Sabtu, 20 Juni 2009

DESKRIPSI DAN ANALISIS STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN

PENDAHULUAN

Analisis laporan keuangan adalah hubungan antar suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan suatu fenomena (Soemarso,1999:430). Angka-angka dalam laporan keuangan akan sedikit artinya jika dilihat secara terpisah. Dengan analisis, pemakai laporan keuangan akan lebih mudah mengintepretasikanya.
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh kementerian/lembaga negara bersangkutan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Dengan demikian, analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan pemerintah.
Dalam melakukan analisis, setiap pengguna laporan harus mengidentifikasi informasi yang harus dipilih untuk dianalisis, teknik analisis yang tepat, ruang lingkup, kedalaman analisis dengan menggunakan pertimbangan yang cermat agar dapat memperoleh informasi yang diinginkan untuk mendukung keputusan-keputusan yang diambilnya.






RUMUSAN PERMASLAHAN :
1. Bagaimanakah konsep struktur laporan keuangan ?
2. Bagaimanakah bentuk laporan keuangan horizontal ?
3. Bagaimanakah bentuk lapoarn keuangan vertikal ?
4. Bagaimanakah konsep struktur modal ?
5. Bagaimanakah konsep struktur finansial ?
6. Apakah ada hubungan antara struktur modal dengan struktur finansial ?



















BAB II
PEMBAHASAN

A. Struktur Laporan Keuangan
1. PENGERTIAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
Analisis laporan keuangan ( Financial statement Analysis ) adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan suatu fenomena (Soemarso,1999:430). Angka-angka dalam laporan keuangan akan sedikit artinya bila dilihat secara sendiri-sendiri. Pemakai laporan keuangan akan lebih mudah menginterpretasikanya bila dilakukan analisis.
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan. Setiap pengguna laporan harus mengidentifikasi informasi yang harus dipilih untuk dianalisis, teknik analisis yang tepat, ruang lingkup, kedalaman analisis dengan menggunakan pertimbangan yang cermat agar dapat memperoleh informasi yang diinginkan untuk mendukung keputusan-keputusan yang diambilnya.



2. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan biasanya terdiri:
1. Neraca: laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu menunjukkan posisi keuangan (aktiva, utang dan modal) pada saat tertentu. Tujuan neraca adalah menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender (misalnya pada tanggal 31 Desember 200x).
2. Laporan laba rugi: suatu laporan yang menunjukkan pendapatan dari penjualan, berbagai biaya, dan laba yang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu.
3. Laporan saldo laba: menunjukkan perubahan laba ditahan selama periode tertentu.
4. Laporan arus kas: Menujukkan arus kas selama periode tertentu.
5. Catatan atas laporan keuangan: berisi rincian neraca dan laporan laba rugi, kebijakan akuntansi, dan lain sebagainya.
Sedangkan komponen laporan keuangan Pemerintah setidak-tidaknya terdiri dari:
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Laporan Arus Kas
3. Neraca
4. Catatan atas laporan keuangan
Laporan Realisasi Anggaran sering juga disebut laporan operasional merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola pemerintah yang menggambarkan perbandingan antara anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.
Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran. Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
Setiap komponen laporan keuangan hendaknya tidak dianalisis secara parsial. Komponen-komponen laporan tersebut merupakan satu kesatuan yang harus dianalisis secara bersama-sama. Terdapat hubungan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan sehingga untuk memperoleh gambaran informasi yang utuh, pos-pos terkait dianalisis secara terintegrasi.
Laporan keuangan merupakan hasil rekaman transaksi keuangan dari peristiwa masa lalu. Laporan keuangan berarti menyajikan data hisitoris pemerintah yang bersangkutan. Berbagai pihak yang berkepentingan pada umumnya tidakhanya membutuhkan informasi masa lalu tetapi mereka menggunakannya untuk mencaritahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Oleh karena itu teknik dan tingkat kedalaman analisis disesuaikan dengan kebutuhan

3. PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN
Pihak-pihak yang menggunakan informasi keuangan dari laporan keuangan terdiri dari pihak intern dan pihak ekstern. Secara keseluruhan pengguna laporan keuangan terdiri dari:
1. Pihak manajemen: untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi pengembangan karier.
2. Pemegang saham: untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan, keamanan investasi.
3. Karyawan: Penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja
4. Kreditor dan investor: untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta bunganya.
5. Pemerintah: pajak, persetujuan untuk go public.
Setiap pemakai bisa mempunyai kepentingan yang berlainan. Oleh karena itu, mereka harus memahami informasi yang disajikan dalam laporan dan menganalisis dengan teknik yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhannya Masyarakat pada umumnya ingin mengetahui panggunaan sumber daya ekonomi yang dipungut dari masyarakat selama tahun berjalan berikut kinerja atau hasil-hasil yang dicapainya.
Investor/kreditor pada umumnya berkepentingan untuk melihat apakah perusahaan mampu mengembalikan pinjaman/investasi berikut kemampuan untuk membayar beban bunganya secara tepat waktu. Manajemen perusahaan berkepentingan terhadap informasi keuangan untuk perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian kegiatan operasional pemerintahan. Hal ini sangat penting bagi pemerintah agar dapat mengalokasikan dan menggunakan anggaran yang tersedia untuk mencapai output/outcome secara efisien dan efektif.

4. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
Laporan Keuangan memuat informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan,belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi efektifitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangan.
Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan diperlukan mengingat setiap entitas pelaporan menggunakan sumber dana/anggaran yang berasal dari investor dan perlu dipertanggungjawabkan capaian kegiatannya. Oleh karenanya laporan keuangan yang disusun oleh suatu entitas diperlukan untuk keperluan:
1. Akuntabilitas, yaitu untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kegiatan secara periodik.
2. Manajemen, yaitu membantu para pengguna mengevaluasi pelaksanaan kegiatan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban dan ekuitas dana.
3. Transparansi, yaitu memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat.
4. Keseimbangan antar generasi (intergenerational equity), membantu para pengguna untuk mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan.
Proses analisis laporan keuangan diperlukan dalam pencapaian keperluan tersebut sehingga didapatkan suatu penilaian yang obyektif dan terukur mengenai penggunaan anggaran dan kinerja yang berhasil dicapai oleh suatu entitas. Analisis juga diperlukan bagi perbaikan rencana penganggaran di masa yang akan datang, sebagaimana tergambar dalam diagram berikut ini.


5. TUJUAN PELAPORAN KEUANGAN
Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi keuangan mengenai suatu badan usaha kepada pihak-pihak berkepentingan. Informasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Akuntansi keuangan biasanya lebih menitikberatkan pada penyediaan informasi kepada pihak-pihak diluar perusahaan. Pihak-pihak ini tidak dapat secara bebas memperoleh informasi yang diperlukan dari badan usaha yang bersangkutan. Mereka terpaksa harus menggunakan informasi yang disediakan pihak manajemen perusahaan. Identifikasi pemakai laporan keuangan diperlukan untuk pengambil keputusan dominan, mengingat banyaknya pihak-pihak ekstern yang masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda.
Informasi keuangan yang dihasilkan akuntansi keuangan tidak terbatas pada laporan keuangan saja. Tetapi termasuk juga informasi-informasi lain, baik yang bersifat keuangan maupun tidak. Semua informasi yang dihasilkan suatu sistem akuntansi disebut informasi akuntansi. Walaupun diharapkan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, namun informasi keuangan bukan satu-satunya informasi yang diperlukan. Pengambilan keputusan ekonomi dipengaruhi banyak faktor, misalnya keadaan ekonomi, politik dan prospek industri.
Secara khusus Prinsip Akuntansi Indonesia menyebutkan tujuan laporan keuangan berikut ini:
1. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva, kewajiban dan modal suatu perusahaan.
2. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai perubahan aktiva netto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.
3. Memberikan informasi keuangan yang memebantu para pemakai laporan keuangan dalam menaksir potensi perusahaan menghasilkan laba.
4. Memberikan informasi penting lainya mengenai perubahan aktiva dan kewajiban sutu perusahaan seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan investasi.
5. Untuk mengungkapakan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan keuangan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.





6. KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN
Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya, yang meliputi:
a) Relevan, yaitu informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini, dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Informasi yang relevan haruslahmemenuhi unsure-unsur memiliki manfaat umpan balik (feedback value),memiliki manfaat prediktif (predictive value), tepat waktu dan lengkap.
b) Andal, yaitu informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi yang andal haruslah memiliki karakteristik penyajian jujur, dapat diverifikasi (verifiability), dan netral.
c) Dapat dibandingkan, yang berarti informasi yang termuat dalam laporan keuangan dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya.
d) Dapat dipahami, yang berarti laporan keuangan disajikan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna.

7. PRINSIP AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN
Prinsip akuntansi merupakan pedoman umum yang digunakan dalam praktek akuntansi. Prinsip akuntansi dikembangkan atas dasar logika pemikiran dalam kerangka teori.
Penyusunan laporan keuangan harus mengikuti prinsip-prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan agar dapat ditaati dan dipahami para pembuat standar akuntansi pemerintahan, penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan, dan para pengguna laporannya.
Prinsip-prinsip tersebut terdiri atas:
a. Realisasi, yang berarti pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama satu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut.
b. Substansi mengungguli bentuk (substance over form), yang berarti transaksi atau peristiwa lain yang ditampilkan dalam laporan keuangan dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya.
c. Periodisitas (periodicity), yang berarti kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan dibagi dalam periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat diukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan.
d. Konsistensi (consistency), yaitu perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari period ke periode oleh entitas pelaporan.
e. Pengungkapan lengkap (full disclosure), yaitu menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna.
f. Penyajian wajar (fair presentation).

8. SIFAT DAN KETERBATASAN LAPORAN KEUANGAN
Harus diakui bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pastilah memiliki kekurangan. Kekurangan tersebut dikarenakan adanya keterbatasan dalam menyajikan informasi keuangan yang relevan dan andal. Kendala laporan keuangan dapat diartikan sebagai keadaan yang tidak memungkinkan terwujudnya kondisi yang ideal dalam mewujudkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang relevan dan andal. Secara umum setiap laporan keuangan memiliki sifat dan keterbatasan, yaitu:
1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat.
2. Laporan keuangan bersifat umum dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
3. Proses penyusunan laporan tidak lepas dari penggunaan taksiran dan pertimbangan.
4. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran.
9. TEKNIK STRUKTUR LAPORAN KEUANGAN
Teknik analisis laporan keuangan terdiri dari:
1. Struktur Laporan keuangan Horizontal
2. Struktur Laporan keuangan Vertikal

Kesimpulan
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh kementerian/lembaga negara bersangkutan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Dengan demikian, analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan pemerintah.

Erna Wulandari ( 3351405086)



B. Struktur Laporan Keuangan Horisontal
Struktur analisis horisontal (horizontal analysis) pada umumnya menunjukkan arah perubahan (trend) dari suatu pos laporan keuangan tertentu (Soemarso, 1999: 432). Analisis ini merupakan prosentase yang membandingkan suatu pos laporan keuangan dengan pos sama laporan keuangan sebelumnya. Analisis dengan cara membandingkan neraca atau laporan realisasi anggaran beberapa tahun terakhir secara berurutan. Analisis ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laba rugi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila metode ini dilakukan untuk suatu jangka waktu yang cukup panjang dan menitikberatkan pada arah perkembangannya, maka analisis seperti ini disebut analisis tren.
Teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menyajikan laporan keuangan secara horisontal dan membandingkan antara satu dengan yang lain, dengan menunjukkan informasi keuangan atau data lainnya baik dalam rupiah atau dalam unit, ini disebut juga analisis perbandingan (Harahap, 2004:227).
Tujuan analisis perbandingan menurut Harahap (2004: 228), adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan berupa kenaikan atau penurunan pos-pos laporan keuangan atau data lainnya dalam dua atau lebih periode yang dibandingkan. Perbandingan dapat juga dilakukan antara laporan yang sudah dikonversikan ke angka indeks atau laporan bentuk common size bentuk awam.
Menurut Prastowo (2000: 48), menyebutkan bahwa analisis tren merupakan salah satu teknik analisis laporan keuangan yang termasuk metode analisis horizontal. Analisis tren dilakukan untuk melihat struktur keuangan baik dari daftar Neraca dan Laba Rugi. Untuk melihat struktur laporan keuangan ini maka laporan keuangan dikonversikan ke bentuk persentase dengan mengaitkan dengan pos penting. Pos penting itu misalnya Penjualan untuk Laba Rugi dan pos Total Aktiva untuk Neraca.
Sesuai dengan uraian tersebut, maka objek Analisis Tren adalah:
1. Laba Rugi bentuk Tren
Struktur Laba Rugi dapat menunjukkan persentase pos tertentu dari pos utama. Misalnya persentase laba bersih dari penjualan, persentase laba kotor atas penjualan, biaya operasi, dan sebagainya. Dengan melihat persentase ini kita dapat mengetahui struktur Laba Rugi perusahaan dan juga bisa dibandingkan dengan struktur perusahaan lain yang sejenis atau rasio rata-rata industri.
2. Neraca bentuk Tren
Struktur Neraca dapat melihat persentase pos tertentu dengan pos tertentu dengan pos utama lainnya, misalnya persentase aktiva lancar dengan total aktiva, aktiva tetap, aktiva lain, utang lancar, utang jangka panjang, modal, dan sebagainya.
Sebagai contoh cara perbandingan dengan analisis horizontal adalah sebagai berikut:
Penjualan pada tahun 2005 : Rp. 310.000,00
Penjualan pada tahun 2006 : Rp. 330.000,00
Maka perbandingan perubahan penjualan adalah 6,45

Kesimpulan
Analisis ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laba rugi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila metode ini dilakukan untuk suatu jangka waktu yang cukup panjang dan menitikberatkan pada arah perkembangannya
Dewi Marina Purbasari (3351405001)

C. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN VERTIKAL
Analisis vertikal (vertical analysis) terkonsentrasi pada hubungan-hubungan diantara berbagai pos keuangan pada laporan keuangan tertentu. Untuk memperlihatkan hubungan ini, setiap pos laporan keuangan dinyatakan sebagai suatu persentase dari suatu pos dasar yang juga terdapat pada laporan tersebut. Laporan persentase-persentase yang dihasilkan disebut laporan ukuran bersama (common-size statement) (Henry Simamora, 1999). Sedangkan menurut John J Wild (2005), analisis vertikal merupakan suatu prosedur pembandingan antara satu pos terhadap pos lainnya dalam laporan keuangan dengan cara mengevaluasi pos dari atas ke bawah (atau bawah ke atas) dalam laporan common-size.
Laporan-laporan ukuran bersama (common-size statement) kerap dipakai untuk membuat perbandingan-perbandingan diantara perusahaan-perusahaan. Laporan-laporan ini memungkinkan analisis membandingkan karakteristik-karakteristik operasi dan pendanaan dari kedua perusahaan dari ukuran yang berbeda dari industri yang sama.
Menurut John J. Wild et. Al. (2005), analisis laporan keuangan common-size statement berguna dalam memahami pembentuk internal laporan keuangan. Sebagai contoh, dalam analisis neraca, analisis common-size menekankan pada dua faktor:
1. Sumber pendanaan- termasuk distribusi pendanaan antara kewajiban lancar, kewajiban tak lancar, dan ekuitas.
2. Komposisi aktiva-termasuk jumlah untuk masing-masing aktiva lancar dan aktiva tak lancar.
Analisis vertikal berfaedah untuk membandingkan arti penting komponen-komponen spesifik dalam kegiatan sebuah perusahaan. Analisis ini dapat pula digunakan dalam laporan-laporan ukuran bersama komparatif dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan penting dalam komponen-komponen dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Analisis vertikal ada 2, yaitu:
1. Analisis Vertikal Laporan Laba Rugi
Analisis vertikal laporan laba rugi memeriksa hubungan-hubungan dari setiap pos dengan laba bersih. Pada umumnya, laba bersih dijadikan 100 persen. Analisis ini mengungkapkan apakah pos pendapatan atau beban tertentu menyimpang dalam hubungannya dengan laba bersih. Analisis ini juga memberikan petunjuk perihal potensi kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam mengendalikan biaya-biaya dan mencapai sasaran profitabilitasnya.

Contoh analisis vertikal laporan laba rugi:

PT. EMBUN PAGI
Analisis Vertikal Laporan Laba Rugi
31 Desember 2002 dan 2001
2002 2001
Penjualan Bersih Rp 4,347,776.00 100% Rp3,953,668.00 100%
Biaya Pokok Penjualan Rp 3,146,092.00 72.40% Rp2,801,052.00 70.80%
Laba Kotor Rp 1,201,684.00 27.60% Rp1,152,616.00 29.20%

Beban-beban:
Beban Penjualan dan Administratif Rp 760,360.00 17.50% Rp 690,644.00 17.50%
Beban Bunga Rp 59,980.00 1.40% Rp 52,184.00 1.30%
Jumlah Beban Rp 820,340.00 18.90% Rp 742,828.00 18.80%

Laba Sebelum Pajak Rp 381,344.00 8.80% Rp 409,788.00 10.40%
Pajak Pengahsilan (30%) Rp 114,403.00 2.60% Rp 122,936.00 3.10%
Laba Bersih Operasi Rp 266,941.00 6.20% Rp 286,852.00 7.30%
Untung (rugi) luar biasa Rp - 0.00% Rp 49,600.00 1.20%
Laba Bersih Operasi Rp 266,941.00 6.20% Rp 336,452.00 8.50%

Analisis vertikal itu mengungkapkan bahwa biaya pokok penjualan PT. Embun Pagi pada tahun 2002 lebih tinggi ketimbang pada tahun 2001 (72.4% berbanding 70.8%). Gabungan kenaikan ini dan tidak adanya keuntngan luar biasa pada tahun 2002 mengakibatkan penurunan signifikan laba bersih dari 8.5% dari penjualan bersih pad atahun 2001 menjadi 6.2% pada tahun 2002.

2. Analisis Vertikal Neraca
Analisis vertikal neraca menghubungkan setiap pos neraca dengan jumlah aktiva, atau dengan jumlah kewajiban dan ekuitas pemilik, dimana setiapnya dinyatakan sebagai suatu persentase dari kategori yang lebih besar. Sebagai umpama, pos Kas akan dinyatakan sebagai suatu persentase dari jumlah Aktiva, dan pos Utang Dagang sebagai suatu persentase dari jumlah kewajiban dan ekuitas pemilik.





Contoh analisis vertikal neraca:

PT. EMBUN PAGI
Analisis Vertikal Neraca
31 Desember 2002 dan 2001
Aktiva 2002 2001
Aktiva Lancar:
Kas Rp 67,928.00 2.10% Rp 36,080.00 1.10%
Surat Berharga Rp 150,732.00 4.60% Rp 158,848.00 5.00%
Piutang Dagang Rp 510,176.00 15.50% Rp 486,456.00 15.40%
Persediaan Rp 782,048.00 23.80% Rp 695,996.00 22.10%
Aktiva Lancar lain-lain Rp 37,996.00 1.20% Rp 30,536.00 1.00%
Jumlah Aktiva Lancar Rp1,548,880.00 47.10% Rp1,407,916.00 44.70%
Aktiva Tetap Rp1,626,396.00 49.40% Rp1,407,916.00 50.10%
Aktiva Tetap lain-lain Rp 114,284.00 3.50% Rp 163,204.00 5.20%
Jumlah Aktiva Rp3,289,560.00 100% Rp3,151,512.00 100%

Kewajiban dan Ekuitas Pemilik
Kewajiban Lancar:
Kredit Bank Rp 98,632.00 3.00% Rp 90,304.00 2.90%
Bagian Lancar dari utang
jangka panjang Rp 7,676.00 0.20% Rp 13,280.00 0.40%
Utang Dagang dan Utang Wesel Rp 315,868.00 9.60% Rp 277,900.00 8.80%
Utang Pajak Penghasilan Rp 60,360.00 1.80% Rp 58,624.00 1.90%
Jumlah Kewajiban Lancar Rp 482,536.00 14.70% Rp 440,108.00 14.00%
Utang Jangka Panjang Rp 623,524.00 19.00% Rp 593,600.00 18.80%
Utang Obligasi Rp 125,444.00 3.80% Rp 116,840.00 3.70%
Ekuitas Pemegang saham Rp2,058,056.00 62.60% Rp2,000,964.00 63.50%
Jumlah kewajiban dan ekuitas
pemegang saham Rp3,289,560.00 100% Rp3,151,512.00 100%

Seperti terlihat pada gambar tersebut, hanya terdapat kenaikan kecil dalam persentase aktiva lancar dikaitkan dengan jumlah aktiva, seiring dengan adanya penurunan kecil dalam aktiva tetap bersih dan aktiva tetap lain-lain. Dengan demikian, analisis vertikal ini mengungkapkan bahwa tidak ada perubahan signifikan aktiva perusahaan selama dua tahun tersebut.

Kesimpulan
Prosedur pembandingan antara satu pos terhadap pos lainnya dalam laporan keuangan disebut analisis vertikal karena merupakan evaluasi pos dari atas ke bawah (atau bawah ke atas) dalam laporan common-size. Analisis vertikal dapat menunjukkan proporsi suatu pos terhadap angka dasar tertentu dalam laporan keuangan yang sama. Analisis ini dapat pula digunakan dalam laporan-laporan ukuran bersama komparatif dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan penting dalam komponen-komponen dari satu tahun ke tahun berikutnya. Hasil analisis vertikal dapat digunakan untuk menilai efisiensi usaha perusahaan.

Eva Z Saragih (3351405038)


D. STRUKTUR MODAL

1. Konsep Struktur Modal
Modal merupakan unsur yang sangat penting bagi perusahaan. Salah satu masalah dalam permodalan adalah bagaimana menetapkan struktur modal yang optimal bagi perusahaan, karena struktur modal merupakan perimbangan antara modal asing dan modal sendiri. Efektivitas struktur modal akan menentukan efisiensi atau tidaknya penggunaan dana dapat diukur dengan melihat tingkat earning per share yang telah dicapai perusahaan. Pengertian modal menurut Munawir (2004) adalah merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.
Struktur modal adalah perbandingan atau imbangan pendanaan jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan hutang jangka panjang terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Jika dalam pendanaan perusahaan yang berasal dari modal sendiri masih memiliki kekurangan (deficit) maka perlu dipertimbangkan pendanaan perusahaan yang berasa dari luar, yaitu dari hutang (debt financing). Namun dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari alternative-alternatif pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai struktur modal yang optimal. Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan modal keseluruhan atau biaya modal rata-rata, sehingga memaksimalkan nilai perusahaan.

2. Teori Struktur Modal
Kecenderungan perusahaan yang makin banyak menggunakan hutang, tanpa disadari secara berangsur-angsur, akan menimbulkan kewajiban yang makin berat bagi perusahaan saat harus melunasi (membayar kembali) hutang tersebut. Tidak jarang perusahaan-perusahaan yang akhirnya tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut, dan bahkan dinyatakan pailit. Hingga kini belum ada rumus matematik yang tepat untuk menentukan jumlah optimal dari hutang dan ekuitas dalam struktur modal (Seitz,1984: 301).
Teori struktur modal diasumsikan bahwa perubahan struktur modal berasal dari penerbitan obligasi dan pembelian kembali saham biasa atau penerbitan saham baru. Selanjutnya perlu dikaji bagaimana pengaruh perubahan struktur modal tersebut terhadap nilai perusahaan dan apakah ada pengaruh struktur modal terhadap harga saham perusahaan sebagai pencerminan nilai perusahaan. Apabila ada pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana struktur modal yang optimal bagi perusahaan.
Asumsi-asumsi yang mendasari adalah (Megginson, 1997:316):
a. Semua aktiva berujud dimiliki oleh perusahaan.
b. Pasar modal sempurna (tidak ada pajak, tidak ada biaya transaksi, dan tidak ada biaya kebangkrutan).
c. Perusahaan hanya dapat menerbitkan dua macam sekuritas, yakni ekuitas yang berisiko dan hutang bebas (tanpa) risiko.
d. Individu maupun perusahaan dapat meminjam atau meminjamkan uang dengan tingkat suku bunga bebas risiko.
e. Para investor mempunyai ekspektasi yang sama (homogen) terhadap keuntungan perusahaan di masa mendatang.
f. Semua perusahaan tidak mengalami pertumbuhan (arus kas diasumsikan konstan dan perpetual, dan semua laba dibagikan dalam bentuk dividen).
g. Semua perusahaan dapat dikelompokkan dalam satu kelompok kembalian, dan kembalian saham dari semua perusahaan dalam kelompok tersebut adalah proporsional.
Pendekatan dalam Teori Struktur Modal :
1. Pendekatan Tradisional (Traditional Approach)
Pendekatan tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Jadi, struktur modal mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan. Struktur modal bisa dirubah-rubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal. Pendekatan ini diasumsikan terjadi perubahan struktur modal dan peningkatan nilai total perusahaan melalui penggunaan financial leverage (hutang dibagi modal sendiri).

2. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM Approach)
Tahun 1950-an, dua orang ekonom menentang pandangan tradisional struktur modal. Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Kemudian pada awal tahun 1960-an, kedua ekonom tersebut memasukkan faktor pajak ke dalam analisis mereka. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan nilai perusahaan tanpa hutang. Kenaikan nilai tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak dari penggunaan hutang.
MM berpendapat bahwa risiko total bagi seluruh pemegang saham tidak berubah walaupun struktur modal perusahaan mengalami perubahan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pembagian struktur modal antara hutang dan modal sendiri selalu terdapat perlindungan atas nilai investasi. Yaitu karena nilai investasi total perusahaan tergantung dari keuntungan dan risiko, sehingga nilai perusahaan tidak berubah walaupun struktur modalnya berubah. Asumsi yang digunakan adalah, pasar modal sempurna, nilai yang diharapkan dari distribusi probabilitas semua investor sama, perusahaan mempunyai risiko usaha (business risk) yang sama dan tidak ada pajak. Pendapat MM didukung oleh adanya proses arbitrase, yaitu proses mendapatkan dua aktiva yang pada dasarnya sama dan membelinya dengan harga yang termurah serta menjual lagi dengan harga yang lebih tinggi.
3. Teori Trade-Off
Kenyataan di lapangan membuktikan ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Satu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi kemungkinan (probabilitas) kebangkrutan. Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan. Penelitian di luar negeri menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai sekitar 20% dari nilai perusahaan.

Biaya tersebut mencakup dua hal:
1. Biaya langsung: biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, biaya pengacara, biaya akuntan, danbiaya lainnya yang sejenis.
2. Biaya tidak langsung : biaya yang terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal.
Misal, supplier barangkali tidak akan mau memasok barang karena mengkhawatirkan kemungkinan tidak terbayar. Biaya lain dari peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan hutang (agency cost of debt). Jika hutang meningkat, maka konflik antara pemegang hutang dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh pemegang hutang akan meningkat. Dalam situasi tersebut, pemegang hutang akan semakin meningkatkan pengawasan (monitoring) terhadap perusahaan. Pengawasan bisa dilakukan dalam bentuk biaya-biaya monitoring (persyaratan yang lebih ketat, menambah jumlah akuntan, dsb) dan bisa juga dalam bentuk kenaikan tingkat bunga.
4. Model Miller dengan Pajak Perusahaan dan Personal
Modigliani dan Miller mengembangkan model struktur modal tanpa pajak, dan dengan pajak. Nilai perusahaan dengan pajak lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan tanpa pajak. Selisih tersebut diperoleh melalui penghematan pajak karena bunga bisa dipakai untuk mengurangi pajak. Penghematan pajak tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini :

Penghematan pajak = VL - VU = tc . B

Keterangan :
VL : Nilai untuk perusahaan yang menggunakan hutang (value for
leveraged companies)
VU :Nilai untuk perusahaan yang tidak menggunakan hutang (100% saham, atau value for unlevered companies)
tc : tingkat pajak (perusahaan)
B : besarnya hutang
Miller sendiri kemudian mengembangkan model struktur modal dengan memasukkan pajak personal. Pemegang saham dan pemegang hutang harus membayar pajak jika mereka menerima dividen (untuk pemegang saham) atau bunga (untuk pemegang hutang).
5. Pecking Order Theory
Teori trade-off mempunyai implikasi bahwa manajer akan berfikir dalam kerangka trade-off antara pengehamatan pajak dan biaya kebangkrutan dalam penentuan struktur modal. Kenyataannya, nampaknya jarang manajer keuangan yang berfikir demikian. Seorang akademisi, Donald Donaldson (1961) melakukan pengamatan terhadap perilaku struktur modal perusahaan di Amerika Serikat. Pengamatannya menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai keuntungan yang tinggi ternyata cenderung menggunakan hutang yang lebih rendah. Secara spesifik, perusahaan mempunyai urut-urutan preferensi dalam penggunaan dana.
Skenario urutan dalam Pecking Order Theory adalah sebagai berikut ini :
1. Perusahaan memilih pendanaan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
2. Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi.
3. Karena kebijakan dividen yang konstan (sticky), digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertentu, dan akan lebih kecil pada saat yang lain.
4. Jika pendanaan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan surat berharga campuran (hybrid) seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali saham sebagai pilihan terakhir.
Teori tersebut tidak mengindikasikan target struktur modal. Teori tersebut menjelaskan urut-urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Teori pecking order bisa menjelaskan kenapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntunganyang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil.
6. Teori Asimetri Informasi dan Signaling
Konsep signaling dan asimetri informasi berkaitan erat. Teori asimetri mengatakan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan risiko perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih baik dibandingkan pihak lainnya.
6.1. Myers dan Majluf (1977)
Menurut Myers danMajluf (1977), ada asimetri informasi antara manajer denganpihak luar: manajermempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan dengan pihak luar.
6.2. Signaling (Ross, 1977)
Ross (1977) mengembangkanmodel dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Jika manajer mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik,dan karenanya ingin agar harga saham meningkat, ia ingin mengkomunikasikan hal tersebut ke investor. Manajer bisa menggunakan hutang lebih banyak, sebagai signal yang lebih credible. Karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaanmempunyai prospek yang baik. Dengan demikian hutang merupakan tanda atau signal positif.
7. Teori Lainnya
7.1. Pendekatan Teori Keagenan (agency approach)
Menurut pendekatan ini, strukturmodal disusun untukmengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manajer adalah konsep free-cash flow (Jensen, 1985). Free-cash flow dalam konteks ini didefinisikan sebagai aliran kas yang tersisa sesudah semua usulan investasi dengan NPV positif didanai. Tetapi ada kecenderungan manajer ingin menahan sumber daya (termasuk free-cash flow) sehingga mempunyai kontrol atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan freecash flow. Jika perusahaan menggunakan hutang, maka manajer akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan (untuk membayar bunga).
7.2. Pendekatan Interaksi Produk/Input dengan Pasar
Model ini berangkat dari teori organisasi industri, dan relatif baru dibandingkan teori lainnya. Ada dua kategori dalam pendekatan ini:
(1) Menjelaskan hubungan antara struktur modal perusahaan dengan strategi, dan
(2) Menjelaskan hubungan antara struktur modal dengan karakteristik produk atau input.
7.3. Kontes atas Pengendalian Perusahaan
Beberapa penemuan pendekatan ini adalah perusahaan yang menjadi target (dalam pengambil alihan) akan meningkatkan tingkat hutangnya, dan mengakibatkan kenaikan harga saham. Tingkat hutang berhubungan negatif dengan kemungkinan sukses tender offer (penawaran terbuka pada proses pengambil alihan usaha).

Kesimpulan
Struktur modal adalah perbandingan atau imbangan pendanaan jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan hutang jangka panjang terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Teori struktur modal diasumsikan bahwa perubahan struktur modal berasal dari penerbitan obligasi dan pembelian kembali saham biasa atau penerbitan saham baru. Struktur modal sendiri adalah pembelanjaan permanen, di mana mencerminkan perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Apabila struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca, maka struktur modal hanya tercermin pada utang jangka panjang dan unsur-usur modal itu sendiri, di mana kedua golongan tersebut mempunyai dana permanen atau dana jangka panjang. Jadi, struktur modal hanya merupakan sebagian saja dari struktur finansial. Struktur modal keseluruhan terdiri dari modal asing dan modal sendiri.

Istiari Widya W (3351405036)

E. Struktur Finansial
Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca. Struktur finansial mencerminkan pula perimbangan baik dalam artian absolut maupun relatif antara keseluruhan modal asing (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan jumlah modal sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur finansial adalah sebagai berikut:
1. Tingkat pertumbuhan penjualan. Tingkat pertumbuhan penjualan masa depan dapat ditentukan oleh leverage.
2. Stabilitas arus kas. Stabilitas arus kas dan rasio rasio hutang saling berkaitan. Bila stabilitas penjualan dan laba lebih besar, beban hutang mempunyai risiko lebih kecil, dan sebaliknya bila stabilitas penjualan dan laba lebih kecil beban hutang mempunyai risiko lebih besar.
3. Karakteristik industri. Kemampuan membayar hutang tergantung pada profitabilitas dan volume penjualan. Industri yang berkembang menjanjikan marjinal yang tinggi, tetapi marjinal laba tersebut cenderung menurun apabila industri tersebut kalah bersaing dengan masuknya industri baru.
4. Struktur aktiva. Struktur aktiva dapat mempengaruhi struktur finansial dengan cara perusahaan yang mempunyai struktur aktiva tetap jangka panjang akan banyak menggunakan hipotek jangka panjang.
Berbicara mengenai struktur finansial tentunya tidak akan lepas dari struktur kekayaan. Struktur kekayaan adalah perimbangan atau perbandingan baik dalam artian absolut maupun dalam artian relatif antara aktiva lancar dengan aktiva tetap. Kita mengenal adanya pedoman atau aturan struktur finansial yang konservatif, baik yang vertikal maupun yang horizontal. Aturan struktur finansial yang vertikal memberikan batas imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya modal asing dengan modal sendiri. Aturan ini menganggap bahwa pembelanjaan yang sehat itu itu pertama kali harus dibiayai dengan modal sendiri. Maka aturan struktur finansial konservatif menetapkan bahwa besarnya modal asing dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh lebih dari 1:1. Setiap perluasan basis modal sendiri akan memperbesar kemampuan perusahaan dalam menanggung risiko usaha perusahaan yang akan dibelanjainya. Pandangan ini didasarkan pada “prinsip keamanan”, dimana hal ini akan memberikan pengaruh yang baik terhadap kreditur maupun perusahaan itu sendiri.
Adapun aturan struktur finansial konservatif yang horizontal memberikan batas imbangan atara besarnya modal sendiri di satu pihak dengan besarnya aktiva tetap plus persediaan besi (persediaan minimum) di lain pihak. Aturan tersebut menyatakan bahwa keseluruhan aktiva tetap dan persediaan besi harus sepenuhnya ditutup atau dibelanjai dengan modal sendiri, yaitu modal tetap yang tertanam di dalam perusahaan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa besarnya modal sendiri tidak boleh kurang atau lebih kecil dari pada jumlah aktiva tetap plus persediaan besi, atau dengan kata lain besarnya modal sendiri sama dengan aktiva tetap plus persediaan besi. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar
KEADAAN NORMAL DALAM PERIMBANGAN ANTARA JUMLAH AKTIVA TETAP (PLUS PERSEDIAAN BESI) DENGAN JUMLAH MODAL SENDIRI

Aktiva Lancar Modal Asing
Aktiva Tetap
+
Persediaan Besi
Modal sendiri



Apabila jumlah modal sendiri lebih kecil dari aktiva tetap plus persediaan besi, berarti aktiva tetap tersebut “kurang tertutup” oleh modal sendiri sehingga besarnya modal sendiri tidak cukup untuk menjamin atau menutup aktiva tetap tersebut.
Aktiva tetap dan persediaan besi adalah merupakan asset yang akan tetap terikat di dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama sehingga untuk membelanjai asset tersebut juga diperlukan modal yang akan tetap tertanam dalam perusahaan, yaitu dalam bentuk modal sendiri. Modal sendiri bila lebih kecil dari pada aktiva tetap plus persediaan besi, berarti sebagian dari aktiva tersebut dibelanjai dengan modal asing. Jangka waktu modal asing tersebut bila lebih pendek daripada jangka waktu terikatnya dana dalam aktiva tetap , hal ini akan mengganggu likuiditas perusahaan yang bersangkutan.



Kesimpulan
Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca. Dalam hubungannya dengan struktur finansial dan struktur kekayaan, kita mengenal adanya pedoman atau aturan struktur finansial yang konservatif, baik yang vertikal maupun yang horizontal.

Taufiq Hidayat (3351405063)





BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
 Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh kementerian/lembaga negara bersangkutan. Data keuangan dalam laporan keuangan akan lebih berarti apabila dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh informasi yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Dengan demikian, analisis laporan keuangan merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai macam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Analisis laporan keuangan banyak digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah-masalah keuangan pemerintah.
 Sedangkan analisis keuangan horizontal dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam neraca maupun laba rugi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila metode ini dilakukan untuk suatu jangka waktu yang cukup panjang dan menitikberatkan pada arah perkembangannya.
 Prosedur pembandingan antara satu pos terhadap pos lainnya dalam laporan keuangan disebut analisis vertikal karena merupakan evaluasi pos dari atas ke bawah (atau bawah ke atas) dalam laporan common-size. Analisis vertikal dapat menunjukkan proporsi suatu pos terhadap angka dasar tertentu dalam laporan keuangan yang sama. Analisis ini dapat pula digunakan dalam laporan-laporan ukuran bersama komparatif dalam rangka mengidentifikasi perubahan-perubahan penting dalam komponen-komponen dari satu tahun ke tahun.
 Struktur modal sendiri adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Apabila struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca, maka struktur modal hanya tercermin pada utang jangka panjang dan unsur-unsur modal itu sendiri, dimana kedua golongan tersebut merupakan dana permanen atau dana jangka panjang. Dengan demikian struktur modal hanya merupakan sebagian saja dari struktur finansial. Struktur modal keseluruhan terdiri dari modal asing dan modal sendiri.
 Struktur finansial mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca. Kita mengenal adanya pedoman atau aturan struktur finansial yang konservatif, baik yang vertikal maupun yang horizontal.

Disusun oleh :
1. Dewi Marina P (3351405001)
2. Istiari Widya (3351405036)
3. Eva Z Saragih (3351405038)
4. Taufiq Hidayat (3351405063)
5. Erna Wulandari (3351405086















DAFTAR PUSTAKA

Riyanto, Bambang. 1995. Dasar Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Gitosudarmo, Indriyo. 1999 Manajemen Keuangan. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Setia, Atmaja. 1999. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.

Brigham, F. Eugene & Houston, F. Joel. 1999. Manajemen Keuangan. Jakarta: ERLANGGA Jakarta.

1 komentar: