Sampai dengan tanggal 31 Desember 2006, sisa dana di SKPD tersebut&lt;br /&gt;belum dikembalikan ke Kas Daerah.&lt;br /&gt;5.1.2 Piutang&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan hak Pemerintah Daerah yang sampai dengan&lt;br /&gt;tanggal 31 Desember 2006 belum diterima. Piutang per tanggal 31&lt;br /&gt;Desember 2005 sebesar Rp1.590.708.150,00 dan per 31 Desember 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp4.016.235.001,00, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Piutang Pajak Daerah Rp 1.173.553.930,00&lt;br /&gt;Piutang Dana Perimbangan Rp 1.472.467.910,00&lt;br /&gt;Piutang RSUD Kab Batang Rp 235.412.579,00&lt;br /&gt;Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Rp 409.855.810,00&lt;br /&gt;Piutang Lain-lain Rp 724.944.772,00&lt;br /&gt;Jumlah Piutang Rp 4.016.235.001,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;32&lt;br /&gt;a. Piutang Pajak Daerah&lt;br /&gt;Piutang Pajak Daerah adalah hak Pemerintah Daerah atas pendapatan&lt;br /&gt;pajak tahun berkenaan, yang belum dibayar oleh Wajib Pajak&lt;br /&gt;bersangkutan, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Piutang Pajak Hotel Rp 20.087.300,00&lt;br /&gt;Piutang Pajak Restoran Rp 41.019.700,00&lt;br /&gt;Piutang Pajak Sarang Burung Walet Rp 9.867.500,00&lt;br /&gt;Piutang Pajak Sarang Burung Sriti Rp 2.400.000,00&lt;br /&gt;Piutang Pajak Penerangan Jalan Rp 1.100.179.430,00&lt;br /&gt;Jumlah piutang pajak daerah. Rp 1.173.553.930,00&lt;br /&gt;b.Piutang Dana Perimbangan&lt;br /&gt;Piutang Dana Perimbangan per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.472.467.910,00 adalah tagihan Pemkab Batang kepada Pemerintah&lt;br /&gt;Propinsi atas kekurangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak yang belum&lt;br /&gt;dibayar oleh Pemerintah Propinsi sampai dengan tanggal tersebut.&lt;br /&gt;dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Piutang PKB . Rp 351.079.810,00&lt;br /&gt;Piutang BBNKB Rp 239.719.279,00&lt;br /&gt;Piutang PBBKB Rp 843.053.260,00&lt;br /&gt;Piutang P3AP Rp 660.693,00&lt;br /&gt;Piutang P2ABT Rp 12.812.470,00&lt;br /&gt;Piutang Kelebihan Muatan . Rp 19.990.613,00&lt;br /&gt;Tera dan tera ulang Rp 1.096.408,00&lt;br /&gt;SP-3 PT Perhutani Rp 4.055.377,00&lt;br /&gt;Jumlah piutang Dana Perimbangan Rp 1.472.467.910,00&lt;br /&gt;c.Piutang RSUD Kabupaten Batang&lt;br /&gt;Piutang RSUD Kabupaten Batang per 31 Desember 2006 adalah tagihan&lt;br /&gt;RSUD Kabupateng Batang kepada pihak ketiga yang telah menerima&lt;br /&gt;jasa pelayanan rumah sakit selama tahun berkenaan, yang belum dibayar&lt;br /&gt;oleh bersangkutan., dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;33&lt;br /&gt;PT Jamsostex Rp 24.154.125,00&lt;br /&gt;PT Primatex Rp 7.145.274,00&lt;br /&gt;PTP Siluwok Rp 9.714.097,00&lt;br /&gt;PT Askes Rp 194.399.083,00&lt;br /&gt;Jumlah piutang BRSUD Rp 235.412.579,00&lt;br /&gt;d.Bagian Lancar Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah&lt;br /&gt;Bagian Lancar Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah per 31 Desember&lt;br /&gt;2006 sebesar Rp409.855.810,00 merupakan bagian lancar Piutang&lt;br /&gt;Jangka Panjang Pinjaman kepada PDAM sesuai Surat Perjanjian Nomor&lt;br /&gt;900/1138 tanggal 21 November 2001.&lt;br /&gt;e.Piutang Lain-lain&lt;br /&gt;Piutang Lain-lain per 31 Desember 2006 sebesar Rp724.944.772,00&lt;br /&gt;dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Piutang TP/TGR Rp 94.350.000,00&lt;br /&gt;Piutang Penjualan Barang Milik Daerah Rp 9.600.000,00&lt;br /&gt;Pinjaman Modal PNS Rp 328.658.672,00&lt;br /&gt;Piutang Penguatan Modal Koperasi dan UKM Rp 292.336.100,00&lt;br /&gt;Jumlah piutang lain-lain Rp 724.944.772,00&lt;br /&gt;Rincian masing-masing saldo pada akun berkenaan per 31 Desember 2006&lt;br /&gt;dapat disajikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Piutang TP/TGR&lt;br /&gt;a/n Kolikin Rp 600.000,00&lt;br /&gt;a/n Moch Teguh Rp 83.650.000,00&lt;br /&gt;a/n Ibu Mulyarsih Rp 10.100.000,00&lt;br /&gt;Jumlah piutang TP/TGR Rp 94.350.000,00&lt;br /&gt;• Piutang Penjualan Barang Milik Daerah&lt;br /&gt;a) An. H Solichin Rp 9.600.000,00&lt;br /&gt;• Pinjaman Modal PNS&lt;br /&gt;a) Tahap I Rp 168.981.111,11&lt;br /&gt;b) Tahap II Rp 159.677.561,00&lt;br /&gt;Jumlah Pinjaman Modal PNS Rp 328.658.672,11&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;34&lt;br /&gt;• Piutang Penguatan Modal Koperasi dan UKM&lt;br /&gt;Penyaluran Tahun 2003 Rp 700.000.000,00&lt;br /&gt;Penyaluran Tahun 2006 Rp 160.000.000,00&lt;br /&gt;Pengembelian Pokok Rp (567.663.900,00)&lt;br /&gt;Piutang Penguatan Modal Koperasi dan UKM Rp 292.336.100,00&lt;br /&gt;5.1.3 Persediaan&lt;br /&gt;Saldo akun ini menggambarkan jumlah persediaan barang yang masih&lt;br /&gt;berada di Satuan Kerja yang mempunyai sifat habis pakai dan diperoleh&lt;br /&gt;dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional Pemerintah Daerah,&lt;br /&gt;serta barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual/diserahkan dalam&lt;br /&gt;rangka pelayanan masyarakat. Persediaan per tanggal 31 Desember 2005&lt;br /&gt;sebesar Rp2.304.742.018,00 dan 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp4.320.279.685,30 dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Persediaan ATK Rp 6.181.570,00&lt;br /&gt;Obat-obatan Medis Rp 3.364.852.657,00&lt;br /&gt;Persediaan Benda Berharga Rp 625.589.360,00&lt;br /&gt;Lainnya Rp 323.656.098,30&lt;br /&gt;Jumlah Rp 4.320.279.685,30&lt;br /&gt;Saldo persediaan Alat Tulis Kantor (ATK) adalah pengadaan TA 2006&lt;br /&gt;yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2006 belum terpakai habis.&lt;br /&gt;Rincian saldo persediaan ATK dan barang pakai habis lainnya yang belum&lt;br /&gt;terpakai sebagai berikut:&lt;br /&gt;Bag Hukum Rp 127.400,00&lt;br /&gt;Bag. Perlengkapan dan RT Rp 1.555.900,00&lt;br /&gt;Bag. Informasi dan Kehumasan Rp 118.000,00&lt;br /&gt;Sekretariat DPRD Rp 441.500,00&lt;br /&gt;Badan Pengawasan Daerah Rp 455.350,00&lt;br /&gt;Kantor Perpustakaan Rp 1.294.000,00&lt;br /&gt;Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rp 510.850,00&lt;br /&gt;Dinas Kesehatan dan Kesos Rp 416.000,00&lt;br /&gt;Kantor Pariwisata Rp 196.350,00&lt;br /&gt;Kantor PMD Rp 1.066.220,00&lt;br /&gt;Jumlah persediaan ATK/ pakai habis Rp 6.181.570,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;Saldo persediaan obat dan alat kesehatan per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp3.364.852.657,00, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Dinas Kesehatan dan Kessos Rp 2.209.449.025,00&lt;br /&gt;BRSUD Kab Batang. Rp 828.880.443,00&lt;br /&gt;Puskesmas Rp 326.523.189,00&lt;br /&gt;Jumlah persediaan obat &amp;amp; alkes Rp 3.364.852.657,00&lt;br /&gt;Saldo persediaan obat Dinas Kesehatan dan Kessos per 31 Desember&lt;br /&gt;2006 senilai Rp2.209.449.025,00, merupakan obat yang berasal dari&lt;br /&gt;Obat Generik untuk Raskin sebesar Rp1.189.634.576,00, Obat generik&lt;br /&gt;sumber dana APBD I sebesar Rp292.921.075,00 dan Obat PKD Sumber&lt;br /&gt;Dana APBD II sebesar Rp726.893.374,00.&lt;br /&gt;Saldo persediaan obat di RSUD per 31 Desember 2006 senilai&lt;br /&gt;Rp828.880.443,00 merupakan obat Generik sebesar Rp67.972.724,00,&lt;br /&gt;obat non generik sebesar Rp539.419.320,00, Obat habis pakai sebesar&lt;br /&gt;Rp167.895.889,00 dan Gas Medis/ alkes sebesar Rp53.592.510,00&lt;br /&gt;Saldo persediaan benda berharga per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp625.589.360,00 dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Dinas Kependudukan, KB dan Capil Rp 485.256.810,00&lt;br /&gt;Dinas Pendapatan Daerah. Rp 140.332.550,00&lt;br /&gt;Jumlah persediaan benda berharga Rp 625.589.360,00&lt;br /&gt;Saldo persediaan lainnya per 31 Desember 2006 sebesar Rp323.656.098,30&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;Aspal -Dinas Pekerjaan Umum Rp 212.439.363,70&lt;br /&gt;Aspal – Bagian Administrasi Pembagunan Rp 111.216.734,60&lt;br /&gt;Jumlah persediaan lainnya Rp 323.656.098,30&lt;br /&gt;5.1.4 Investasi Jangka Panjang&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan jumlah Investasi Permanen dan Investasi&lt;br /&gt;Non Permanen. Investasi Jangka Panjang per tanggal 31 Desember 2005&lt;br /&gt;sebesar Rp22.590.432.918,00 dan 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;Rp29.559.091.636,00, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Investasi Non Permanen Rp 660.944.554,00&lt;br /&gt;b. Investasi Permanen Rp 28.898.147.082,00&lt;br /&gt;Jumlah Rp 29.559.091.636,00&lt;br /&gt;a. Investasi Non Permanen&lt;br /&gt;Investasi Non Permanen sampai dengan tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;masing-masing sebesar Rp660.944.554,00 dengan rincian sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;Piutang-Modal bergulir Penanaman bibit. Rp 414.944.234,00&lt;br /&gt;Piutang-Modal bergulir Pengembangan Usaha Ternak Rp 246.000.320,00&lt;br /&gt;Jumlah Investasi Non Permanen. Rp 660.944.554,00&lt;br /&gt;Piutang – Modal Bergulir Penanaman bibit sebesar Rp414.944.234,00&lt;br /&gt;terdiri atas Dana bergulir atas Penangkaran Bibit - Dinas Pertanian&lt;br /&gt;sebesar Rp414.800.000,00 dan Saldo Rekening Tabungan atas nama&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pertanian sebesar Rp144.234,00. yang terdiri dari Rek No&lt;br /&gt;2-032-09066-9 (digunakan untuk menampung dana bergulir&lt;br /&gt;penangkaran ternak). Piutang- Modal bergulir Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;ternak sebesar Rp246.000.320,00 terdiri atas Dana bergulir&lt;br /&gt;Pengembangan Usaha Ternak sebesar Rp243.706.000,00 Saldo&lt;br /&gt;Rekening Tabungan sebesar Rp2.294.320,00 dan Rek No 2-032-10068-&lt;br /&gt;8 (digunakan untuk menampung dana bergulir penangkaran bibit).&lt;br /&gt;b. Investasi Permanen&lt;br /&gt;Investasi Permanen sampai dengan tanggal 31 Desember 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp13.641.323.957,00 dan 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp28.898.147.082,00, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Penyertaan pada BPD Jateng Rp 3.697.000.000,00&lt;br /&gt;Penyertaan pada Perusahaan Daerah (PD) Rp 17.826.114.555,00&lt;br /&gt;Penyertaan pada BPR-BKK Rp 7.375.032.527,00&lt;br /&gt;Jumlah Investasi Permanen. Rp 28.898.147.082,00&lt;br /&gt;• Investasi Permanen pada PT Bank Jateng per 31 Desember 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp3.697.000.000,00.&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;37&lt;br /&gt;• Investasi Permanen pada Perusahaan Daerah per 31 Desember 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp17.826.114.555,00, dengan perincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;PT BPR Pemberdayaan Ekonomi Rakyat&lt;br /&gt;Kab Batang Rp 2.990.000.000,00&lt;br /&gt;Perusda Aneka Usaha Rp 1.700.000.000,00&lt;br /&gt;PDAM Batang Rp 12.671.114.555,00&lt;br /&gt;PT PRPP Rp 465.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Investasi pada Perusda. Rp 17.826.114.555,00&lt;br /&gt;• Saldo modal PT BPR Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Kab&lt;br /&gt;Batang per 31 Desember 2006 sebesar Rp 2.990.000.000,00&lt;br /&gt;didalamnya termasuk penambahan investasi yang dilakukan&lt;br /&gt;pada tahun 2006 sebesar Rp1.000.000.000,00&lt;br /&gt;• Saldo modal PD Aneka Usaha per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.700.000.000,00 didalamnya termasuk penambahan investasi&lt;br /&gt;yang dilakukan pada tahun 2006 sebesar Rp1.000.000.000,00&lt;br /&gt;• Investasi Permanen pada PDAM Batang 31 Desember 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp12.671.114.555,00, termasuk penambahan penyertaan&lt;br /&gt;modal kepada PDAM selama tahun 2006 sebesar Rp&lt;br /&gt;500.000.000,00&lt;br /&gt;• Investasi Permanen pada PT PRPP 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp465.000.000,00 adalah berupa setoran modal.&lt;br /&gt;• Investasi Permanen pada BPR- BKK per 31 Desember 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp7.375.032.527,00.&lt;br /&gt;5.1.5 Aset Tetap&lt;br /&gt;Komposisi dan nilai saldo Aset Tetap (AT) per 31 Desember 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.164.587.831.762,00 dan per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.216.086.031.591,00, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tanah Rp 250.324.124.930,00&lt;br /&gt;Peralatan dan Mesin Rp 87.388.568.860,00&lt;br /&gt;Gedung dan Bangunan Rp 292.340.456.060,00&lt;br /&gt;Jalan, Jembatan dan Irigasi Rp 578.773.727.641,00&lt;br /&gt;Aset tetap lainnya Rp 7.259.154.100,00&lt;br /&gt;Konstruksi Dalam Pengerjaan Rp -&lt;br /&gt;Jumlah Aset Tetap Rp 1.216.086.031.591,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;38&lt;br /&gt;Sedangkan mutasi penambahan AT dalam TA 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp51.199.112.649,00 (Rp1.216.086.031.591,00 – Rp1.164.886.918.942,00)&lt;br /&gt;dibanding saldo per tanggal 31 Desember 2005, dapat dijelaskan sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;Aktiva Tetap Saldo awal&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Penambahan&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Pengurangan&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Saldo akhir&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Tanah 247.490.232.580,00 2.833.892.350,00 250.324.124.930,00&lt;br /&gt;Peralatan dan Mesin 74.419.001.426,00 12.969.567.434,00 87.388.568.860,00&lt;br /&gt;Gedung dan Bangunan 273.602.064.980,00 18.738.391.080,00 292.340.456.060,00&lt;br /&gt;Jalan, Jembatan dan Irigasi 562.388.138.676,00 16.385.588.965,00 578.773.727.641,00&lt;br /&gt;Aset tetap lainnya 6.688.394.100,00 570.760.000,00 7.259.154.100,00&lt;br /&gt;Konstruksi Dlm Pengerjaan 299.087.180,00 299.087.180,00 -&lt;br /&gt;Jumlah 1.164.886.918.942,00 51.498.199.829,00 299.087.180,00 1.216.086.031.591,00&lt;br /&gt;Atas aktiva tetap senilai Rp1.216.086.031.591,00 tersebut, terdapat&lt;br /&gt;beberapa catatan yang perlu diungkapkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Penilaian aktiva tetap berdasarkan pada:&lt;br /&gt;• Tahun 2003, untuk neraca awal, penilaian aktiva tetap dinilai oleh&lt;br /&gt;Appraisal PT. Survindo Putra Pratama, Semarang.&lt;br /&gt;• Tahun 2004, 2005 dan 2006 penilaian aktiva tetap berdasarkan harga&lt;br /&gt;perolehan.&lt;br /&gt;b. Pemerintah Daerah Kabupaten Batang belum menerapkan akumulasi&lt;br /&gt;penyusutan terhadap aktiva tetap pada penyajian Laporan Keuangan&lt;br /&gt;tahun 2006. Pelaksanaan dan penerapan metode penyusutan akan diatur&lt;br /&gt;lebih lanjut.&lt;br /&gt;c. Nilai instalasi sebesar Rp578.211.059.141,00 sudah termasuk pekerjaan&lt;br /&gt;instalasi pengadaan air bersih tahun 2006 di Dinas Pekerjaan Umum&lt;br /&gt;yang rencananya akan diserahkan ke masyarakat, namun sampai saat&lt;br /&gt;penyusunan Neraca per 31 Desember 2006 belum diserahkan ke&lt;br /&gt;masyarakat. Jika penyerahan telah dilakukan dengan Berita Acara maka&lt;br /&gt;terhadap aktiva tetap tersebut akan dikoreksi sesuai jumlah aktiva tetap&lt;br /&gt;yang diserahkan.&lt;br /&gt;d. Nilai aktiva tetap tersebut belum termasuk droping peralatan kantor dari&lt;br /&gt;Departemen Dalam Negeri kepada Dinas Kependudukan dan Catatan&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;39&lt;br /&gt;Sipil Kabupaten Batang sesuai Berita Acara Penyerahan Barang tanggal&lt;br /&gt;18 Desember 2006 karena belum diketahui nilai perolehannya dengan&lt;br /&gt;rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Mesin Genset, Mesin Laminating, Mesin pemotong KTP&lt;br /&gt;• Server Computer&lt;br /&gt;• PC dan Printer&lt;br /&gt;• Camera Digital&lt;br /&gt;• Komunikasi data local&lt;br /&gt;• Scaner&lt;br /&gt;• UPS Server&lt;br /&gt;• Spesifik Personal Computer&lt;br /&gt;• Jaringan&lt;br /&gt;e. Nilai aktiva tetap tersebut belum termasuk dropping/hibah/bantuan yang&lt;br /&gt;bersumber dari APBN/APBD Prop Jateng (Pemerintah Provinsi Jawa&lt;br /&gt;Tengah) tahun 2006 yang diterima di sekolah-sekolah di Kabupaten&lt;br /&gt;Batang berupa dana rehab gedung dan mebelair.&lt;br /&gt;f. Berdasarkan rekomendasi BPK dalam LHP Nomor 72/XIV.YK/06/2006&lt;br /&gt;tanggal 26 Juni 2006, Pemerintah Kabupaten Batang melakukan koreksi&lt;br /&gt;atas asset peralatan dan mesin berupa alat angkut roda 4 dan roda 2.&lt;br /&gt;5.1.6 Aset lainnya&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan jumlah tagihan penjualan angsuran berupa&lt;br /&gt;tagihan penjualan kios. Aset lain-lain per tanggal 31 Desember 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp933.942.990,00 dan 31 Desember 2006 sebesar Rp349.521.000,00&lt;br /&gt;dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Angsuran Kios Pasar Warungasem Rp 206.218.000,00&lt;br /&gt;Angsuran Kios Pasar Plelen Rp 143.303.000,00&lt;br /&gt;Jumlah tagihan penjualan angsuran Rp 349.521.000,00&lt;br /&gt;5.1.7 Kewajiban Jangka Pendek&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan jumlah kewajiban daerah yang akan jatuh tempo&lt;br /&gt;dalam waktu kurang dari satu tahun. Kewajiban Jangka Pendek per tanggal&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;31 Desember 2005 sebesar Rp419.500.000,00 dan 31 Desember 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp1.935.745.037,00, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang Rp 341.623.775,00&lt;br /&gt;Hutang Belanja Rp 1.524.539.292,00&lt;br /&gt;Hutang Pajak Rp 69.581.970,00&lt;br /&gt;Lain-lain Kewajiban Jangka Pendek Rp -&lt;br /&gt;Jumlah hutang jangka pendek Rp 1.935.745.037,00&lt;br /&gt;a. Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang&lt;br /&gt;Akun ini merupakan reklasifikasi bagian lancar dari pinjaman jangka&lt;br /&gt;panjang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun. Hutang jangka&lt;br /&gt;panjang dimaksud adalah Penerusan Pinjaman (Sub Loan Agreement –&lt;br /&gt;SLA) dari Pemerintah Pusat d.h.i. Departemen Keuangan sesuai&lt;br /&gt;Perjanjian Nomor SLA-860/DP3/1996 tanggal 30 Januari 1996 yang&lt;br /&gt;akan jatuh tempo pada tahun 2007 dan berdasarkan Berita Acara&lt;br /&gt;Rekonsiliasi tanggal 2 Oktober 2006 antara Direktorat Penerusan&lt;br /&gt;Pinjaman Depkeu RI dengan Pemerintah Kabupaten Batang. Rincian&lt;br /&gt;saldo bagian lancar hutang jangka panjang No.SLA-860/DP3/1996 per&lt;br /&gt;31 Desember 2006, sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Bagian Lancar – Pokok Pinjaman Rp 162.506.560,00&lt;br /&gt;2) Bagian Lancar – Bunga Rp 175.306.215,00&lt;br /&gt;3) Bagian Lancar – Jasa Bank Rp 3.811.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Rp 341.623.775,00&lt;br /&gt;b. Hutang Belanja&lt;br /&gt;Hutang belanja per 31 Desember 2006 sebesar Rp1.524.539.292,00&lt;br /&gt;adalah hutang BRSUD Kab Batang terhadap pihak ketiga atas&lt;br /&gt;pembelian obat-obatan sebesar Rp1.035.598.346,00, bahan&lt;br /&gt;Laboratorium sebesar Rp234.285.384,00, bahan radiologi sebesar&lt;br /&gt;Rp34.746.663,00, dan bahan medis habis sebesar Rp219.908.899,00&lt;br /&gt;yang sampai tanggal 31 Desember 2006 belum terbayarkan.&lt;br /&gt;c. Hutang Pajak&lt;br /&gt;Hutang Pajak per 31 Desember 2006 sebesar Rp69.581.970,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;41&lt;br /&gt;merupakan hutang pajak penerangan jalan yang sampai tanggal 31&lt;br /&gt;Desember 2006 belum terbayarkan.&lt;br /&gt;5.1.8 Kewajiban Jangka Panjang&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan jumlah kewajiban daerah yang jatuh tempo lebih&lt;br /&gt;dari satu tahun. Kewajiban Jangka Panjang per tanggal 31 Desember 2005&lt;br /&gt;sebesar Rp906.475.669,00 dan 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp2.122.809.680,40, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Hutang jangka panjang (SLA-860) :&lt;br /&gt;Sisa pinjaman keseluruhan :&lt;br /&gt;Pokok pinjaman Rp 1.543.812.339,00&lt;br /&gt;Bunga . Rp 901.033.437,65&lt;br /&gt;Jasa perbankan Rp 19.587.678,75&lt;br /&gt;Jumlah keseluruhan Rp 2.464.433.455,40&lt;br /&gt;Dikurangi, bagian lancar jatuh tempo 2006 :&lt;br /&gt;Pokok pinjaman Rp 162.506.560,00&lt;br /&gt;Bunga Rp 175.306.215,00&lt;br /&gt;Jasa perbankan Rp 3.811.000,00&lt;br /&gt;Jumlah keseluruhan . Rp 341.623.775,00&lt;br /&gt;Saldo hutang jangka panjang :&lt;br /&gt;Pokok pinjaman Rp 1.381.305.779,00&lt;br /&gt;Bunga Rp 725.727.222,65&lt;br /&gt;Jasa perbankan Rp 15.776.678,75&lt;br /&gt;Jumlah hutang jangka panjang Rp 2.122.809.680,40&lt;br /&gt;Saldo kewajiban jangka panjang per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp2.122.809.680,40 lebih besar bila dibanding Tahun 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp906,475,669.00 Hal ini terjadi karena dalam Neraca per 31 Desember&lt;br /&gt;2005 hanya disajikan saldo hutang pokok, sedangkan dalam Neraca per 31&lt;br /&gt;Desember 2006 disajikan saldo hutang pokok, bunga, dan jasa bank yang&lt;br /&gt;secara riil telah menjadi kewajiban Pemkab Batang.&lt;br /&gt;5.1.9 Ekuitas Dana&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan jumlah kekayaan bersih Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang, meliputi Ekuitas Dana Lancar (EDL) dan Ekuitas Dana Investasi&lt;br /&gt;(EDI). Ekuitas Dana per tanggal 31 Desember 2005 sebesar&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;42&lt;br /&gt;Rp1.222.279.968.467,00 dan 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.315.903.029.379,90, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Saldo-saldo akun ekuitas dana per 31 Desember 2006 tersebut dapat&lt;br /&gt;dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Ekuitas Dana Lancar (EDL)&lt;br /&gt;Saldo akun ini merupakan selisih antara jumlah aset lancar dengan&lt;br /&gt;hutang jangka pendek, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Rp 65.630.425.184,00&lt;br /&gt;Cadangan Piutang Rp 4.016.235.001,00&lt;br /&gt;Cadangan Persediaan Rp 4.320.279.685,30&lt;br /&gt;Dana yang harus disediakan untuk Pembayaran&lt;br /&gt;Hutang Jangka Pendek Rp (1.935.745.037,00)&lt;br /&gt;Jumlah EDL Rp 72.031.194.833,30&lt;br /&gt;Jumlah Ekuitas Dana Lancar per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp71.348.140.707,30. dapat dijelaskan dengan rincian perhitungan&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kas dan Bank Rp 65.630.425.184,00&lt;br /&gt;Piutang Rp 4.016.235.001,00&lt;br /&gt;Persediaan Rp 4.320.279.685,30&lt;br /&gt;Rp73.966.939.870,30&lt;br /&gt;Dikurangi:&lt;br /&gt;Bag Lancar Hut Jk Pjg Rp 341.623.775,00&lt;br /&gt;Hutang Belanja Rp 1.524.539.292,00&lt;br /&gt;Hutang Pajak Rp 69.581.970,00&lt;br /&gt;Rp 1.935.745.037,00&lt;br /&gt;Jumlah EDL Rp 72.031.194.833,30&lt;br /&gt;b. Ekuitas Dana Investasi (EDI)&lt;br /&gt;Saldo akun ini merupakan kekayaan Pemerintah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;yang berasal dari selisih investasi permanen ditambah aset tetap dan aset&lt;br /&gt;lainnya dikurangi dengan kewajiban jangka panjang, yang sampai&lt;br /&gt;dengan tanggal 31 Desember 2006 sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Ekuitas Dana Lancar (EDL) Rp 72.031.194.833,30&lt;br /&gt;b. Ekuitas Dana Investasi (EDI) Rp 1.243.871.834.546,60&lt;br /&gt;Jumlah ekuitas dana Rp 1.315.903.029.379,90&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;43&lt;br /&gt;Di Investasikan dalam Investasi Jangka Panjang Rp 29.559.091.636,00&lt;br /&gt;Di Investasikan dalam Aset Tetap Rp 1.216.086.031.591,00&lt;br /&gt;Di Investasikan dalam Aset Lainnya Rp 349.521.000,00&lt;br /&gt;Dana yang harus disediakan untuk Pembayaran&lt;br /&gt;Hutang Jangka Panjang Rp (2.122.809.680,40)&lt;br /&gt;Jumlah EDI Rp 1.243.871.834.546,60&lt;br /&gt;Jumlah Ekuitas Dana Investasi per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp1.243.871.834.546,60 dijelaskan dengan rincian perhitungan berikut :&lt;br /&gt;Investasi Nonpermanen Rp 660.944.554,00&lt;br /&gt;Investasi Permanen Rp 28.898.147.082,00&lt;br /&gt;Aktiva tetap Rp 1.216.086.031.591,00&lt;br /&gt;Aktiva lain-lain Rp 349.521.000,00&lt;br /&gt;Rp 1.245.994.644.227,00&lt;br /&gt;Dikurangi:&lt;br /&gt;Kewajiban Jangka Panjang :&lt;br /&gt;Hutang Penerusan Pinjaman No.SLA-860/DP3/1996 Rp 2.122.809.680,40&lt;br /&gt;Jumlah EDI Rp 1.243.871.834.546,60&lt;br /&gt;5.2 Penjelasan Pos-Pos Laporan Realisasi Anggaran&lt;br /&gt;5.2.1 Pendapatan&lt;br /&gt;Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan yang merupakan hak daerah&lt;br /&gt;dalam satu tahun anggaran yang akan menjadi penerimaan Kas Daerah.&lt;br /&gt;Pendapatan Daerah Kabupaten Batang meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD),&lt;br /&gt;Pendapatan Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah, dengan&lt;br /&gt;anggaran dan realisasi dalam TA 2006 serta realisasi TA 2005, sebagai berikut :&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Daerah : Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a.&lt;br /&gt;Pendapatan Asli&lt;br /&gt;Daerah (PAD) 25.156.165.000,00 31.030.139.653,00 23.301.040.806,00&lt;br /&gt;b. Pendapatan Transfer 396.674.828.000,00 408.406.974.365,00 273.357.887.924,00&lt;br /&gt;c. Lain-lain Pend yg Sah - 1.750.000.000,00 9.721.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Pendapatan&lt;br /&gt;Daerah 421.830.993.000,00 441.187.114.018,00 306.379.928.730,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan Tahun Anggaran 2005, maka&lt;br /&gt;realisasi pendapatan daerah Tahun Anggaran 2006 mengalami kenaikan sebesar&lt;br /&gt;Rp134.807.185.288,00 atau 44,00%. Peningkatan realisasi PAD 33,17%,&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;44&lt;br /&gt;peningkatan realisasi pendapatan transfer 49,67% dan realisasi lain-lain&lt;br /&gt;pendapatan yang sah 82,00%. Realisasi masing-masing Pendapatan Daerah&lt;br /&gt;dapat dijelaskan pada uraian dibawah ini.&lt;br /&gt;a. Pendapatan Asli Daerah&lt;br /&gt;Akun ini menggambarkan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk&lt;br /&gt;periode Tahun Anggaran 2006 dan 2005, dengan rincian pos dan jumlah&lt;br /&gt;PAD sebagai berikut :&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Asli Daerah (PAD) : Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a. Pendapatan Pajak Daerah 5.469.000.000,00 7.093.482.296,00 5.562.879.380,00&lt;br /&gt;b. Pendapatan Retribusi Daerah 13.536.921.400,00 14.172.647.350,00 12.074.969.198,00&lt;br /&gt;c. Pendapatan Bagian Laba&lt;br /&gt;Perusahaan Daerah 776.727.309,00 776.726.015,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;d. Lain-lain Pendapatan Asli&lt;br /&gt;Daerah yang Sah 5.373.516.291,00 8.987.283.992,00 5.269.573.228,00&lt;br /&gt;Jumlah Pendapatan Asli&lt;br /&gt;Daerah (PAD) 25.156.165.000,00 31.030.139.653,00 23.301.040.806,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan asli daerah tahun 2005, maka&lt;br /&gt;realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 23,25%. Semua jenis&lt;br /&gt;pendapatan mengalami kenaikan, dan kenaikan terbesar adalah dari&lt;br /&gt;pendapatan lain-lain PAD yang sah sebesar 67,25%. Hal ini karena adanya&lt;br /&gt;peningkatan penerimaan dari jasa giro dan bunga deposito.&lt;br /&gt;Realisasi masing-masing jenis PAD TA 2005 dan 2004, tersaji sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;a.1 Pajak Daerah&lt;br /&gt;Pajak Daerah merupakan PAD yang tarifnya ditetapkan melalui&lt;br /&gt;Peraturan Daerah (Perda). Pendapatan Pajak Daerah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;dikelola oleh Dinas Pendapatan Daerah, dengan realisasi selama TA&lt;br /&gt;2006 dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Pajak Daerah : Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;1) Pajak Hotel 140.000.000,00 156.487.040,00 143.451.500,00&lt;br /&gt;2) Pajak Restoran 336.000.000,00 363.143.900,00 338.966.600,00&lt;br /&gt;3) Pajak Hiburan 36.000.000,00 35.031.250,00 35.193.000,00&lt;br /&gt;4) Pajak Reklame 95.000.000,00 96.129.765,00 63.882.305,00&lt;br /&gt;5) Pajak Penerangan Jalan 4.652.000.000,00 6.232.072.525,00 4.749.044.335,00&lt;br /&gt;6) Pajak Pengambilan/&lt;br /&gt;Pengolahan Bhn Gal Gol.C 110.000.000,00 110.325.066,00 144.885.640,00&lt;br /&gt;7) Pajak Peng. Sarang Burung 100.000.000,00 100.292.750,00 87.456.000,00&lt;br /&gt;Jumlah pendapatan pajak&lt;br /&gt;daerah 5.469.000.000,00 7.093.482.296,00 5.562.879.380,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan pajak daerah tahun 2005,&lt;br /&gt;maka realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 27,51%.&lt;br /&gt;Peningkatan realisasi pajak tertinggi adalah dari pajak reklame sebesar&lt;br /&gt;50,48% dan terdapat dua jenis pajak yang realisasinya turun, yaitu&lt;br /&gt;pajak hiburan sebesar (0,46%) dan pajak pengambilan bahan galian gol&lt;br /&gt;C sebesar (23,85%).&lt;br /&gt;a.2 Retribusi Daerah&lt;br /&gt;Retribusi Daerah merupakan PAD yang tarifnya ditetapkan melalui&lt;br /&gt;Peraturan Daerah (Perda). Pendapatan Retribusi Daerah dikelola oleh&lt;br /&gt;masing-masing Satker Penghasil, dengan realisasi selama TA 2006 dan&lt;br /&gt;2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Retribusi Daerah: Anggaran&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;1) Pelayanan Kesehatan di BRSUD 6.000.000.000,00 6.265.747.701,00 5.461.691.779,00&lt;br /&gt;2) Pelayanan Kesehatan di Puskesmas 1.807.200.900,00 2.032.172.260,00 1.798.827.942,00&lt;br /&gt;3) Pelayanan Kebersihan/Persampahan 288.050.000,00 333.028.900,00 239.639.320,00&lt;br /&gt;4) Penggantian Biaya Cetak KTP 1.409.000.000,00 1.519.596.500,00 466.020.000,00&lt;br /&gt;5) Penggantian Biaya Cetak Akta Capil 100.000.000,00 124.794.500,00 150.330.000,00&lt;br /&gt;6) Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum 78.945.000,00 79.164.000,00 71.211.000,00&lt;br /&gt;7) Pelayanan Pasar 1.454.450.000,00 1.454.798.980,00 1.449.861.290,00&lt;br /&gt;8) Pengujian Kendaraan Bermotor 154.315.000,00 154.653.500,00 152.452.500,00&lt;br /&gt;9) Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan&lt;br /&gt;Daerah 849.900.000,00 697.780.950,00 829.972.825,00&lt;br /&gt;10) Jasa Usaha Terminal 169.893.000,00 170.058.500,00 161.981.000,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;46&lt;br /&gt;11) Jasa Usaha Tempat Khusus Parkir 63.200.000,00 63.612.000,00 57.800.000,00&lt;br /&gt;12) Jasa Usaha Penyedotan Kakus 8.150.000,00 8.295.000,00 7.980.000,00&lt;br /&gt;13) Jasa Usaha Rumah Potong Hewan&lt;br /&gt;(RPH) 76.000.000,00 76.784.000,00 76.275.000,00&lt;br /&gt;14) Tempat Pendaratan Kapal 7.000.000,00 7.019.000,00 7.510.600,00&lt;br /&gt;15) Tempat Rekreasi dan Olah Raga 235.000.000,00 257.449.500,00 167.595.610,00&lt;br /&gt;16) Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan&lt;br /&gt;(IMB) 175.000.000,00 145.292.850,00 157.230.850,00&lt;br /&gt;17) Retribusi Ijin Gangguan (HO) 145.000.000,00 166.903.657,00 137.125.510,00&lt;br /&gt;18) Retribusi Ijin Trayek 14.780.000,00 16.803.500,00 29.514.500,00&lt;br /&gt;19) Retribusi Pelayanan Administrasi 350.750.000,00 444.531.352,00 464.271.472,00&lt;br /&gt;20) ReIjin Pengambilan Hasil Hutan Ikutan 25.500.000,00 25.513.200,00 24.110.500,00&lt;br /&gt;21) Retribusi Ijin Usaha 40.600.000,00 49.715.000,00 30.187.500,00&lt;br /&gt;22) Retribusi Ijin Usaha Praktek Dokter 18.500.000,00 19.620.000,00 15.060.000,00&lt;br /&gt;23) Retribusi Ijin Jasa Usaha Penyiaran 38.500.000,00 31.000.000,00 36.195.000,00&lt;br /&gt;24) Ijin Jasa Usaha Konstruksi 27.187.500,00 28.312.500,00 82.125.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Pendapatan Retribusi Daerah 13.536.921.400,00 14.172.647.350,00 12.074.969.198,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan retribusi daerah tahun 2005,&lt;br /&gt;maka realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 17,37%.&lt;br /&gt;Peningkatan realisasi retribusi tertinggi adalah dari retribusi penggantian&lt;br /&gt;biaya cetak KTP sebesar 226,08%, peningkatan realisasi retribusi jasa&lt;br /&gt;pelayanan persampahan/kebersihan sebesar 38,97% dan terdapat&lt;br /&gt;beberapa jenis retribusi yang realisasinya turun.&lt;br /&gt;a.3 Hasil Perusahan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan&lt;br /&gt;Daerah yang dipisahkan.&lt;br /&gt;Realisasi Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yg&lt;br /&gt;Dipisahkan merupakan PAD dari pembagian atas laba perusahaan milik&lt;br /&gt;daerah TA 2006 dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Hsl Pengelolaan Kekayaan&lt;br /&gt;Daerah Yg Dipisahkan&lt;br /&gt;Anggaran&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;Realisasi&lt;br /&gt;(Rp)&lt;br /&gt;1) Bagian Laba Perush Milik Daerah 633.143.000,00 633.143.000,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;2) Bagian Laba Lembaga Keu Daerah 143.584.309,00 143.583.015,00 -&lt;br /&gt;Jumlah 776.727.309,00 776.726.015,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;47&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;1) Bagian Laba Perusahaan Milik&lt;br /&gt;Daerah :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Perusda Air Minum 632.143.000,00 632.143.000,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;b) Perusda Aneka Usaha 1.000.000,00 1.000.000,00 -&lt;br /&gt;Jumlah 633.143.000,00 633.143.000,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;2) Bagian Laba Lembaga Keuangan&lt;br /&gt;Bank :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;BPR/BKK 143.584.309,00 143.583.015,00 -&lt;br /&gt;Jumlah 143.584.309,00 143.583.015,00 -&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan hasil pengelolaan kekayaan&lt;br /&gt;daerah tahun 2005, maka realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan&lt;br /&gt;sebesar 97,33%. Hal ini karena tahun anggaran 2005 hanya&lt;br /&gt;mentargetkan realisasi dari PDAM.&lt;br /&gt;a.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah&lt;br /&gt;Lain-lain Pendapatan Asli Daerah merupakan PAD dari berbagai&lt;br /&gt;sumber yang bersifat tidak tetap/rutin, dengan realisasi selama TA 2006&lt;br /&gt;dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang&lt;br /&gt;Sah:&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;1) Hasil Penjualan Aset Daerah Yang&lt;br /&gt;Tidak Dipisahkan 93.050.000,00 98.527.500,00 177.371.000,00&lt;br /&gt;2) Penerimaan Jasa Giro 1.496.266.000,00 1.884.254.165,00 936.668.965,00&lt;br /&gt;3) Penerimaan Bunga Deposito 2.893.000.000,00 4.370.156.389,00 1.868.553.074,00&lt;br /&gt;4) Denda Keterlambatan Pelaksanaan&lt;br /&gt;Pekerjaan 0 20.907.393,00 57.951.041,00&lt;br /&gt;5) Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan&lt;br /&gt;Daerah (TP/TGR) 0 10.600.000,00 400.000,00&lt;br /&gt;6) Sumbangan Dana Pihak Ketiga 20.000.000,00 19.040.000,00 13.985.000,00&lt;br /&gt;7) Penerimaan Pengembalian dan Jasa&lt;br /&gt;Pinjaman 9.500.000,00 9.500.000,00 11.500.000,00&lt;br /&gt;8) Lain - Lain Penerimaan 861.700.291,00 2.574.298.545,00 2.203.144.148,00&lt;br /&gt;Jumlah 5.373.516.291,00 8.987.283.992,00 5.269.573.228,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;48&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;1) Hasil Penjualan Aset Daerah Yang&lt;br /&gt;Tidak Dipisahkan :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Penjualan Drum Bekas 77.250.000,00 69.930.000,00 29.100.000,00&lt;br /&gt;b)&lt;br /&gt;Penjualan Listrik Alun- Alun&lt;br /&gt;Batang 800.000,00 855.000,00 506.000,00&lt;br /&gt;c) Penjualan Benih Ikan 15.000.000,00 15.047.500,00 8.675.000,00&lt;br /&gt;d) Penjualan Kendaraan Dinas - 12.695.000,00 139.090.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 93,050,000.00 98.527.500,00 177.371.000,00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;2) Penerimaan Jasa Giro :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Jasa Giro Kas Daerah 1.496.266.000,00 1.830.753.546,00 860.118.582,00&lt;br /&gt;b) Jasa Giro Pemegang Kas - 53.500.619,00 76.550.383,00&lt;br /&gt;Jumlah 1.496.266.000,00 1.884.254.165,00 936.668.965,00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;3) Penerimaan Bunga Deposito :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;Rekening Deposito pada Bank&lt;br /&gt;Jateng 2.893.000.000,00 4.370.156.389,00 1.868.553.074,00&lt;br /&gt;Jumlah 2.893.000.000,00 4.370.156.389,00 1.868.553.074,00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;4) Denda Keterlambatan Pelaksanaan&lt;br /&gt;Pekerjaan :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Bidang Umum Pemerintahan -&lt;br /&gt;b) Bidang Pekerjaan Umum - 20.907.393,00 56.893.541,00&lt;br /&gt;c)&lt;br /&gt;Bidang Kesehatan dan Lingkungan&lt;br /&gt;Hidup -&lt;br /&gt;d)&lt;br /&gt;Bidang Pendidikan dan&lt;br /&gt;Kebudayaan -&lt;br /&gt;e) Bidang Pertanian -&lt;br /&gt;f)&lt;br /&gt;Bidang Perhubungan dan&lt;br /&gt;Pariwisata -&lt;br /&gt;g)&lt;br /&gt;Bidang Industri, Perdagangan,&lt;br /&gt;Koperasi dan -&lt;br /&gt;Penanaman Modal Daerah&lt;br /&gt;h)&lt;br /&gt;Bidang Pertanahan dan&lt;br /&gt;Pertambangan -&lt;br /&gt;i)&lt;br /&gt;Bidang Kependudukan, Tenaga&lt;br /&gt;Kerja dan Sosial -&lt;br /&gt;j) Bidang Hukum (Operasi Yustisi) - 1.057.500,00&lt;br /&gt;Jumlah - 20.907.393,00 57.951.041,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;49&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;5) Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan&lt;br /&gt;Daerah (TP/TGR) :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Kerugian Uang Daerah - - -&lt;br /&gt;b) Kerugian Barang Daerah - 10,600,000.00 400,000.00&lt;br /&gt;Jumlah - 10,600,000.00 400,000.00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;6) Sumbangan Dana Pihak Ketiga :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;Sumbangan Dana Pihak Ketiga&lt;br /&gt;dari Perusahaan 20.000.000,00 19.040.000,00 13.985.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 20.000.000,00 19.040.000,00 13.985.000,00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;7) Penerimaan Pengembalian dan Jasa&lt;br /&gt;Pinjaman :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Jasa Bantuan Pinjaman APBD&lt;br /&gt;Kabupaten 9.500.000,00 9.500.000,00 11.000.000,00&lt;br /&gt;b) Jasa Bantuan Pinjaman APBD I - - 500.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 9.500.000,00 9.500.000,00 11.500.000,00&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;8) Lain - Lain Penerimaan&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a) Sisa UUDP 0,00 163.818.944,00 237.975.600,00&lt;br /&gt;b) Penerimaan lainnya 102.138.796,00 1.627.290.206,00 135.889.128,00&lt;br /&gt;c) Kompensasi PPh. Pasal 21 0,00 - -&lt;br /&gt;d) Deviden BPD Jateng 723.252.995,00 723.252.995,00 1.822.000.000,00&lt;br /&gt;e) Retum Taspen 1.808.500,00 25.376.400,00 7.279.420,00&lt;br /&gt;f) Pengelolaan Kapal Tarik 5.500.000,00 5.560.000,00 -&lt;br /&gt;g) Penerimaan Lainnya dari&lt;br /&gt;Pertanian: 29.000.000,00 29.000.000,00 -&lt;br /&gt;# Bagi hsl bant pinj kpd masy bid&lt;br /&gt;peternakan 5.000.000,00 5.312.000,00 -&lt;br /&gt;# Bunga pinjaman kelmp tani &amp;amp;&lt;br /&gt;bibit perkebunan 8.000.000,00 8.000.000,00 -&lt;br /&gt;# Bunga pinjaman ternak sapi,&lt;br /&gt;puyuh dan UP3 11.000.000,00 11.000.000,00 -&lt;br /&gt;# Bunga pinjaman modal lain- lain 5.000.000,00 4.688.000,00 -&lt;br /&gt;Jumlah Lain-lain Penerimaan 861.700.291,00 2.574.298.545,00 2.203.144.148,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan lain-lain PAD yang sah tahun&lt;br /&gt;2005, maka realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 70,55%.&lt;br /&gt;Peningkatan realisasi tertinggi adalah dari penerimaan bunga deposito sebesar&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;133,88%, penerimaan jasa giro sebesar 101,17% dan realisasi TP TGR&lt;br /&gt;sebesar 2550,00%.Terdapat beberapa jenis Lain-Lain Pendapatan yang Sah&lt;br /&gt;yang realisasinya turun.yaitu dari denda keterlambatan pelaksanaan dan&lt;br /&gt;penerimaan pengembalian dan jasa pinjaman.&lt;br /&gt;b. Dana Perimbangan/Pendapatan Transfer&lt;br /&gt;Pendapatan Transfer berasal dari Pemerintah Pusat dan Propinsi, meliputi&lt;br /&gt;Transfer Pemerintah Pusat- Dana Perimbangan, Transfer Pemerintah Pusat-&lt;br /&gt;Lainnya dan Transfer Pemerintah Propinsi dengan realisasi dalam TA 2006&lt;br /&gt;dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Transfer :&lt;br /&gt;Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;a. Transfer Pemerintah Pusat-&lt;br /&gt;Dana Perimbangan 375.736.413.000,00 384.259.617.416,00 256.730.409.256,00&lt;br /&gt;b. Bagi Hasil Pajak &amp;amp; Bantuan&lt;br /&gt;Keuangan dari Propinsi 14.219.610.000,00 24.147.356.945,00 16.323.495.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 322.351.424.000,00 408.406.974.365,00 311.155.544.108,00&lt;br /&gt;b.1 Transfer Pemerintah Propinsi :&lt;br /&gt;Pendapatan Transfer berasal dari Pemerintah Pusat, meliputi Bagi Hasil&lt;br /&gt;Pajak, Bagi Hasil Sumber Daya Alam, Dana Alokasi Umum (DAU),&lt;br /&gt;Dana Alokasi Khusus (DAK), dengan realisasi dalam TA 2006 dan&lt;br /&gt;2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;Transfer Pemerintah Pusat - Dana&lt;br /&gt;Perimbangan :&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;a. Dana Bagi Hasil Pajak 15.733.154.000,00 24.032.840.273,00 20.795.355.851,00&lt;br /&gt;b. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam 379.259.000,00 624.539.143,00 599.053.405,00&lt;br /&gt;c. Dana Alokasi Umum (DAU) 333.434.000.000,00 333.434.000.000,00 222.826.000.000,00&lt;br /&gt;d. Dana Alokasi Khusus (DAK) 26.190.000.000,00 26.168.238.000,00 12.510.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 375.736.413.000,00 384.259.617.416,00 256.730.409.256,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan dana&lt;br /&gt;perimbangan/pendapatan transfer dari pemerintah tahun 2005, maka&lt;br /&gt;realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 49,67%. Peningkatan&lt;br /&gt;realisasi tertinggi adalah dari penerimaan Dana Alokasi khusus sebesar&lt;br /&gt;109,18% dan DAU sebesar 49,64%. Sedangkan yang peningkatan&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;51&lt;br /&gt;realisasinya terkecil adalah dari dana bagi hasil sumber daya alam&lt;br /&gt;sebesar 4,25%.&lt;br /&gt;b.1 Bagi Hasil Pajak &amp;amp; Bantuan Keuangan dari Propinsi&lt;br /&gt;Pendapatan Transfer Pemerintah Propinsi berasal dari Pemerintah&lt;br /&gt;Propinsi, meliputi Pendapatan Bagi Hasil Pajak dan Pendapatan Bagi&lt;br /&gt;Hasil Lainnya, dengan realisasi dalam TA 2006 dan 2005 sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Pendapatan Transfer Pem. Prop :&lt;br /&gt;Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;1) Bagi Hasil Pajak 15.729.401.000,00 19.003.880.123,00 13.318.442.668,00&lt;br /&gt;2) Bagi Hasil Lainnya 5.209.014.000,00 5.143.476.826,00 3.309.036.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 20.938.415.000,00 24.147.356.949,00 16.627.478.668,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi pendapatan transfer dari Propinsi tahun&lt;br /&gt;2005, maka realisasi tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 45,23%.&lt;br /&gt;Peningkatan realisasi tertinggi adalah dari penerimaan Pajak Bahan&lt;br /&gt;bakar Kendaraan bermotor sebesar 129,81%.&lt;br /&gt;Penerimaan bagi hasil pajak dan bantuan keuangan dari propinsi&lt;br /&gt;tersebut didalamnya tidak termasuk bantuan keuangan dari Propinsi&lt;br /&gt;Jawa Tengah sebesar Rp3.030.000.000,00. yang direalisasikan melalui&lt;br /&gt;rekening Pemerintah Kabupaten Batang pada PT Bank BPD Jawa&lt;br /&gt;Tengah Cabang Batang Nomor 2-032-08861-0. Penerimaan bantuan dan&lt;br /&gt;realisasi bantuan tersebut tidak dilaporkan sebagai transaksi pendapatan&lt;br /&gt;maupun belanja daerah pada Perhitungan APBD Tahun Anggaran 2006.&lt;br /&gt;Sedangkan pada rekening Pemerintah Kabupaten Batang yang&lt;br /&gt;digunakan sebagai penampung tersebut terdapat saldo bunga sebesar&lt;br /&gt;Rp101.440,00. Saldo ini sudah disetor ke Kas Daerah pada tanggal 21&lt;br /&gt;April 2007.&lt;br /&gt;c. Lain- Lain Pendapatan yang Sah&lt;br /&gt;Lain-lain Pendapatan yang Sah adalah penerimaan daerah selain yang telah&lt;br /&gt;dikelompokkan di atas, dengan realisasi dalam TA 2006 dan 2005 sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;52&lt;br /&gt;Lain-lain Pendapatan yang 2005 2004&lt;br /&gt;Sah : Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;a. Pendapatan Dana Darurat - 1.750.000.000,00 -&lt;br /&gt;b. Pendapatan Lainnya - - 9.721.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah - 1.750.000.000,00 9.721.000.000,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi Lain-Lain Pendapatan yang Sah tahun 2005,&lt;br /&gt;maka realisasi tahun 2006 mengalami penurunan sebesar (82,00%). Hal ini&lt;br /&gt;karena di tahun 2006 hanya memperoleh dana darurat.&lt;br /&gt;5.2.2.Belanja&lt;br /&gt;Belanja Daerah meliputi Belanja Operasi, Belanja Modal, dan Belanja Tidak&lt;br /&gt;Terduga (BTT). Dalam TA 2006 dan 2005 di lingkungan Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang terdapat 125 satuan kerja (satker), dimana satker- satker&lt;br /&gt;tersebut merupakan pengguna anggaran.&lt;br /&gt;Anggaran dan realisasi belanja daerah TA 2006 serta realisasi TA 2005, sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;a. Belanja Operasi&lt;br /&gt;Belanja Operasi Kabupaten Batang meliputi Belanja Pegawai, Belanja&lt;br /&gt;Barang, Bunga, Subsidi, Hibah dan Bantuan Sosial dengan realisasi TA&lt;br /&gt;2006 dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;Belanja Operasi Anggaran (RTp.)A . 20R06e alisasi (Rp) ReTa.lAis.a 2si0 (0R5p )&lt;br /&gt;a. Belanja Pegawai 244.271.451.586 212.194.985.854 167.040.269.526&lt;br /&gt;b. Belanja Barang 87.074.984.911 83.509.943.352 53.108.731.516&lt;br /&gt;c. Belanja Bunga 198.476.941 198.476.941 217.836.662&lt;br /&gt;d. Belanja Subsidi - - -&lt;br /&gt;e. Belanja Hibah - - -&lt;br /&gt;f. Belanja Bantuan Sosial 59.728.230.056 53.251.804.831 45.730.288.725&lt;br /&gt;Jumlah 391.273.143.494 349.155.210.978 266.097.126.429&lt;br /&gt;TA 2006 TA 2005&lt;br /&gt;Belanja Daerah : Anggaran Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;Rp Rp Rp&lt;br /&gt;1. Belanja Operasi 391.273.143.494 349.155.210.978 266.097.126.429&lt;br /&gt;2. Belanja Modal 56.320.048.506 54.389.646.146 42.057.440.381&lt;br /&gt;3. Belanja Tidak Terduga 3.000.000.000 953.882.370 1.218.914.386&lt;br /&gt;Jumlah Belanja Daerah 450.593.192.000 404.498.739.494 309.373.481.196&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;53&lt;br /&gt;Realisasi Belanja Operasi TA 2006 sebesar Rp349.155.210.978,00 atau&lt;br /&gt;89,23% dari anggaran Rp391.273.143.494,00, dan 131,21% dari realisasi&lt;br /&gt;TA 2005 Rp266.097.126.429&lt;br /&gt;Belanja Barang sebesar Rp83.509.943.352,00 didalamnya termasuk&lt;br /&gt;realisasi Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa berupa bantuan keuangan&lt;br /&gt;kepada masyarakat senilai Rp4.371.000.000,00. yang digunakan untuk&lt;br /&gt;pembelian/pengadaan barang dan pemakaian jasa dalam melaksanakan&lt;br /&gt;kegiatan pemerintah. Pemberian bantuan kepada masyarakat seharusnya&lt;br /&gt;dimasukan dalam pos belanja bantuan sosial.&lt;br /&gt;b. Belanja Modal&lt;br /&gt;Belanja Modal Kabupaten Batang meliputi Belanja Tanah, Belanja&lt;br /&gt;Peralatan dan Mesin, Belanja Gedung dan Bangunan, Belanja Jalan, Irigasi&lt;br /&gt;dan Jaringan, Belanja Aset Tetap Lainnya dan Belanja Aset Lainnya dengan&lt;br /&gt;realisasi TA 2006 dan 2005, sebagai berikut :&lt;br /&gt;Belanja Modal Anggaran (RTp.A) . 20R0e6a lisasi (Rp) ReTa.lAis.a 2si0 (0R5p )&lt;br /&gt;1) Belanja Tanah 3.476.042.800 3.084.911.250 1.745.573.650&lt;br /&gt;2) Belanja Peralatan Mesin 16.055.155.206 15.958.708.015 8.309.380.176&lt;br /&gt;3) Belanja Gedung dan Bangunan 21.571.750.500 20.975.006.253 14.592.038.540&lt;br /&gt;4) Belanja Jalan Irigasi dan Jaringan 14.517.750.000 13.769.141.668 16.983.627.915&lt;br /&gt;5) Belanja Aset Tetap Lainnya 699.350.000 601.878.960 426.820.100&lt;br /&gt;6) Belanja Aset Lainnya 3.476.042.800 - -&lt;br /&gt;Jumlah 56.320.048.506 54.389.646.146 42.057.440.381&lt;br /&gt;Realisasi Belanja Modal TA 2006 sebesar Rp54.389.646.146,00 atau&lt;br /&gt;96,57% dari anggaran sebesar Rp56.320.048.506.00, dan 129,32% dari&lt;br /&gt;realisasi TA 2005 sebesar Rp42.057.440.381,00.&lt;br /&gt;c. Belanja Tak Terduga (BTT)&lt;br /&gt;Belanja Tak Terduga (BTT) dialokasikan dalam APBD dalam rangka&lt;br /&gt;penanganan akibat dari bencana alam, dan pelaksanaan kewenangan daerah&lt;br /&gt;selainnya yang telah disebutkan di atas. Pelaksanaan kegiatan anggaran tak&lt;br /&gt;tersangka secara teknis dilaksanakan oleh Satuan Kerja masing-masing&lt;br /&gt;sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Rincian realisasi belanja tak&lt;br /&gt;tersangka/belanja tidak terduga adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;54&lt;br /&gt;Kode rek Uraian Satker Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;2.01.03.05 Belanja penanganan korban banjir di&lt;br /&gt;kecamatan Batang&lt;br /&gt;Bag Sosial&lt;br /&gt;Setda 135.509.150,00&lt;br /&gt;5.01.01 Belanja perbaikan jembatan Kali&lt;br /&gt;Mangli Desa Keniten Kec. Reban DPU 113.503.500,00&lt;br /&gt;5.01.01 Belanja perbaikan Jembatan Dukuh&lt;br /&gt;Kejora Desa Kedawung Kec Limpung DPU 74.648.000,00&lt;br /&gt;5.01.01 Belanja perbaikan gedung SDN&lt;br /&gt;Pesalakan 01 Kec.Bandar DPU 252.775.565,00&lt;br /&gt;5.01.01 Belanja perbaikan Gedung&lt;br /&gt;SDNKambangan 01 Kec.Blado dan&lt;br /&gt;SDN Proyonanggan 10 Kec. Batang&lt;br /&gt;DPU 377.446.155,00&lt;br /&gt;Jumlah 953.882.370,00&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan realisasi belanja tak terduga tahun 2005, maka&lt;br /&gt;realisasi belanja tak terduga tahun 2006 mengalami penurunan (21,74%).&lt;br /&gt;5.2.3 Pembiayaan&lt;br /&gt;Pembiayaan Daerah meliputi Penerimaan PembiayaanDaerah dan Pengeluaran&lt;br /&gt;Pembiayaan, dengan anggaran dan realisasi TA 2006 dan 2005, termasuk Sisa&lt;br /&gt;Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Tahun Berkenaan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Pembiayaan:&lt;br /&gt;Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;1. Penerimaan Pembiayaan 32.681.699.000,00 32.803.034.260,00 53.120.417.999,00&lt;br /&gt;2. Pengeluaran Pembiayaan 3.919.500.000,00 3.860.983.600,00 18.528.579.235,00&lt;br /&gt;Pembiayaan Neto 28.762.199.000,00 28.942.050.660,00 34.591.838.764,00&lt;br /&gt;SILPA - 65.630.425.184,00 31.598.286.298,00&lt;br /&gt;a. Penerimaan Pembiayaan&lt;br /&gt;Realisasi penerimaan pembiayaan TA 2006 dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Penerimaan Pembiayaan:&lt;br /&gt;Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;1 Penggunaan SILPA 31.598.286.298,00 31.598.286.298,00 37.017.036.113,00&lt;br /&gt;2 Pencairan Dana Cadangan - - 14.906.036.000&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman&lt;br /&gt;kepada Perusahaan Daerah 500.000.000,00 500.000.000,00 500.000.000,00&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman&lt;br /&gt;kepada Entitas Lainnya 583.412.702,00 704.747.962,00 697.345.886,00&lt;br /&gt;Jumlah Penerimaan Pembiayaan 32.681.699.000,00 32.803.034.260,00 53.120.417.999,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;55&lt;br /&gt;b. Pengeluaran Pembiayaan&lt;br /&gt;Realisasi pengeluaran pembiayaan TA 2006 dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Pengeluaran Pembiayaan:&lt;br /&gt;Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;1 Pembentukan Dana Cadangan - - 14.619.036.000,00&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Penyertaan Modal Pemerintah&lt;br /&gt;Daerah 3.500.000.000,00 3.500.000.000,00 3.529.200.000,00&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinj Dlm&lt;br /&gt;Neg – Pem Pusat 419.500.000,00 360.983.600,00 380.343.235,00&lt;br /&gt;Jumlah Pengeluaran Pembiayaan 3.919.500.000,00 3.860.983.600,00 18.528.579.235,00&lt;br /&gt;5.2.4 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) TA 2006 dan 2005, dapat dirinci&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) :&lt;br /&gt;Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;1) Pendapatan dan Biaya :&lt;br /&gt;a) Realisasi Pendapatan 441.187.114.018,00 306.379.928.730,00&lt;br /&gt;b) Realisasi Belanja 404.498.739.494,00 309.373.481.196,00&lt;br /&gt;Surplus (Defisit) Anggaran: a) – b) 36.688.374.524 ,00 (2.993.552.466),00&lt;br /&gt;2) Pembiayaan :&lt;br /&gt;a) Penerimaan Daerah 32.803.034.260,00 53.120.417.999,00&lt;br /&gt;b) Pengeluaran Daerah 3.860.983.600,00 18.528.579.235,00&lt;br /&gt;Surplus (Defisit) Pembiayaan: a) – b) 28.942,050.660,00 34.591.838.764,00&lt;br /&gt;3) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran: 1) + 2) 65.630.425.184,00 31.598.286.298,00&lt;br /&gt;Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) TA 2006 dan 2005 masing-masing&lt;br /&gt;sebesar Rp65.630.425.184,00 dan Rp31.598.286.298,00 tersebut, dengan&lt;br /&gt;rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Rincian SiLPA :&lt;br /&gt;Realisasi Realisasi&lt;br /&gt;1) Sisa Kas di BUD/PKD 413.828.079,00 143.452.366,00&lt;br /&gt;2) Rekening Giro Bank : 30.216.597.105,00 14.954.833.932,00&lt;br /&gt;3) Deposito 35.000.000.000,00 16.500.000.000,00&lt;br /&gt;4) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran 65.630.425.184,00 31.598.286.298,00&lt;br /&gt;5.3 PENJELASAN POS – POS ARUS KAS&lt;br /&gt;Laporan Aliran Kas menyajikan informasi aliran penerimaan dan pengeluaran kas&lt;br /&gt;selama Tahun 2006 dan 2005 meliputi Aliran Kas dari Aktivitas Operasi, Aktivitas&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;56&lt;br /&gt;Investasi Aset Nonkeuangan, Aktivitas Pembiayaan dan Aktivitas Non Anggaran&lt;br /&gt;dengan TA 2006 dan 2005, termasuk Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA)&lt;br /&gt;tahun berkenaan, sebagai berikut :&lt;br /&gt;2006 2005&lt;br /&gt;Aliran Kas dari :&lt;br /&gt;Realisasi (Rp) Realisasi (Rp)&lt;br /&gt;1.Aktivitas Operasi 91,078,020,670.00 38,911,410,730.00&lt;br /&gt;2. Investasi Aset Non keuangan (54,389,646,146.00) (41,909,675,381.00)&lt;br /&gt;3.Aktivitas Pembiayaan (2,656,235,638.00) (2,425,197,349.00)&lt;br /&gt;4.Aktivitas Non Anggaran 14.516.072.161,00 7.297.420,00&lt;br /&gt;Kenaikan/ Penurunan Kas 34,032,138,886.00 (5,418,749,815.00)&lt;br /&gt;Saldo Awal Kas 31,598,286,298.00 37,017,036,113.00&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas 65,630,425,184.00 31,598,286,298.00&lt;br /&gt;5.3.1 Aliran Kas dari Aktivitas Operasi&lt;br /&gt;Aliran kas bersih aktivitas operasi surplus sebesar Rp91.078.020.670,00 dan&lt;br /&gt;38.911.410.730,00 merupakan indikator yang menunjukan kemampuan Pemkab&lt;br /&gt;Batang dalam menghasilkan kas yang cukup untuk membiayai aktivitas&lt;br /&gt;operasionalnya. Aliran kas bersih aktivitas operasi merupakan selisih dari aliran&lt;br /&gt;kas masuk dengan aliran kas keluar yang terdiri dari :&lt;br /&gt;Uraian 2006 (Rp) 2005 (Rp)&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas&lt;br /&gt;Pendapatan Pajak Daerah 7.093.482.296,00 5.407.834.960,00&lt;br /&gt;Pendapatan Retribusi Daerah 14.172.647.350,00 12.074.969.198,00&lt;br /&gt;Pendapatan Hasil Pengelolaan&lt;br /&gt;Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 776.726.015,00 393.619.000,00&lt;br /&gt;Lain-lain PAD yang sah 8.987.283.992,00 5.269.573.228,00&lt;br /&gt;Dana Bagi Hasil Pajak 24.032.840.273,00 20.795.355.851,00&lt;br /&gt;Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam 624.539.143,00 599.053.405,00&lt;br /&gt;Dana Alokasi Umum 333.434.000.000,00 222.826.000.000,00&lt;br /&gt;Dana Alokasi Khusus 26.168.238.000,00 12.510.000.000,00&lt;br /&gt;Pendapatan Bagi Hasil Pajak 19.003.880.123,00 13.318.442.668,00&lt;br /&gt;Pendapatan Bagi Hasil Lainnya 5.143.476.826,00 3.309.036.000,00&lt;br /&gt;Pendapatan Hibah - -&lt;br /&gt;Pendapatan Dana Darurat 1.750.000.000,00 -&lt;br /&gt;Pendapatan Lainnya - 9.721.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 441.187.114.018,00 306.224.884.310,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Belanja Pegawai 212.194.985.854,00 167.038.302.291,00&lt;br /&gt;Belanja Barang 83.509.943.352,00 53.108.731.516,00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;57&lt;br /&gt;Uraian 2006 (Rp) 2005 (Rp)&lt;br /&gt;Bunga 198.476.941,00 217.836.662,00&lt;br /&gt;Subsidi - -&lt;br /&gt;Hibah - -&lt;br /&gt;Bantuan Sosial 53.251.804.831,00 45.729.688.725,00&lt;br /&gt;Bantuan Tak Terduga 953.882.370,00 1.218.914.386,00&lt;br /&gt;Bagi Hasil Pajak - -&lt;br /&gt;Bagi Hasil Retribusi - -&lt;br /&gt;Bagi Hasil Pendapatan Lainnya - -&lt;br /&gt;Jumlah 350.109.093.348,00 267.313.473.580,00&lt;br /&gt;Aliran Kas Bersih 91.078.020.670,00 38.911.410.730,00&lt;br /&gt;5.3.2 Aliran Kas dari Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan&lt;br /&gt;Aliran kas bersih dari aktivitas investasi defisit sebesar Rp54.389.646.146,00&lt;br /&gt;dan Rp42.057.440.381,00 mencerminkan adanya pengadaan sumber daya&lt;br /&gt;ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung pelayanan&lt;br /&gt;pemerintah di masa yang akan datang. Dalam tahun 2006 tidak terdapat aliran&lt;br /&gt;kas masuk dari aktivitas investasi. Aliran kas bersih aktivitas investasi aset&lt;br /&gt;nonkeuangan merupakan selisih dari aliran kas masuk dengan aliran kas&lt;br /&gt;keluar yang terdiri dari :&lt;br /&gt;5.3.3 Aliran Kas dari Aktivitas Pembiayaan&lt;br /&gt;Aliran kas bersih dari aktivitas pembiayaan defisit sebesar Rp2.656.235.638,00&lt;br /&gt;mencerminkan adanya pengeluaran pemerintah yang terkait dengan aliran kas&lt;br /&gt;di masa yang akan datang. Aliran kas bersih dari aktivitas pembiayaan&lt;br /&gt;Uraian 2006 (Rp) 2005 (Rp)&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas 0,00 0,00&lt;br /&gt;Pendapatan dari Penjualan Aset&lt;br /&gt;Lainnya 0,00 147.765.000,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Masuk Kas 0,00 147.765.000,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Belanja Tanah 3.084.911.250,00 1.745.573.650,00&lt;br /&gt;Belanja Peralatan dan Mesin 15.958.708.015,00 8.309.380.176,00&lt;br /&gt;Belanja Gedung dan Bangunan 20.975.006.253,00 14.592.038.540,00&lt;br /&gt;Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 13.769.141.668,00 16.983.627.915,00&lt;br /&gt;Belanja Aset Tetap Lainnya 601.878.960,00 426.820.100,00&lt;br /&gt;Belanja Aset Lainnya 0,00 -&lt;br /&gt;Jumlah Arus Keluar Kas 54.389.646.146,00 42.057.440.381,00&lt;br /&gt;Aliran Kas Bersih (54.389.646146,00) (41,909,675,381.00)&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;58&lt;br /&gt;merupakan selisih dari aliran kas masuk dengan aliran kas keluar atas aktivitas&lt;br /&gt;pembiayaan dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Arus Masuk Kas 2006 (Rp) 2005 (Rp)&lt;br /&gt;Pencairan dari Dana Cadangan - 14.906.036.000,00&lt;br /&gt;Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang&lt;br /&gt;Dipisahkan - -&lt;br /&gt;Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat - -&lt;br /&gt;Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan&lt;br /&gt;Bank - -&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman kepada&lt;br /&gt;Perusahaan Daerah 500.000.000,00 500.000.000,00&lt;br /&gt;Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Entitas&lt;br /&gt;Lainnya 704.747.962,00 697.345.886,00&lt;br /&gt;Jumlah Arus Masuk Kas 1.204.747.962,00 16.103.381.886,00&lt;br /&gt;Arus Keluar Kas&lt;br /&gt;Pembentukan Dana Cadangan - 14.619.036.000,00&lt;br /&gt;Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 3.500.000.000,00 3.529.200.000,00&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri -&lt;br /&gt;Pemerintah Pusat 360.983.600,00 380.343.235,00&lt;br /&gt;Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri -&lt;br /&gt;Lembaga Keuangan Bank - -&lt;br /&gt;Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan&lt;br /&gt;Daerah - -&lt;br /&gt;Jumlah Arus Keluar Kas 3.860.983.600,00 18.528.579.235,00&lt;br /&gt;Arus Kas Bersih dari aktivitas Pembiayaan (2.656.235.638,00) (2.425.197.349,00)&lt;br /&gt;5.3.4 Aliran Kas dari Aktivitas Non Anggaran&lt;br /&gt;Aliran kas bersih dari aktivitas non anggaran nihil, yang mencerminkan saldo&lt;br /&gt;penerimaan dan pengeluaran kas bruto yang tidak mempengaruhi anggaran.&lt;br /&gt;Realisasi TA 2006 dan 2005 sebagai berikut :&lt;br /&gt;Uraian Tahun 2006 (Rp) Tahun 2005 (Rp)&lt;br /&gt;Penerimaan Pihak Ke III&lt;br /&gt;-Taspen 12.115.366.586,00 7.297.420,00&lt;br /&gt;-PPh 21 1.764.661.409,00&lt;br /&gt;-Taperum 633.486.000,00&lt;br /&gt;-Lain-lain 2.558.166,00&lt;br /&gt;Jumlah 14.516.072.161,00 7.297.420,00&lt;br /&gt;Pengeluaran pihak Ke III&lt;br /&gt;-Taspen 12.115.366.586,00&lt;br /&gt;-PPh 21 1.764.661.409,00&lt;br /&gt;-Taperum 633.486.000,00&lt;br /&gt;-Lain-lain 2.558.166,00 2.567.235,00&lt;br /&gt;Jumlah 14.516.072.161.00 2.567.235,00&lt;br /&gt;Arus Kas Bersih dr Akt Non Angg 0.00 4,712,185.00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;59&lt;br /&gt;5.3.5 Posisi Kas&lt;br /&gt;Posisi Kas akhir tahun anggaran 2006 dan tahun anggaran 2005 sebagaimana&lt;br /&gt;data berikut:&lt;br /&gt;Uraian 2006 (Rp) 2005 (Rp)&lt;br /&gt;Kenaikan / Penurunan Kas 34.032.138.886,00 (5.418.749.815,00)&lt;br /&gt;Saldo Awal Kas di BUD/Kasda 31.454.833.932,00 37.017.036.113,00&lt;br /&gt;Saldo Akhir kas di BUD/Kasda 65.216.597.105,00 31.454.833.932,00&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran 413.828.079,00 143.452.366,00&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan - -&lt;br /&gt;Saldo Akhir Kas 65.630.425.184,00 31.598.286.298,00&lt;br /&gt;Jumlah kenaikan kas tahun 2006 sebesar Rp34.032.138.886,00 sedangkan tahun&lt;br /&gt;2005 terjadi penurunan Kas sebesar Rp5.418.749.815,00.&lt;br /&gt;Jumlah saldo awal kas di BUD/Kasda per 1 Januari 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp31.454.833.932,00 sedangkan saldo awal kas di BUD/Kasda per 1 Januari&lt;br /&gt;2005 sebesar Rp37.017.036.113,00.&lt;br /&gt;Jumlah saldo akhir kas per 31 Desember 2006 sebesar Rp65.630.425.184,00&lt;br /&gt;merupakan Saldo Kas Pemerintah Kabupaten Batang per 31 Desember 2006,&lt;br /&gt;sedangkan saldo akhir kas per 31 Desember 2005 sebesar Rp31.598.286.298.00&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Dari hasil Perhitungan realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun&lt;br /&gt;anggaran 2006 dapat diketahui, bahwa pencapaian pendapatan daerah sebesar&lt;br /&gt;Rp 441.187.114.018,00 atau 104,59% sehingga mengalami peningkatan dari target sebesar&lt;br /&gt;Rp 19.356.121.018,00 atau 4,59%. Sedangkan Anggaran Belanja Daerah realisasi sebesar&lt;br /&gt;Rp 404.498.739.494,00 atau 89,77% sehingga terjadi penghematan sebesar&lt;br /&gt;Rp 46.094.452.506,00 atau 10,23%. Pada komponen Pembiayaan diketahui bahwa&lt;br /&gt;pencapaian Penerimaan Pembiayaan Tahun 2006 mencapai Rp 32.803.034.260,00 atau&lt;br /&gt;100,37% melampaui target sebesar Rp 121.334.542,00 atau 0,37%. Sedangkan&lt;br /&gt;Pengeluaran Pembiayaan realisasi sebesar Rp 3.860.983.600,00 atau 98,513%, sehingga&lt;br /&gt;melampai target sebesar Rp.58.516.400,00 atau 1,49%. Dibandingkan dengan realisasi&lt;br /&gt;pendapatan tahun 2005, maka realisasi pendapatan daerah tahun 2006 mengalami kenaikan&lt;br /&gt;sebesar Rp 134.807.185.288,00 atau 44%. Peningkatan realiasai PAD 33,17%,&lt;br /&gt;peningkatan realisasi pendapatan transfer 49,67% dan realisasi lain-lain pendapatan yang&lt;br /&gt;sah 82,00%. Sedangkan realisasi belanja daerah tahun 2005 dibanding realisasi belanjda&lt;br /&gt;daerah tahun 2006 mengalami kenaikan realisasi sebesar 30,75%. Kenaikan belanja&lt;br /&gt;tertinggi dari belanja operasi sebesar 31,21%, sedangkan belanja tidak terduga turun&lt;br /&gt;sebesar 21,74%.&lt;br /&gt;Realisasi APBD Tahun Anggaran 2006 terjadi surplus Anggaran sebesar&lt;br /&gt;Rp36.688.374.524,00 sehingga terjadi penghematan bila dibandingkan dengan Anggaran&lt;br /&gt;pada Perubahan APBD ditahun yang sama. Sedangkan pada komponen Pembiayaan terjadi&lt;br /&gt;Surplus Pembiayaan sebesar Rp28.942.050.660,00 sehingga terdapat Selisih Lebih&lt;br /&gt;Perhitungan Anggaran Tahun sebesar Rp 65.630.425.184,00. Sisa Lebih Perhitungan&lt;br /&gt;Anggaran (SILPA) tersebut terdiri dari; Kas Daerah Per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp65.216.597.105,00, dan Sisa UUDP Tahun 2006 sebesar Rp 413.828.079,00.&lt;br /&gt;Realisasi asset daerah sesuai neraca per 31 Desember 2006 sebesar&lt;br /&gt;Rp.1.319.961.584.097,30, asset per 31 Desember 2005 sebesar Rp.1.223.605.944.136,00,&lt;br /&gt;sehingga mengalami penambahan asset sebesar 7,87%. Sedangkan kewajiban daerah per&lt;br /&gt;31 Desember 2006 sebesar Rp.4.058.554.717,40, kewajiban per 31 Desember 2005 sebesar&lt;br /&gt;PEMERINTAH KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN&lt;br /&gt;Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006&lt;br /&gt;61&lt;br /&gt;Rp 1.325.975.669,00 sehingga mengalami peningkatan kewajiban sebesar Rp&lt;br /&gt;2.732.579.048,00 atau 206,08%. Sedangkan dari laporan arus kas diketahui, bahwa arus&lt;br /&gt;kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp.91.078.020.670,00 dan arus kas bersih dari&lt;br /&gt;aktifitas investasi asset non keuangan sebesar (Rp 54.389.646.146,00), serta arus kas bersih&lt;br /&gt;dari aktifitas pembiayaan sebesar Rp (2.656.235.638,00)&lt;br /&gt;Demikian Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Batang Tahun Anggaran&lt;br /&gt;2006, realisasi atas pelaksanaan dari semua yang telah dianggarkan dalam tahun anggaran&lt;br /&gt;berjalan, baik kelompok Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan, asset serta&lt;br /&gt;kewajiban. Dengan laporan keuangan daerah ini, mudah-mudahan dapat diperoleh&lt;br /&gt;gambaran secara menyeluruh tentang pelaksanaan dan kekayaan Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;selama kurun waktu satu tahun anggaran, khususnya pelaksanaan APBD Kabupaten&lt;br /&gt;Batang Tahun Anggaran 2006. Kemudian dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan&lt;br /&gt;pertimbangan dalam menentukan kebijakan dan penyelenggaraan Pemerintah Daerah pada&lt;br /&gt;tahun anggaran yang akan datang.&lt;br /&gt;Selanjutnya Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2006 secara lengkap selain&lt;br /&gt;pada catatan atas laporan keuangan, terdiri dari buku laporan Realisasi Anggaran, Rincian&lt;br /&gt;Laporan Relisasi Anggaran, Arus Kas, dan Neraca beserta lampiran-lampirannya yang&lt;br /&gt;merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan dengan Catatan Atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2006.&lt;br /&gt;Batang, Mei 2007&lt;br /&gt;BUPATI BATANG&lt;br /&gt;BAMBANG BINTORO, SE&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 62&lt;br /&gt;GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;A. GAMBARAN UMUM&lt;br /&gt;1. Dasar Hukum Pemeriksaan&lt;br /&gt;a. Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945,&lt;br /&gt;b. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan&lt;br /&gt;Tanggungjawab Keuangan Negara,&lt;br /&gt;c. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,&lt;br /&gt;d. Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,&lt;br /&gt;e. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang&lt;br /&gt;telah disempurnakan dengan Undang-Undan Nomor 8 Tahun 2005 tentang&lt;br /&gt;Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun&lt;br /&gt;2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang,&lt;br /&gt;f. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara&lt;br /&gt;Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.&lt;br /&gt;g. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan,&lt;br /&gt;h. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan&lt;br /&gt;Daerah,&lt;br /&gt;i. Peraturan BPK RI Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Standar Pemeriksaan&lt;br /&gt;Keuangan Negara,&lt;br /&gt;j. Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Daftar Rincian Kegiatan Pemeriksaan&lt;br /&gt;(DRKP) BPK Tahun 2007.&lt;br /&gt;2. Tujuan Pemeriksaan&lt;br /&gt;Untuk memberikan keyakinan apakah Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang sebagai laporan pertanggungjawaban atas realisasi APBD Tahun&lt;br /&gt;Anggaran 2005 telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang&lt;br /&gt;ditetapkan dalam berbagai peraturan perundangan mengenai Pengelolaan&lt;br /&gt;Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 63&lt;br /&gt;3. Sasaran Pemeriksaan&lt;br /&gt;Sasaran pemeriksaan adalah:&lt;br /&gt;a. Kepatuhan Pemerintah Kabupaten Batang terhadap peraturan perundangundangan&lt;br /&gt;yang berlaku;&lt;br /&gt;b. Pengendalian intern Pemerintah Kabupaten Batang dalam system akuntansi&lt;br /&gt;dan pelaporan keuangan pemerintah daerah;&lt;br /&gt;4. Standar Pemeriksaan&lt;br /&gt;Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2006 dilakukan dengan berpedoman pada Standar Pemeriksaan&lt;br /&gt;Keuangan Negaran (SPKN) yang diterbitkan oleh BPK – RI Tahun 2007.&lt;br /&gt;5. Metode Pemeriksaan.&lt;br /&gt;a. Review dokumen&lt;br /&gt;b. Wawancara&lt;br /&gt;c. Konfirmasi&lt;br /&gt;d. Tracing&lt;br /&gt;e. Vouching&lt;br /&gt;6. Waktu Pemeriksaan.&lt;br /&gt;Pemeriksaan dilakukan selama 30 hari terhitung sejak tanggal 5 Maret sampai&lt;br /&gt;dengan 2 April 2007 berdasarkan Surat Tugas Kepala Perwakilan BPK RI di&lt;br /&gt;Yogyakarta Nomor 10/ST/ BPK/ XIV.Yk/ 02/ 2007&lt;br /&gt;7. Objek Pemeriksaan.&lt;br /&gt;Pemeriksaan dilakukan atas Laporan Keuangan Daerah Kabupaten Batang Tahun&lt;br /&gt;2006, meliputi Neraca Daerah per 31 Desember 2006 , Laporan Realisasi&lt;br /&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2006,&lt;br /&gt;Laporan Aliran Kas Tahun Anggaran 2006 dan Catatan atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;Kabupaten Batang Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 64&lt;br /&gt;8. Batasan Pemeriksaan&lt;br /&gt;Dalam rangka pelaksanaan salah satu tugas konstitusionalnya yaitu pemeriksaan&lt;br /&gt;atas Laporan Keuangan Daerah, Tim BPK-RI menghadapi batasan yaitu&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah belum memahami sepenuhnya sistem pembukuan berganda&lt;br /&gt;(double entry) dan dasar pencatatan accrual&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;LAPORAN ATAS KEPATUHAN&lt;br /&gt;DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH&lt;br /&gt;KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;UNTUK TAHUN ANGGARAN 2006&lt;br /&gt;DI&lt;br /&gt;BATANG&lt;br /&gt;AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA IV&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA&lt;br /&gt;Nomor : 97 a/ R/ XIV.Yk/ 05/ 2007&lt;br /&gt;Tanggal : 29 Mei 2007&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 1&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;Halaman&lt;br /&gt;DAFTAR ISI ……………………………………………………………. 1&lt;br /&gt;RESUME PEMERIKSAAN……………………………………………. 2&lt;br /&gt;TEMUAN KEPATUHAN…………………………………………………&lt;br /&gt;1. Bantuan Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah kepada Kabupaten&lt;br /&gt;Batang sebesar Rp3.030.000.000,00 tidak tercantum dalam LRA&lt;br /&gt;Tahun 2006 ………………………………………………………… 6&lt;br /&gt;2. Pendapatan Pajak Penerangan Jalan Tahun Anggaran 2006 belum&lt;br /&gt;diterima sebesar Rp1.100.179.430,00 dan Rekening Penerangan Jalan&lt;br /&gt;Umum belum dibayar sebesar Rp69.581.840,00 …………………… 9&lt;br /&gt;3. Bantuan Propinsi Jawa Tengah untuk Dinas Pendidikan Kabupaten&lt;br /&gt;Batang senilai Rp2.425.000.000,00 belum diakui pada Laporan&lt;br /&gt;Keuangan Daerah …………………………………………….…… 12&lt;br /&gt;4. Pemerintah Kabupaten Batang belum melakukan penilaian terhadap&lt;br /&gt;bantuan yang diterima dalam wujud barang ………………………… 14&lt;br /&gt;5. Penganggaran belanja daerah senilai Rp478.000.000,00 tidak tepat&lt;br /&gt;dan realisasi belanja senilai Rp4.397.727.000,00 tidak sesuai dengan&lt;br /&gt;kode rekeningnya ………………………………………….………….. 17&lt;br /&gt;6. Pengeluaran bantuan keuangan sebesar Rp1.537.307.800,00 belum&lt;br /&gt;dilaporkan penggunaannya …………………………………………… 21&lt;br /&gt;7. Penyesuaian harga (eskalasi) kontrak pekerjaan Tahun Anggaran 2005&lt;br /&gt;membebani keuangan daerah Tahun Anggaran 2006 ………………… 24&lt;br /&gt;8. Bantuan Keuangan kepada Instansi Vertikal tidak sesuai ketentuan ..... 26&lt;br /&gt;9. Pemerintah Kabupaten Batang belum sepenuhnya menindaklanjuti&lt;br /&gt;hasil pemeriksaan BPK-RI ……………………………………………. 29&lt;br /&gt;10. Pemberian Bantuan Keuangan kepada Partai Politik belum ditetapkan&lt;br /&gt;dengan Peraturan Daerah …………………………………………….. 32&lt;br /&gt;TANGGAPAN ENTITAS ATAS LAPORAN ATAS KEPATUHAN … 34&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 2&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;RESUME LAPORAN ATAS KEPATUHAN&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan Pasal 23 E Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 1945, pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Pasal&lt;br /&gt;56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, Pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun&lt;br /&gt;2006, BPK RI telah memeriksa Neraca Kabupaten Batang per 31 Desember 2006,&lt;br /&gt;Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung&lt;br /&gt;jawab Pemerintah Kabupaten Batang. Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan&lt;br /&gt;pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.&lt;br /&gt;Ketidakpatuhan kepada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku&lt;br /&gt;merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Batang. Sebagai bagian dalam&lt;br /&gt;perolehan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah&lt;br /&gt;saji material, BPK RI melakukan pengujian kepatuhan terhadap ketentuan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatuhan yang berkaitan dengan pelaporan&lt;br /&gt;keuangan. Namun pemeriksaan yang BPK RI lakukan tidak dirancang khusus untuk&lt;br /&gt;menemukan ketidakpatuhan pada ketentuan peraturan perundang-undangan, dan BPK RI&lt;br /&gt;tidak mengeluarkan opini atas laporan kepatuhan. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara&lt;br /&gt;(SPKN) mengharuskan BPK RI untuk melaporkan kepada pihak berwenang yang terkait&lt;br /&gt;apabila terjadi ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, kecurangan serta&lt;br /&gt;ketidakpatutan, apabila dalam melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan&lt;br /&gt;menemukan hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 3&lt;br /&gt;Atas pemeriksaan tersebut, BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan&lt;br /&gt;Keuangan atas LKPD Kabupaten Batang tahun 2006 yang memuat opini Wajar dengan&lt;br /&gt;Pengecualian dengan nomor 97/ R/ XIV.Yk/ 05/ 2007 tanggal 29 Mei 2007 dan Laporan&lt;br /&gt;atas Pengendalian Intern dalam kerangka pemeriksaan laporan LKPD dengan nomor 97b/&lt;br /&gt;R/ XIV.Yk/ 05/ 2007 tanggal 29 Mei 2007.&lt;br /&gt;Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Batang tersebut&lt;br /&gt;dilakukan berdasarkan pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang&lt;br /&gt;ditetapkan oleh BPK RI. Standar tersebut mengharuskan BPK RI untuk merencanakan,&lt;br /&gt;mengumpulkan bukti yang cukup dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh&lt;br /&gt;keyakinan yang memadai sebagai standar untuk memberikan pendapat. Standar tersebut&lt;br /&gt;juga mengharuskan BPK RI untuk mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan, kecurangan serta ketidakpatutan dalam pelaporan keuangan.&lt;br /&gt;Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,&lt;br /&gt;kecurangan serta ketidakpatutan dalam pelaporan keuangan yang ditemukan BPK RI&lt;br /&gt;adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Bantuan Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah kepada Kabupaten Batang sebesar&lt;br /&gt;Rp3.030.000.000,00 tidak tercantum dalam LRA Tahun 2006.&lt;br /&gt;2. Pendapatan Pajak Penerangan Jalan Tahun Anggaran 2006 belum diterima sebesar&lt;br /&gt;Rp1.100.179.430,00 dan Rekening Penerangan Jalan Umum belum dibayar sebesar&lt;br /&gt;Rp69.581.840,00.&lt;br /&gt;3. Bantuan Propinsi Jawa Tengah untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Batang senilai&lt;br /&gt;Rp2.425.000.000,00 belum diakui pada Laporan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;4. Pemerintah Kabupaten Batang belum melakukan penilaian terhadap bantuan yang&lt;br /&gt;diterima dalam wujud barang.&lt;br /&gt;5. Penganggaran belanja daerah senilai Rp478.000.000,00 tidak tepat dan realisasi&lt;br /&gt;belanja senilai Rp4.397.727.000,00 tidak sesuai dengan kode rekeningnya.&lt;br /&gt;6. Pengeluaran bantuan keuangan sebesar Rp1.537.307.800,00 belum dilaporkan&lt;br /&gt;penggunaannya.&lt;br /&gt;7. Penyesuaian harga (eskalasi) kontrak pekerjaan Tahun Anggaran 2005 membebani&lt;br /&gt;keuangan daerah Tahun Anggaran 2006.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 4&lt;br /&gt;8. Bantuan Keuangan kepada Instansi Vertikal tidak sesuai ketentuan.&lt;br /&gt;9. Pemerintah Kabupaten Batang belum sepenuhnya menindaklanjuti hasil pemeriksaan&lt;br /&gt;BPK-RI&lt;br /&gt;10. Pemberian Bantuan Keuangan kepada Partai Politik belum ditetapkan dengan&lt;br /&gt;Peraturan Daerah&lt;br /&gt;Berdasarkan temuan tersebut, kami menyarankan Bupati Batang agar:&lt;br /&gt;1. Memerintahkan Kepala Bagian Keuangan supaya berkoordinasi dengan Pemerintah&lt;br /&gt;Propinsi untuk mengupayakan pengelolaan dana bantuan dari Propinsi Jawa Tengah&lt;br /&gt;melalui rekening Kas Daerah&lt;br /&gt;2. Memerintahkan Kepala Dinas Pendapatan Daerah untuk membayar kewajiban ke&lt;br /&gt;PLN sebesar Rp69.581.840,00 dan menagih kekurangan PPJ sebesar&lt;br /&gt;Rp1.100.179.430,00.&lt;br /&gt;3. Memerintahkan Kepala Bagian Keuangan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan&lt;br /&gt;untuk mengiventarisir barang-barang tersebut dan mengakui dalam Neraca&lt;br /&gt;4. Memerintahkan Kepala Bagian Keuangan untuk berkoordinasi dengan satuan kerja&lt;br /&gt;penerima barang untuk melakukan penilaian terhadap barang-barang yang diterima&lt;br /&gt;dan mengakui dalam neraca.&lt;br /&gt;5. Menetapkan kebijakan akuntansi yang didalamnya mengatur penilaian asset yang&lt;br /&gt;berasal dari bantuan.&lt;br /&gt;6. Memerintahkan Tim Anggaran dan Pengguna Anggaran agar mematuhi ketentuan&lt;br /&gt;yang berlaku.&lt;br /&gt;7. Memerintahkan Kepala Bagian Pemerintahan untuk meminta laporan&lt;br /&gt;pertanggungjawaban penggunaan bantuan rehab balai desa kepada Kepala Desa&lt;br /&gt;penerima bantuan yang belum menyampaikan laporannya&lt;br /&gt;8. Memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan untuk meminta laporan&lt;br /&gt;pertanggungjawaban pengguna bantuan kepada Dewan Pendidikan.&lt;br /&gt;9. Menegur Kepala Dinas PU dan Tim Anggaran yang telah mengusulkan,&lt;br /&gt;menganggarkan dan merealisasikan biaya eskalasi kontrak tahun 2005 ke dalam&lt;br /&gt;anggaran tahun 2006.&lt;br /&gt;10. Menghentikan bantuan keuangan kepada Instansi Vertikal.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 5&lt;br /&gt;11. Memerintahkan pihak-pihak yang terkait agar menyelesaikan tindak lanjut hasil&lt;br /&gt;pemeriksaan BPK-RI&lt;br /&gt;12. Memerintahkan Kepala Badan Kesbangtiblinmas untuk mengusulkan Raperda&lt;br /&gt;Bantuan Keuangan kepada Partai Politik kepada Bupati Batang&lt;br /&gt;Secara lebih rinci akan dijelaskan pada bagian Temuan Pemeriksaan atas Kepatuhan.&lt;br /&gt;Yogyakarta, 29 Mei 2007&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;Perwakilan BPK RI di Yogyakarta&lt;br /&gt;Penanggung Jawab Pemeriksaan&lt;br /&gt;Ana Sri Yuni, SE Ak, MM&lt;br /&gt;Akuntan, Register Negara No D-15.521&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 6&lt;br /&gt;TEMUAN KEPATUHAN&lt;br /&gt;1. Bantuan Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah kepada Kabupaten Batang sebesar&lt;br /&gt;Rp3.030.000.000,00 tidak tercantum dalam LRA Tahun 2006&lt;br /&gt;Dana Bantuan Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu sumber&lt;br /&gt;pendapatan Pemerintah Kabupaten Batang. Sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan&lt;br /&gt;Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Batang Tahun Anggaran 2006 dianggarkan Bantuan&lt;br /&gt;Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah sebesar Rp4.506.036.000,00 dengan realisasi&lt;br /&gt;sebesar Rp4.513.036.000,00 atau 100,16% dari anggaran yang ditetapkan.&lt;br /&gt;Alokasi Bantuan Keuangan dari Propinsi sebesar Rp 4.513.036.000,00 adalah&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;No Uraian Jumlah (Rp)&lt;br /&gt;1 Bantuan pemugaran rumah dan lingkungan pemukiman 100.000.000,00&lt;br /&gt;2 Bantuan pembangunan jaringan listrik tenaga surya di&lt;br /&gt;pedesaan&lt;br /&gt;400.000.000,00&lt;br /&gt;3 Pembangunan lapangan olahraga desa Sambong 200.000.000,00&lt;br /&gt;4 Bantuan peningkatan dan pembangunan perikanan&lt;br /&gt;lengkap&lt;br /&gt;400.000.000,00&lt;br /&gt;5 Bantuan saran dan prasarana argopolitan 250.000.000,00&lt;br /&gt;6 Bantuan revitalisasi pertanian, peternakan dan kehutanan 100.000.000,00&lt;br /&gt;7 Bantuan penyusunan profil daerah 50.000.000,00&lt;br /&gt;8 Rehabilitasi pasar buah dan sayur 850.000.000,00&lt;br /&gt;9 Bantuan normalisasi jaringan dan draniase Kalimati 2.000.000.000,00&lt;br /&gt;10 Bantuan TMMD 156.036.000,00&lt;br /&gt;11 Bantuan air bersih akibat kekeringan 7.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 4.513.036.000,00&lt;br /&gt;Realisasi Bantuan Keuangan dari Propinsi sebesar Rp4.513.036.000,00 tersebut&lt;br /&gt;diterima melalui Rekening Kas Daerah (Rekening Nomor 1-032-00072-1) dan telah&lt;br /&gt;dicatat dalam APBD Tahun Anggaran 2006 baik pada pendapatan maupun pada belanja&lt;br /&gt;daerah.&lt;br /&gt;Pemeriksaan selanjutnya terhadap dokumen pendukung realisasi Bantuan&lt;br /&gt;Keuangan dari Propinsi berupa Keputusan Gubernur Jawa Tengah tentang Penetapan&lt;br /&gt;Bantuan dan Keputusan Sekretaris Daerah tentang alokasi bantuan, menunjukkan bahwa&lt;br /&gt;disamping bantuan sebesar Rp4.513.036.000,00 tersebut terdapat bantuan senilai&lt;br /&gt;Rp3.030.000.000,00 yang direalisasikan tidak melalui rekening Kas Daerah namun&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 7&lt;br /&gt;melalui rekening Pemerintah Kabupaten Batang di luar Kas Daerah pada PT Bank BPD&lt;br /&gt;Jawa Tengah Cabang Batang Nomor 2-032-08861-0. Penerimaan bantuan dan realisasi&lt;br /&gt;bantuan tersebut tidak dilaporkan sebagai transaksi pendapatan maupun belanja daerah&lt;br /&gt;pada Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran 2006. Sedangkan pada rekening&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang yang digunakan sebagai penampung tersebut terdapat&lt;br /&gt;saldo bunga sebesar Rp101.440,00. Saldo ini sudah disetor ke Kas Daerah pada tanggal&lt;br /&gt;21 April 2007.&lt;br /&gt;Transaksi pendapatan maupun belanja dana bantuan pada rekening Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang di luar Kas Daerah sebesar Rp3.030.000.000,00 adalah sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;No Uraian Jumlah (Rp)&lt;br /&gt;1. Bantuan biaya untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca&lt;br /&gt;bencana alam sebesar Rp1.300.000.000,00, dengan rincian sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;a&lt;br /&gt;b&lt;br /&gt;c&lt;br /&gt;Perbaikan jembatan sungai Pucung dan perbaikan lingkungan&lt;br /&gt;akibat banjir&lt;br /&gt;Perbaikan gedung SD Negeri Simbung Desa 02 dan perbaikan&lt;br /&gt;SD Negeri Clapar 1&lt;br /&gt;Sarana dan prasarana pendidikan (blockgrant) perbaikan gedung&lt;br /&gt;SD/MI dan perbaikan gedung SMP/MTs&lt;br /&gt;170.000.000,00&lt;br /&gt;120.000.000,00&lt;br /&gt;1.010.000.000,00&lt;br /&gt;2 Bantuan Pengembangan dan Peningkatan Pendidikan sebesar&lt;br /&gt;Rp525.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;a&lt;br /&gt;b&lt;br /&gt;c&lt;br /&gt;d&lt;br /&gt;e&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi gedung SD Negeri Denasri Wetan 02&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi gedung SD Negeri Proyonangan 02&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi gedung SD Negeri Rejosari 03&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi gedung SD Negeri Kalisari&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi gedung SD Negeri Siwatu&lt;br /&gt;105.000.000,00&lt;br /&gt;105.000.000,00&lt;br /&gt;105.000.000,00&lt;br /&gt;105.000.000,00&lt;br /&gt;105.000.000,00&lt;br /&gt;3 Bantuan Pengembangan dan Peningkatan Pendidikan sebesar&lt;br /&gt;Rp670.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;a&lt;br /&gt;b&lt;br /&gt;c&lt;br /&gt;d&lt;br /&gt;e&lt;br /&gt;f&lt;br /&gt;g&lt;br /&gt;h&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 5 gedung SD Negeri&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 2 gedung MI Negeri&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 2 gedung SMP Negeri&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 1 gedung MTs&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 1 gedung SMA Negeri&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 1 gedung SMK&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 1 gedung TPQ Negeri&lt;br /&gt;Bantuan rehabilitasi 1 gedung Roudlotul Athfal&lt;br /&gt;250.000.000,00&lt;br /&gt;100.000.000,00&lt;br /&gt;100.000.000,00&lt;br /&gt;100.000.000,00&lt;br /&gt;50.000.000,00&lt;br /&gt;50.000.000,00&lt;br /&gt;10.000.000,00&lt;br /&gt;10.000.000,00&lt;br /&gt;4 Bantuan Pengembangan dan Peningkatan Pendidikan sebesar&lt;br /&gt;Rp100.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;a Bantuan Rehabilitasi Gedung SMP N 2 Gringsing 60.000.000,00&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 8&lt;br /&gt;No Uraian Jumlah (Rp)&lt;br /&gt;b Bantuan Rehabilitasi Gedung Madrasah Ibtidaiyah Rowosari 40.000.000,00&lt;br /&gt;5 Bantuan Pendidikan sebesar 435.000.000,00 dengan rincian sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;a Bantuan Rehabilitasi Gedung 3 SD N 140.000.000,00&lt;br /&gt;b Bantuan Rehabilitasi Gedung 5 MI 175.000.000,00&lt;br /&gt;c Bantuan Rehabilitasi Gedung 1 MTs 70.000.000,00&lt;br /&gt;d Bantuan Rehabilitasi Gedung 1 SMP 50.000.000,00&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005&lt;br /&gt;tanggal 9 Desember 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada :&lt;br /&gt;a. Pasal 17 ayat (1) disebutkan bahwa semua penerimaan dan pengeluaran daerah baik&lt;br /&gt;dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa dianggarkan dalam APBD.&lt;br /&gt;b. Pasal 57 ayat (1) disebutkan bahwa semua penerimaan daerah dilakukan melalui&lt;br /&gt;rekening Kas Umum Daerah.&lt;br /&gt;Hal tersebut mengakibatkan Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;tidak menggambarkan nilai yang sebenarnya yaitu penerimaan dan belanja dari Bantuan&lt;br /&gt;Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah kurang dicatat sebesar Rp3.030.000.000,00.&lt;br /&gt;Hal tersebut disebabkan Pemerintah Kabupaten Batang mengikuti Peraturan&lt;br /&gt;Gubernur Jawa Tengah Nomor : 16 Tahun 2006 tanggal 27 Februari 2006 Tentang&lt;br /&gt;Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Pengembangan dan Peningkatan Pendidikan di Propinsi&lt;br /&gt;Jawa Tengah Tahun Anggaran 2006 yang tidak sesuai dengan ketentuan yang lebih&lt;br /&gt;tinggi.&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan kepada Kepala Bagian Keuangan supaya&lt;br /&gt;berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi untuk mengupayakan pengelolaan dana&lt;br /&gt;bantuan dari Propinsi Jawa Tengah melalui rekening Kas Daerah.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 9&lt;br /&gt;2. Pendapatan Pajak Penerangan Jalan Tahun Anggaran 2006 belum diterima sebesar&lt;br /&gt;Rp1.100.179.430,00 dan Rekening Penerangan Jalan Umum belum dibayar sebesar&lt;br /&gt;Rp69.581.840,00&lt;br /&gt;Pemungutan dan penyetoran pendapatan PPJ serta pembayaran rekening listrik&lt;br /&gt;diatur dengan Naskah Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Batang dan PT PLN&lt;br /&gt;(Pesero) PJ. Pekalongan UPJ Batang&lt;br /&gt;Nomor : 973/55/2004&lt;br /&gt;Nomor : 026.PJ/060/APJ.PKL/2004 tanggal 15&lt;br /&gt;Maret 2004.&lt;br /&gt;Berdasarkan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun&lt;br /&gt;Anggaran 2006, diketahui bahwa Pendapatan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dari PLN&lt;br /&gt;dengan kode rekening 1.01.0105.1.01.05.01 dianggarkan sebesar Rp.4.643.000.000,00&lt;br /&gt;dengan realisasi sebesar Rp.6.225.504.525,00 atau 134,08%.&lt;br /&gt;Pembayaran rekening PPJ dilakukan dengan cara kompensasi, yaitu PT PLN&lt;br /&gt;(Pesero) menyetor jumlah hasil Pendapatan PPJ secara bruto yang merupakan hak&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten dan dalam waktu bersamaan Pemerintah Kabupaten menerbitkan&lt;br /&gt;SPMU untuk melunasi Rekening PPJ kepada PT PLN (Pesero).&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan atas Daftar Realisasi Penerimaan PPJ Tahun 2006 pada&lt;br /&gt;Dinas Pendapatan Daerah dan Monitor Hasil Pungut PPJ pada Rekening PPJ Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang yang dibuat oleh PT PLN (Perseo) APJ. Pekalongan UPJ Batang&lt;br /&gt;diketahui terdapat Kurang Bayar RPJU senilai Rp69.581.840,00 dan hasil pendapatan PPJ&lt;br /&gt;Tahun 2006 yang belum disetorkan PT PLN (Persero) APJ. Pekalongan UPJ Batang&lt;br /&gt;kepada Pemerintah Kabupaten Batang sebesar Rp1.030.597.590,00, dengan perhitungan&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;A. Rekening Penerangan Jalan Umum (RPJU)&lt;br /&gt;Rekening Penerangan Jalan Umum (RPJU) Jumlah (Rp) Jumlah (Rp)&lt;br /&gt;1 Tagihan Rekening PJU Tahun 2006 terdiri dari&lt;br /&gt;Sisa tagihan RPJU tahun 2005 1.139.489.130,00&lt;br /&gt;Tagihan RPJU tahun 2006 5.400.411.215,00&lt;br /&gt;Jumlah 6.539.900.345,00&lt;br /&gt;Realisasi Pembayaran RPJU Tahun 2006 terdiri&lt;br /&gt;dari&lt;br /&gt;Bayar sisa RPJU Tahun 2005 1.139.489.130,00&lt;br /&gt;Bayar RPJU Tahun 2006 5.330.829.375,00&lt;br /&gt;Jumlah 6.470.318.505,00&lt;br /&gt;Kurang bayar RPJU Th 2006 69.581.840,00&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 10&lt;br /&gt;Dari tabel di atas diketahui bahwa Pemerintah Kabupaten Batang kurang&lt;br /&gt;membayar RPJU sebesar Rp69.581.840,00.&lt;br /&gt;B. Penerimaan PPJ&lt;br /&gt;PPJ Setor ke Kas Daerah&lt;br /&gt;No Bulan Jumlah (Rp) Bulan Ket.&lt;br /&gt;1 Januari 523.412.535,00 Januari&lt;br /&gt;2 Februari 477.597.455,00 Februari 523.412.535,00&lt;br /&gt;3 Maret 494.382.375,00 Maret&lt;br /&gt;4 April 502.139.850,00 April&lt;br /&gt;5 Mei 523.631.070,00 Mei 502.139.850,00&lt;br /&gt;6 Juni 522.025.255,00 Juni&lt;br /&gt;7 Juli 550.395.270,00 Juli 477.597.455,00&lt;br /&gt;494.382.375,00&lt;br /&gt;8 Agustus 540.808.535,00 Agustus 523.631.070,00&lt;br /&gt;9 September 540.460.065,00 September 2.153.689.125,00 Juni s.d Sept&lt;br /&gt;10 Oktober 534.585.835,00 Oktober&lt;br /&gt;11 November 568.127.265,00 November&lt;br /&gt;12 Desember 532.052.165,00 Desember 534.585.835,00&lt;br /&gt;6.309.617.675,00 5.209.438.245,00&lt;br /&gt;PPJ belum disetor 1.100.179.430,00&lt;br /&gt;Dari tabel di atas diketahui bahwa pendapatan PPJ Tahun 2006 yang belum diterima&lt;br /&gt;Kas Daerah Pemerintah Kabupaten Batang sebesar Rp1.100.179.430,00&lt;br /&gt;(Rp6.309.617.675,00 – Rp5.209.438.245,00). Selain itu penyetoran yang dilakukan&lt;br /&gt;PT PLN ke Kas Daerah tidak sesuai dengan ketentuan yang disepakati yakni paling&lt;br /&gt;lambat tanggal 20 setiap bulan setelah bulan pemungutan, misalnya penarikan PPJ&lt;br /&gt;bulan Februari dan Maret disetor pada bulan Juli.&lt;br /&gt;Sampai dengan saat pemeriksaan tanggal 30 Maret 2007, pendapatan PPJ tersebut&lt;br /&gt;belum disetor oleh PT PLN (Persero) APJ. Pekalongan UPJ. Batang.&lt;br /&gt;Terhadap kekurangan pembayaran RPJU sebesar Rp69.581.840,00 dan&lt;br /&gt;kekurangan penerimaan pendapatan PPJ sebesar Rp1.100.179.430,00 sudah diusulkan&lt;br /&gt;sebagai koreksi Utang dan Piutang pada Neraca per 31 Desember 2006.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :&lt;br /&gt;a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang&lt;br /&gt;Pengelolaan Keuangan Daerah, pada Bab XI pasal 114 ayat (1) menyatakan bahwa&lt;br /&gt;setiap pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan, belanja dan kekayaan&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 11&lt;br /&gt;daerah wajib mengusahakan agar setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya&lt;br /&gt;dengan tepat waktu.&lt;br /&gt;b. Naskah kerjasama Pemerintah Kabupaten Batang dan PT PLN (Persero) APJ&lt;br /&gt;Pekalongan&lt;br /&gt;Nomor : 973/55/2004&lt;br /&gt;Nomor : 026.PJ/060/APJ.PKL/2004 tanggal 15 Maret 2004 tentang&lt;br /&gt;Pemungutan dan Penyetoran Pajak Penerangan Jalan dan Pembayaran Rekening&lt;br /&gt;Listrik oleh Pemerintah Kabupaten Batang pada :&lt;br /&gt;1) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Batang berhak&lt;br /&gt;menerima PPJ yang telah dipungut oleh PT PLN (Persero)&lt;br /&gt;2) Pasal 5 ayat (4) disebutkan bahwa PT PLN (Persero) wajib menyetor hasil&lt;br /&gt;pemungutan PPJ ke Kas Daerah paling lambat tanggal 20 setiap bulan setelah&lt;br /&gt;bulan pemungutan.&lt;br /&gt;Hal tersebut mengakibatkan Penerimaan Daerah dari PPJ sebesar&lt;br /&gt;Rp1.100.179.430,00 tertunda dan tidak dapat segera dimanfaatkan daerah.&lt;br /&gt;Hal tersebut disebabkan kurang intensifnya koordinasi Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang dan PT PLN (Persero) APJ Pekalongan UPJ Batang mengenai hasil pendapatan&lt;br /&gt;PPJ, rekening PJU dan pembayaran rekening PJU.&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan Kepala Dinas Pendapatan Daerah untuk&lt;br /&gt;membayar kewajiban ke PLN sebesar Rp69.581.840,00 dan menagih kekurangan PPJ&lt;br /&gt;sebesar Rp1.100.179.430,00.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 12&lt;br /&gt;3. Bantuan Propinsi Jawa Tengah untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Batang senilai&lt;br /&gt;Rp2.425.000.000,00 belum diakui pada Laporan Keuangan Daerah&lt;br /&gt;Pada Tahun 2006 Dinas Pendidikan Kabupaten Batang menerima Subsidi Bantuan&lt;br /&gt;Imbal Swadaya (Block Grant) dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah&lt;br /&gt;Propinsi Jawa Tengah senilai Rp2.425.000.000,00. Pemberian bantuan ini didasarkan&lt;br /&gt;pada Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah&lt;br /&gt;dan diberikan secara tunai dan langsung diterima oleh masing-masing sekolah penerima.&lt;br /&gt;Penggunaan bantuan ini adalah untuk pengadaan alat peraga, rehab gedung, pembelian&lt;br /&gt;mebel, komputer, alat laboratorium, lab bahasa, alat bengkel dan buku pelajaran, sesuai&lt;br /&gt;dengan masing-masing Surat Keputusan yang mendasarinya dengan rincian penggunaan&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;No Uraian Jumlah&lt;br /&gt;1 Rehab Gedung SD/MI 1.150.000.000,00&lt;br /&gt;2 Rehab Gedung SMP/MTs 200.000.000,00&lt;br /&gt;3 Meubelair Ruang Kelas SD/MI 310.000.000,00&lt;br /&gt;4 Pembangunan dan Meubelair R. Perpustakaan 120.000.000,00&lt;br /&gt;5 Komputer dan Software Perpustakaan Sekolah 105.000.000,00&lt;br /&gt;6 Alat Lab SMA/MA 240.000.000,00&lt;br /&gt;7 Alat Bengkel SMA 150.000.000,00&lt;br /&gt;8 Rehab Gedung SMA/SMK/MA 120.000.000,00&lt;br /&gt;9 Buku Pelajaran/Referensi SMA/MA 30.000.000,00&lt;br /&gt;Jumlah 2.425.000.000,00&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa pada Bagian keuangan tidak tersedia data&lt;br /&gt;yang lengkap mengenai realisasi pelaksanaan kegiatan dari bantuan tersebut, sehingga&lt;br /&gt;atas asset yang dihasilkan dari bantuan tersebut tidak diakomodir dalam Laporan&lt;br /&gt;Keuangan Tahun 2006. Sampai dengan pemeriksaan berakhir, Tim tidak mendapatkan&lt;br /&gt;data yang lengkap mengenai realisasi penggunaan bantuan tersebut serta asset yang&lt;br /&gt;dihasilkan, sehingga Tim tidak mengusulkan koreksi atas transaksi tersebut.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13&lt;br /&gt;Tahun 2006 pada :&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 13&lt;br /&gt;a. Pasal 28 menyebutkan bahwa Kelompok Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah&lt;br /&gt;dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup: a. hibah berasal dari pemerintah,&lt;br /&gt;pemerintah daerah lainnya, badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, kelompok&lt;br /&gt;masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat.&lt;br /&gt;b. Pasal 29 menyebutkan hibah sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 huruf a adalah&lt;br /&gt;penerimaan daerah yang berasal dari pemerintah negara asing, badan/lembaga asing,&lt;br /&gt;badan/lembaga internasional, pemerintah, badan/lembaga dalam negeri atau&lt;br /&gt;perorangan, baik dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan jasa termasuk&lt;br /&gt;tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut mengakibatkan asset dari pelaksanaan kegiatan atas bantuan&lt;br /&gt;tersebut tidak diakomodir dalam Neraca.&lt;br /&gt;Permasalahan ini disebabkan kurangnya koordinasi antara Dinas Pendidikan&lt;br /&gt;Kabupaten dengan Bagian Keuangan.&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan Kepala Bagian Keuangan berkoordinasi&lt;br /&gt;dengan Dinas Pendidikan untuk mengiventarisir barang-barang tersebut dan mengakui&lt;br /&gt;dalam Neraca.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 14&lt;br /&gt;4. Pemerintah Kabupaten Batang belum melakukan penilaian terhadap bantuan&lt;br /&gt;yang diterima dalam wujud barang&lt;br /&gt;Pada Tahun Anggaran 2006 Badan Kependudukan, KB dan Catatan Sipil serta&lt;br /&gt;Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial menerima bantuan yang berujud barang,&lt;br /&gt;dengan uraian sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Dinas Kependudukan, KB dan Catatan Sipil.&lt;br /&gt;Berdasarkan Surat dari Departemen Dalam Negeri Nomor 470/3390/MD tanggal 8&lt;br /&gt;November 2006 Tentang Bantuan Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Database&lt;br /&gt;Kependudukan Kabupaten/Kota, Dinas Kependudukan, KB dan Catatan Sipil&lt;br /&gt;Kabupaten Batang menerima bantuan dari Direktorat Jenderal Administrasi&lt;br /&gt;Kependudukan berupa:&lt;br /&gt;No Jenis Barang Jumlah&lt;br /&gt;1 Server Komputer 1 unit&lt;br /&gt;2 Personal Computer (PC) 8 unit&lt;br /&gt;3 Printer Dot matrix 2 unit&lt;br /&gt;4 Printer Inkjet 1 unit&lt;br /&gt;5 Camera Digital 1 unit&lt;br /&gt;6 UPS untuk Server 1 unit&lt;br /&gt;7 UPS untuk PC 8 unit&lt;br /&gt;8 LAN 1 unit&lt;br /&gt;9 Scanner 1 unit&lt;br /&gt;10 Licensi Software Pendukung SIAK (Sistem&lt;br /&gt;Informasi Administrasi Kependudukan)&lt;br /&gt;1 paket&lt;br /&gt;11 Instalasi Perangkat 1 paket&lt;br /&gt;12 Genset 1 unit&lt;br /&gt;13 AC 1 unit&lt;br /&gt;14 Mesin Potong KTP 1 unit&lt;br /&gt;b. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial&lt;br /&gt;Pada Tahun 2006 Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial menerima bantuan&lt;br /&gt;berupa barang sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Kendaraan Roda 2 type Bebek (Supra Fit) sebanyak 11 unit.&lt;br /&gt;Barang ini diterima berdasarkan Berita Acara Penyerahan Barang dari Direktorat&lt;br /&gt;Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI kepada Dinas&lt;br /&gt;Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial pada tanggal 11 Desember 2006.&lt;br /&gt;2. Kendaraan Roda 2 (Suzuki Thunder) sebanyak 6 unit.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 15&lt;br /&gt;Barang ini diterima berdasarkan Tanda Terima Barang tertanggal 6 Desember&lt;br /&gt;2006 dari Departemen Kesehatan RI melalui PT Indomobil Niaga International.&lt;br /&gt;Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa Badan Kependudukan, KB dan Catatan&lt;br /&gt;Sipil serta Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial sebagai penerima barang tidak&lt;br /&gt;memiliki data yang lengkap mengenai bukti kepemilikan dan nilai rupiah barang. Oleh&lt;br /&gt;karena itu barang-barang tersebut belum diakui dalam Laporan Keuangan Daerah Tahun&lt;br /&gt;2006. Selain itu Pemerintah Kabupaten Batang juga belum mempunyai kebijakan&lt;br /&gt;akuntasi sebagai pedoman untuk menilai dan mengakui aset tetap yang berasal dari&lt;br /&gt;bantuan ke dalam neraca.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:&lt;br /&gt;a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan&lt;br /&gt;Negara, pasal 5 angka (1) Satuan hitung dalam penyusunan, penetapan, dan&lt;br /&gt;pertanggungjawaban APBN/APBD adalah mata uang rupiah.&lt;br /&gt;b. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Pokok-pokok&lt;br /&gt;Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 90, pada :&lt;br /&gt;- ayat 1, Aset yang berasal dari pihak ketiga berupa donasi, hibah, bantuan,&lt;br /&gt;sumbangan, kewajiban dan tukar guling yang menjadi milik pemerintah daerah&lt;br /&gt;dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima.&lt;br /&gt;- Ayat 2, Aset sebagaimana dimaksud ayat 1 diukur berdasarkan nilai wajar dari&lt;br /&gt;harga pasar atau harga gantinya.&lt;br /&gt;Masalah tersebut mengakibatkan aset berupa peralatan operasionalisasi SIAK dan&lt;br /&gt;kendaraan tidak tercantum dalam neraca 2006.&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena :&lt;br /&gt;a. Kurangnya koordinasi antara Bagian Keuangan dengan Satuan Kerja penerima&lt;br /&gt;bantuan mengenai status barang dan bukti kepemilikan serta nilai barang-barang&lt;br /&gt;yang diterima.&lt;br /&gt;b. Belum ditetapkannya kebijakan akuntansi yang mengatur tentang penilaian asset dari&lt;br /&gt;bantuan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 16&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar:&lt;br /&gt;a. Memerintahkan Kepala Bagian Keuangan untuk berkoordinasi dengan satuan kerja&lt;br /&gt;penerima barang untuk melakukan penilaian terhadap barang-barang yang diterima&lt;br /&gt;dan mengakui dalam neraca.&lt;br /&gt;b. Menetapkan kebijakan akuntansi yang didalamnya mengatur penilaian asset yang&lt;br /&gt;berasal dari bantuan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 17&lt;br /&gt;5. Penganggaran belanja daerah senilai Rp478.000.000,00 tidak tepat dan realisasi&lt;br /&gt;belanja senilai Rp4.397.727.000,00 tidak sesuai dengan kode rekeningnya&lt;br /&gt;Pemeriksaan secara uji petik terhadap Surat Pertanggungjawaban pada beberapa&lt;br /&gt;Satuan Kerja diketahui terdapat beberapa penganggaran yang kurang tepat dan&lt;br /&gt;pengeluaran yang tidak sesuai dengan peruntukkannya, dengan penjelasan sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;1. Terdapat penganggaran yang tidak tepat.&lt;br /&gt;a. Pada Dinas Perikanan dan Kelautan terdapat realisasi Biaya Pemeliharaan Alur&lt;br /&gt;Sungai Sambong sebesar Rp98.000.000,00. Biaya ini terdiri dari biaya kontrak&lt;br /&gt;pekerjaan sebesar Rp93.100.000,00, survey dan desain sebesar Rp410.000,00 dan&lt;br /&gt;biaya administrasi senilai Rp4.490.000,00. Belanja ini dianggarkan pada Belanja&lt;br /&gt;Modal.&lt;br /&gt;Biaya Pemeliharaan Alur Sungai Sambong tidak menghasilkan/menambah nilai&lt;br /&gt;aset sehingga penganggaran belanja tersebut pada Belanja Modal tidak tepat,&lt;br /&gt;seharusnya dianggarkan pada Belanja Operasional dan Pemeliharaan.&lt;br /&gt;b. Pada Dinas Pertanian terdapat Kegiatan Pengembangan Pertanian/ Penangkaran&lt;br /&gt;Bibit/ Benih Perkebunan. Pada kegiatan ini terdapat realisasi Bantuan Pinjaman&lt;br /&gt;Modal untuk kelompok-kelompok tani senilai Rp220.000.000,00. Belanja ini&lt;br /&gt;dianggarkan pada Belanja Modal&lt;br /&gt;Menurut Surat Perjanjian antara Kelompok Tani dan Dinas Pertanian diketahui&lt;br /&gt;bahwa pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu 1 tahun,&lt;br /&gt;sehingga dapat disimpulkan bahwa belanja tersebut adalah pinjaman. Oleh karena&lt;br /&gt;itu penganggaran belanja tersebut ke dalam Belanja Modal tidak tepat, seharusnya&lt;br /&gt;dianggarkan pada Belanja Operasional dan Pemeliharaan.&lt;br /&gt;c. Pada Kantor Koperasi dan PKM terdapat Kegiatan Pengguliran Dana kepada&lt;br /&gt;Koperasi dan UKM. Pada kegiatan ini terdapat realisasi pemberian pinjaman dana&lt;br /&gt;bergulir kepada Koperasi dan UKM senilai Rp160.000.000,00. Belanja ini&lt;br /&gt;dianggarkan pada Belanja Barang dan Jasa.&lt;br /&gt;Menurut Surat Perjanjian Antara peminjam dan Kantor Koperasi dan UKM&lt;br /&gt;diketahui bahwa pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu 12&lt;br /&gt;bulan dengan dikenai bunga 8 % per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa belanja&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 18&lt;br /&gt;tersebut sebenarnya adalah pinjaman sehingga penganggaran dalam Belanja&lt;br /&gt;Barang dan Jasa tidak tepat, seharusnya dianggarkan pada Belanja Operasional&lt;br /&gt;dan Pemeliharaan.&lt;br /&gt;2. Realisasi belanja tidak sesuai peruntukannya.&lt;br /&gt;a. Pada Dinas Perikanan dan Kelautan dan Dinas Pertanian terdapat pemberian&lt;br /&gt;Bantuan untuk Yayasan/ Hari Ulang Tahun/ Olah Raga yang dikeluarkan melalui&lt;br /&gt;rekening Belanja Barang dan Jasa masing-masing sebesar Rp10.334.000,00 dan&lt;br /&gt;Rp3.000.000,00.&lt;br /&gt;Pengeluaran melalui Belanja Barang dan Jasa digunakan untuk pengeluaran&lt;br /&gt;pembelian/pengadaan barang dan pemakaian jasa dalam melaksanakan kegiatan&lt;br /&gt;pemerintah, sehingga pemberian bantuan melalui rekening ini tidak tepat,&lt;br /&gt;seharusnya dianggarkan pada Belanja Bagi hasil dan Bantuan Keuangan.&lt;br /&gt;b. Pengadaan barang yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 1 tahun yang&lt;br /&gt;direalisasikan melalui Belanja Barang dan Jasa yaitu :&lt;br /&gt;- Bagian Lingkungan Hidup Sekretariat Daerah melakukan pembelian 1 bh&lt;br /&gt;Kamera Digital senilai Rp5.000.000,00.&lt;br /&gt;- Dinas Perikanan dan Kelautan melakukan pembelian 2 buah Kamera Digital&lt;br /&gt;senilai Rp2.800.000,00 dan Rp3.093.000,00&lt;br /&gt;- Dinas Pertanian melakukan pembelian Tustel senilai Rp2.500.000,00.&lt;br /&gt;Belanja Barang dan Jasa digunakan untuk pembelian barang yang nilai&lt;br /&gt;manfaatnya kurang dari 12 bulan sehingga pembelian aset melalui rekening ini&lt;br /&gt;tidak tepat, seharusnya dianggarkan pada Belanja Modal.&lt;br /&gt;c. Pada Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kegiatan Pemberdayaan Ekonomi&lt;br /&gt;Wanita Pedesaan Melalui PKK RT dan PKK Desa terdapat realisasi Belanja&lt;br /&gt;Barang dan Jasa - Biaya Jasa Pihak Ketiga senilai Rp4.386.028.750,00. Diantara&lt;br /&gt;realisasi tersebut sebesar Rp4.371.000.000,00 dipergunakan untuk pemberian&lt;br /&gt;bantuan keuangan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Pengeluaran melalui Belanja Barang dan Jasa digunakan untuk&lt;br /&gt;pembelian/pengadaan barang dan pemakaian jasa dalam melaksanakan kegiatan&lt;br /&gt;pemerintah, sehingga pemberian bantuan melalui rekening Belanja Barang dan&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 19&lt;br /&gt;Jasa tidak tepat, seharusnya dianggarkan pada Belanja Bagi hasil dan Bantuan&lt;br /&gt;Keuangan.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :&lt;br /&gt;a. Peraturan Pemerintah RI Nomor 58 Tahun 2005 pada pasal 27 ayat (8) disebutkan&lt;br /&gt;bahwa penganggaran dalam APBD untuk setiap jenis belanja sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (7), berdasarkan ketentuan perundang-undangan.&lt;br /&gt;b. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 pada pasal 55 ayat 2&lt;br /&gt;disebutkan bahwa Pengguna Anggaran dilarang melakukan pengeluaranpengeluaran&lt;br /&gt;atas beban belanja daerah untuk tujuan lain dari yang ditetapkan.&lt;br /&gt;Realisasi belanja yang tidak sesuai peruntukkan tersebut mengakibatkan :&lt;br /&gt;a. Rekening Belanja Modal dalam LRA disajikan lebih tinggi (overstated) sebesar&lt;br /&gt;Rp318.000.000,00 (Rp98.000.000,00 + Rp220.000.000,00)&lt;br /&gt;b. Rekening Biaya Pemeliharaan dalam LRA disajikan lebih rendah (understated)&lt;br /&gt;sebesar Rp98.000.000,00&lt;br /&gt;c. Rekening Pembiayaan Pengeluaran dalam LRA disajikan lebih rendah (understated)&lt;br /&gt;sebesar Rp220.000.000,00&lt;br /&gt;d. Rekening Belanja Barang dan Jasa dalam LRA disajikan lebih tinggi (overstated)&lt;br /&gt;sebesar Rp4.577.270.000,00 (Rp160.000.000,00 + Rp13.334.000,00 +&lt;br /&gt;Rp13.393.000,00 + Rp4.371.000.000,00)&lt;br /&gt;e. Rekening Pembiayaan Pengeluaran dalam LRA disajikan lebih rendah (understated)&lt;br /&gt;sebesar Rp160.000.000,00&lt;br /&gt;f. Rekening Bantuan Keuangan dalam LRA disajikan lebih rendah (understated) sebesar&lt;br /&gt;Rp13.334.000,00&lt;br /&gt;g. Rekening Belanja Modal dalam LRA disajikan lebih rendah (understated)) sebesar&lt;br /&gt;Rp13.393.000,00&lt;br /&gt;h. Rekening Bantuan Keuangan dalam LRA disajikan lebih rendah (understated) sebesar&lt;br /&gt;Rp4.371.000.000,00.&lt;br /&gt;Permasalahan tersebut disebabkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah kurang&lt;br /&gt;cermat dan Pengguna Anggaran tidak mematuhi anggaran yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 20&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan Tim Anggaran dan Pengguna Anggaran agar&lt;br /&gt;mematuhi ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 21&lt;br /&gt;6. Pengeluaran bantuan keuangan sebesar Rp1.537.307.800,00 belum dilaporkan&lt;br /&gt;penggunaannya&lt;br /&gt;Dari Pemeriksaan terhadap Surat Pertanggungjawaban (SPJ) atas belanja Daerah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang Tahun Anggaran 2006 diketahui beberapa pengeluaran bantuan&lt;br /&gt;keuangan yang sampai dengan saat pemeriksaan selesai belum dilaporkan penggunaannya&lt;br /&gt;sebesar Rp1.537.307.800,00 dengan rincian :&lt;br /&gt;1. Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah&lt;br /&gt;Bagian Pemerintahan menyalurkan bantuan rehab Kantor/Balai Desa dan&lt;br /&gt;Kelurahan melalui rekening 01.0103.11.16.4.04.01.04.2 Bantuan Rehab Balai&lt;br /&gt;Desa, dengan anggaran sebesar Rp1.990.250.000,00 dan realisasi sebesar&lt;br /&gt;Rp1.990.250.000,00 Bantuan ini dimaksudkan untuk memperlancar dan&lt;br /&gt;meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan, serta dalam upaya&lt;br /&gt;pemberdayaan masyarakat.&lt;br /&gt;a. Bantuan Keuangan untuk rehab 60 Balai Desa dan Kelurahan sebesar&lt;br /&gt;Rp1.370.250.000,00.&lt;br /&gt;Pemberian bantuan ini didasari SK Bupati Batang Nomor : 641/146/2006&lt;br /&gt;tanggal 20 Maret 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Rehab Balai&lt;br /&gt;Desa dan Kelurahan Tahun Anggaran 2006. Serah terima bantuan ini disertai&lt;br /&gt;dengan Berita Acara Penyerahan. Besarnya bantuan untuk masing-masing&lt;br /&gt;desa berkisar antara Rp7.500.000,00 sampai dengan Rp50.000.000,00.&lt;br /&gt;Dari 60 desa yang menerima bantuan, terdapat 42 desa yang belum&lt;br /&gt;menyampaikan laporan pertanggungjawaban dengan nilai bantuan sebesar&lt;br /&gt;Rp964.307.800,00.&lt;br /&gt;b. Bantuan Keuangan untuk rehab 47 Balai Desa dan Kelurahan sebesar&lt;br /&gt;Rp620.000.000,00.&lt;br /&gt;Pemberian bantuan ini didasari SK Bupati Batang Nomor : 641/350/2006&lt;br /&gt;tanggal 7 November 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Bantuan Rehab&lt;br /&gt;Balai Desa dan Kelurahan Tahun Anggaran 2006. Serah terima bantuan ini&lt;br /&gt;disertai dengan Berita Acara Penyerahan. Besarnya bantuan untuk masingmasing&lt;br /&gt;desa berkisar antara Rp3.000.000,00 sampai dengan Rp20.000.000,00.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 22&lt;br /&gt;Dari 47 desa yang menerima bantuan, terdapat 42 desa yang belum&lt;br /&gt;menyampaikan laporan pertanggungjawaban dengan nilai bantuan sebesar&lt;br /&gt;Rp523.000.000,00.&lt;br /&gt;2. Dinas Pendidikan&lt;br /&gt;Dinas Pendidikan merealisasikan pemberian dana bantuan kepada Dewan&lt;br /&gt;Pendidikan melalui rekening 2.11.1101.08.02.2.02.02.06.2 Biaya&lt;br /&gt;Pendidikan/Pelatihan sebesar Rp50.000.000,00 dari anggaran senilai&lt;br /&gt;Rp50.000.000,00. Pemberian bantuan ini disertai Berita Acara Serah Terima Dana&lt;br /&gt;Bantuan Dewan Pendidikan Kabupaten Batang tanggal 19 Juni 2006 dan bukti&lt;br /&gt;pengeluaran kas Nomor 125 tanggal 19 Juni 2006 sebesar Rp50.000.000,00.&lt;br /&gt;Sampai dengan saat berakhirnya pemeriksaan tanggal 14 April 2007 Dewan&lt;br /&gt;Pendidikan belum menyampaikan laporan pertanggungjawabannya.&lt;br /&gt;Sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam Berita Acara Penyerahan Bantuan&lt;br /&gt;Keuangan Rehab Balai Desa dan Berita Acara Serah Terima Bantuan Keuangan Dewan&lt;br /&gt;Pendidikan, pihak penerima bantuan harus membuat laporan pertanggungjawaban&lt;br /&gt;penggunaan bantuan. Dengan tidak disusunnya laporan pertanggungjawaban berarti&lt;br /&gt;kesepakatan tidak dijalankan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :&lt;br /&gt;a. Masing-masing Berita Acara Penyerahan Bantuan Keuangan Rehab Balai Desa pada&lt;br /&gt;pasal 3 yang menyatakan bahwa sejak saat penyerahan segala tanggung jawab&lt;br /&gt;penggunaan dan pemanfaatan dana bantuan menjadi tanggung jawab pihak II dan&lt;br /&gt;setelah selesai pelaksanaan segera melaporkan dan dilampiri buki-bukti pengeluaran&lt;br /&gt;yang sah;&lt;br /&gt;b. Berita Acara Serah Terima Bantuan Keuangan Dewan Pendidikan pada pasal 5&lt;br /&gt;dinyatakan bahwa pihak II (Dewan Pendidikan) harus membuat laporan&lt;br /&gt;pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;Hal tersebut mengakibatkan realisasi pengeluaran sebesar Rp1.537.307.800,00&lt;br /&gt;kurang dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 23&lt;br /&gt;Pengeluaran bantuan yang belum dilaporkan tersebut disebabkan kelalaian para&lt;br /&gt;penerima bantuan dalam mematuhi Berita Acara Penyerahan Bantuan.&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan :&lt;br /&gt;a. Kepala Bagian Pemerintahan untuk meminta laporan pertanggungjawaban&lt;br /&gt;penggunaan bantuan rehab balai desa kepada Kepala Desa penerima bantuan yang&lt;br /&gt;belum menyampaikan laporannya.&lt;br /&gt;b. Kepala Dinas Pendidikan untuk meminta laporan pertanggungjawaban pengguna&lt;br /&gt;bantuan kepada Dewan Pendidikan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 24&lt;br /&gt;7. Penyesuaian harga (eskalasi) kontrak pekerjaan Tahun Anggaran 2005 membebani&lt;br /&gt;keuangan daerah Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Daerah, pada&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2005 antara lain melaksanakan Kegiatan Pembangunan Wisma Daerah&lt;br /&gt;Tahap II dan Kegiatan Pembangunan Jembatan Lawangaji yang dikerjakan oleh pihak&lt;br /&gt;ke tiga dengan kontrak perjanjian pengadaan barang dan jasa, sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Kegiatan Pembangunan Wisma Daerah tahap II yang dilaksanakan oleh CV Anugrah&lt;br /&gt;dengan Kontrak Perjanjian Nomor 050/793/KDN/WD II/CK/VIII/2005 tanggal 12&lt;br /&gt;Agustus 2005 senilai Rp283.000.000,00.&lt;br /&gt;b. Kegiatan Pembangunan Jembatan Lawangaji yang dilaksanakan oleh CV. Warga&lt;br /&gt;Sakti dengan Kontrak Perjanjian Nomor 050/13/Kont/BM/IX/2006 tanggal 5&lt;br /&gt;September 2005 senilai Rp432.625.600,00.&lt;br /&gt;Dengan adanya Kebijakan Pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak&lt;br /&gt;(BBM) tanggal 1 Oktober 2005, maka kedua rekanan tersebut di atas mengajukan&lt;br /&gt;permohonan penyesuaian harga pada tanggal 19 Desember 2005 untuk CV. Warga Sakti&lt;br /&gt;dan 16 Desember 2005 untuk CV Anugrah. Permohonan tersebut disetujui oleh&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah Kabupaten Batang dengan ketentuan bahwa sumber pendanaan akibat&lt;br /&gt;adanya eskalasi harga tersebut bersumber dari sisa anggaran pelelangan yang tersedia&lt;br /&gt;bagi satuan kerja yang bersangkutan pada kegiatan yang sama atau dari dana yang berasal&lt;br /&gt;dari pengurangan volume kegiatan yang bukan merupakan pekerjaan utama.&lt;br /&gt;Pemeriksaan terhadap Surat Pertanggungjawaban diketahui bahwa pendanaan&lt;br /&gt;untuk penyesuaian tersebut dibebankan pada Belanja Modal dalam APBD Tahun 2006,&lt;br /&gt;dengan SPMU tertanggal 22 April 2006 untuk CV. Anugrah sebesar Rp72.464.000,00&lt;br /&gt;dan SPMU tertanggal 22 April 2006 untuk CV. Warga Sakti sebesar Rp43.287.100,00.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Bupati Batang Nomor 20 Tahun&lt;br /&gt;2005 tanggal 24 November 2005 tetang Penyesuaian Harga Satuan dan Nilai Kontrak&lt;br /&gt;Kegiatan Pemerintah Kabupaten Batang Tahun 2005 pada Bab VI pasal 2 menyebutkan&lt;br /&gt;bahwa pendanaan untuk penyelesaian pembayaran eskalasi bersumber dari :&lt;br /&gt;a. Sisa anggaran pelelangan yang tersedia bagi satuan kerja yang bersangkutan, pada&lt;br /&gt;kegiatan yang sama.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 25&lt;br /&gt;b. Dana yang berasal dari pengurangan volume kegiatan yang bukan merupakan&lt;br /&gt;pekerjaan utama.&lt;br /&gt;Hal tersebut mengakibatkan membebani keuangan daerah tahun anggaran 2006&lt;br /&gt;sebesar Rp115.751.100,00 (Rp72.464.000,00 + Rp43.287.100,00).&lt;br /&gt;Penyesuaian harga satuan dan nilai kontrak yang membebani keuangan daerah&lt;br /&gt;tahun anggaran 2006 disebabkan pengguna anggaran tidak cermat dalam memahami&lt;br /&gt;Peraturan Bupati tersebut.&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar menegur Kepala Dinas PU dan Tim Anggaran yang telah&lt;br /&gt;mengusulkan dan menganggarkan biaya eskalasi kontrak tahun 2005 ke dalam anggaran&lt;br /&gt;tahun 2006.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 26&lt;br /&gt;8. Bantuan Keuangan kepada Instansi Vertikal tidak sesuai ketentuan&lt;br /&gt;Pemerintah Batang melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah (APBD)&lt;br /&gt;Tahun Anggaran 2006 memberikan bantuan keuangan kepada instansi vertikal untuk&lt;br /&gt;pengamanan wilayah sebesar Rp141.200.000,00. Bantuan ini diberikan melalui Rekening&lt;br /&gt;01.0103.11.16.4.03.02.2 Bantuan Keuangan Penunjang Kegiatan Pemerintah pada Bagian&lt;br /&gt;Pemerintahan Sekretariat Daerah. Bantuan ini kemudian diserahkan kepada satuan kerja&lt;br /&gt;yang mengelola yaitu Badan Kesbangtiblinmas, untuk kemudian diserahkan ke pihakpihak&lt;br /&gt;penerima bantuan.&lt;br /&gt;Pemberian bantuan ini dilaksanakan melalui dua tahap, yaitu Tahap 1 dengan&lt;br /&gt;Bukti Pengeluaran Tanggal 13 Juli 2006 senilai Rp58.489.000,00 dan bantuan sebesar&lt;br /&gt;Rp37.200.000,00 tanpa bukti pengeluaran. Sedangkan Tahap II dengan bukti pengeluaran&lt;br /&gt;tanggal 17 Oktober 2006 sebesar Rp45.502.000,00, dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;No. Uraian Kegiatan Jumlah (Rp) Kegiatan&lt;br /&gt;I Tahap I&lt;br /&gt;Dukungan Bantuan Keuangan&lt;br /&gt;Pengamanan dan Ketertiban Wilayah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang&lt;br /&gt;40.000.000,00 Kuitansi Tgl 6 Juli 2006&lt;br /&gt;Bantuan Keuangan Pengamanan dan&lt;br /&gt;Ketertiban Wilayah&lt;br /&gt;3.498.000,00 Tak ada Kuitansi&lt;br /&gt;Bantuan Keuangan Pengamanan dan&lt;br /&gt;Ketertiban di Wilayah&lt;br /&gt;15.000.000,00 Tak ada Kuitansi&lt;br /&gt;Bantuan Keuangan Pengamanan dan&lt;br /&gt;Ketertiban Tingkat Kecamatan&lt;br /&gt;37.200.000,00 Kuitansi Tgl 12 Juni 2006&lt;br /&gt;Jumlah 95.698.000,00&lt;br /&gt;II Tahap II&lt;br /&gt;1 Dukungan Bantuan Keuangan&lt;br /&gt;Pengamanan dan Ketertiban&lt;br /&gt;31.500.000,00 Kuitansi bulan Oktober 2006&lt;br /&gt;2 Bantuan Keuangan Pengamanan dan&lt;br /&gt;Ketertiban Wilayah&lt;br /&gt;3.002.000,00 Tak ada Kuitansi&lt;br /&gt;3 Bantuan Keuangan Pengamanan dan&lt;br /&gt;Ketertiban di Wilayah&lt;br /&gt;11.000.000,00 Kuitansi tak ada tanggal&lt;br /&gt;Jumlah 45.502.000,00&lt;br /&gt;Jumlah I dan II 141.200.000,00&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 27&lt;br /&gt;Dari tabel di atas diketahui bahwa bantuan keuangan tersebut dipergunakan untuk&lt;br /&gt;membiayai kegiatan-kegiatan rutin intern dari Instansi Vertikal. Penggunaan dana APBD&lt;br /&gt;untuk kegiatan semacam ini tidak diperkenankan karena instansi vertikal sudah didanai&lt;br /&gt;dari APBN.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :&lt;br /&gt;a. Undang-undang Nomor : 32 Tahun 2004 tanggal 15 Oktober 2004 tentang Pemerintah&lt;br /&gt;Daerah pasal 155.&lt;br /&gt;a) Ayat (1) yang menyatakan bahwa Penyelenggaraan Urusan Pemerintah yang&lt;br /&gt;menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan&lt;br /&gt;dan belanja daerah,&lt;br /&gt;b) Ayat (2) yang menyatakan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintah yang&lt;br /&gt;menjadi kewenangan pemerintah pusat di daerah didanai dari dan atas beban&lt;br /&gt;anggaran pendapatan dan belanja negara.&lt;br /&gt;c) Ayat (3) yang menyatakan bahwa administrasi pendanaan penyelenggaraan&lt;br /&gt;urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara&lt;br /&gt;terpisah dari administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud ayat (2).&lt;br /&gt;b. SE Mendagri Nomor 903/2429/SJ tanggal 21 September 2005 perihal Pedoman&lt;br /&gt;Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;Lampiran II Bagian A No. 4. d. 3). b). (5) yang menyatakan bahwa pengalokasian&lt;br /&gt;anggaran dalam APBD yang diperuntukkan membantu instansi vertikal dalam&lt;br /&gt;melaksanakan tugas dan fungsinya didaerah tidak diperkenankan.&lt;br /&gt;Pemberian bantuan keuangan tersebut membebani keuangan daerah sebesar&lt;br /&gt;Rp141.200.000,00.&lt;br /&gt;Permasalahan tersebut disebabkan Pengguna Anggaran tidak mentaati ketentuan&lt;br /&gt;yang berlaku.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 28&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar menghentikan bantuan keuangan kepada instansi vertikal.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 29&lt;br /&gt;9. Pemerintah Kabupaten Batang belum sepenuhnya menindaklanjuti hasil&lt;br /&gt;pemeriksaan BPK-RI&lt;br /&gt;Sesuai dengan ketentuan, Pemerintah Kabupaten Batang berkewajiban&lt;br /&gt;menindaklanjuti rekomendasi BPK-RI atas permasalahan yang ditemukan BPK-RI dalam&lt;br /&gt;Laporan Hasil Pemeriksaan.&lt;br /&gt;Dari pemeriksaan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK terhadap LKD Kabupaten&lt;br /&gt;Batang Tahun 2005 dan tindak lanjut yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Batang&lt;br /&gt;diketahui beberapa tindak lanjut yang belum sesuai dengan rekomendasi BPK, sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;1. Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Saldo Kas dan pendapatan bunga dari PK tahun 2005 sebesar&lt;br /&gt;Rp46.073.495,00 belum disetor ke Daerah&lt;br /&gt;Rekomendasi Menyetorkan pendapatan saldo dana bantuan keuangan KPU&lt;br /&gt;Rp6.226.865,00 dan bunga dari rek khusus DAK Rp39.846.639,00&lt;br /&gt;ke Kas Daerah.&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Saldo dana bantuan keuangan KPU sudah disetor dengan STS&lt;br /&gt;No:01/KPU/2006 tanggal 29 April 2006.&lt;br /&gt;Bunga dari rek Khusus DAK Rp39.846.639,00 sudah disetor dengan&lt;br /&gt;STS 03/DAK/JG/2006 tangal 13 April 2006.&lt;br /&gt;2. Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Realisasi Kegiatan Relokasi dan Bantuan Keuangan Warga Sigandul&lt;br /&gt;tidak masuk dalam Laporan Perhitungan APBD 2006&lt;br /&gt;Rekomendasi Menegur Pengguna Anggaran yang tidak menyetorkan sisa Dana&lt;br /&gt;Cadangan TA 2004 yang belum digunakan sepenuhnya untuk&lt;br /&gt;kegiatan relokasi ke Kas Daerah.&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Bupati sudah menegur Pengguna Anggaran melalui Surat Bupati No:&lt;br /&gt;700/0964.-/2006 tanggal 30/8/2006.&lt;br /&gt;Sisa dana sudah disetor ke kas daerah.&lt;br /&gt;3 Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Alokasi Bagi Hasil Penerimaan Pajak dari Prop Jateng TA 2005&lt;br /&gt;belum diterima sebesar Rp26.681.630,00&lt;br /&gt;Rekomendasi Bagain Keuangan agar berkoordinasi dengan Prop Jawa Tengah&lt;br /&gt;untuk memperhitungkan kembali kekurangan Bagi Hasil Pajak&lt;br /&gt;Propinsi.&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Surat perintah koordinasi sudah ada.&lt;br /&gt;Pajak Kekurangan&lt;br /&gt;‘05&lt;br /&gt;Diterima ‘06 Sisa&lt;br /&gt;PBBKB 1,00 1.798.597.000,00 -&lt;br /&gt;ABT 7.635.420,00 6.324.000,00 1.311.420,00&lt;br /&gt;P3AP 5.851.920,00 1.151.000,00 4.700.920,00&lt;br /&gt;Keleb.&lt;br /&gt;Muatan&lt;br /&gt;12.351.290,00 12.958.000,00 -&lt;br /&gt;Tera Ulang 842.920,00 513.000,00 329.920,00&lt;br /&gt;SP3 Kayu 80,00 5.340.000,00 -&lt;br /&gt;26.681.631,00 6.342.260,00&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 30&lt;br /&gt;4. Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Penyajian Hutang Pemerintah Kab Batang dalam neraca 2005 tidak&lt;br /&gt;akurat&lt;br /&gt;Rekomendasi Melakukan rekonsiliasi perhitungan hutang dengan Dept Keuangan&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Telah dilakukan rekonsiliasi pada tanggal 2 Oktober 2006 di Ruang&lt;br /&gt;Rapat Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman di Jakarta.&lt;br /&gt;5 Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Penghapusan kendaraan bermotor dinas milik Pemkab Batang serta&lt;br /&gt;piutang atas penjualan belum diakui dalam neraca&lt;br /&gt;Rekomendasi Membukukan piutang angsuran dan penghapusan aset kendaraan&lt;br /&gt;pada Neraca Daerah.&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Piutang penjualan kendaraan dinas sudah diakui pada Neraca 2006&lt;br /&gt;senilai Rp9.580.000,00&lt;br /&gt;6 Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Hasil pendapatan PPJ TA 2005 belum diterima sebesar&lt;br /&gt;Rp251.998.045,00&lt;br /&gt;Rekomendasi Berkoordinasi dengan PLN dan menagih kekurangan tersebut.&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Pendapatan PPJ TA 2005 sudah disetor ke kasda seluruhnya.&lt;br /&gt;7 Temuan&lt;br /&gt;Pemeriksaan&lt;br /&gt;Pemberian Upah Pungut PBB sebesar Rp62.980.104,00 kepada Pimp&lt;br /&gt;DPRD dan Komisi C tidak sesuai ketentuan.&lt;br /&gt;Rekomendasi Menarik dan menyetorkan upah pungut PBB tersebut ke Kas Daerah&lt;br /&gt;Tindak Lanjut Terdapat bukti setor ke Kas Daerah tertanggal 8 November 2006&lt;br /&gt;senilai Rp5.000.000,00 sehingga tersisa Rp57.980.104,00&lt;br /&gt;Dari tabel di atas diketahui bahwa masih terdapat 2 temuan yang rekomendasinya&lt;br /&gt;belum ditindaklanjuti seluruhnya yaitu Alokasi Bagi Hasil Penerimaan Pajak dari Prop Jateng&lt;br /&gt;TA 2005 belum diterima sebesar Rp26.681.630,00 dan Pemberian Upah Pungut PBB sebesar&lt;br /&gt;Rp62.980.104,00 kepada Pimp DPRD dan Komisi C tidak sesuai ketentuan.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 15 tahun 2004&lt;br /&gt;Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara pada pasal&lt;br /&gt;20 ayat 1 menyatakan pejabat wajib menindaklanjuti rekomendasi dalam laporan hasil&lt;br /&gt;pemeriksaan.&lt;br /&gt;Tindak lanjut yang belum sesuai rekomendasi BPK tersebut mengakibatkan&lt;br /&gt;permasalahan yang terjadi belum dapat diatasi.&lt;br /&gt;Permasalahan tersebut disebabkan kurangnya kesungguhan pihak-pihak yang&lt;br /&gt;diberi rekomendasi untuk melaksanakan rekomendasi.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 31&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan pihak-pihak yang terkait agar menyelesaikan&lt;br /&gt;tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK-RI.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 32&lt;br /&gt;10. Pemberian Bantuan Keuangan kepada Partai Politik belum ditetapkan dengan&lt;br /&gt;Peraturan Daerah&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang dalam Tahun Anggaran 2006 telah memberikan&lt;br /&gt;Bantuan Keuangan kepada 6 (enam) Partai Politik yang memperoleh kursi di Dewan&lt;br /&gt;Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) hasil Pemilihan Umum Tahun 2004 sebesar&lt;br /&gt;Rp675.000.000,00. Pemberian bantuan tersebut direalisasikan berdasarkan penetapan&lt;br /&gt;anggaran sebesar Rp450.000.000,00 dan melalui perubahan APBD sebesar&lt;br /&gt;Rp225.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;No. Nama Partai Perolehan&lt;br /&gt;Kursi di&lt;br /&gt;DPRD&lt;br /&gt;Besaran&lt;br /&gt;Bantuan/Kursi&lt;br /&gt;Rp&lt;br /&gt;Jumlah&lt;br /&gt;Rp&lt;br /&gt;1 Partai Kebangkitan Bangsa 7 15.000.000,00 105.000.000,00&lt;br /&gt;2 Partai Demokrasi&lt;br /&gt;Indonesia Perjuangan&lt;br /&gt;17 15.000.000,00 155.000.000,00&lt;br /&gt;3 Partai Golongan Karya 5 15.000.000,00 75.000.000,00&lt;br /&gt;4 Partai Demokrasi&lt;br /&gt;Kedaulatan Rakyat&lt;br /&gt;5 15.000.000,00 75.000.000,00&lt;br /&gt;5 Partai Persatuan&lt;br /&gt;Pembangunan&lt;br /&gt;7 15.000.000,00 105.000.000,00&lt;br /&gt;6 Partai Amanat Nasional 4 15.000.000,00 60.000.000,00&lt;br /&gt;J u m l a h 45 675.000.000,00&lt;br /&gt;Pemberian bantuan keuangan kepada Partai Politik tersebut belum didasari dengan&lt;br /&gt;Peraturan Daerah, tetapi berdasarkan kebijakan Panitia Anggaran saat pembahasan&lt;br /&gt;RAPBD yang hasilnya ditetapkan dalam penganggaran APBD Tahun Anggaran 2006.&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor : 29 Tahun&lt;br /&gt;2005 tanggal 19 Juli 2005 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik pasal 5 ayat&lt;br /&gt;(3) dinyatakan bahwa pemberian bantuan keuangan kepada politik ditetapkan dengan&lt;br /&gt;Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;Hal tersebut mengakibatkan pengeluaran bantuan keuangan sebesar&lt;br /&gt;Rp675.000.000,00 belum didukung landasan hukum yang lengkap dan sah.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 33&lt;br /&gt;Bantuan keuangan kepada Partai Politik yang belum ditetapkan dalam Peraturan&lt;br /&gt;Daerah tersebut disebabkan kelalaian Badan Kesbangtiblinmas yang belum mengusulkan&lt;br /&gt;Raperda Bantuan Keuangan kepada Partai Politik kepada Bupati Batang.&lt;br /&gt;Rekomendasi BPK-RI&lt;br /&gt;Bupati Batang agar memerintahkan Kepala Badan Kesbangtiblinmas untuk&lt;br /&gt;mengusulkan Raperda Bantuan Keuangan kepada Partai Politik.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 34&lt;br /&gt;TANGGAPAN ENTITAS ATAS LAPORAN ATAS KEPATUHAN&lt;br /&gt;1. Bantuan Keuangan dari Propinsi Jawa Tengah kepada Kabupaten Batang&lt;br /&gt;sebesar Rp3.030.000.000,00 tidak tercantum dalam LRA Tahun 2006.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Kepala Bagian Keuangan&lt;br /&gt;menyatakan bahwa Bantuan Gubernur yang diterimakan secara tunai kepada penerima&lt;br /&gt;bantuan melalui Pemerintah Daerah Kabupaten menjadi kewenangan Provinsi yang&lt;br /&gt;meliputi jumlah, lokasi dan waktu pelaksanaannya, dimana Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;menyiapkan proposal dan rekening tersendiri untuk menampungnya sehingga akan&lt;br /&gt;kesulitan bila dimasukkan ke Kasda sementara alokasi belanjanya tidak terdapat&lt;br /&gt;dalam APBD Kabupaten dan untuk hal tersebut yang akan datang akan kami&lt;br /&gt;koordinasikan dengan pemerintah Provinsi.&lt;br /&gt;2. Pendapatan Pajak Penerangan Jalan Tahun Anggaran 2006 belum diterima&lt;br /&gt;sebesar Rp1.100.179.430,00 dan Rekening Penerangan Jalan Umum belum&lt;br /&gt;dibayar sebesar Rp69.581.840,00.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan masalah tersebut Kepala Dipenda menyatakan bahwa :&lt;br /&gt;1. Sebenarnya koordinasi sudah sering dilakukan baik secara formal lewat rapat&lt;br /&gt;koordinasi maupun informal lewat telpon, konsultasi dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2. Permasalahannya pihak PT PLN sesuai dengan naskah kerjasama menghendaki&lt;br /&gt;agar tagihan rekening, biaya provisi dan biaya pencetakan blangko rekening harus&lt;br /&gt;dibayar secara rutin setiap bulan.&lt;br /&gt;3. Pihak Pemkab Batang pada tahun 2006 ini belum mampu membayar tagihan&lt;br /&gt;rekening maupun biaya provisi secara rutin karena :&lt;br /&gt;a. Penyediaan belanja untuk bayar tagihan rekening dianggarkan dua kali saat&lt;br /&gt;penetapan dan perubahan&lt;br /&gt;b. Penyediaan belanja bayar provisi hanya 5% (4% untuk PLN dan 1% untuk&lt;br /&gt;Dipenda) dari target, padahal realisasi melebihi target, sehingga kelebihannya&lt;br /&gt;belum bisa dibayarkan&lt;br /&gt;4. Dengan melihat kondisi nomor 3 tersebut, maka PT PLN belum dapat&lt;br /&gt;menyetorkan semua penerimaan PPJ tahun 2006 ke kas Daerah, sehingga terjadi&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 35&lt;br /&gt;kurang setor PPJ sebesar Rp1.100.179.430,00 yaitu penerimaan PPJ bulan&lt;br /&gt;Nopember dan Desember 2006.&lt;br /&gt;3. Bantuan Propinsi Jawa Tengah untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Batang&lt;br /&gt;senilai Rp2.425.000.000,00 belum diakui pada Laporan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Kepala Bagian Keuangan&lt;br /&gt;menyatakan bahwa Bantuan Propinsi melalui Bantuan Instruksi Gubernur senilai&lt;br /&gt;Rp2.425.000.000,00 diterima langsung kepada penerimaan bantuan melalui&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang tanpa melalui mekanisme pembahasan DPRD&lt;br /&gt;Kabupaten Batang. Penganggaran dan peruntukannya yang menentukan Pemerintah&lt;br /&gt;Propinsi dan bahkan ada sebagian yang langsung diberikan pada penerima sasaran,&lt;br /&gt;sehingga besaran dan lokasinya menjadi kewenangan Pemerintah Propinsi. Penyebab&lt;br /&gt;masalah ini bukan kurangnya koordinasi antara Bagian Keuangan dengan Dinas&lt;br /&gt;Pendidikan, tetapi kurang koordinasinya Dinas Pendidikan Propinsi dengan&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten Batang.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal tersebut anggaran yang akan datang akan kami&lt;br /&gt;koordinasikan dengan Pemerintah Propinsi untuk dimasukkan dalam laporan&lt;br /&gt;keuangan daerah Pemerintah Kabupaten Batang sebagai penerimaan dan belanja&lt;br /&gt;bantuan keuangan dari propinsi sehingga dapat diakui nilai perolehan asset-aset dari&lt;br /&gt;dana bantuan tersebut.&lt;br /&gt;4. Pemerintah Kabupaten Batang belum melakukan penilaian terhadap bantuan&lt;br /&gt;yang diterima dalam wujud barang.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Kepala Bagian Keuangan&lt;br /&gt;menyatakan bahwa dari hasil koordinasi:&lt;br /&gt;1. Badan Kependudukan, KB dan Capil dan akan melakukan penilaian terhadap&lt;br /&gt;barang-barang berupa peralatan SIAK yang diterima.&lt;br /&gt;2. Dinas Kesehatan dan Kesos akan melakukan penilaian terhadap barang-barang&lt;br /&gt;berupa kendaraan yang diterima.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 36&lt;br /&gt;Selanjutnya nilai barang-barang berupa SIAK dan kendaraan tersebut akan&lt;br /&gt;dicantumkan dalam neraca SKPD dan neraca daerah tahun 2007.&lt;br /&gt;5. Penganggaran belanja daerah senilai Rp478.000.000,00 tidak tepat dan realisasi&lt;br /&gt;belanja senilai Rp4.397.727.000,00 tidak sesuai dengan kode rekeningnya.&lt;br /&gt;Terhadap permasalahan tersebut Kepala Bagian Keuangan menyatakan:&lt;br /&gt;1. Dari hasil koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan diketahui Biaya&lt;br /&gt;Pemeliharaan Alur Sungai Sambong sebesar Rp98.000.000,00 adalah tidak&lt;br /&gt;merupakan belanja modal, sehingga tidak termasuk realisasi belanja modal&lt;br /&gt;2. Dari hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian diketahui belanja sebesar&lt;br /&gt;Rp220.000.000,00 merupakan pinjaman modal bergulir untuk kelompokkelompok&lt;br /&gt;tani dan bukan merupakan belanja modal, sehingga tidak termasuk&lt;br /&gt;realisasi belanja modal.&lt;br /&gt;3. Dari Koordinasi dengan Kantor Koperasi dan PKM diketahui belanja senilai&lt;br /&gt;Rp160.000.000 yang dianggarkan dalam belanja barang dan jasa, sebenarnya&lt;br /&gt;adalah untuk pinjaman bergulir kepada Koperasi dan UKM. Sehingga tidak&lt;br /&gt;termasuk realisasi belanja barang dan jasa.&lt;br /&gt;4. Dari hasil koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan diketahui pemberian&lt;br /&gt;bantuan untuk Yayasan/ HUT/ Olah raga senilai Rp 10.334.000,00 dan&lt;br /&gt;Rp3.000.000 sehingga tidak termasuk realisasi Belanja Barang dan Jasa&lt;br /&gt;5. Dari koordinasi diketahui adanya pengadaan barang yang nilai manfaatnya lebih&lt;br /&gt;dari satu tahun dari Bagian Lingkungah Hidup berupa 1 buah Kamera Digital&lt;br /&gt;senilai Rp5.000.000,00 Dinas Perikanan dan Kelautan 2 buah kamera digital&lt;br /&gt;senilai Rp2.800.000,00 dan Rp3.093.000,00. Dinas Pertanian pembelian tustel&lt;br /&gt;senilai Rp2.500.000,00&lt;br /&gt;6. Dari koordinasi dengan Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa diketahui bahwa&lt;br /&gt;merealisasikan bantuan keuangan kepada masyarakat seniali Rp4.371.000.000,00&lt;br /&gt;sehingga sebenarnya tidak termasuk pada realisasi belanja Barang dan Jasa.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal tersebut ditahun anggaran yang akan datang akan disusun&lt;br /&gt;sesuai ketentuan yang berlaku dan dilaksanakan sesuai dengan anggaran yang&lt;br /&gt;telah ditetapkan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 37&lt;br /&gt;6. Pengeluaran bantuan keuangan sebesar Rp1.537.307.800,00 belum dilaporkan&lt;br /&gt;penggunaannya.&lt;br /&gt;Terhadap permasalahan tersebut Kepala Bagian Pemerintahan menyampaikan&lt;br /&gt;tambahan desa-desa yang sudah menyampaikan laporan penggunaan bantuan&lt;br /&gt;sebanyak 9 desa yaitu : Desa Kemligi, Desa Silurah, Desa Harjowinangun Timur,&lt;br /&gt;Desa Madungowongjati, Desa Kranggan, Desa Kalangsono, Desa Mentosari, Desa&lt;br /&gt;Klidang Wetan dan Desa Pangempon.&lt;br /&gt;7. Penyesuaian harga (eskalasi) kontrak pekerjaan Tahun Anggaran 2005&lt;br /&gt;membebani keuangan daerah Tahun Anggaran 2006.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum&lt;br /&gt;menyatakan bahwa sesuai dengan Peraturan Bupati Batang No 20 Tahun 2005 tanggal&lt;br /&gt;24 Nopember 2005 Bab VI Pasal 2 menyebutkan bahwa pendanaan untuk&lt;br /&gt;penyesuaian pembayaran ekskalasi bersumber dari:&lt;br /&gt;- Sisa anggaran pelelangan yang tersedia bagi satuan kerja yang bersangkutan, pada&lt;br /&gt;kegiatan yang sama.&lt;br /&gt;Ini berarti eskalasi dapat dibayarkan dari sisa anggaran pelelangan untuk&lt;br /&gt;kegiatan baik kebinamargaan maupun keciptakaryaan, sehingga untuk CV Warga&lt;br /&gt;Sakti yang pekerjaannya pembangunan Jembatan Lawangaji dapat diambilkan dari&lt;br /&gt;kegiatan kebinamargaan, jadi bukan pada kegiatan yang bersangkutan saja, begitu&lt;br /&gt;pula untuk CV Anugerah.&lt;br /&gt;Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum RI No.11/&lt;br /&gt;SE/ M/ 2005 tanggal 16 November 2005 Point 4 huruf a yang berbunyi bahwa&lt;br /&gt;pendanaan untuk penyelesaian pembayaran akibat ekskalasi bersumber dari sisa&lt;br /&gt;anggaran yang tersedia bagi satuan kerja yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Pembayaran dilakukan pada Penetapan APBD Kabupaten Batang tahun 2006&lt;br /&gt;dikarenakan Kontrak kedua Rekanan berakhir pada bulan Desember 2005, sedangkan&lt;br /&gt;Peraturan Bupati Batang tentang eskalasi terbit pada tanggal 24 Nopember 2005,&lt;br /&gt;sehingga tidak dapat dilakukan pengurangan volume pekerjaan karena setelah&lt;br /&gt;terbitnya peraturan Bupati tersebut sisa pekerjaanya merupakan pekerjaan utama yang&lt;br /&gt;tidak dapat ditunda.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 38&lt;br /&gt;Untuk menggunakan sisa anggaran pelelangan yang tersedia bagi satuan kerja&lt;br /&gt;bersangkutan pada kegiatan yang sama harus melalui penetapan APBD, padahal&lt;br /&gt;perubahan APBD telah dilaksanakan pada pertengahan tahun 2005, sehingga mau&lt;br /&gt;tidak mau menggunakan sisa anggaran pelelangan menunggu penetapan APBD tahun&lt;br /&gt;2006.&lt;br /&gt;8. Bantuan Keuangan kepada Instansi Vertikal tidak sesuai ketentuan&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Kepala Badan Kesbanglinmas menyatakan&lt;br /&gt;bahwa :&lt;br /&gt;1. Bantuan Keuangan kepada Polres, Kodim dan Kejaksaan adalah dana yang&lt;br /&gt;digunakan untuk membiayai kegiatan Pemerintah Kabupaten di bidang&lt;br /&gt;keamanaan dan ketertiban wilayah meliputi Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun&lt;br /&gt;Baru, bukan merupakan bantuan keuangan kepada Instansi Vertikal di Daerah.&lt;br /&gt;Sangat tidak mungkin bilamana kegiatan Pam Pemerintah Kabupaten tanpa&lt;br /&gt;melibatkan aparat dari Polres, Kodim maupun Kejaksaan Negeri setempat,&lt;br /&gt;sehingga penggunaan dana tersebut benar-benar untuk Pam wilayah yang menjadi&lt;br /&gt;tugas Pemerintah Daerah tanpa bantuan aparat terkait di bidangnya.&lt;br /&gt;2. Pengeluaran biaya pengamanan pada masing-masing instansi dibuktikan dengan&lt;br /&gt;daftar nominatif anggota yang digunakan pada kegiatan tersebut di atas.&lt;br /&gt;9. Pemerintah Kabupaten Batang belum sepenuhnya menindaklanjuti hasil&lt;br /&gt;pemeriksaan BPK-RI&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Kepala Bawasda menyatakan bahwa&lt;br /&gt;pada prinsipnya kami sependapat dan selanjutnya terhadap rekomendasi BPK yang&lt;br /&gt;belum selesai/ tuntas akan selalu kami upayakan penagihan melalui Satuan Kerja&lt;br /&gt;terkait.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 39&lt;br /&gt;10. Pemberian Bantuan Keuangan kepada Partai Politik belum ditetapkan dengan&lt;br /&gt;Peraturan Daerah&lt;br /&gt;Sehubungan dengan permasalahan tersebut Kepala Badan Kesbangtiblinmas&lt;br /&gt;menyatakan Peraturan Daerah tentang Bantuan Keuangan Partai Politik di Kabupaten&lt;br /&gt;Batang masih dalam proses penyusunan.&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN&lt;br /&gt;DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH&lt;br /&gt;KABUPATEN BATANG&lt;br /&gt;UNTUK TAHUN ANGGARAN 2006&lt;br /&gt;DI&lt;br /&gt;BATANG&lt;br /&gt;AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA IV&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA&lt;br /&gt;Nomor : 97 b/ R/ XIV.Yk/ 05/ 2007&lt;br /&gt;Tanggal : 29 Mei 2007&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 1&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;Halaman&lt;br /&gt;DAFTAR ISI…………………………………………....…………………… 1&lt;br /&gt;RESUME PEMERIKSAAN………………….…..………………………… 2&lt;br /&gt;GAMBARAN UMUM PENGENDALIAN INTERN ENTITAS YANG&lt;br /&gt;DIPERIKSA………………….…..……………………………………..…… 4&lt;br /&gt;TEMUAN PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;1. Perlakuan biaya administrasi proyek dalam proses kapitalisasi belanja&lt;br /&gt;modal ke neraca tidak seragam ………………………………………. 16&lt;br /&gt;2. Kapitalisasi biaya rehab/perbaikan aset mengakibatkan nilai aset&lt;br /&gt;melebihi nilai sebenarnya…………………………………………… 19&lt;br /&gt;3. Pengendalian belanja BBM pada Dinas Perikanan dan Kelautan&lt;br /&gt;Kabupaten Batang tidak optimal……………………………………… 22&lt;br /&gt;TANGGAPAN ENTITAS ATAS LAPORAN SISTEM PENGENDALIAN&lt;br /&gt;INTERN………………………………………………..……………………. 24&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 2&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan Pasal 23 E Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 1945, pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Pasal&lt;br /&gt;56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, Pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun&lt;br /&gt;2006, BPK RI telah memeriksa Neraca Kabupaten Batang per 31 Desember 2006,&lt;br /&gt;Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan&lt;br /&gt;untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung&lt;br /&gt;jawab Pemerintah Kabupaten Batang. Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan&lt;br /&gt;pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.&lt;br /&gt;Atas pemeriksaan tersebut, BPK RI telah menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan&lt;br /&gt;Keuangan atas LKPD Batang tahun 2006 yang memuat opini Wajar dengan Pengecualian&lt;br /&gt;dengan nomor 97/ R/ XIV.Yk/ 05/ 2007 tanggal 29 Mei 2007. dan Laporan atas&lt;br /&gt;Kepatuhan dengan nomor 97a/ R/ XIV.Yk/ 05/ 2007 tanggal 29 Mei 2007.&lt;br /&gt;Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Batang tersebut dilakukan&lt;br /&gt;berdasarkan pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SKPN) yang ditetapkan oleh&lt;br /&gt;BPK RI. Standar tersebut mengharuskan BPK RI untuk merencanakan, mengumpulkan&lt;br /&gt;bukti yang cukup dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan yang&lt;br /&gt;memadai sebagai dasar untuk memberikan pendapat. Standar tersebut juga mengharuskan&lt;br /&gt;BPK RI untuk mengungkapkan kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas&lt;br /&gt;pelaporan keuangan.&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 3&lt;br /&gt;Kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut : (1) Perlakuan biaya&lt;br /&gt;administrasi proyek dalam proses kapitalisasi belanja modal ke neraca tidak seragam (2)&lt;br /&gt;Kapitalisasi biaya rehab/perbaikan aset mengakibatkan nilai aset melebihi nilai&lt;br /&gt;sebenarnya (3) Pengendalian belanja BBM pada Dinas Perikanan dan Kelautan&lt;br /&gt;Kabupaten Batang tidak optimal.&lt;br /&gt;Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, kami menyarankan Bupati Batang agar : (1)&lt;br /&gt;Menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan&lt;br /&gt;Daerah yang di dalamnya mengatur kebijakan akuntansi dan pembukuan (2)&lt;br /&gt;Memerintahkan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan untuk menyusun prosedur&lt;br /&gt;pengeluaran BBM yang benar.&lt;br /&gt;Secara lebih rinci akan dijelaskan pada bagian Temuan Pemeriksaan Sistem&lt;br /&gt;Pengendalian Intern.&lt;br /&gt;Yogyakarta, 29 Mei 2007&lt;br /&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;Perwakilan BPK RI di Yogyakarta&lt;br /&gt;Penanggung Jawab Pemeriksaan&lt;br /&gt;Ana Sri Yuni S., SE Ak, MM&lt;br /&gt;Akuntan, Register Negara No. D.15.521&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 4&lt;br /&gt;GAMBARAN UMUM&lt;br /&gt;Sistem Pengendalian Intern (SPI) terkait dengan struktur dan proses&lt;br /&gt;pengendalian pada Pemerintah Kabupaten Batang meliputi organisasi, kebijakan,&lt;br /&gt;personalia, perencanaan, prosedur, pembukuan dan pencatatan,&lt;br /&gt;pelaporan/pertanggungjawaban, serta pengawasan dan pemeriksaan. Tujuan utama&lt;br /&gt;perancangan SPI adalah untuk pengamanan aset daerah, dan mendorong dipatuhi dan&lt;br /&gt;ditaatinya peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;Gambaran umum mengenai sistem pengendalian intern Pemerintah Kabupaten&lt;br /&gt;Batang, dapat disajikan secara ringkas sebagai berikut :&lt;br /&gt;A. ORGANISASI&lt;br /&gt;Kabupaten Batang terletak antara 6 46” dan 7 11’47” Lintang Selatan dan 110&lt;br /&gt;03’06’’ Bujur Timur dengan luas wilayan Kabupaten Batang 85.425.541 Ha.&lt;br /&gt;Pemerintahan Kabupaten Batang berkedudukan di Jalan Kartini No 1 Batang Jawa&lt;br /&gt;Tengah, dan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang&lt;br /&gt;Pembentukan Daerah Tingkat II Batang (Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 1965 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonessia Nomor&lt;br /&gt;2757).&lt;br /&gt;Struktur Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Batang, terdiri dari&lt;br /&gt;DPRD, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, Sekretariat Daerah, enam Dinas,&lt;br /&gt;empat Badan, sebelas Kantor, 12 Kecamatan yang terdiri dari 239 Desa dan 9&lt;br /&gt;Kelurahan.&lt;br /&gt;B. KEBIJAKAN&lt;br /&gt;1. Visi dan Misi Pembangunan Daerah&lt;br /&gt;Visi dan misi pembangunan daerah Kabupaten Batang tertuang dalam Rencana&lt;br /&gt;Strategis Daerah (Renstrada) Kabupaten Batang, sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Visi&lt;br /&gt;Visi pembangunan Kabupaten Batang adalah “Terwujudnya masyarakat&lt;br /&gt;sejahtera lahir dan batin dalam Kabupaten Batang yang terus berkembang,&lt;br /&gt;maju, mantap dan mandiri”&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 5&lt;br /&gt;b. Misi&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan visi tersebut, Kabupaten Batang menetapkan misi sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;1) Meningkatkan iman dan taqwa masyarakat Kabupaten Batang;&lt;br /&gt;2) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kabupaten Batang;&lt;br /&gt;3) Menumbuhkan sikap dan tekad kemandirian Kabupaten Batang;&lt;br /&gt;4) Melaksanakan pembangunan di semua bidang dengan dukungan aktif&lt;br /&gt;seluruh lapisan masyarakat;&lt;br /&gt;5) Meningkatkan koordinasi, keterpaduan dan keselarasan fungsi lembagalembaga&lt;br /&gt;daerah;&lt;br /&gt;6) Meningkatkan kemampuan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah;&lt;br /&gt;7) Meningkatkan peran serta seluruh komponen masyarakat dalam&lt;br /&gt;pembangunan daerah;&lt;br /&gt;8) Memprioritaskan pembangunan berbasis pada potensi unggulan daerah,&lt;br /&gt;khususnya bidang perikanan dan kelautan, pertanian dan pariwisata.&lt;br /&gt;2. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Daerah&lt;br /&gt;Untuk mencapai visi dan misi tersebut, Kabupaten Batang menetapkan&lt;br /&gt;maksud dan tujuan Arah dan Kebijakan Umum APBD, sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Maksud dari penyusunan Arah dan Kebijakan Umum adalah sebagai&lt;br /&gt;acuan dalam perencanaan operasional anggaran dan pedoman penyusunan&lt;br /&gt;Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).&lt;br /&gt;2) Tujuan penyusunan Arah dan Kebijakan Umum APBD adalah;&lt;br /&gt;a. Memperjelas pencapaian atau kinerja Pemerintah Daerah berikut&lt;br /&gt;pengukurannya dalam 1 (satu) tahun anggaran.&lt;br /&gt;b. Memperlancar penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan&lt;br /&gt;Belanja Daerah (RAPBD)&lt;br /&gt;c. Memperlacarkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah&lt;br /&gt;ditetapkan dalam Rencana Strategi Daerah (RENSTRADA).&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 6&lt;br /&gt;3. Landasan Hukum Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;Penyusunan APBD Kabupaten Batang TA 2006, didasarkan pada :&lt;br /&gt;a. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat&lt;br /&gt;II Batang (Lembaran Negara Republik Indonesi Tahun 1965 Nomor 52,&lt;br /&gt;Tambhan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2757)&lt;br /&gt;b. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tengan Pajak Bumi dan Bangunan&lt;br /&gt;(Lembara Negara RI Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara RI&lt;br /&gt;Nomor 3312) sebagaiman telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12&lt;br /&gt;Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985&lt;br /&gt;tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesi&lt;br /&gt;Nomor 3596).&lt;br /&gt;c. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah di&lt;br /&gt;ubah dalalm Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1987 tentang Pajak Daerah&lt;br /&gt;dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesi Tahun 2000&lt;br /&gt;Nomor 246 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688).&lt;br /&gt;d. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Perolehan Hak Atas Tanah&lt;br /&gt;dan Bangunan.&lt;br /&gt;e. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang&lt;br /&gt;Bersih dan Bebas dari Korupsi, kolusi dan Nepotisme.&lt;br /&gt;f. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan&lt;br /&gt;Nasional.&lt;br /&gt;g. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.&lt;br /&gt;h. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.&lt;br /&gt;i. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan&lt;br /&gt;Perundang-undangan.&lt;br /&gt;j. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan&lt;br /&gt;dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.&lt;br /&gt;k. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undan Nomor 8 Tahun 2005&lt;br /&gt;tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pngganti Undang-Undang Nomor 3&lt;br /&gt;Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undan Nomor 32 Tahun 2004&lt;br /&gt;Tentang Pemerintahan Daerah Menajadi Undang-Undang.&lt;br /&gt;l. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan&lt;br /&gt;antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah..&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 7&lt;br /&gt;m. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 tentang Perubhan Batas&lt;br /&gt;Wilayah Kotamadia Daerah Tingkat II Pekalongan, Kbupaten Daerah Tingkat&lt;br /&gt;II Pekalongan dan Kabupaten Daerah Tingkat II Batang.&lt;br /&gt;n. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara&lt;br /&gt;Pertanggungjawaban Kepala Daerah.&lt;br /&gt;o. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan&lt;br /&gt;Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.&lt;br /&gt;p. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.&lt;br /&gt;q. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.&lt;br /&gt;r. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokol&lt;br /&gt;dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;br /&gt;s. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi&lt;br /&gt;Pemerintahan.&lt;br /&gt;t. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.&lt;br /&gt;u. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.&lt;br /&gt;v. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi&lt;br /&gt;Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;w. Peraturan Pemerintah Nomor 08 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan&lt;br /&gt;Kinerja Instansi Pemerintah.&lt;br /&gt;x. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 9 tahun 2003Nomor 55 Tahun&lt;br /&gt;2005 tentang Dan tentang Rencana Strategis Daerah Tahun 2002 samapi&lt;br /&gt;dengan Tahun 2006.&lt;br /&gt;y. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 3 Tahun 2004 tentang&lt;br /&gt;Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2003 tenga Pokok-pokok&lt;br /&gt;Pengelolaan Keuangan Daerah.&lt;br /&gt;z. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Anggaran&lt;br /&gt;dan Belanja Daerah Kabupaten Batang Tahun Anggaran 2006&lt;br /&gt;C. PERSONALIA&lt;br /&gt;Nama-nama pimpinan DPRD, Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, serta pejabat&lt;br /&gt;struktural SKPD Pemerintahan Daerah Kabupaten Batang, dapat disajikan sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;1. Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)&lt;br /&gt;DPRD Kabupaten Batang terdiri dari 45 Anggota, dengan nama-nama Ketua dan&lt;br /&gt;Wakil Ketua sebagai berikut :&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 8&lt;br /&gt;Jabatan Nama&lt;br /&gt;Ketua DPRD Purwanto&lt;br /&gt;Wakil Ketua Drs M Sulton, SQ&lt;br /&gt;Wakil Ketua Saroji, SE&lt;br /&gt;2. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah&lt;br /&gt;Kepala Daerah Kabupaten Batang dipimpin oleh seorang Bupati dan Wakil&lt;br /&gt;Bupati yang masing-masing dijabat oleh Bambang Bintoro, SE,. dan Drs Achfa&lt;br /&gt;Mahfud&lt;br /&gt;3. Pejabat Struktural SKPD&lt;br /&gt;Berikut ini adalah daftar nama-nama Pejabat Struktural SKPD Pemerintah&lt;br /&gt;Kabupaten Batang yang menjabat dalam TA 2006, yaitu :&lt;br /&gt;.No Nama Jabatan&lt;br /&gt;1 Soetadi, SH, MM Sekretaris Daerah&lt;br /&gt;2 Drs. Murdiyono, MM Bagian Umum&lt;br /&gt;3 Gigih Sayogo, SH. M Hum Bagian Pemerintahan&lt;br /&gt;4 .Sri Purwaningsih, SH Bagian Inmas&lt;br /&gt;5 Ir Agus Riyadi, MM Bagian Lingkungan Hidup dan Produksi&lt;br /&gt;6 Drs Sabino Suwondo Bagian Administrasi Pembangunan&lt;br /&gt;7 Pramono Soegiharto, SH Bagian Hukum&lt;br /&gt;8 Drs Kadar Ariyanto Hadi Bagian Organisasi&lt;br /&gt;9 Alimuddin, SH Bagian Kepegawaian&lt;br /&gt;10 Ir Harun Al Rasyid Bagian Perekonomian&lt;br /&gt;11 Soepadi, S Sos Bagian Sosial&lt;br /&gt;12 Dra . Lani Dwi Rejeki, MM Bagian Keuangan&lt;br /&gt;13 Drs Suharyanto Kantor PMD&lt;br /&gt;14 Drs H Wiharto Saputro, MM Dinas Perikanan dan Kelautan&lt;br /&gt;15 Susilo, SH MM Bappeda&lt;br /&gt;16 Wardoyo, SH Badang Kesbangtiblinmas&lt;br /&gt;17 Drs Budiarto Kantor PDE dan Arsip Daerah&lt;br /&gt;18 Bambang Ibnu Rijanto, SH, Msi Kantor Pariwisata&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 9&lt;br /&gt;No Nama Jabatan&lt;br /&gt;19 Kusnadi, SE Msi Kantor Perhubungan&lt;br /&gt;20 Ir Eko Sugiastuti. Kantor Kehutanan&lt;br /&gt;21 Ir Soeharyono, MT Dinas Pekerjaan Umum&lt;br /&gt;22 Sri Sugiyanti, SE Msi Dinas Pendididkan&lt;br /&gt;23 Bambang Hindarso, SH. Dinas Pendapatan Daerah&lt;br /&gt;24 Drs Sukardi Paputungan Kantor Perindustrian dan Perdagangan&lt;br /&gt;25 Dradjat Himawan, S Sos Bawasda&lt;br /&gt;26 Dra Nikeng Indriah Kantor Perpustakaan Umum&lt;br /&gt;27 dr Ratna Ismoyowati, MARS BRSUD&lt;br /&gt;28 Sugiatmo, SH Kantor Kebersihan dan Pertamanan&lt;br /&gt;29 dr H M Sutarno, MM Dinas Kesehatan&lt;br /&gt;30 Ir Sakuwi Dinas Pertanian&lt;br /&gt;31 Nining Hadiningsih, SH Sekretariat DPRD&lt;br /&gt;32 Sri Hayuisti, SH Sp. Not. Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi&lt;br /&gt;33 Soekroen, SH Kantor Kependudukan dan Capil&lt;br /&gt;34 Sukirman, SE MM Kantor Koperasi dan PKM&lt;br /&gt;D. PERENCANAAN&lt;br /&gt;Penyusunan APBD Kabupaten Batang Tahun 2006 sebagai rencana pengelolaan&lt;br /&gt;keuangan tahunan daerah, disusun berdasarkan pendekatan kinerja, dengan&lt;br /&gt;mengutamakan pencapaian hasil kerja dari perencanaan alokasi biaya yang&lt;br /&gt;ditetapkan, hal ini merupakan implementasi dari Kepmendagri Nomor 29 Tahun&lt;br /&gt;2002 Pasal 17 ayat (1) dan (2) dimana dalam menyiapkan rancangan APBD&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah bersama-sama dengan DPRD menyusun arah dan kebijakan&lt;br /&gt;umum APBD dengan berpedoman pada Rencana Strategis Daerah (RENSTRADA).&lt;br /&gt;Pada Tanggal 15 Oktober 2005 Pemerintah Kabupaten Batang telah membuat Arah&lt;br /&gt;dan Kabijakan Umum APBD Tahun 2006 yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan&lt;br /&gt;antara Pemerintah Kabupaten Batang dengan DPRD Kabupaten&lt;br /&gt;Batang Nomor. : 900/ 011 .&lt;br /&gt;Nomor : 172/ 40/ X/ 2005&lt;br /&gt;PERWAKILAN BPK RI DI YOGYAKARTA 10&lt;br /&gt;Dalam Nota Kesepakatan tersebut, Arah dan Kebijakan Umum APBD Kabupaten&lt;br /&gt;Batang untuk Tahun 2006, dapat disajikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Arah dan Kebijakan Pembangunan Daerah&lt;br /&gt;Arah Kebijakan Umum mencakup 14 (empat belas) bidang yang di rangkum&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Penciptaan sistem hukum daerah yang mampu memberikan jaminan kepastian,&lt;br /&gt;rasa keadilan dan perlindungan hukum bagi masyarakat, disertai dengan&lt;br /&gt;efektivitas penegakan hukum;&lt;br /&gt;b. Penciptaan iklim daerah yang kondusif yang mendukung terselenggaranya&lt;br /&gt;pembangunan daerah secara dinamis didudkung dengan lingkungan yang aman&lt;br /&gt;dan tertib;&lt;br /&gt;c. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas institusi dan aparatur pemerintahan agar&lt;br /&gt;mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat;&lt;br /&gt;d. Peningkatan hubungan yang harmonis dan proporsional anara lembagga&lt;br /&gt;eksekutif dengan lembaga legislatif sebagai mitra sejajar dalam pembangunan&lt;br /&gt;daerah;&lt;br /&gt;e. Peningkatan kualitas dan kuantitas hasil perencanaan pembangunan dan&lt;br /&gt;penelitian untuk meningkatkan mutu kebijakan dalam rangka pencapaian visi,&lt;br /&gt;misi, dan tujuan daerah;&lt;br /&gt;f. Penggalian dan pemanfaatan potensi unggulan daerah sebagai sumber&lt;br /&gt;pembiayaan pembangunan di dukung oleh sistem keuangan dan lembanga&lt;br /&gt;usaha daerah yang berkualita;&lt;br /&gt;g. Peningkatan efekti
